Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]

Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]
bab 14


__ADS_3

❣️❣️❣️


" Yang penting rumah tangga gue gak acak-acak an"


Reza melengos begitu saja meninggalkan Ricko yang masih bergeming, ingin rasanya ia menghajar Reza seperti biasanya namun ia tak punya banyak waktu untuk melakukan hal itu karna beberapa koleganya sedang menunggunya di privat room restaurant tempat ia akan mengadakan rapat.


"Sial, awas tuh orang!" Ricko terus mengumpat dalam hati, sambil terus berjalan ke sebuah ruangan yang ia tuju. sesekali ia membuang nafas kasar untuk mengontrol emosinya agar tetap tenang.


.


.


"Loh, kok mati?" Reza yang duduk di belakang stir mobil panik saat kereta besi mewahnya itu berhenti secara mendadak di tengah jalan yang untungnya saja dalam keadaan sepi.


"Ini pasti gara-gara ketemu si keong racun tuh, beneran kan gue sial!" dengus Reza kesal lalu memukul stir mobilnya sendiri.


Ia lalu merogoh saku jasnya, meraih benda pipih untuk menghubungi seseorang yang bisa membantunya saat ini


"Hallo" sapa Reza pada salah satu asistennya yang sudah lebih dulu kembali ke kantor.


"Iya, Pak, ada apa?" jawabnya dari sebrang sana.


"Ben, kamu udah sampe kantor?" tanya Reza yang sudah berdiri di samping kanan mobilnya.


"Ya, pak. Saya baru sampai, ada apa?" tanya asisten pribadinya yang bernama Beni.


"Kirim saya mobil ke jalan Cemara ya, mobil saya mogok" pintanya langsung.


"Baik, pak. segera"


Reza kembali masuk kedalam mobil, sambil menunggu datangnya mobil kantor iapun mencoba bertukar pesan dengan sang istri yang kini berada di sekolah si kembar.


Ada senyum lebar dan tawa kecil di sudut bibirnya saat ia berhasil menggoda KHUMAIRAHnya.


Bukan Reza namanya jika tak bisa membuat sang istri kapanpun dan dimana pun hidup bagai terbang ke atas awan jika ia sudah mengeluarkan jurus rayuannya.


Hampir dua puluh menit Reza menunggu akhirnya mobil pun datang, dengan segera ia masuk kedalam mobil yang supir kantor bawa untuknya.


"Saya sudah hubungi montir, nanti kamu urus ya, beritahu Beni jika ada sesuatu" pesan Reza pada seorang pria dewasa yang bekerja di bagian kantor pusat.

__ADS_1


"Baik, pak. hati-hati dijalan" ucapnya dengan menunduk sopan.


Reza hanya mengangguk lalu menyalakan mesin mobilnya, meninggalkan begitu saja si supir dan mobil barunya yang beberapa waktu di pilihkan si sulung.


Setelah lima belas menit menempuh perjalanan, kini ia memarkirkan mobil tersebut di area parkiran rumah sakit, Melisa yang belum juga kembali dari sekolahan si kembar membuat pria tiga anak itu memilih mampir sebentar melihat si bungsu meski pekerjaan nya menumpuk di kantor.


Beberapa orang yang sudah mengenalnya langsung tersenyum penuh kesopanan, bahkan tak jarang juga sekedar berbasa-basi kepada Reza selaku anak dari pemilik rumah sakit, siapa lagi kalau bukan Tuan Wisnu Rahardian Wijaya.


.


.


.


CEKLEK


Reza membuka pintu dengan amat pelan, ruangan besar bak hotel itupun nampak sepi tanpa suara apapun.


"Sayang" lirihnya di telinga kiri Cahaya, si bungsu yang masih terbaring tak berdaya, jantungnya yang lemah membuat ia tak bisa beraktivitas lebih.


"Sembuh , dek. papa sayang adek"


Usai menatap lembut Cahaya, kini matanya beralih pada adiknya, Ameera yang ikut terlelap tak menyadari kehadiran kakak tersayangnya.


"Ini kenapa pada tidur begini, sih?, di suruh jagain adek malah ikutan ngiler" gumam Reza yang berdiri di depan Ameera.


"Dek, bangun!"


Reza mengguncang bahu adiknya dengan pelan


"Deek, Chaca udah ada yang periksa lagi belum?" Reza malah bertanya meski ia tahu gadis itu sedang terlelap.


Ameera menggeliat pelan saat perutnya di glitiki dengan lembut oleh Reza, kebiasaan yang tak pernah bisa Reza tinggalkan meski ia sadar berapa umurnya saat ini, tentu ia bukan lagi bocah kecil seperti dulu, karna kini ia sudah bisa merasakan jatuh cinta dah patah hati dalam waktu bersamaan


"Kakak,. ganggu aja" Ameera berkata sambil menguap.


"Kamu tidur kaya orang pingsan" kekeh Reza dengan mencubit hidung adik kesayangannya itu.


"Kakak!" pekiknya kesal, namun mampu membuat Reza tertawa.

__ADS_1


"Kak, aku boleh minta sesuatu?" pintanya dengan gaya manja seperti biasanya.


"kamu mau apa?" tanya Reza yang langsung menarik tubuh langsing adiknya itu kedalam pelukannya.


"Aku mau--_"


Ameera menggantung kata-katanya, masih ada keraguan dalam hatinya yang belum bisa ia utarakan.


"Kamu mau apa?, apa yang belum kamu punya?" tanya Reza, ia adalah Seorang kakak yang menghujani adik semata wayangnya itu dengan kasih sayang dan materi yang berlimpah.


"Aku mau, Mau...." lagi lagi Gadis cantik itu tak meneruskan keinginannya.


"Adek mau apa?, kakak kasih apapun itu!" ucap tegas Reza, ia memang selalu menuruti semua kemauan Ameera.


"Yakin?, kakak mau kasih apapun itu untuk aku?" tanyanya pada Reza.


"Ya, kamu mau apa?"


.


.


.


.


.


"Aku mau sesuatu tapi itu milik orang lain!"


💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦💦***


Hayo... dikasih gak ya?


😂😂😂😂😂😂😂


Lu dah janji bang tadi, tuh adek kesayangan Lo maunya gak kira kira 🤭🤭🤭🤭


Like komen nya yuk ramai kan

__ADS_1



__ADS_2