Dinikahi Berondong Saleh

Dinikahi Berondong Saleh
Bab 39


__ADS_3

Delmira sedikit ragu menerima berkas itu tapi rasa penasaran yang tinggi membuatnya membuka lembar demi lembar berkas yang diberikan Zaidan.


Satu sudut bibir Delmira tarik, dengusan terdengar mengisyaratkan kekesalan yang ingin terempas pula dari desak dada.


"Kamu menyelidiki semua untuk apa?" lontar Delmira bibirnya terasa bergetar menahan amarah.


"Kamu harus tahu mana sahabat mana musuh Miss."


Delmira tersenyum kecut, dan menyerahkan kembali berkas itu pada Zaidan.


"Semua data yang ada dalam berkas itu benar."


Mata Zaidan menatap tidak percaya dengan pengakuan sang istri dan belum paham arah pembicaraannya.


"Meilin memiliki dua adik. Satu kuliah di luar negeri, satu lagi cacat mental. Dia tadinya anak orang berada tapi karena suatu hal perusahaan yang dikelola orang tuanya bangkrut. Ayahnya sakit-sakitan dan akhirnya meninggal dunia, tidak lama setelah itu ibunya menyusul. Dia bingung harus membiayai adik-adiknya dengan apa. Akhirnya, atas diskusi mas mas Raffat denganku, kita pekerjaan Meilin sebagai sekretaris mas Raffat dan kita juga menjamin adiknya agar kuliah hingga selesai. Jadi, apa yang aku curigakan dari data ini? Semuanya memang benar."


Zaidan terdiam. Semakin nyata sifat dermawan yang dimiliki Delmira. Namun, kecurigaan dirinya pada Meilin belum hilang sepenuhnya mengingat cerita Yasmin tentang pertemuan mereka saat di mall.


"Kamu benar-benar tidak punya rasa curiga pada dia? lontar Zaidan dengan hati-hati.


Delmira menatap tajam ke arah Zaidan. "Apa yang aku curigakan?!" seru Delmira.


"Ada seorang yang pernah melihat mereka jalan bersama di mall," ucap Zaidan tanpa menyebut nama Yasmin.


"Ada buktinya? Video atau foto?" cecar Delmira, tangannya mengulur. Senyum kecut tercetak di wajah Delmira tatkala Zaidan hanya diam.


"Tuduhan orang itu harus disertai bukti. Kalau tidak ada bukti, masuknya fitnah!" lanjut Delmira merasa geram.


"Kejadian tiba-tiba, tidak terfikir untuk menguatkan dengan bukti. Apakah orang akan tersadar kejadian itu untuk diabadikan sebagai bukti?"


"Pertemukan orang itu denganku!" cekat Delmira, kakinya melangkah, berdiri di dekat jendela kamar.


Zaidan terdiam, bagaimana bisa dia mempertemukan Yasmin dengan Delmira untuk membahas masalah itu? Fernando sudah berjanji untuk tidak melibatkan Yasmin dalam masalah ini.


Delmira kembali tersenyum kecut melihat Zaidan hanya diam. "Aku hanya minta jangan usik masalah rumah tanggaku dulu. Mau bermasalah atau tidak, semua tidak ada hubungannya dengan kamu!"


"Maafkan aku," lirih Zaidan penuh sesal.


Delmira mengempaskan napas panjang memilih tidak menyahuti ucapan Zaidan, kakinya melangkah ke toilet kamar untuk cuci muka.


...****************...


Berbagai cara Zaidan lakukan agar mendapat maaf dari Delmira. Namun, cara terampuh yang akhirnya meluluhkan hati Delmira adalah, ketika Zaidan meminta Delmira untuk datang ke panti bersama karena di sana ada selamatan ulang tahun panti.


Cara lain yang dilakukan Zaidan ya seperti yang dilakukan di pagi hari ini.


"Ada alasan apalagi kamu nebeng mobilku?" keluh Delmira. Satu minggu ini setelah dengan terpaksa dan tidak mau memperpanjang masalah, Delmira memutuskan untuk memaafkan Zaidan dan selama satu minggu itu pula Zaidan mencari alasan agar dapat satu mobil dengan Delmira.


"Stok alasanku sudah habis yang tersisa adalah kejujuranku. Aku ingin berdua dengan kamu," ujar Zaidan.


Delmira mengempaskan napasnya, pasrah lalu membuka pintu mobil di posisi pengemudi.


