![Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]](https://asset.asean.biz.id/duda-impian--musuh-kakak-kesayangan-.webp)
❣️❣️❣️❣️
"Apa kamu mau kita satu kamar?"
Bunga mengangguk namun sedetik kemudian ia menggeleng membuat Ricko akhirnya membuang wajah sambil tersenyum.
'Aneh'. gumamnya.
Perjalan yang memakan waktu kurang lebih 3 jam itu akhirnya bisa sampai juga ke kota tujuan tanpa hambatan sama sekali, keduanya turun dari pesawat menuju mobil yang sudah siap membawa mereka ke hotel milik Ricko, Hotel Lima belas lantai di tengah kota.
keduanya masih diam seribu bahasa tak ada yang mau memulai lebih dulu untuk memecah keheningan.
.
.
"Ayo turun" ajak Ricko saat mobil tepat berhenti di depan lobby, sudah banyak yang menyambutnya di depan pintu utama.
"Selamat siang" ucap salah satu pria dengan pakaian formal.
"Ya, selamat siang"
Ricko langsung di antar menuju kamarnya di lantai paling atas yang ternyata itu adalah lantai khusus keluarga atau kerabat keluarga Pradipta jika sedang ada kunjungan ke kota A.
"Silahkan, pak. selamat beristirahat"
Ricko hanya mengangguk dan tersenyum, langkahnya langsung masuk dengan di susul Bunga di balik punggungnya.
"Aku mau tidur" ucapnya setelah membuka sepatu lalu berbaring di tengah kasur kingsize.
"Kamarku, mana?" tanya Bunga yang kebingungan.
"Terserah, ada banyak kamat disini, Kamu bisa pilih sesukamu"
Bunga menghela nafas kasar, ia lalu masuk ke sebuah kamar tepat di sisi kamar Ricko.
"Lelah juga ternyata"
Bunga menyingkap gorden yang menutup jendela besar hotel tersebut, hotel milik suaminya.
Ya.. suami dari Bunga Sarasvati yang kini menyandang sebagai nyonya Ricko Pradipta.
"Apa aku akan bahagia?" lirihnya.
"Aku hanya menjadi istri di atas kertas dan di depan banyak orang-orang, tapi bukan menjadi istri sesungguhnya apalagi ratu di hati kak Ricko"
"Aku mencintainya, sangat sangat mencintainya!"
"Aku ingin hanya aku di hati juga pusat pikiran kak Ricko, tapi bagaimana caranya?"
"Apa yang harus ku lakukan untuk memiliki hati juga raganya?"
"Aku harus melakukan sesuatu, Sebelum aku di buang begitu saja"
Bunga terus berbicara dalam hatinya, ia yang berdiri di depan balkon akhirnya meremat kain baju bagian dadanya sendiri. Rasa tak ingin di Campak kan oleh kekasih hatinya membuat ia berpikir untuk melakukan rencana agar bisa menempatkan dirinya terus di samping Ricko, suaminya.
***
Lewat tengah hari akhirnya Bunga kembali ke kamar Suaminya, bermaksud untuk membangunkan Ricko dari istirahatnya.
"Kak, bangun!" ucap Bunga sambil duduk di sisi Ricko.
Matanya yang terpejam seakan membuktikan betapa lelapnya ia tertidur untuk melepas lelah selama di perjalanan tadi.
__ADS_1
"Hem, jam berapa?" tanyanya saat bergeliat.
"Hampir jam satu!"
Ricko bangun dengan segera, menggoyangkan kepalanya untuk mengusir rasa pening di kepalanya.
"Aku akan siapkan baju, kakak mandi saja dulu" titahnya sambil bangkit dari duduk dan berlalu menuju ujung sofa dimana koper suaminya belum sempat ia rapihkan.
Tak menunggu waktu lama Ricko pun langsung bangun dari tempat tidur menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya lebih dulu sebelum menemui beberapa rekan bisnisnya.
.
.
.
"Kamu mau keluar?" tanya Ricko saat keluar dari kamar dengan pakaian yang sudah di siapkan Bunga.
"Enggak, nanti aja" jawabnya sambil menutup pintu lemari pendingin.
"Hem, baiklah.. ada supir yang sudah aku siapkan untukmu jika mau keluar nanti, pulanglah sebelum aku kembali" pesan Ricko pada istrinya.
