Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]

Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]
bab 120


__ADS_3

❣️❣️❣️❣️❣️


Saat hari menjelang sore Ameera terus merengek pada Ricko agar mengizinkannya pulang, tapi pria itu menolaknya, ia diam bergeming seakan tak mendengar dan perduli membuat Meera semakin kesal di buatnya.


"Bilang Daddy dong, Mommy mau pulang" bisik Meera meminta bantuan pada Mitha saat bocah itu terus bergelayut manja dengannya di hadapan sang nenek yang terus memperhatikan.


Tapi sepertinya ia salah sasaran karna tentu saja anak itu akan berpihak pada Daddy nya yang juga tak mengijinkan Meera pulang.


"Sini aja, Mommy bobo sini ya" pintanya manja yang sedari tadi duduk di pangkuannya.


Mama yang melihat interaksi keduanya tanpa sadar sudah menumpahkan air mata sedihnya, ia ingat pada anak semata wayangnya yang kini telah tiada.


Bunga... suami dan anakmu kini sudah menemukan sandaran mereka yang baru yang mamah harap ini lebih kuat darimu..


Mitha yang tanpa sengaja menoleh ke arah Neneknya pun menatap aneh wanita paruh baya itu.


"Nenek kenapa?" tanya Mitha yang langsung membuat Ameera juga segera melihat kearah mama.


"Hah?, gak apa-apa sayang, nenek cuma kemasukan debu" sahut mama dengan suara parau nya.


Ameera yang seakan peka dengan tangis pilu wanita paruh baya itu langsung bangkit dan menghampiri.


"Mama kenapa?" tanya Meera saat ia sudah duduk di samping mama mertua dari kekasihnya itu.


"Mama hanya rindu Bunga, dan kini bahagia melihat Kalian begitu dekat" ucap mama di sela Isak tangisnya.


"Sedekat apapun kami, gak akan menggeser posisi Mbak Bunga di hati Mitha juga Daddy-nya, mah" Meera merasa tak enak hati.


"Ya, kamu benar. Tak salah jika Ricko memilihmu untuk menggantikan istrinya, semoga kalian bahagia" mama mendoakan Meera sambil mengusap kepala gadis pirang itu.


"Amiin" lirih Ameera pelan.


****


Meera merajuk, gadis itu mencubit lengan kekasihnya tanpa ampun setelah menidurkan Mitha di kamarnya.


"Aku mau pulang, ini udah malem, Dadd" rengeknya kesal.


Jika saja ponselnya tak di sembunyikan Ricko, mungkin ia sudah pulang dengan memesan taxy online sedari siang, kedatangan nenek Mitha membuatnya canggung saat bersama dengan gadis kecil itu.


"Tunggu sebentar lagi, aku masih merindukanmu"


"Aku udah dua hari denganmu, Dadd" protes Meera.


"Sayang, besok aku udah masuk kantor lagi pekerjaan ku pasti menumpuk" Ricko menjatuhkan kepalanya di bahu Ameera.

__ADS_1


"Aku sedang memanfaatkan waktuku, Mom"


Meera membuang nafas kasar, tak ia pungkiri jauh dalam hatinya pun sama, dua hari ini sangat istimewa baginya walau harus kerepotan menjaga Mitha tapi Ricko selalu ada di matanya.


"Satu jam lagi ya, aku janji akan mengantarmu pulang"


Dan Ricko menepati janjinya sendiri setelah puas memeluk Ameera dalam dekapannya.


"Ayo pulang, nanti keburu malam" ajaknya kemudian.


Meera langsung menarik dirinya dari dalam pelukan sang kekasih yang sejam tadi benar-benar memberinya rasa nyaman luar biasa, sentuhan dan ciuman di keningnya sudah membuat ia jatuh dalam rasa cintanya pada sang Duda.


.


.


.


.


"Kamu yakin tak mau mengajakku masuk kedalam rumahmu?" goda Ricko saat ia menghentikan mobil mewahnya di depan rumah orang tua Ameera.


"No, Dadd. Lain kali, ok"


"Iya sayang, aku turun dulu ya" pamitnya sambil menadahkan tangannya.


"Nih, telepon aku jika kamu belum bisa tidur ya" kekeh Ricko sembari menyerahkan ponsel Ameera yang sedari tadi di sita nya.


"Pasti, aku akan meneleponmu"


Ricko menghujani Meera dengan ciuman di seluruh wajah cantik kekasihnya yang terlihat kelelahan.


"Aku mencintaimu" lirih Meera yang langsung membuat Ricko tersenyum simpul.


"Aku Lebih mencintaimu, Mom" timpal Ricko tak mau kalah.


.


.


Dengan langkah tergesa ia masuk kedalam rumahnya, ada kedua orangtuanya dan kakak tersayanga nya di ruang tengah sedang menggoda si kembar yang asik bermain.


"Aunty....." teriak Cahaya, keponakannya yang paling amat ia sayangi karena bernasib sama dengannya apalagi kalau bukan menjadi anak perempuan terakhir yang di limpahi begitu banyak kasih sayang dan cinta.


"Wah, ada ada Adek" Meera memeluk si Bungsu sambil mencium kedua pipinya.

__ADS_1


"Adek besar sama adek kecil lagi pelukan" ejek Ay yang langsung mendapat sorotan tajam dari Meera.


"Dasar tukang nangis" Meera tak kalah membalas ejekan di sulung.


"Kamu dari mana sih?" tanya papa mencoba menengahi perdebatan kecil Antara anak Dan cucunya sebelum Air menjerit dan menangis.


"Habis maen, Pah" Ameera menjawab sambil terkekeh.


"Maen boleh asal jangan bolos terus" timpal Reza yang tahu jika hari hari ini adik kesayangannya itu tak masuk kuliah sedari kemarin.


"Haha, maaf kak"


"kapan lulusnya kamu, dek" oceh Reza yang akhir akhir ini dibuat pusing oleh si bungsu.


"Lulus dong, lagian mau ngapain cepet cepet lulus"


"Kerja sana, ambil alih beberapa perusahaan kan lumayan buat kamu beli es kelapa" goda Reza pada adiknya, tentu ia tak sungguh sungguh mengatakan hal itu.


"Mau ngapain aku capek-capek kerja buat beli es kelapa" cebik Meera membalas godaan kakaknya.


"Lalu kamu maunya gimana?"


.


.


.


.


.


.


.


Aku cukup menikahi anak tunggal kaya raya yang mewarisi seluruh harta keluarganya.


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Bagus Meer...


Abis jadi tuan putri langsung jadi Ratu ya 😂


Like komen nya yuk ramai kan ❤️

__ADS_1


__ADS_2