Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]

Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]
bab 21


__ADS_3

❣️❣️❣️


DEG...


Bunga tersentak kaget ketika tangan nya disentuh oleh Ricko tepat di atas dadanya yang masih memegang handuk kecil, mata keduanya saling menatap di temaramnya lampu tidur yang menyala, hanya ada suara detak jam dinding di antara mereka.


"Kak.."


Ricko tetap bergeming, tak ada sahutan sama sekali dari pria yang sedang menatap damba gadis di hadapannya itu.


"Kakak, kenapa?, mau sesuatu?" tanya Bunga yang bingung Karna tak bisa mengartikan sorot mata Ricko yang tak biasa menurutnya.


"Kemarilah... datang padaku!" pintanya sambil menarik pelan tubuh Bunga.


Kini kepalanya sudah berada diatas dada mulus Ricko, Bunga sedang menikmati detak jantung pria pujaannya itu yang ternyata sama dengannya.


"Tetaplah begini, jangan pergi" bisik Ricko.


Bunga yang tampak keheranan hanya diam dalam pelukan Ricko yang begitu hangat baginya, meski sedari dulu ia sering di peluk namun pelukannya malam ini begitu berbeda.


Satu menit, dua menit, hingga sepuluh menit keduanya diam larut dalam pikirannya masing-masing, tak ada obrolan apapun yang memecah keheningan malam itu.


"Kak, apa kakak tidur?"


Tetap tak ada jawaban sampai akhirnya Bunga mendongakkan kepalanya. Dilihatnya Ricko yang terlelap dengan dengkuran halus yang menandakan ia sudah kembali pergi ke alam mimpi.


Gadis cantik yang terbuai kelembutan sesaat Ricko pun akhirnya meringsek pelan untuk turun dari ranjang.


"Tidurlah, Aku rasa harimu begitu berat" ucap Bunga yang sudah berdiri di tepi tempat tidur, di pandanginya pria itu dengan tatapan iba.


"Ada apa denganmu?" lirihnya lagi setelah menarik selimut sampai sebatas dada yang polos tanpa apapun.


.


.

__ADS_1


.


Bunga kembali ke kamarnya membawa banyak tanya yang tak bisa ia tebak, otaknya mencoba menelisik namun ia tetap tak bisa menemukan jawabannya.


"Biar ku tanya esok pagi"


****


Pukul tujuh Bunga sudah bersiap di meja makan untuk menunggu Ricko turun dari kamarnya, menu sarapan yang sudah terhidang belum sedikit pun ia sentuh.


"Bunga!" Ricko yang terkejut terdiam sejenak sebelum akhirnya ia menarik kursi meja makannya, duduk berhadapan dengan Bunga, adik kecilnya yang sudah beberapa bulan tak bertemu dengannya.


"Hai, kak" sapaannya dengan senyum terbaik.


"Kamu kapan kesini?" tanya Ricko yang bingung, pasalnya tak ada seorang pun yang mengatakan tentang kedatangan Bunga padanya.


"Kemarin sore, tapi kakak pulang larut malam" sahutnya sambil sedikit menunduk, nada datar tanpa ekspresi masih belum juga berubah dari Ricko.


Pria itu masih saja dingin padanya, padahal dulu ia tak pernah bersikap acuh seakan menutup mata dan telinga pada setiap wanita yang datang mendekat.


"Iya" jawabnya sambil mengangguk.


" Terimakasih, dan jangan di ulangi lagi" perkataan dan ancaman Ricko membuat Bunga semakin Mendudukkan kepalanya, bukan karna takut tapi karna ia malu dengan dirinya sendiri


"Baik, kak"


Tak ada obrolan apapun yang memecah keheningan, keduanya tenggelam dalam bisikan dan pikirannya sendiri-sendiri.


"Aku berangkat, jangan lakukan hal yang bisa merepotkan ku" pesan Ricko pada Bunga saat ia bangkit dari duduknya sebelum akhirnya pergi bekerja.


Bunga membuang nafas kasar, menyandarkan tubuhnya ke punggung kursi meja makan


" Makanan ini kenapa tiba-tiba sulit sekali ku telan!" dengusnya kesal dengan tangan sudah melipat di dada dan mata tak lepas dari piring yang masih banyak tersisa makanan.


Namun derit suara kursi di tarik membuyarkan lamunan Bunga, ia menoleh ke sisi kanannya dimana sumber suara tersebut ia dengar.

__ADS_1


"Ada apa pagi-pagi kemari?" tanya Bunga saat melihat Danish sudah duduk di sebelahnya.


"Pak Ricko udah bangun?" tanyanya sembari mengedarkan pandangannya.


Bunga langsung membenarkan posisi duduknya sambil mengernyitkan dahi


"Kan udah jalan, emang gak ketemu?" tanya Bunga.


"Masa, memang ini jam berapa?" Pria itu balik bertanya, namun matanya fokus pada jam di pergelangan tangannya.


"Kak Ricko udah berangkat, mungkin kamu gak sadar pas dijalan tadi" ucapnya kembali melipat tangan.


"Duh, semua berkas rapatnya kan sama aku, lagian biasanya juga harus di bangunin dulu, ini kenapa sepagi ini udah ke kantor" ocehnya tak habis pikir dengan perubahan sikap Ricko pagi ini.


"Apa kak Ricko ada masalah?, bukannya semalam kamu mengantarnya dalam keadaan mabuk?" selidik Bunga.


"Hey, sudah ku bilang jangan menggangunya, apa semalam kamu masuk kedalam kamar pak Ricko?"


Tuduhan Danish di balas anggukan kepala oleh Bunga, gadis cantik yang sedari tadi merengut itupun mengulum senyum.


"Benar-benar anak nakal!" Danis menguasap pucuk kepala Bunga dengan gemas.


"Kak Ricko ada masalah apa?, boleh aku tahu?"


"Boleh, tapi sayangnya aku gak punya banyak waktu untuk mengobrol" ucapnya sambil bangun dari duduk.


"Jam tiga, aku tunggu di cafe depan kantor kakak, bagaimana?" pinta Bunga dengan sorot mata memohon.


"Baiklah, jam tiga aku akan menemuimu"


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2