Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]

Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]
bab 148


__ADS_3

❣️❣️❣️❣️❣️


Didalam mobil menuju rumah sakit milik keluarganya mama terus menitikan air mata sedih, tangannya terus menggenggam Meera.


Gadis cantik itu langsung dibawa ke UGD untuk mendapatkan pertolongan pertama.


"Bagaimana, dokter?" tanya mama.


"Tidak ada hal yang serius untuk di khawatirin kan, nona muda hanya kelelahan dan sedikit stress mungkin sedang banyak yang ia pikirkan " jawab dokter muda ya memang sudah mama kenal.


"Iya, dok. Meera memang sedang sibuk dengan kuliahnya yang sebentar lagi akan rampung" sahut mama memberi alasan lain, padahal ia tahu apa yang sebenarnya si bungsu pikirkan sampai kesehatannya menurun.


" Saya permisi, Nyonya, Nona muda akan sadar sebentar lagi" pamit si dokter muda itu dengan dua suster yang membantunya tadi.


"Terima kasih"


Mama mendekat ke arah Meera yang masih terpejam, ini pertama kalinya ia masuk rumah sakit selama dua puluh dua tahun.


"Adek, bangun sayang" Lirih mama mengusap tangan anak kesayangan itu yang sudah dipasang selang infus.


Mama merogoh tasnya untuk mengambil ponsel, ia akan meminta menantunya itu datang menemani di rumah sakit.


"Nak, kamu dimana?" tanya mama saat Melisa mengangkat telepon.


"Di Apartemen, Mah. Ada apa?" tanya Melisa yang langsung panik saat mendengar suara Isak tangis ibu mertuanya itu.


"Temani mama dirumah sakit, Meera pingsan" jelas Mama.


"Ya ampun!" pekiknya terkejut.


"Baik, Mah. Aku kesana sekarang tapi aku akan antar anak-anak dulu kerumah"


"Iya, mama tunggu ya, Nak" ucap Mama yang masih terdengar sisa isak tangisnya.


Mama menutup teleponnya, kembali mengusap tangan Meera yang terasa begitu dingin.


"Begitu besarnya rasa cintamu untuknya, anggap ini sebuah kerikil untuk hubunganmu, dek"

__ADS_1


Papa yang sedang dalam acara pertemuan pun langsung meluncur langsung kerumah sakit saat di beri kabar tentang anak perempuannya itu, siapapun akan panik dan khawatir jika tahu keadaan Meera saat ini.


EUGH....


Meera bergeliat sedikit saat ia merasakan sentuhan hangat tangan mama yang masih menggenggamnya.


"Sayang"


Meera menoleh sambil memegangi kepalanya yang terasa sakit.


"Alhamdulillah, kamu sudah sadar ya Sayang"


Meera mengedarkan pandangannya, ia masih bingung dengan keadaan tempat yang tak dikenalinya itu.


"Aku dimana?" tanya Meera.


"Di rumah sakit, sayang. kamu pingsan tadi" jelas mama sambil menghapus air mata leganya karna sang putri kini sudah siuman.


"Aku pingsan?, kenapa?" tanya Meera lagi bingung karna seingatnya ia tadi ia Sendang dirumah bersama mamanya.


"Terlalu banyak yang kamu pikirkan, dek"


"Sudah, Jangan menangis lagi ya, kuatkan hatimu untuk berjuang bersamamu lagi, Ok"


Meera mengangguk tapi tetap saja buliran air bening jatuh lagi dari sudut matanya.


.


.


.


.


CEKLEK


Melisa langsung membuka pintu dengan tergesa.

__ADS_1


"Mah.. adek!" serunya dengan wajah panik.


"kak, Mel" sahut Meera dengan senyum kecil di ujung bibir pucatnya.


"Kamu kenapa?, kenapa bisa begini?" tanya Melisa khawatir, Ameera sudah di anggapnya adik sendiri tentu ia merasakan rasa takut yang luar biasa sekarang.


"Aku gak apa-apa, cuma capek aja" jawab Meera.


Melisa melirik ke arah mama yang menyunggingkan sedikit senyum sambil mengangguk.


"Kamu sudah beritahu Reza, Nak?" tanya mama pada menantu kesayangannya itu.


"Sudah, Mah. mas Reza juga lagi jalan langsung kesini juga.


BRAAAAAKKKK


.


.


.


.


.


.


.


.


"Ini dia biang masalahnya!!!"


💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞💞


Babang ganteng ku mau di sidang🥱🥱🥱

__ADS_1


Like komen nya yuk ramai kan ♥️


__ADS_2