
Alric sudah siap dengan sebuah mobil yang dikendarai oleh Diego. Ia sendiri sudah duduk di bagian belakang sambil menanti Catalina dan Mary keluar dari pintu gedung apartemen.
Alric melihat Claude berjalan mondar-mandir di depan pintu gedung apartemen. Sudah menunggu sedari tadi.
Mary dan juga Catalina tiba beberapa saat kemudian. Alric segera turun dari mobil, tak lupa berpesan pada Diego.
"Mendekatlah ke jalur depan pintu gedung ketika Claude sudah membawa Catalina, Diego."
"Baik, Tuan."
Alric mendekat dan mendengar Claude berkata pada Catalina.
"Ayolah, Cat. Kau menghindariku berhari-hari. Tidak mengangkat teleponku ... tidak mau bertemu denganku ... sampai kapan kau mau melakukannya?"
"Aku tidak bisa pergi denganmu! Aku akan mengantar Mary periksa ke tempat Luigi!"
Catalina merasa puas melihat wajah Claude yang masam mendengar nama Luigi.
"Aku akan menggantikanmu, Catalina." Alric menyela pembicaraaan itu. Tiga pasang mata menatap ke arahnya. Dan yang paling terkejut adalah mata Marylin.
"Nah, sudah beres. Ada Alric yang akan mengantarkan Mary. Percayalah dia akan melakukannya dengan sangat baik. Mary akan di antarkan dan dibawa kembali dengan selamat. Jadi ayo ...." Claude menarik tangan Catalina dan membawanya ke arah mobilnya.
Catalina berusaha melepas pergelangan tangannya yang digenggam erat dan ditarik oleh Claude.
"Claude! Mary tidak akan mau diantar oleh Lucca!"
"Mary harus mau ...." Claude menahan catty sambil membuka pintu mobil dan lalu mendorong paksa gadis itu.
"Awas kepalamu, Catty," ucap Claude sambil menghadang pintu mobil dengan tubuhnya. Lalu menutup pintu dan menguncinya.
Claude memandang ke arah Alric dan Mary yang berdiri menunggu, ia hanya melambaikan tangannya dan pergi memutari mobil untuk membuka pintu bagian sopir dan masuk ke belakang kemudi. Setelahnya mobil hitam itu melaju meninggalkan gedung apartemen.
"Ayo, Mary. Aku yang akan mengatarmu."
"Tidak. Aku naik taksi saja."
"Mary ... Aku ingin ikut. Kau tidak boleh pergi sendirian."
sebuah mobil menepi di dekat Alric dan Mary berdiri. Diego menunggu ketika tuannya membuka pintu belakang dan menarik lengan Mary yang masih diam terpaku.
Sentuhan itu membuat Mary tersentak. Ia bergeser menjauh, matanya memandang tajam pada Alric.
"Tidak ... aku akan pergi sendiri."
"Catalina akan khawatir. Setahu dia, aku yang mengantarmu. Ayolah ... Kau tidak mau aku menarikmu paksa bukan? Jadi naiklah," ucap Alric. Terpaksa berbicara cukup keras agar Mary menurutinya.
Mary baru akan bergerak pergi ketika Alric kembali mengulurkan tangannya mau menyentuhnya lagi. Mary langsung mengangkat kedua tangannya sebagai tanda agar Alric berhenti.
"Stop it ... berhenti ... aku akan naik, tapi jauhkan tanganmu ... menjauhlah ...." ucap Mary, bergidik melihat tangan Alric yang terulur.
Alric menarik kembali tangannya dan membuka pintu mobil lebar-lebar. Mary masuk dan duduk sambil menatap tajam ke arah Diego yang berada di belakang kemudi.
"Wah ... kau rupanya Tuan Baldassare!"
"Ya, Nona. Apa kabar Anda, Nona?" tanya Diego sopan. Mengabaikan nada sinis dalam suara Mary.
"Kabarku? Aku kesal, aku jengkel dan aku sangat marah!"
Diego hanya diam, melirik dari kaca Alric yang masuk dan duduk di sebelah Mary. Mary langsung bergeser, duduk sampai ke pinggir hingga tubuhnya menyentuh pintu.
Alric menarik nafas panjang, namun hanya membiarkan saja. Jika Mary nyaman duduk dengan tubuh menempel di pintu dan kepala dihadapkan keluar ke arah kaca, maka Alrik akan membiarkannya.
"Ayo, Diego. Kita ke Medieval Hospital."
__ADS_1
"Apa! Tidak! Aku mau ke Eliza Hospital! Aku mau periksa ke dokter Luigi!" jerit Mary dengan marah.
"Marylin ... dokter keluarga kami sudah merekomendasikan seorang dokter kandungan di Medieval Hospital. Seorang wanita yang sudah sangat berpengalaman, sudah menikah dan sudah pernah melahirkan. Jadi dia pasti ta ...."
