Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]

Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]
bab 98


__ADS_3

❣️❣️❣️❣️❣️


BRAAAAAAAAKKKKK


"Brengsek, Lo ya!!"


Ricko menggebrak meja lalu pergi meninggalkan Reza yang tersentak kaget.


"Dasar orang gila, nyesel gue tadi Bae sama Lo!" Teriak Reza sambil bangun dari duduknya ,ia benar-benar kesal pada pria yang kini hanya terlihat hanya punggungnya saja.


Tak berbeda dengan Ricko, pria arogan itu pun mengumpat dalam hatinya saat mendengar nama Meera, gadis yang kini menguasai pikirannya yang belum juga membalas pesannya dari dua jam yang lalu.


"Kamu tuh kemana sih, Mom!" Ricko yang kesal karna teleponnya tak kunjung di angkat akhirnya memukul stir mobilnya sendiri.


Tuuuut....tuuuuut...tuuuuuut..


"Hallo..."


Ricko bernafas lega lalu mengusap wajahnya Sendiri, Senyum tersungging di sudut bibirnya saat ia mendengar suara Ameera menyapa dari sebrang sana.


"Kamu dimana, Mom?" tanya Ricko langsung.


"Di cafe Deket campus, baru mau pulang. Kenapa?" Meera balik bertanya.


"Kamu diem disitu, aku jemput sekarang pokoknya jangan kemana-mana!" Ricko memerintah Ameera Seenaknya sampai gadis itu melongo mendengarnya.


"Tapi aku-_"


Ricko yang tak mau mendengar alasan dan penolakan langsung menutup teleponnya, menyalakan mesin mobil kemudian melajukan kendaraannya itu menuju tempat Ameera berada.


Tak sampai dua puluh menit ia sudah sampai di cafe dekat campus yang tadi di sebutkan Meera, dengan langkah tergesa ia segera masuk dan menemui Gadis pirangnya yang masih duduk bersama Bella.


"Mom.."


Meera menoleh dan tersenyum, mengulurkan tangannya yang langsung di sambut oleh Ricko.


"Ada apa?" tanya Meera saat Ricko duduk di sisinya.


"Gak ada, Cuma mau kamu temenin aku malam ini buat beli keperluan Mitha, bisa kan?"


Meera langsung melirik ke arah Bella, gadis berponi itu mengangguk kan kepalanya.


"Hem, sama Mitha juga?"


"Enggak, cuma kita aja , Mom" jawab Ricko.

__ADS_1


Keduanya kini bangun dari duduk bersiap pergi dari cafe setelah berpamitan dengan Bella.


Ricko langsung menggandeng Ameera menuju mobilnya yang terparkir tak jauh dari pintu masuk cafe.


"Kita mau kemana sih?" tanya Meera karna waktu hampir petang.


"Mitha minta di beliin selimut baru, Aku gak ngerti"


Meera hanya mengangguk, namun dering ponsel membuyarkan lamunannya yang hanya mendengar kan Ricko bercerita.


"Eh, kamu mau apa?" Ujar Meera saat benda pipih miliknya di rebut oleh Ricko.


Ricko yang melihat nama Reza di sana langsung mematikan telepon dan menyimpannya di saku jas.


"Balikin, Dad!" Gadis pirang itu menadahkan tangannya meminta ponselnya kembali


"Gak!" sahutnya singkat padat dan jelas .


"Kaka Reza telepon aku"


"Mau apa dia telepon kamu?" Ricko malah balik bertanya.


"Ya aku mana tau, ponselnya aja kamu rebut Paksa begitu" sungut Meera kesal.


"Maaf...." ucap Ricko sambil mencoba meraih tangan Meera namun gadis itu dengan kasar menepisnya.


Melihat Meera sudah sangat marah, akhirnya Ricko mengembalikan ponsel itu pada Meera.


"Berjanjilah padaku satu hal" ujarnya yang membuat Meera bingung.


"Apa?"


"Jangan pernah mau menemui pria lain selain aku meski Reza yang menyuruhmu, ku mohon!". lirih Ricko berkata dengan tatapan sendu.


"Maksud kamu apa?, aku gak ngerti"


"Hubungi Reza lagi, tanyakan padanya ada perlu apa dia menghubungi mu, jika dia memintamu pergi menemui pria lain, ku mohon jangan lakukan itu" pinta Ricko dengan sedikit memaksa, karna tangannya kini sudah meremas jari-jari Meera.


Meera yang benar benar tak mengerti langsung menghubungi Reza, ia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi sampai pria di sampingnya itu rela memohon padanya.


.


.


.

__ADS_1


"Hallo, kak. Ada apa?" tanya Ameera saat teleponnya di Jawab oleh Reza.


"Kemana aja sih, malah di matiin" oceh kakaknya di sebrang sana, se sayang apapun Reza padanya pria beranak tiga itu tak pernah segan memarahi adiknya jika kesal


"Maaf, aku di jalan, ada apa?" Meera mengulang pertanyaannya.


"Jemput Justin satu jam lagi di Bandara ya" titah Reza.


"Justin?, dia pulang kesini?" Meera nampak antusias saat mendengar nama Justin di sebut kakaknya.


"Iya, jemput dan ajak dia makan malam ya"


Ricko langsung memukul stir mobilnya sambil mendesah kesal, apa yang ia perkirakan ternyata sesuai kenyataan.


"Hem, tapi aku gak bisa, aku ada urusan, kak!" Meera nampak ketakutan saat melihat sorot mata Ricko yang sedang menahan marah.


"Kenapa?, pasti dia seneng di jemput kamu, dek"


Meera hanya diam, ia tak berani menjawab karna bingung diantara dua pria.


"Ya sudah, kalau kamu gak bisa biar nanti kakak kirim supir buat jemput, biar Justin langsung kerumah"


Ricko semakin membulatkan Matanya, melihat hal itu Meera justru reflek mematikan teleponnya yang memang di Loud speaker maka itu Ricko bisa mendengar jelas apa yang kakak beradik itu bicarakan.


.


.


.


.


.


.


.


Kita ke apartemen ku sekarang!!!!!


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


Wah Mommy mau di umpetin ya Bang 🤣🤣


Kuatin imannya ya, gue gk tanggung jawab kalo buntut Lo goyang kiri kanan 😝😝😝😝😝

__ADS_1


__ADS_2