
Claude menarik napas panjang. Ia benci mengurus masalah seperti ini. Ia memandang Yoana tajam. Tapi kakaknya itu hanya mengangkat kedua tangan memberi tanda.
"Jangan lihat aku ... aku sudah mencarinya lalu membawa Leon kemari. Jadi sisanya kau yang urus."
Dengan terpaksa Claude memegang gagang pintu yang kembali berguncang, lalu ia membuka kunci dan menyelinap masuk.
Sebuah hadiah pukulan mendarat di dadanya. Claude membelakangi pintu dan belum sempat menguncinya kembali.
Claude menangkap kedua tangan yang terlihat kembali diayunkan untuk memukulnya.
"Sekali lagi kau pukul aku, aku akan balik memukulmu lebih keras!" Claude membentak Catalina dengan suara dingin dan kejam. Wajahnya ia atur agar menampakkan kesan mengerikan, beberapa kali berhasil memberi efek menakuti dan membuat lawan bicaranya ketakutan.
Ia memegang tangan itu dan menariknya mendekat, menunduk mendapati wajah manis dengan mata biru jernih yang sangat marah.
Catalina terdiam sejenak melihat kesan kejam dan wajah dingin laki-laki di hadapannya. Ia sungguh tidak mengerti. Ia tidak mengenal laki-laki ini, tapi kenapa ia mengurungnya di sini.
"Kau siapa!?" Catalina membentak pria itu tanpa rasa takut.
Claude terdiam memandangi bibir ranum yang barusan membentaknya. Wajah mengerikan yang ia tampilkan tidak berefek, gadis itu malah membentaknya. Dulu Marilyn ketakutan dan pergi terbirit-birit meninggalkan mansion ketika bertemu Claude.
"Aku Claude! Dan kau akan menuruti perintahku mulai saat ini!"
Mata biru itu membelalak dengan lebarnya, membuat Claude sedikit berkedip melihat keindahan di kejernihan mata itu.
"Kau pikir kau siapa! Memerintahku begini rupa! Lepaskan aku! Brengseek!" Catalina menarik tangannya dari pegangan Claude. Ia memandang sinis dan marah pada sepasang mata berwarna hitam itu.
__ADS_1
"Dimana bayiku!?" seru Catalina.
"Hakh! Sejak kapan dia menjadi bayimu! Kau bukan ibunya!"
"Sejak ia diketahui tumbuh di rahim kakakku! Dia sudah jadi bayiku! Dia milikku!"
"Sekarang tidak lagi. Ketika DNA menunjukkan bukti kalau dia putra Simon, maka dia menjadi milik keluarga Bernard." Claude memandang mata biru yang shock mendengar perkataannya.
Gadis itu kehilangan kata-kata. Mulutnya terbuka sedikit dengan mata melotot memandangi Claude.
"Ya, Leon adalah putra Simon. Marilyn tidak menginginkannya bukan? Jadi ia akan kembali ke keluarga ayahnya."
Seketika tawa geli membahana di kamar tersebut. Catalina terbahak kencang. Satu tangannya berada di pinggang dan satu lagi teracung ke arah Claude.
"Ayah?" Catalina tertawa kencang, "kembali?" Susah payah Catalina bicara di antara derai tawa yang menggema dari bibirnya.
"Ayah? Sejak awal Leon tidak punya ayah! Marilyn ditinggalkan begitu saja ketika ia diketahui hamil! Laki-laki pengecut dan tidak tahu malu itu mengakui dia ayah Leon? Cih!" Catalina berdecih menghina, wajahnya jijik sambil memandang Claude.
"Wanita jalanng itu yang menggoda adikku! Dan mau menjebaknya dalam pernikahan dengan kehamilannya. Jangan pikir aku tidak tahu metode rendah yang kalian pakai! Para Jalanng munafik!"
PLAAKK!
Satu tamparan keras di pipi Claude. Membuatnya terbelalak tidak percaya. Rasa panas dan pedih mulai menyebar di pipi dan wajahnya. Ia yakin kulitnya sudah memerah saat ini.
"Kau!" Claude bergerak meringkus Catalina yang memberontak. Ia menendang, memukul, mencakar dan melakukan apapun untuk membebaskan dirinya yang di bekap.
__ADS_1
"Kau akan menerima balasan karena telah berani berlaku kurang ajar!" Dengan geram Claude mengangkat Catalina seperti sekarung tepung. Claude membuka pintu lalu keluar sambil menjepit tubuh Catalina di bahunya.
"Kau Bajiingann! Turunkan aku!" Catalina berteriak kencang sambil terus menggeliat. Yoana yang masih berdiri di luar pintu mengangkat alis. Tidak menyangka akan menonton drama menarik.
Claude menuruni tangga sambil terus memikul Catalina yang terus berteriak. Tidak ada yang mempedulikan teriakan gadis itu. Para pelayan yang berpapasan memilih berpura-pura tidak melihat dan mendengar apapun. Bahkan laki-laki dengan koran menutupi wajahnya di sofa yang Catalina lewati tidak menurunkan korannya. Pria itu terus membaca. Membuat Catalina berteriak padanya.
"Hei! Tolong aku! Lepaskan aku dari laki-laki gila ini!" seru Catalina.
Seruan itu membuat Vincent yang berpura-pura tidak peduli pada tindakan Claude menurunkan koran yang ia baca. Ia menatap mata biru yang juga tengah memandangnya dari atas bahu Claude.
"Kau! Kau penjahat yang membiusku! Turunkan aku! Kalian kumpulan bajinngann pengecut!" Catalina kembali memberontak dan berteriak. Tubuhnya tergolong tinggi dibanding Yoana. Namun pria besar yang mengangkatnya ini tidak kesulitan sama sekali walaupun ia bergerak-gerak di bahu pria itu.
Claude berhenti berjalan di depan sebuah pintu di lantai bawah bagian belakang. Ia membuka pintu dan menyalakan lampu. Catalina melihat bahwa ruangan itu adalah sebuah gudang. Lalu tiba-tiba tubuhnya dihempaskan ke lantai. Membuat bokongnya terasa sakit dan Catalina mengaduh.
"Awwww!" Catalina mengelus bokongnya yang tersentak di atas lantai. Ia mengernyit menahan sakit.
"Terima itu! Kita akan bicara jika kau tidak lagi berteriak! Kau harus menurut atau memilih tetap dikurung disini!" Dengan kata-kata itu Claude meninggalkan Catalina dan mengunci pintu. Ia memegang pipinya yang terasa perih.
"Rubah betina yang menarik. Juga cantik ...." Claude tersenyum menyeringai dan melangkah meninggalkan gudang.
Ia sampai di ruang tengah tempat Vincent masih duduk dengan koran terbentang. Laki-laki itu langsung meletakkan korannya dan menaikkan alis melihat pipi Claude yang memerah. Claude tidak yakin apakah warna merah itu tercetak seperti telapak tangan gadis yang tadi menamparnya.
"Jangan bersuara, Vincent! Atau aku akan menendangmu kali ini." Claude melangkah cepat meninggalkan orang kepercayaannya yang tanpa segan mulai menertawainya dengan suara kencang.
N E X T >>>
__ADS_1
**********