"Lagian Ummi biasanya juga ngajak bareng denganku kenapa seolah-olah membiarkan kamu nemplok terus di mobilku!" gerutu Delmira setelah setengah perjalanan.


"Ummi pengertian," sahut Zaidan.


Delmira menghentikan mobilnya melihat lampu merah menyala.


"Atau jangan-jangan kamu sudah jatuh cinta padaku?" tebak Delmira dengan polosnya.


Zaidan hanya tersenyum mendengus.

__ADS_1


"Apa pertanyaanku lucu?" kesal Delmira melihat dengus dan senyum dari Zaidan.


"Menurut kamu, apa aku jatuh cinta padamu Mrs. Delmira?" lontar balik Zaidan.


"Kebiasaan! Aku bertanya, bukan dijawab malah lempar tanya!" gerutu Delmira.


"Tapi maaf saja Zaid, aku tidak akan tertipu dengan kebaikan kamu, perhatian kamu, ada ingin dekat-dekat denganku lah. Aku sudah warning pada diriku sendiri. Kamu cuma mau menjalankan misi kamu agar aku jatuh cinta pada kamu terlebih dahulu, benar begitu kan?"


Delmira mengibas tangan seolah mengipas lehernya yang tiba-tiba terasa gerah, "Aku wanita berpengalaman soal cinta. Jadi... hati-hati denganku. Jangan pernah pakai hati!" Delmira menekankan kalimat terakhir.


Bip


bip


bip


Suara klakson saling bersahutan karena lampu sudah berganti hijau tapi mobil yang dikendarai Delmira tetap belum bergerak.


"Isst! Kenapa tidak ngomong kalau lampu sudah hijau!" kesal Delmira, langsung tancap gas menyelusuri jalan hingga mereka sampai di rumah sakit.


"Miss," panggil Zaidan membuat Delmira yang akan melangkahkan kaki menoleh ke arah Zaidan.


"Ada apa?" jengah Delmira.


Bibir Zaidan terlihat komat-kamit mengatakan suatu hal.


Delmira yang merasa penasaran apa yang dikatakan Zaidan lebih memilih mendekat ke arah Zaidan yang sudah duduk di kursi pengemudi dengan kaca pintu dibuka sempurna.


"Apa sih, kalau ngomong yang jelas!" ketus Delmira.


Tangan Zaidan bergerak mengisyaratkan agar Delmira lebih mendekat. Dengan bodohnya Delmira mengikuti isyarat Zaidan, tubuhnya sedikit membungkuk dan kepala sedikit masuk melewati kaca pintu yang terbuka penuh


Delmira langsung terkesiap, memundurkan kepalanya dan tubuhnya.


"Gila!" geram Delmira lalu melangkah pergi.


Zaidan tersenyum menang, melihat ekspresi Delmira seperti itu membuatnya candu.


"Assalamualaikum Miss," teriak Zaidan melihat Delmira yang mulai jauh dari posisinya sekarang.


"Waalaikum salam, jawab lirih Delmira dengan senyum mengembang. Entah kenapa ada rasa senang yang tiba-tiba hinggap menghampirinya.


Delmira gegas masuk ke gedung dan sedikit berlari ketika lift yang akan dia masuki hampir saja ditutup.


"Tunggu! Tunggu! Tunggu!" teriak Delmira. Napasnya sampai tersengal-sengal.


Delmira sedikit ragu memasuki lift melihat di dalam lift ternyata ada dokter Riki. Namun mau tidak mau biar tidak semakin malu Delmira pun masuk ke dalam.


"Pagi Del," sapa dokter Riki dengan senyum merekah dari dua sudut bibirnya.


"Pagi Dok," sahut Delmira, entah kenapa dirinya merasa risih karena sorot mata Riki menatap tajam ke arahnya dan lift dalam posisi tanpa orang lain selain dirinya dan Riki.


"Hari ini kamu terlihat sangat cantik," bisik dokter Riki setelah pintu lift terbuka tanpa melihat atau mendengar balasan Delmira dokter Riki melangkahkan kakinya terlebih dahulu meninggalkan Delmira.


"Kenapa merinding dengar kalimat dari kamu dok," gerutu Delmira.


"Mood aku seketika hilang!" keluhnya, berjalan malas ke ruang kerja.


Satu jam berlalu, Delmira duduk meregangkan otot lehernya, menggerakkan ke kanan kiri bahkan memutar.


Tuling.

