Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 143


__ADS_3

"Tapi jangan berpikir macam-macam Bro, kita... kita tidak sengaja terjebak hujan," terang Kaffah.


Kahfi tersenyum mendengar penjelasan saudaranya.


"Santai saja Kaff, lagian kalau kalian berdua bareng di satu ruangan, apa hubungannya denganku. Jangan merasa bersalah seperti itu," sahut Kahfi.


"Kamu, pintar sekali menyembunyikan perasaan," puji Kaffah tapi mungkin lebih tepat sebuah ejekan.


Lagi, Kahfi pun tersenyum.


"Tersenyum tapi sangat jelas, kamu itu cemburu," simpul Kaffah, yang kemudian menghabiskan makannya.


...****************...


Delmira terlihat tegang, dua hari setelah pengumuman kebijakan yang dia ambil untuk mengurangi jam kerja pegawai dan pengurangan gaji berdasarkan hitungan kerja mereka, kini rumah sakit dipenuhi sebagian pegawai yang berdemo.


Padahal saat Delmira mengadakan rapat dan pengumuman, para pegawai sudah menyetujui kebijakan darinya.


"Papyang, cepat angkat teleponnya," monolog Delmira melihat layar ponsel, panggilan yang dia lakukan belum juga terhubung dengan sang suami.


Delmira menarik dan mengeluarkan napasnya perlahan agar pikiran lebih tenang.


"Dini, panggil 10 perwakilan dari pendemo untuk masuk ke ruang rapat," pinta Delmira setelah merasa tenang.


Kali ini dia bertekad, berani tidak berani dia harus mengambil keputusan secepat mungkin.


"Baik Bu," jawab Dini segera turun ke pelataran rumah sakit.


Setelah bernegosiasi, 10 pendemo termasuk koordinator demo masuk ke ruang rapat yang sudah dipersiapkan Delmira.


Mereka duduk, Delmira didampingi beberapa kepala staf.


"Silahkan, sampaikan aspirasi kalian," ucap Dini menjadi jubir untuk mediasi tersebut.


"Kami ingin rumah sakit memberi kebijakan yang memihak pada kami para pegawai. Kami ingin, rumah sakit mengingat, kami juga ikut berjuang memajukan rumah sakit ini hingga berkembang sampai sekarang. Jangan karena satu masalah rumah sakit seolah-olah tak acuh apa yang sudah kami lakukan untuk rumah sakit," ujar salah satu pendemo yang dipastikan koordinator pendemo.

__ADS_1


"Bukankah kita sudah saling bicara saat rapat pengumuman dua hari yang lalu?" lontar Dini.


"Ya Bu, kita memang sudah rapat, tapi rapat itu kan terbatas, tidak semuanya hadir dalam rapat tersebut. Hari ini kami beraspirasi menyeruakan apa yang menjadi hak kami!" ucap yang lain dengan nada meninggi.


"Begini Bapak, Ibu. Sebagai pemimpin rumah sakit, sekali lagi saya minta maaf. Jujur, dari lubuk hati saya terdalam, tidak ingin hal ini terjadi. Kami sudah menganggap semua pegawai rumah sakit sebagai keluarga. Namun, maaf. Keputusan ini benar-benar harus kita ambil untuk menyelamatkan rumah sakit ini," terang Delmira.


Delmira menyodorkan laporan keuangan satu tahun sebelum adanya krisis keuangan.


"Coba kalian lihat, beberapa kali kami memberi gaji lebih ketika rumah sakit mendapat laba besar. Bahkan, Kami juga menambahkan bonus tahunan. Saya, tidak bisa berbuat apa-apa selain mempertahankan kalian dengan gaji yang sesuai hari kerja, walaupun biaya operasional rumah sakit membengkak. Saya tidak mungkin memecat beberapa pegawai. Saya juga berjanji pada kalian, akan mempekerjakan kalian dengan jumlah jam kerja normal dan gaji yang normal," terang Delmira, menjeda kalimatnya.


"Tapi kami tidak bisa menjanjikan kapan itu. Hanya kami selalu berusaha mengatasi permasalahan ini secepatnya. Kami juga meminta doa, semoga keuangan rumah sakit ini cepat membaik, masalah asuransi dapat diselesaikan secepat mungkin," sambung Delmira.


"Sekarang keputusan ditangan kalian, tetap menerima kebijakan dari rumah sakit dengan kesabaran dan keikhlasan. Atau mungkin kalian memilih rumah sakit ini benar-benar bangkrut dan tidak beroperasi kembali," ujar salah satu kepala staf.


"Pak, Bu, kami hanya pegawai biasa. Gaji bulanan dari rumah sakit menjadi penghasilan satu-satunya bagi keluarga kami. Lalu, bagaimana nasib keluarga kami? Bagiamana cara kami menutup kebutuhan berbulan?" lontar salah satu pendemo dengan linangan air mata.


Pelupuk mata Delmira sontak penuh dengan cairan bening mendengar ucapan pegawai tersebut. Tangannya kemudian bergerak mengambil tisu untuk mengelap cairan itu agar tidak membasahi dua pipinya.


