Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]

Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]
bab 97


__ADS_3

❣️❣️❣️❣️❣️


Apa ini saatnya aku katakan kalau aku mencintai adiknya??


"Pak.. pak Ricko!"


Suara Danish membuyarkan lamunan Ricko yang sedang menimbang keputusannya untuk berbicara empat mata nanti dengan Reza, setidaknya ia tak ingin tercyduk secara tak hormat oleh calon kakak iparnya itu suatu hari nanti.


"Apa ada pertemuan lagi setelah itu?" tanya Ricko pada Danish, ia butuh waktu lebih setelah rapat nanti.


"Tidak ada, Pak. Berkas juga sudah semua saya serahkan saat ini, Anda memiliki waktu luang setelah pertemuan di hotel Wilson"


Ricko mengangguk paham dan menyuruh Danish keluar dari ruangannya.


.


.


"Apa gue izin dulu sama Meera kalo gue mau bilang


sama Reza?, penting banget gak sih tuh orang tau kalo gue Deket sama adeknya?" Ricko berbicara sendiri sambil duduk bersandar di kursi kebesarannya.


"Kalo nanti sikapnya masih biasa aja sama gue, berarti Ardi gak bocor sama Reza, baguslah tuh orang emang bisa gue percaya. Nanti kalo ada apa-apa gue tinggal minta tolong dia lagi buat jadi penengah antara gue sama si Kampret!" Kekeh Ricko, tapi entah kenapa hatinya berdebar tak karuan dan pikirannya tak lagi fokus, ia melirik jam di pergelangan tangannya kini baru pukul sebelas siang, tak ada kabar dari Ameera pasti gadis itu sudah berada di kampus saat ini.


"Belajar yang rajin ya calon nyonya Pradipta" Ricko mengusap layar ponselnya yang terdapat Poto si gadis pirang kesayangannya.


***


Di kampus, Ameera dan Bella makan siang di kantin, lelah rasanya gadis itu jika harus keluar hanya untuk sekedar memanjakan perutnya yang tak begitu rewel.


"Lo mau makan sama apa, Meer?" tanya Bella.


"Apa aja yang penting kenyang" sahutnya asal sambil menguncir rambut panjangnya.


"Gue pesen ayam bakar ya"


Meera hanya mengangguk pasrah, apapun itu akan ia makan saat ini karna tadi pagi hanya makan roti gandum bakar dirumah eyang sebelum pulang kemari.


Tak menunggu lama Bella datang dengan nampan berisi dua piring nasi dan lauknya, dua gadis itu langsung melahapnya hingga habis tak bersisa.


"Leo gak ada ya?" tanya Bella.


"Iya, dia chat gue ntar malem mau ketemu gue"

__ADS_1


"Terus Lo mau?" Wajah Bella kini semakin serius.


"Entah, mana dia mau gue sendiri an tadinya gue mau ajak Lo" seru Ameera yang kesal


"Gue ikut, ntar gue tetep awas in Lo dari jauh, ok!"


Ameer tersenyum sambil mengangguk senang.


"Macih, poni ku sayang" kekeh si gadis pirang sambil mengacak rambut berponi sahabatnya itu.


***


Ricko dan Danish sedang bersiap menuju hotel Wilson dimana di adakan nya rapat oleh para pemegang saham terbesar, ada empat perusahaan terkenal yang datang kesana termasuk Ricko dan Reza.


Kedatangannya di sambut baik oleh yang lainnya, karna Ricko dikenal sebagai CEO yang arogan dan sedikit sadis tentunya.


"Kita hanya tinggal menunggu tuan Reza" ucap tuan Mark dengan begitu ramahnya padahal umurnya jauh lebih diatas mereka yang hadir.


.


.


"Selamat sore, maaf sudah menunggu" kata Reza saat datang bersama dua asisten pribadinya.


Semua mengangguk secara bersama tanda setuju.


Rapat di mulai dan berlangsung dua jam lamanya, kesepakatan antar perusahaan terjalin semakin baik dan profesional meski dua diantaranya selalu berseteru selama ini.


"Terimakasih, Semoga semuanya lancar" pamit Tuan Mark dan tuan Abraham, kini semuanya sudah bangun dari duduk dan bersalaman secara bergantian sebelum pergi dari hotel Wilson.


"Tunggu, ada yang mau gue omongin sama Lo berdua!" ucap Ricko saat Reza baru saja ingin pergi meninggalkannya dan Danish.


"Mau ngomong apa?, gue gada urusan apa-apa sama Lo" sahut Reza dengan ekspresi datar tak bersahabat.


"Kali ini aja, ini penting banget"


Reza yang melihat Ricko sedikit memaksa akhirnya menyuruh dua asisten pribadi nya untuk keluar lebih dulu, Begitupun dengan Ricko yang meminta Danish untuk meninggalkannya.


Kini hanya tersisa dua pria tampan dan mapan yang sedang duduk saling berhadapan dengan mata saling menatap intens.


"Cepetan, gue mau pulang anak bini gue udah nunggu!" ucap Reza ketus.


"Sabar dong, Lo kira anak gue gak nungguin gue pulang?" Ricko menjawab tak kalah kasar dari lawannya itu.

__ADS_1


"Ya udah Lo mau ngomong apa!"


"Gue mau ngomong serius sama Lo, gue harap Lo mau dengerin gue dulu" kata Ricko mulai serius sampai Reza harus menautkan kedua alisnya.


"Ada apa?, gak ada hubungannya sama bini gue kan!"


Ricko tertawa, lalu menyesap kopinya yang masih tersisa setengah cangkir.


"Enggak, gue udah ikhlasin Melisa"


"Heh, jangan pernah sebut nama istri gue sama bibir laknat Lo itu.!" sentaknya tak main-main.


"Ok.. gue gak akan sebut namanya, Lo bisa santai kan?"


"Jadi gini--_"


Drrrrtttt... drrrttt..


Getaran ponsel Reza d atas meja membuat Ricko tak melanjutkan ucapannya.


"Sorry bentar ya, gue angkat telepon dulu" izin Reza se benci apapun ia, Reza masih tau sopan santun.


Ricko hanya mengangguk, iapun meraih ponselnya sendiri.


"Hallo" sapa Reza saat ia mengangkat telepon.


"Kapan?, oh Ok" ucapnya lagi dengan sedikit terkekeh


"Ya udah, kalau gitu nanti kakak suruh Ameera yang jemput kamu di bandara, dia juga baru pulang pasti Seneng banget kalo ketemu kamu, biar dia ajak kamu jalan-jalan nanti ya"


BRAAAAAKKKKKK...


"Brengsek Lo ya!"


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉


Astaga.. kaget gue bang!!!🤭🤭🤭🤭


Lo Napa sih?, duh riweh dah kalo udah begini.


Babang Reza makin marah alamat lo di gantung di pohon beringin 🤣🤣🤣🤣


Eksmosi Mulu sih bukannya di bae in malah di gebrak 🤧🤧🤧

__ADS_1


Like komen nya yuk ramai kan ❤️😂


__ADS_2