Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]

Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]
bab 154


__ADS_3

❣️❣️❣️❣️❣️❣️


Usai menghabiskan seluruh makanan sampai perut mereka seakan sakit karna rasa kenyang akhirnya Ricko mengajak Meera untuk pulang, ia meyakinkan gadis itu untuk menunggunya malam ini datang.


"Ibumu saja tak menyukaiku, bagaimana kalian bisa ke rumahku?" dengus Meera kesal jika mengingat betapa ketusnya sang calon mertua.


"Jangan mematahkan semangatku untuk menghalalkan mu, sayang" rayunya lagi sambil mengusap pipi putih kekaksihnya yang terlihat begitu tirus.


"Hmm, baiklah. Kita pulang!"


Meera yang sudah bangun lebih dulu di tarik kembali oleh Ricko agar kembali duduk, gadis itu mengernyitkan dahinya bingung dengan sikap duda impiannya itu.


"Apalagi?" tanyanya, saat mereka kembali duduk berhadapan.


"Aku masih merindukanmu"


Tanpa aba-aba, pria itu langsung mencium pipi kanan Meera dengan begitu lembut sampai gadis itu reflek menutup matanya karna terbuai dengan deru nafas Ricko yang terasa hangat.


"Dadd.." keluhannya saat bibir sang kekasih ternyata sudah menjalar ke bagian ceruk lehernya.


"Hmmm, biarkan aku merasakannya sedikit" bisiknya dengan suara berat.


"Jangan, Dadd.. ku mohon!" pintanya lirih Karna detak jantung yang sudah tak karuan.


"Kenapa?" tanya Ricko, ia sudah memulai sedikit menyesap leher putih kekasihnya untuk memberinya tanda kepemilikan.


"Jangan sebentar, ayo pindah lagi, hahahaha" Meera tergelak sambil mendorong kepala Ricko dari lehernya.


"Dasar nakal!, aku pancing malah kasih umpan" kekeh Ricko yang lagi-lagi di goda oleh gadis pirangnya.


"Udah yuk, main-mainnya nanti aja kalau udah halal"


Ricko tersenyum kecil, sampai saat ini ia belum bisa menaklukkan Meera untuk menyerahkan tubuhnya. Tentu hal itu yang menjadi istimewa dan membuat Ricko terus mempertahankan gadisnya.


Ia hanya senang menggoda tanpa sungguh sungguh ingin menikmati tapi jika Meera mengizinkannya tentu itu bonus baginya.


.


.


.


Perjalan sedikit tersendat karna waktu bertepatan dengan jam pulang kantor, yang harusnya kurang dari satu jam justru kali ini harus lebih.


"Orangtuamu ada?" tanya Ricko saat mobil mewah sudah memasuki rumah mewah kediaman RAHARDIAN.


"Ada, tapi papa sempet pergi tadi pagi" jawabannya ragu.

__ADS_1


Keduanya melepaskan setbelt lalu turun dari kereta besi milik Ricko, kini keduanya masuk dengan saling bergandengan tangan.


Pintu rumah yang terbuka lebar membuat Meera sedikit bingung, apalagi saat mendengar jerit tangis yang sudah ia hafal pasti keponakan kembarnya.


"Ada Reza?" tanya Ricko pada Meera.


"Entahlah" sahutnya yang iapun masih ragu.


Belum sampai di ruang tamu ternyata mereka sudah di sambut oleh si sulung yang masih menangis histeris sambil berlari ke arah Ricko, tentu pria itu langsung menggendong Air dalam pelukannya.


"Kakak kenapa?" tanya Ricko.


"Gak apa-apa" sahutnya masih terisak.


"Terus kenapa nangis?" tanya Ricko lagi.


"Lagi pengen nangis aja"


Ricko langsung mengernyitkan dahinya, namun Meera malah mencebikkan bibirnya.


"Kebiasaan!" ujar Meera ketus.


Keduanya membawa Air masuk kedalam rumah menuju halaman belakang saat Meera bertanya keberadaan kedua orangtuanya pada si sulung yang sudah menenggelamkan kepalanya diceruk leher Ricko.


.


.


"Wah, ada tamu" jawab papa yang langsung bangun dari duduknya, memindahkan Cahaya dari pangkuannya.


"Sore, Om.. Tante"


"Sore, Ricko. Mari silahkan duduk" ucap mama pada kekasih anak kesayangannya itu.


"Terimakasih, Tante"


"Papa kirim orang-orang untuk mencarimu, karna supir pulang lebih dulu meninggalkan kamu di pemakaman" kata papa sambil menatap putri bungsunya.


"Tapi mereka bilang, kamu bersama Ricko pergi menuju apartemen" tambah papa lagi, kini tatapannya beralih pada pria yang duduk memangku cucu pertama Rahardian.


Ricko menelan Salivanya, ia lupa siapa gadis yang di bawanya itu, semua yang di lakukan Meera tentu tak lepas dari pengawasan keluarganya yang masih ketat menjaga putri bungsu konglomerat itu.


"Iya, om. tadi saya bertemu Meera di pemakaman almarhumah istri saya, setelah itu saya membawanya ke apartemen karna ada yang harus kami selesaikan"


"Lalu bagaimana sekarang?" tanya papa, kini hanya mereka bertiga, karna mama sudah membawa ketiga cucu kembarnya masuk kedalam rumah.


"Malam nanti saya akan datang bersama kedua orangtua saya untuk melamar Ameera secara resmi" jawab Ricko meyakinkan.

__ADS_1


"Baiklah, kami tunggu niat baikmu untuk datang, tapi hubungi juga Reza, kamu harus ingat jika Meera masih punya kakak laki-laki yang berhak juga memutuskan"


"Baik, Om. Saya akan menghubunginya"


Ricko langsung meraih ponselnya, mencari kontak Reza yang ia beri nama Calon Ipar laknat.


" Hallo" sapanya saat Reza mengangkat telepon.


"Ada apa lagi, sih!" dengusnya kesal.


"Nanti malem gue mau ngelamar Ameera secara resmi gue harap Lo juga ada karna ini permintaan papa Lo" pinta Ricko dengan nada sopan walau dalam hatinya ia mengumpat memaki pria itu.


" Gak bisa" jawab Reza dengan suara keras dan nafas terengah-engah.


"Kenapa?" tanya Ricko bingung.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Hari ini gue lagi mau enak enak ma bini gue.


Gak usah ganggu!!!


💗💗💗💗💗💗💗💗💗


Fix emang jahara banget tuh Si gajah 🤭🤭🤭


Babang duda ku disuruh nunggu babang ganteng lagi mantap mantap 😂😂😂😂


Gokil dah ah..

__ADS_1


Gak Kesian bgt ma bangDud yang hampir karatan 🙄


Like komen nya yuk ramai kan ❤️


__ADS_2