"Betul Pak, Bu. Saya perwakilan dari teman-teman menyuarakan hal yang sama. Bahan pokok saat ini sedang naik, belum kebutuhan kami tidak hanya memenuhi kebutuhan makan Bu, tapi biaya sekolah, biaya kredit, lalu kami mau minta sama siapa selain minta pada Ibu sebagai penentu kebijakan?" imbuh yang lain.


Delmira diam, menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkan perlahan. Pikirannya sedikit tenang. Tangannya kini bergerak membuka laporan keuangan bulan lalu tanpa adanya pemasukan dari asuransi kesehatan pemerintah.


"Silahkan Bu," jawab mereka kemudian keluar menunggu di luar ruangan.


Setelah berbicara dan sedikit alot untuk menemukan kesepakatan, akhirnya rapat terbatas itu Delmira selesaikan berdasarkan kemufakatan.


Perwakilan 10 pendemo masuk ebali dalam ruang rapat.


Kembali Delmira mengeluarkan napasnya perlahan, 'Ya Allah, semoga apa yang aku putuskan ini Engkau ridhoi. Jadikan ladang pahala untuk saya yang telah Engkau beri amanah rumah sakit ini,' monolog batin Delmira.


"Kami tetap akan mengurangi jumlah jam kerja kalian. Namun, pengurangan tersebut tidak sebanyak yang sebelumnya kami umumkan. Bagiamana?" ujar Delmira, lalu meminta pendapat dari pendemo.


"Berapa persen jumlah jam kerja kami yang akan dikurangi Bu?"


"Kalau sebelumnya kami memutuskan 40% pengurangan jam kerja kalian. Kali ini, kami ganti menjadi 30%, bagiamana? Kami sudah mempertimbangkan semuanya dengan matang. Pertimbangan utama, rumah sakit ini harus tetap beroperasi agar kalian tetap bisa bekerja di sini dan tidak di PHK," tawar Delmira.

__ADS_1


Sepuluh perwakilan pendemo lirik satu dengan yang lain, mata dan kepala mereka saling bersyarat.


"Baik Bu, kami setujui keputusan Ibu, asal secepatnya masalah ini terselesaikan," ucap koordinator pendemo.


Delmira tersenyum, "Terima kasih, Pak atas pengertian dari kalian. Insyaallah, secepat masalah ini kami selesaikan. Beri kami waktu dan doa agar semuanya berjalan lancar," balas Delmira.


Mereka saling berjabat tangan sebagai bentuk persetujuan.


Dua puluh menit kemudian, kondisi rumah sakit kondusif.


Waktu terus berjalan, matahari semakin condong ke Barat.


Delmira duduk di kursi kerjanya setelah menunaikan salat asar. Dia masih berdiam diri, memikirkan berbagai cara agar krisis yang dialami rumah sakit cepat berlalu.


Pantatnya kini beranjak dari kursi kebesarannya, melangkah dan berhenti di jendela ruangan. Matanya kini menatap layang keluar, melihat pelataran rumah sakit yang tadi siang sempat ramai. Bahkan ada beberapa fasilitas yang terlihat rusak, khususnya tanaman hias.


Delmira kembali menarik napas dalam-dalam, mengeluarkan perlu. Tubuhnya berbalik, menatap setiap sudut ruangan. Kakinya kini berjalan dan berhenti di pajangan foto yang tertempel di dinding.


"Maafkan aku Ummi, aku sudah membuat keributan di rumah sakit yang Ummi bangun dengan susah payah," gumam Delmira, air mata jatuh membanjiri dia pipi.


"Tapi aku janji Ummi, aku akan buat semuanya kembali seperti semula. Aku akan lindungi keluarga rumah sakit Ummi," sambungnya.


Delmira menyebut pegawainya dengan sebutan keluarga rumah sakit. Atas perintah Aisyah, dulu sebelum dia meninggal. Aisyah Berpesan pada Delmira agar menjaga keluarga rumah sakit dengan baik.


Delmira merasakan sebuah kehangatan, tangan melingkar di pinggang dan sebuah kecupan mendarat di tengkuknya.


"Maaf, Papyang baru menemui Momyang," ujar Zaidan.


Delmira mengangguk.


Air matanya semakin deras membanjiri dua pipinya. Zaidan melangkah agar berdiri tepat di hadapan sang istri. Tangannya kemudian bergerak menyeka dua pipi Delmira dengan dua tangannya.


"Maafkan Momyang, Momyang merasa benar-benar gagal mengelola rumah sakit ini," lirih Delmira menundukkan pandangannya.


Zaidan diam, tapi tangannya tetap menyentuh dua pipi istrinya dengan lembut dan penuh kasih sayang.

__ADS_1


"Momyang... sudah janji pada Ummi akan mengembalikan keadaan rumah sakit seperti sebelumnya. Momyang rasa... caranya dengan mengembalikan rumah sakit ini pada sang pewaris sesungguhnya," ucap Delmira panjang lebar.


"Rumah sakit ini aku serahkan pada Papyang," imbuh Delmira.


__ADS_2