Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]

Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]
bab 143


__ADS_3

❣️❣️❣️❣️


Ameera yang tak bisa tidur semalaman karna Sang kekasih sedang merajuk padanya hanya diam pasrah menerima nasibnya yang belum juga mendapatkan restu dari sang kakak..


Hubungan percintaannya ternyata sedikit membuat ia dan Reza kini sering berdebat dan merenggang.


Meera yang sering merengek ternyata membuat pria tiga anak itu memilih menghindar bahkan dua Minggu ini ia dan istri beserta tiga anak kembarnya pun tak berkunjung ke rumah orangtuanya.


Hal itu membuat Meera semakin frustasi.


Maju salah mundur juga Salah....


Begitulah ia merutuk dirinya sendiri, yang duduk bersandar di punggung tempat tidurnya, waktu kuliah yang tinggal beberapa jam lagi pun tak ia hiraukan.


Tok..tok..tok.


Suara ketukan membuyarkan lamunan Meera, anak perempuan satu-satunya yang merangkap menjadi si bungsu Kesayangan keluarga itu hanya menoleh sambil menyahut malas.


"Masuk"


CEKLEK


Mama membuka pintu kamar Ameera dengan pelan, wanita baya itu tersenyum hangat pada gadis Cantiknya yang memasang wajah sedih sambil merentangkan kedua tangannya


"Ada apa?, kenapa gak sarapan ke bawah?" tanya mama setelah mengurai pelukannya.


"Gak laper, itu aja belum di makan" jawabnya sambil menoleh kearah nampan berisi sarapan yang di letakan di atas nakas samping tempat tidurnya.


"Sarapan dulu, mama suapin ya" tawar mama pada putrinya, gadis kecil hasil rengekan Reza yang menangis meraung-raung meminta adik secara mendadak padahal waktu itu ia sudah menginjak usia remaja.


"Gak, aku gak pengen" tolaknya.


"Kalian bertengkar lagi?" tebak mama langsung yang di jawab Anggukan oleh Meera.


"Kamu sudah bicarakan lagi dengan kakakmu?, bujuk terus hatinya mama yakin dia akan merestui kalian" saran mama untuk si bungsu.


Meera menunduk kan kepalanya, satu tetes air mata jatuh di pipi mulusnya yang biasa diciumi Ricko dengan gemas.


"Ricko meminta ku untuk menemani nya ke acara pembukaan Hotel baru temannya, Mah. Dan kakak pun pasti datang, aku gak mau mereka bertengkar sedangkan aku tak dapat izin untuk pergi" lirih Meera mengungkapkan permasalahan yang terjadi antara dia, Ricko dan Reza.


"Apa Ricko memaksamu?" tanya mama lagi.

__ADS_1


"Ya, dia sedikit memaksaku dan kali ini dia marah padaku" jawabnya sambil membuang nafas kasar.


Terbukti sampai detik ini pria berlesung pipi itu belum juga menghubunginya setelah perdebatan semalam.


"Ricko ingin mengenal kan ku pada orang-orang di sekitarnya, Mah, apa itu salah?" keluh Meera.


"Suruh Ricko datang lagi untuk menemui papa dan kakakmu" pinta mama sebelum meninggalkan Meera kembali sendiri di kamar.


.


.


.


.


Meera yang sudah rapih setelah mandi kini bersiap menuju kampus nya yang tinggal beberapa bulan lagi ia disana, Langkahnya langsung menuju garasi mobil karna tak ada siapapun dirumah kecuali para ART.


"Mang, tar aku pulang telat ya kalo mama tanya" pesan Meera pada satpam yang membuka gerbang rumahnya.


"Siap, Non"


Jalanan yang nampak lengang membuat ia dengan cepat sampai di area parkiran bangunan luas dan megah sebuah universitas bertaraf internasional.


"Meera..." panggil bella yang memang sengaja di pinta menunggunya.


"Udah lama?"


Bella menggelengkan kepalanya, kemudian langsung menarik tangan sahabatnya itu menuju kelas mereka karna waktu yang tersisa tinggal lima belas menit lagi. keduanya duduk berdampingan seperti biasa.


Bella mengusap punggung Meera karna gadis itu terus-terusan membuang nafas kasar.


"Sabar ya, kalo kalian jodoh gak akan kemana kok" ucap Bella menghibur Meera, Ia yang tahu duduk permasalahnya pun tak bisa berbuat banyak kecuali menguatkan hati sahabatnya itu.


.


.


Satu pelajaran usai, dan tak sedikit pun ilmu yang di berikan dosen masuk ke kepala Ameera, gadis itu masih memikirkan pujaan hatinya yang belum juga menghubunginya sejak semalam.


Meera meraih ponselnya di dalam tas, menggeser layar benda pipih yang terdapat foto mereka berdua.

__ADS_1


Jari lentiknya kini sibuk mengetik pesan untuk Ricko, berharap pria itu mau membalasnya.


*Meera


[ Dadd, bisa kita bertemu untuk makan siang? ]


[ Aku tunggu di tempat biasa ya ]


[ Aku merindukanmu ]


Dua pesan yang dikirim tak kunjung juga di balas meski ia sudah menunggu lebih dari sepuluh menit.


TRIIIIING


Tangan gadis itu dengan sigap membuka pesan saat terdengar bunyi notifikasi di ponselnya.


*Daddy


[ Ya ]


Entah bahagia atau kecewa, karna hanya satu kalimat yang diberikan pria itu padanya.


Ucapan rindu pun sama sekali tak dibalasnya.


Meera menarik nafasnya dalam-dalam, menyimpan kembali tas dan bergegas pergi.


"Gue mau makan siang sama Ricko, gue duluan ya" pamit Meera pada Bella.


"Ya, hati-hati dan kabari gue ya" pesan gadis berponi itu.


Langkah kaki gontainya langsung berjalan menuju area parkir tempat dimana mobil mewahnya berada.


Meera melajukan kereta besi itu dengan kecepatan sedang sampai akhirnya berhenti di sebuah resto yang tak jauh dari kantor Ricko, ia tahu pria berlesung pipi itu akhir akhir ini begitu sibuk.


Sembilan menit ia menunggu, matanya langsung menangkap sosok lelaki tinggi putih dengan jas hitam berjalan kearahnya, siapa lagi jika bukan Duda impiannya


🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻


Like komennya yuk jangan lupa vote dan hadiahnya.. ya.


Mommy and Daddy otewe konflik 🥱🥱🥱

__ADS_1


__ADS_2