Ucapan Alric langsung dipotong oleh Mary.
"Aku tidak mau! Buka pintunya! Baldassarre! Cepat buka kuncinya!" Mary makin marah, ia memukul pintu dan membuat Alric panik.
"Mary." Alrik memegang bahu Mary, bermaksud menenangkannya.
"Lepas! Jangan sentuh!" Mary langsung berbalik dan menepis tangan Alric yang menyentuh bahunya. Sekuat tenaga Mary lalu mendorong Alric, Alric segera menangkap tubuh Mary dan memeluknya kuat-kuat di dadanya, mengunci hingga Mary yang masih berontak kesulitan untuk bergerak.
"Dengar ... Mary, dengarkan aku ... kenapa kau mau ke dokter Luigi!? Dokterku tidak kalah bagus dengan dokter Luigi."
"Kau tidak punya telinga ya! Aku mau ke dokter Luigi! Lepaskan!"
"Baik, baiklah ... sekarang berhenti bergerak Mary! Badanmu bisa sakit semua!"
Alric menaikkan nada suaranya sambil mengencangkan lengannya ke sekeliling tubuh Mary.
"Lepaskan ... Kau tidak berhak meninggikan suaramu padaku!"
"Baik, baiklah. Maafkan aku. Aku akan melepaskanmu asal kau berjanji untuk tenang, dan kita akan menuju Eliza Hospital. Menemui dokter Luigi ... bagaimana? Kita sepakat?"
Alric merasakan kepala Mary mengangguk di dadanya. Ia menarik nafas lega.
"Bagus." Alric mencium puncak kepala Mary, seolah memberi hadiah karena Mary menurutinya. Mary mendorong dada Alric, namun tubuh pria itu tidak bergerak, seperti tembok.
"Jangan coba-coba melakukan itu lagi! Aku akan memukulmu!" ucap Mary sambil beringsut ke arah pintu. Duduk sejauh mungkin dari Alric.
"Kita pergi, Tuan?" tanya Diego. Mengawasi pertengkaran kedua orang itu tadi lewat kaca.
"Ya, Diego. Ke Eliza ...."
**********
Seorang perawat mempersilakan Mary untuk masuk ke ruangan dokter Luigi. Mary berterima kasih dan melangkahkan kakinya. Dokter Luigi sudah berdiri dan tersenyum di balik mejanya ketika melihat Mary masuk.
Alric berjalan di belakang Marylin. Mangumpat di dalam hati ketika melihat sosok sang dokter.
Pantas saja Claude cemburu setengah mati! Dan Mary serta Catalina sangat suka bertemu dengan dokter ini. Dia tampan dengan tubuh yang gagah ... seorang dokter pula ... Huhk!
"Silakan duduk, Mary. Anda juga Tuan ... Ah, maaf, bagaimana saya harus memanggil Anda?" tanya Luigi ramah sambil mengulurkan tangannya.
Alric menyambut uluran tangan itu dengan setengah hati. Satu lagi nilai tambah, dokter ini ramah, batin Alric.
"Alrico Lucca ... Anda bisa panggil aku Alric," ucap Alric tenang. Sengaja menyebut nama panjangnya, ingin tahu apakah dokter Luigi tahu dan pernah mengenal namanya. Pengusaha besar sekelas Maldini Steffano, ayah dari dokter Luigi pasti mengenalnya. Mereka bahkan pernah bertemu beberapa kali.
"Ah ... Apakah Anda pemilik dari mobil lux keluaran terbaru dengan edisi terbatas itu?" tanya Luigi dengan senyum lebar.
Alric memberikan senyum kecil dan menjawab dengan mengangguk.
"Wow ... senang bertemu Anda, Tuan Alric. Aku dokter Luigi. Silakan duduk," ucap Luigi ramah.
"Panggil Alric saja, Dokter."
Satu lagi nilai tambah ... dia sama sekali tidak menyebut nama belakangnya, Steffano. Padahal pengusaha mana yang tidak mengenal nama itu ... Dia tidak sombong ...,Alric membatin sambil duduk di kursi di depan Luigi.
"Marylin ... Apakah ada keluhan akhir-akhir ini?"
Marylin menggelengkan kepala, matanya berbinar menatap Luigi sambil tersenyum senang. Luigi sampai terkekeh melihat wanita itu.
"Bila Catalina ikut kemari, ia pasti akan menertawakanmu lagi, Mary ... Lihatlah, kau tidak lihat wajah Alric yang menjadi agak gusar?"
__ADS_1
Marylin menoleh ke arah Alric setelah mendengar ucapan Luigi. Pria di sebelahnya itu memang tengah menyipitkan mata, wajahnya terlihat gusar melihat wajah gembira Mary yang ditunjukkan di depan dokter Luigi.