Bagaimana pun ini adalah tempat yang masih asing untuk Bunga, ia hanya tak ingin hal buruk terjadi padanya, bentuk perhatian kecil namun siapa sangka mampu menggetarkan hati Bunga.
"Iya, kak"
Ricko berlalu meninggalkan istrinya yang masih diam berdiri dengan tangan yang memegang minuman soda kaleng.
BRAAAKKK..
Bunga melempar minumannya, ia bergegas masuk kedalam kamar untuk mengambil ponselnya yang tergelak di atas meja rias samping tempat tidur.
"Nah, ini dia" ucapnya dengan mata berbinar senang.
"Beres!!" ujarnya lagi sembari meletakan ponselnya kembali. Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur dengan pikiran melayang jauh tentang rencananya.
.
.
.
satu jam dua jam bahkan hampir tiga jam akhirnya pintu kamar hotelnya ada yang mengetuk, Bunga dengan sigap langsung berlari kecil ke arah pintu.
"Selamat sore, ini pesanan anda" ujar seorang pria pada Bunga.
"Ya, terimakasih banyak" jawab bunga sambil meraih satu paper bag dari pria tersebut.
Hatinya berbunga-bunga sama seperti namanya, rona merah di pipinya mulai terpancar saat meraih benda dalam paper bag tersebut
"Aku akan mempertahankan apa yang menjadi hak dan milikku" bisiknya dalam hati di depan cermin yang memantulkan dirinya sendiri.
.
.
.
sebelum malam tiba, Ricko sudah kembali ke hotel tanpa menyapa Bunga yang sedang asik dengan ponselnya ia langsung masuk kedalam kamar, merebahkan dirinya sebelum beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
"Semoga apa yang kuharap kau bisa terwujud" lirihnya setelah memejamkan mata, ada deru nafas pelan dan teratur keluar dari hidung mancungnya.
"kaaak..."
__ADS_1
Ricko yang baru mau terlelap akhirnya terperanjat.
"Ada apa?" tanyanya dengan hanya memiringkan sedikit kepalanya kearah Bunga yang berdiri di ambang pintu.
"Mau makan malam dimana?" tanyanya.
"Kita makan makan malam di luar, aku mandi dulu"
Bunga mengangguk lalu kembali menutup pintu bercat putih itu dengan pelan, sadar akan kebiasaan suaminya yang tak suka kebisingan.
****
Bunga dan Ricko bergandengan tangan layaknya pasangan suami istri pada umumnya, senyum selalu keduanya berikan pada siapapun yang mereka temui.
"Silahkan, tuan dan nyonya" seorang pelayan mempersilahkan mereka untuk duduk di tempat yang sudah Ricko pesan lebih dulu.
"Terima kasih" jawab Bunga yang duduk di hadapan Suaminya.
Beberapa menu makanan sudah mereka pesan, Bunga yang bingung hanya sesekali melirik kearah Ricko yang fokus menikmati suara seorang pemuda tampan yang sedang menyanyikan sebuah lagu disebuah panggung kecil di sudut restauran.
"Kakak, bisa bernyanyi?" tanya Bunga sebagai awal obrolan mereka.
"Hem, gak sih. tapi kalo buat nyanyi sendiri sering" kekehnya malu, karna seumur hidupnya baru kali ini ada yang bertanya seperti itu.
"Oh, aku juga suka nyanyi"
Ricko mengusap kepala Bunga dengan lembut.
"Aku tahu, dan aku sering mendengarnya" ucap Ricko yang sontak langsung membuat Bunga tersipu malu.
.
.
Makanan tiba, semua yang di pesan kini terhidang di meja bulat tempat dimana mereka duduk bersama.
Bunga melahapnya dengan Sangat senang hati ia tak banyak bicara sebelum semua tandas tanpa sisa.
"Ada yang mau kamu makan lagi?" tanya Ricko.
Bunga menggeleng kan kepalanya dengan menahan senyum.
"Mau main?" tanya Ricko lagi.
Lagi lagi Gadis cantik itu menggeleng.
Ricko mengernyitkan dahinya, namun tertawa setelahnya.
"Baiklah, kita pulang"
Ricko bangkit dari duduknya, mengulurkan tangannya pada sang istri yang masih duduk dengan manisnya, Bunga langsung meraih tangan hangat itu dengan Segera dan menggenggamnya erat.
.
.
.
.
"Aku Takan melepas mu, apapun yang terjadi!!!"
,🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉
__ADS_1
Like komen nya yuk ramai kan ❤️❤️❤️