__ADS_1


Satu pesan masuk, mata Delmira hanya memandang sekilas tapi ketika nama pengirim tertera nama Mr. Z tangannya bergerak cepat mengambil ponsel yang dia letakkan dekat laptop.


"Dinner?" gumam Delmira setelah membaca pesan Zaidan berisi ajakan makan malam bersama.


Ogah.


Balas Delmira tapi senyumnya terlihat mengembang. Lalu ponsel itu segera dia masukkan dalam laci.


'Aku mau lihat, sejauh mana dia berusaha membujukku agar mau diajak dinner,' monolog batin Delmira, entah mengapa hatinya merasa berbunga-bunga dan jantungnya sungguh berdetak tidak normal.


Waktu terus berjalan karena begitu semangat kerja, Delmira sampai tidak merasa kalau sudah waktunya untuk istirahat makan siang.


Dia bergegas akan ke kantin. Niat hati akan mengajak Ummi Aisyah untuk makan siang bersama tapi dia urungkan karena ada pesan masuk dari Meilin.


"Dia menunggu di kantin?" Ada hal penting apa sampai dia nyamper aku ke sini?" gumam Delmira dan kakinya segera beranjak ke lantai dasar dimana kantin berada.


"Hai," sapa Delmira lalu duduk satu meja dengan Meilin.


"Hai," balas Meilin mencium pipi kanan kiri.


"Aku sulit sekali hubungi kamu, sudah beberapa kali ajak kamu jalan tapi kamu selalu sibuk," ujar Meilin.


Delmira hanya membalas dengan sebuah senyum.


"Aku lihat kamu semakin dekat dengan suami kamu?" ucap Meilin setelah Delmira memakan makan pesanannya.


Meilin menyodorkan sebuah berita di salah satu media online yang membicarakan Zaidan dan Delmira bahkan difoto itu terlihat Delmira digandeng oleh Zaidan.


"Dia sudah jatuh cinta dengan kamu Del."


Terkejut, itu yang dirasa Delmira. Otaknya tidak memutar tanya apakah yang dikatakan Meilin benar atau tidak melainkan tiba-tiba ada rasa takut dengan saran Meilin untuk meninggalkan Zaidan setelah dia jatuh cinta.


"Wajah kamu kenapa terlihat memerah seperti itu Del?" tanya Meilin atau tepatnya sebuah sindiran kepanikan yang disembunyikan Delmira.


"Oh... mungkin karena cuaca panas," jawab Delmira seucapnya.


Meilin terkekeh tapi kekehan itu jelas menyindir Delmira.


"Kamu sudah siap menjalankan misi kamu selanjutnya?"


Deg.


Benar apa dugaan Delmira, Meilin akhirnya mengatakan itu.


"Wajah kamu biasa aja dong, jangan tegang seperti itu," sindir kembali Meilin. Namun, seketika wajahnya sayu.


"Aku masih merasa tidak rela, pak Raffat meninggal dengan tragis. Dia sangat baik seperti kamu. Setiap kali bertemu kamu, aku teringat kebaikan-kebaikan yang sudah dia lakukan dan aku merasa, aku harus andil untuk membalas semua yang menimpanya," ucap Meilin dengan wajah sendu, suara parau, dan linangan air mata.


Delmira terdiam mendengar dengan seksama. Tangannya bergerak menghapus air mata yang menetes di pipi sahabatnya.


"Tapi... jangan khawatir, kalau kamu belum siap melanjutkan misinya, nanti aku bantu untuk menyelesaikan misi itu," ujar Meilin.


"Bantu?" ulang Delmira perasaannya tiba-tiba merasa khawatir.


Meilin mengangguk penuh semangat.


'Tentunya cara yang tidak dapat kamu lupa seumur hidup Del! Semua karena kamu gagal untuk mencampakkan Zaidan. Aku jelas tahu! Dari sorot mata dan wajahmu, kamu mencintai Zaidan! Hanya kamu pura-pura tidak tahu atau memang sengaja menutup perasaan itu!' batin Meilin.


'Aku harus bergerak cepat!' lanjut batin Meilin. tangannya meremas sedotan yang dari tadi dia pakai untuk menyeruput lemon tea.


malam menyapa πŸ₯±πŸ₯± jangan lupa like komen hadiah vote rate πŸ™ maaf baru nongol πŸ˜­πŸ™ lope lope buat kalian yang masih setia dengan cerita ini😍😘πŸ₯°

__ADS_1


__ADS_2