Luigi tersenyum dalam hati, pria itu sepertinya agak cemburu padanya. Pasti hal itu disebabkan karena pria itu mencintai Mary, dan tidak suka bila melihat Mary menyukai pria lain.
"Syukurlah ... kau mengikuti saranku di pertemuan sebelumnya agar kau datang bersama ayah bayi ini, Mary," ucap Luigi.
Mary hanya diam. Alric menatap ke arah Luigi dengan sedikit heran. Jadi dokter ini menyarankan Mary datang periksa dengan ayah bayinya?
Hmmmm ... sepertinya aku mulai menyukai dokter ini.
"Aku meminta Mary datang membawamu pada jadwal pemeriksaan yang berikutnya, Alric. Agar kita bisa berdiskusi dan memberikan dukungan terbaik untuk pertumbuhan bayimu dan juga untuk kesehatan ibunya,"
Senyum mulai terkembang di bibir Alric. Ia mengangguk dan menatap Luigi dengan lebih ramah.
"Aku pasti akan datang di setiap jadwal pemeriksaannya, Dokter."
Ucapan Alric mendapatkan dengusan dari Mary. Luigi berpura-pura tidak mendengar sedang Alric hanya menyeringai lebar ke arah wanita itu. Merasa mendapat dukungan atas keinginannya terlibat dengan pertumbuhan bayinya.
"Kalau begitu, naiklah ke atas ranjang, Mary ... Kita lihat kondisi bayimu,"
Mary segera naik ke tempat tidur dan berbaring. Wanita itu menaikkan blusnya hingga perutnya terbuka sampai di atas pusar, lalu membuka retsleting celana panjang yang ia pakai.
"Apa kau harus melakukan itu!?" tanya Alric, mulai gusar lagi.
Luigi terkekeh, " benda ini tidak akan bisa menembus dan memperlihatkan bayimu jika ditempelkan lewat baju Mary, Alric. Jadi Mary memang harus membuka celananya. Hanya sedikit saja ...." ucap Luigi geli.
Alric makin gusar ketika tangan Luigi mulai memutar alat periksa USG ke bagian bawah pusar Mary.
"Alric ... daripada memelototi tanganku, lebih baik kau lihat layar monitor itu. Kau lihat ... nah, ini bayimu ... bagian yang berdenyut ini ... ini jantungnya." Luigi terus memeriksa sambil menjelaskan, tidak menyadari mata pria yang duduk di depan mejanya itu kini berubah terpaku dan terlihat takjub.
"Itu putriku, ya ...." ucap Alric tanpa sadar.
Marylin menoleh ke arah Alric dengan dahi berkerut heran. Memangnya bisa tahu darimana pria itu jika bayi itu perempuan.
Tawa kecil dokter Luigi terdengar, dokter itu melakukan berbagai hal untuk mencetak gambar USG, lalu menarik tisu dan memberikannya pada Mary untuk membersihkan sisa jelly dari pemeriksaan USG. Setelah selesai dan membereskan semuanya, Luigi menatap Alric dan tersenyum sambil menjelaskan.
"Pada kunjungan berikutnya mungkin aku akan memberitahu jenis kelaminnya, Alric. Tapi untuk sekarang, belum terlalu jelas. Memangnya kau menginginkan anak perempuan?"
Alric tersenyum malu, sadar kalau dirinya tadi spontan menyebutkan jenis kelamin dengan memanggil putriku.
"Tidak ... tentu saja aku akan senang apapun jenis kelaminnya. Entah kenapa aku mengatakan hal itu tadi," ucap Alric sambil tertawa.
"Mungkin keinginan dari dasar hatimu?" tanya Luigi, sengaja sedikit menggoda Alric.
"Ehem ... Mungkin saja ... karena ibunya cantik ... kurasa tanpa sadar aku juga menginginkan seorang bayi cantik perempuan yang akan mirip dengan ibunya."
Kedua pria itu tertawa bersamaan dan menoleh serentak ke arah Mary yang baru saja duduk di kursinya kembali. Rona merah melintas di wajah Mary, entah karena mendengar ucapan Alric atau karena dipandangi oleh kedua pria itu. Namun ia segera mengatur wajahnya agar datar kembali tanpa ekspresi.
Sial*n!... kenapa tadi aku merona ... bisik Mary di dalam hatinya.
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Ikuti kisahnya terus, dan bersabar tunggu updatenya ya. Jangan lupa klik tombol like alias jempol, tombol favorite alias love, beri komentar, saran ataupun kritik membangun, biar Author makin semangat untuk nulis.
Bagi yang belum kasih rate, tolongin dong tekan tombol bintang, kemudian klik bintang lima ya๐๐
Yang punya poin dan koin, bisa bantu author dengan klik Vote agar performa novel ini makin naik.
Untuk semua bantuan para Readers semuanya, author ucapin terima kasih banyak๐
__ADS_1