Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]

Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]
bab 155


__ADS_3

🍁🍁🍁🍁


Pertemuan yang seharusnya di adakan malam itu harus di undur karna Reza sedang tak dirumah, pria tiga anak itu entah berada dimana saat ini. Meninggalkan si kembar di rumah utama bersama orangtuanya.


Ricko yang sudah kembali pulang kini hanya menyisakan Ameera dan mama di ruang tamu sedangkan papa sudah kembali keruang kerjanya.


"Kenapa kakak jahat banget sih, Mah?" dengus meera kesal.


"Kan kakak gak tau kalau kamu dan Ricko akan datang kemari, kalau kakak tahu mungkin di gak akan pergi, sayang" hibur mama pada si bungsu.


"Honeymoon mulu sih, bosen!" ketus si pirang.


Mama mengusap punggung Putri kesayangannya itu, gadis kecilnya yang sekarang sering merengek meminta restu di nikahi oleh duda impiannya.


jauh daam lubuk hatinya ia belum siap melepaskan tapi jika memang jodohnya secepat itu tentu hanya doa restu yang bisa wanita paruh baya itu berikan.


"Istirahatlah, esok kita bicarakan lagi. Mama akan minta kakakmu pulang esok hari" titah mama.


" Yakin kakak mau pulang?" tanya ameera ragu.


"Tentu sayang, mama akan meminta kakak iparmu untuk membujuk suaminya itu" kekeh mama yang tahu akan kelemahan anak sulungnya itu.


"Sayang mama banyak-banyak" ujarnya manja sambil memeluk mama.


********


Pagi hari ia di bangunkan oleh si kembar yang masuk secara tiba-tiba ke dalam kamar. Teriakan si sulung tentu mengagetkan ia yang masih terlelap terbuai mimpi.


"Kakak berisik" sentak Ameera sambil melempar bantal kearah si sulung.


"Hayu main, kakak mau main main sama adek besar" rengek Air pada auntynya, sedangkan cahaya hanya berbaring cantik disisi ameera yang sedang mengamuk.


"Males, keluar sana" usirnya pada anak kesayangan keluarga itu sambil memeluk si bungsu.


"Huaaaaaaaa... aunty bule nakal" jeritnya seperti biasa.


Mama yang kebetulan lewat langsung masuk saat mendengar cucu pertamanya itu menangis.


ia membuka pintu dengan lumayan keras.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya mama.


"Mau main sama Aunty, Omma" adunya dengan wajah menyedihkan ditambah dengan deraian air mata.


"Ajak dong, dek" ujar mama pada ameera yang kembali tidur memeluk Cahaya.


"Aku males" jawab gadis berambut pirang itu.


Air yang semakin histeris menangis akhirnya dibawa mama keluar dari kamar Ameera, wanita paruh baya itu merayu cucunya untuk bermain bersama burung-burung peliharaan Oppa.


.


.


.


Tok..tok..tok..


Suara ketukan pintu jelas terdengar oleh Meera yang baru saja selesai mandi di waktu yang sudah menunjukan hampir jam sebelas siang.


"Tunggu" sahutnya sambil berjalan kearah pintu


Ameera tersenyum saat melihat siapa yang sedang berdiri di ambang pintu kamarnya.


"Kakak"


Meera langsung memeluk wanita yang selama ini menjadi panutannya, wanita yang teramat di cintai oleh kakaknya sendiri.


"Kakak dari mana, Sih?" tanya Ameera langsung sambil bergelayut manja.


"Biasalah, jalan-jalan sebentar sama kakak kamu" kekeh Melisa.


"Sebentar itu satu jam, kalo sehari semalem itu lama" sindirnya pada sang kakak ipar.


"Kak Reza ada?" tanya si bungsu lagi.


"Langsung ke kantor, ada meeting sambil makan siang katanya" jelas Melisa.


Ameera hanya mengangguk paham, ia sudah sangat biasa dengan alasan seperti itu, dan nanti jika ia memang berjodoh pun akan semakin terbiasa, nasibnya tak akan jauh berbeda dari mama juga Melisa yang bersuamikan seorang pengusaha sukses.

__ADS_1


"Apa Ricko akan melamarmu secara resmi?" tanya Melisa pada adik iparnya itu.


"Iya, kak. Aturan malam kemarin tapi karna kalian gak ada jadi di undur entah kapan. Aku dan Ricko tinggal menunggu kabar dari kak Reza" lirih Meera


"Kamu tenang aja, kakakmu itu pasti mau bertemu dan menerima kedatangan Ricko serta keluarganya nanti" ucap Melisa penuh keyakinan.


"Kakak serius?"


"Iya, Sayang. Tapi semua itu bersyarat" kata Melisa sambil mengusap tangan Meera


"Apa syaratnya?" tanya gadis itu penasaran.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Cukup kalian berempat yang menemui keluarga Ricko, kakak di pinta menjaga anak-anak di kamar!


πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•πŸ’•


Tobat, bang...


Bini Lo udah bukan seleranya lagi🀣🀣🀣🀣


like komen nya yuk ramai kan ❀️

__ADS_1


__ADS_2