![Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]](https://asset.asean.biz.id/duda-impian--musuh-kakak-kesayangan-.webp)
❣️❣️❣️❣️❣️
"Jika suatu hari aku memakaikan cincin disini, apa boleh?"
Meera mendongakan wajahnya, kini keduanya saling menatap dengan intens.
"Gak!" jawabnya singkat sambil menggelengkan kepalanya.
"Kenapa?" tanya Ricko dengan alis mengkerut.
"Aku gak suka pakai perhiasan!"
Ricko tersenyum, meraih kembali tangan halus untuk di genggam semakin erat.
"Lalu kamu mau apa?" tanyanya dengan nada begitu lembut.
"Aku mau rumah mewah, mobil sport, apartemen, jalan jalan keliling dunia, pesawat jet, mansion di pulau pribadi dan--_"
"Hey, kamu mau ngerampok?" kekeh Ricko sambil meletakan jari telunjuknya di bibir ranum Meera.
"Kan kamu nanya ya aku jawab"
Ricko tertawa sembari mengacak rambut pirangnya, menangkup wajah cantik Ameera sambil tersenyum menggoda.
"Aku gak lagi nangis, jadi gak ada alasan buat cium aku" Ancam Ameera.
"Hem, ok!"
Ricko menarik tubuh Ameera agar lebih dekat dengannya, disandarkannya kepala itu di dadanya yang bidang.
"Apa kamu nyaman denganku?"
Ameera hanya menjawab dengan anggukan kepala, degup jantung berdetak lebih kencang saat ini begitupun dengan pria yang kini menjadi sandarannya.
"Aku ingin memiliki mu, Mom!" pintanya lirih, tanpa sadar ia mencium kening Ameera gadis itu pun menutup matanya.
Kak, tolong Adek!
Adek takut mati disini kalo begini terus...
__ADS_1
***
Reza yang baru turun dari mobil langsung masuk kedalam rumah orangtuanya yang nampak begitu sepi , tak ada siapapun di ruang tengah membuat ia melanjutkan langkahnya ke kamar mama dan papa
tok tok tok
Reza mengetuk pintu kamar dengan sedikit keras, berharap pasangan paruh baya itu keluar.
"Kak!"
Reza menoleh, ternyata mamanya yang memanggil.
"Ada apa, si kembar mana?" tanya mama karna rumah dalam keadaan sepi.
"Gak ikut aku dari kantor Kesini, Maah" jawabnya setelah mencium pipi Kanan wanita kesayangannya.
"Ada apa, tumben" mama mengernyitkan dahi nya.
"Iya, papa mana?"
"Papamu di halaman belakang lagi main sama burung-burungnya" jawab mama, Reza mengangguk paham lalu bergegas ke halaman belakang.
"Za, ada apa?, mana si kembar?"
Anak pertama Rahardian itu membuang nafas kasar.
"Yang di tanyain anak-anak aku, aku nya gak di tanyain?" keluhnya kesal.
"Kamu kan ada disini, mau apa papa nanyain kamu"
"Aih, dalem banget, Pah!"
Papa terkekeh, kemudian kembali duduk dan meneguk kopinya yang masih mengepulkan asap.
"Ada apa?, ada masalah?" tanya papa lebih serius
"Hem, soal adek, Pah"
Papa menoleh, mengernyitkan dahinya masih tak paham.
__ADS_1
"Adek kerumah eyang kan sama Bella" tanya papa memastikan.
"Iya, pah" jawab Reza sambil mengangguk.
Reza membuang nafas kasar, duduk bersandar sambil melipat tangannya di dada.
"Yakin cuma sama Bella?" Reza balik bertanya pada papa.
"Ya, izinnya hanya dengan Bella, bukannya itu sudah biasa mereka kesana berdua?!"
Reza mengangguk, ia resah seperti ada sesuatu yang mengganjal hatinya.
Apalagi sedari pagi ia belum sekalipun mendapat balasan pesan dari adik kesayangannya itu.
Meski sering Meera kesana tapi entah kenapa kali ini jauh berbeda, Reza sangat khawatir dari semenjak tahu Kepergiannya kemarin.
"Adikmu sudah besar, beri ia kepercayaan dan ruang sedikit untuk hal pribadinya, kak" papa mencoba memberi pengertian, ia tahu anak sulungnya itu sedang memikirkan adiknya.
"Tapi, pah perasaan aku gak enak banget!"
"Itu hanya perasaanmu, jika terjadi sesuatu adek pasti akan menghubungi kita kan?"
.
.
.
.
.
Aku mau kesana, Pah!!
🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥🔥***
Ikuuuuuuutttttt
Tungguin bang, neng ambil sendal swallow dulu🤭
__ADS_1
Like komen nya yuk ramai kan