Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]

Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]
bab 26


__ADS_3

❣️❣️❣️


"pulanglah esok pagi untuk mempersiapkan pernikahanmu"


perintah sang mama bagai petir di telinganya, bahkan jantungnya saja serasa ingin loncar dari tubuhnya sendiri, bagaimana mungkin keputusan ricko yang sanagt mendadak itu sudah samai kepada orang tuanya yang ada jauh di luar kota.


" maksud mama , apa?" tanya bunga pura pura tak paham.


"Tantemu tadi menghubuni kami, dan mengabarkan jika ricko akan menikahimu minggu depan, tentu kita harus menyiapkan segla sesuatunya kan?"


"Apa mama menyetujuinya?" tanya bunga yang kesal dengan kedua orangtua nya itu.


"Ya, tentu!" jawab mamanya dengan enteng.


"Mah, aku masih kuliah, bagaimana dengan sekolahku nanti" dengus bunga sangat jengkel


"Kamu bisa tetap meneruskannya nanti setelah menikah. ingat umur ricko, sayang. ia sudah sangat dewasa, jangan egois, ok!" bunga membuang nafasnya kasar, memang benar kata mamanya, ricko yang sudah berumur kepala tiga memang sudah seharusnya menikah dan memilik istri secepatnya.


"Mama tunggu besok, sampai kan salam mam untuk calon suamimu" ucap mama sebelum memutus sambungan teleponnya.


Bunga kembali meletakkan benda pipih itu ke atas nakas sisi tempat tidurnya, ia yang lelah karna adnya drama di luar dugaannya.


*****


Ricko duduk dengan malas saat ia di panggil kedua orangtuanya ke ruang kerja papa sebelum berangkat ke kantor.


Ia yang tahu dengan arah pembhasan pagi ini hanya membuang pandangannya, belum ia sempat sarapan namun sudah di suguhi dengan berbagai wejangan dari mama da papanya.


" kalian salah paham!"


ricko akhirnya membuka suara setelah dari semalm ia hany diam tak menanggapi.


" Jangan macam-macam, mama sudah menghubungi kelurga bunga, dan bunga akan pulang hati ini auntuk menyiapkan pernikahan kalian."


"Mama jangan bercanda, Ricko gak serius, mah" sentak Ricko sambil berdiri. kini emosinya sudah ada di ujung kepalanya.


"Pernikahan bukan mainan!" ucap papa mengeram kesal.


"Kami tidak meminta mu, bahkan menyinggung pun tidak. kamu sendiri yang mengatakan ingin menikahi Bunga tapi kenapa hari ini kamu berubah pikiran!" mama berteriak, ia tak sanggup menanggung malu jika harus membatalkan pernikahan anaknya itu.


"Mah, Ricko pokonya gak mau!" Pria berjas itu tetap keukeh dengan keputusan nya.

__ADS_1


"Kamu mau mempermalukan kami dengan tingkah mu yang seperti anak kecil?" ucap mama dengan memegang dadanya sendiri.


"Ricko asal bicara, mah" tegasnya lagi yang merasa bingung sendiri.


"Kamu sungguh terlalu, Apa seperti ini caramu kepada kami, dengan entengnya kamu bicara seperti itu, ini sungguh lelucon tak masuk akal"


"Maaf, mah Pah. tap Ricko serius semuanya hanya asal bicara saja"


Mamanya langsung ambruk ke lantai tak sadarkan diri, pengakuan putranya membuat wanita paruh baya itu mengalami serangan jantung.


"Mama!" pekik Ricko yang langsung berlari mendekati mamanya yang tergeletak begitu saja.


"Mah, bangun. maaaah!"


Ricko langsung merogoh ponsel dan menghubungi ambulans, sedang papa memanggil Bunga yang masih berada di dalam kamarnya bersiap untuk pulang ke rumahnya yang berada di luar kota, niat hati hanya untuk melepas rindu pada pria pujaannya justru dihadapkan dengan kenyataan harus menikahinya.


"Ada apa?" seru Bunga saat mendengar kegaduhan di luar kamarnya.


"Tantemu pingsan" jawab papa Ricko yang sangat khawatir, terlihat jelas dari raut wajahnya.


"Apa?, Tante pingsan!"


Bunga langsung mendorong papa Ricko kembali ke kamarnya, dilihatnya Ricko sedang memangku mamanya diatas pahanya sendiri.


Ricko tak menjawab, ia terus memanggil mamanya dengan lirih, suaranya bergetar hatinya kini sangat takut hal buruk menimpa wanita ISTIMEWANYA itu.


"Maaaaah.. ayo bangun, maaf, mah"


Disela sela kepanikannya seorang ART datang mengabari jika ambulance telah tiba dengan segera Ricko langsung menggendong mamanya


"Bertahan ya, mah. Kita kerumah sakit sekarang juga" bisik Ricko di telinga kanan mamanya saat berada di dalam mobil ambulans, ia tak perduli dengan papa dan Bunga yang ada juga ikut menyusul dengan mobil lain, fokusnya hanya pada mamanya sendiri.


.


.


.


Di deretan kursi tunggu Ricko dan Bunga duduk bersebelahan, ingin rasanya gadis itu menarik kepala Ricko agar bersandar di bahunya.


"Kak..."

__ADS_1


Ricko yang diam tak menoleh ataupun menjawab, tangannya basah akan keringatnya sendiri, bergetar hebat karna rasa takut yang menyerang nya.


.


.


.


"Keluarga nyonya Dira"


Suara suster yang keluar dari ruang pemeriksaan mengalihkan fokus ketiganya yang sedang menunggu kabar.


"Iya, suster, bagaimana?" Ricko bangkit lalu menghampiri suster yang masih berdiri di depan pintu.


"Pasien belum sadarkan diri, kondisinya belum stabil" ucap suster tersebut.


"Bisa kami masuk?" tanya papa yang semakin khawatir, keadaanya yang lumpuh semakin membuat ia tak berdaya.


"Bisa, tapi bergantian ya, cukup satu orang dan jangan terlalu lama"


Semuanya mengangguk paham.


"Masuklah lebih dulu, nak" titah papa pada putranya.


Ricko langsung masuk dengan langkah tergesa, di lihatnya wanita yang melahirkan nya itu terbaring lemah tak berdaya, kedua matanya tertutup rapat dengan selang oksigen yang menutupi sebagian wajahnya.


"Mah, maafin Ricko!"


"Ricko gak ada maksud untuk membuat mama seperti ini"


Anak tunggal keluarga Pradipta itupun menangis sedih, ia menundukkan wajahnya di atas punggung tangan ibunya.


.


.


.


.


***Jika dengan menikahi Bunga membuat mama sadar, Ricko akan lakukan!!

__ADS_1


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕***


__ADS_2