Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]

Duda Impian [Musuh Kakak Kesayangan]
bab 29


__ADS_3

❣️❣️❣️


Dering ponsel Bunga membuat keduanya secara bersamaan menatap layar benda pipih itu, tertera nama Mama disana.


"Ya, mah"


"Kamu dimana?, mama sudah ada di ruangan Tante Dira" ucap mama Bunga yang ternyata sudah sampai di rumah sakit.


"Aku di kantin bersama kak Ricko, Maah" jawab Bunga dengan sedikit melirik ke arah Ricko.


"Cepat kemari, Mama tunggu"


"Ya, Mah" Ucapan terakhir Bunga sebelum ia menutup teleponnya.


"Orang tuamu sudah datang?" Tebak Ricko yang di jawab anggukan oleh Bunga yang langsung menunduk kembali.


"Ok, kita selesaikan dengan cepat!"


Ricko bangkit, ia mengulurkan tangannya pada Bunga, gadis itu menatap bingung ke arah Ricko.


"Kamu calon istriku, kan?" ucapnya meski datar namun membuat hati Bunga tersentuh.


"Ingat, aku akan memperlakukan mu dengan baik" tambahnya lagi, Bunga hanya menganggukkan kepalanya.


Kini keduanya berjalan dengan tangan saling menggenggam, meski tak sepatah katapun terucap di Antara mereka.


CEKLEK

__ADS_1


Pria pewaris tunggal keluarga Pradipta itu membuka pintu dengan pelan, dan benar saja sudah ada kedua orang tua Bunga disana duduk berdampingan dengan papa.


"Om, Tante!" sapa Ricko pada kedua orangtua Bunga setelah melepas tangannya dari gadis cantik itu.


"Apa kabar, lama tak jumpa" kata ayah Bunga membalas pelukan Ricko, calon menantunya.


Meski ia bukan ayah kandung Bunga, namun kasih sayang pria gagah itu tidak perlu di ragukan lagi.


Pak Cakra adalah adik dari papa Ricko, iya menikah dengan seorang janda yang beranak satu bernama Bunga yang dulu masih berumur dua tahun.


Bunga sangat di manja oleh pak Cakra karna ia tak bisa memiliki anak, maka dari itu Bunga begitu banyak mendapat limpahan kasih sayang dari ayah sambungnya.


"Om dan Tante begitu terkejut saat mendengar kabar Mamamu yang masuk rumah saki karna serangan jantung" ucap Avika, mama kandung Bunga.


"Iya, semuanya sangat mendadak, doakan mama agar cepat sadar ya" pinta Ricko dengan lirih, matanya menatap kearah mamanya yang masih menutup rapat kedua matanya.


"Tanpa kamu pinta, tentu kami akan melakukan hal itu" ujar Avika, mama Bunga.


kedua orangtua Bunga saling pandang, bingung harus menjawab apa akhirnya hanya melempar senyum Sungkan.


"Kita tunggu mama sadar, pah" jawab Ricko cepat.


**


Dua hari berlalu, kedua orangtua Bunga masih tinggal dirumah Ricko bersama Bunga untuk bergantian menjaga mama, Tak ada lagi pembahasan soal pernikahan lagi sampai akhirnya menjelang subuh mama sadar dan membuka matanya.


Ricko yang baru terlelap karna membawa sebagian pekerjaannya ke rumah sakit harus terlonjak kaget saat di bangunkan Bunga.

__ADS_1


"Kak, Tante sudah sadar" ucap Bunga sambil mengguncang Pelan tubuh Ricko.


"Hem, ada apa?" sahutnya bingung.


"Mama kakak sudah sadar, mama panggil kakak"


Ricko langsung membuka matanya dengan lebar, Bangun dari duduknya yang tidur bersandar di sofa untuk menghampiri mama


"Mah.. mama sadar?, ini Ricko, mah" ujarnya dengan tangan menggenggam tangan mamanya yang terdapat selang infus.


"Ricko"


"Iya, Ricko disini, Mah"


Pria itu menoleh kearah Bunga seakan memberi perintah untuk memanggil dokter, Bunga yang paham yang langsung keluar dari kamar Perawatan.


"Nak, mama--_"


Ricko menggeleng kan kepalanya, ia memohon agar mama tak meneruskan perkataan yang ia sendiri pun sudah tau.


.


.


.


.

__ADS_1


"Mama gak usah mikirin hal itu, Ricko akan tetap menikahi Bunga!"


🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉🎉***


__ADS_2