Embrace Love

Embrace Love
CH 61. Forget that kiss


__ADS_3

Claude melirik Catalina yang hanya diam dengan pandangan mengarah ke arah luar kaca mobil. Ia tak dapat melihat wajah gadis itu.


"Lina ... apa yang sebenarnya dokter Luigi inginkan dengan mengajakmu ke ruangan tadi?" Pertanyaan itu diajukan oleh Yoana yang duduk di kursi depan, di sebelah Vincent yang mengemudi.


Catalina menatap ke arah depan, Yoana tidak menoleh ke belakang ketika ia bertanya. Wanita itu tetap menatap ke arah depan sambil menyuarakan pertanyaannya.


Catalina kembali menoleh ke arah kaca. Menarik nalas panjang sebelum menjawab Yoana.


"Ia ingin mengajakku bicara," ucap Catalina.


"Tentang apa?" tanya Yoana lagi.


Catalina tidak menjawab, menatap setengah termenung ke arah jalan yang dilalui oleh mobil mereka.


"Ck, kau tidak mau membicarakannya?" tanya Yoana sambil berdecak.


"Dia ... Dokter Luigi mengatakan kalau dia mencintaiku," ucap Catalina tanpa mengalihkan tatapan dari kaca mobil.


"Apa! Dia baru saja bertunangan dengan Natalia! Apa dia tidak malu mengatakan hal itu padamu!" sungut Yoana.


Catalina hanya diam. Ada sedikit penyesalan di hatinya. Kenapa dari dulu tidak bersikap tegas di depan dokter Luigi. Ia tahu dokter Luigi menaruh hati padanya, tapi ia hanya menghindar dan bersikap seolah tidak tahu apapun. Membuat dokter Luigi memupuk terus perasaan itu. Apakah akan berbeda jika dari dulu ia bersikap tegas dengan mengatakan perasaannya pada Luigi? bahwa ia hanya menganggapnya teman, seorang rekan kerja yang hebat. Jika ia melakukan itu, akankah dokter Luigi mundur lalu berusaha mengenal dan menyukai gadis yang disodorkan oleh orang tuanya. Entahlah ... Catalina tidak tahu, ia sedih memikirkan ekspresi sedih di wajah dokter itu sebelum ia memaksa menciumnya. Tanpa sadar Catalina menghapus bibirnya dengan telapak tangan.


Claude melihat gerakan itu, telapak tangan Catty yang menghapus bibir berulang kali. Gadis itu masih menghadap ke arah kaca, sehingga Claude tidak dapat melihat wajahnya. Tapi Claude yakin, Catalina mengelap bibir, bukan bagian wajahnya yang lain.


Saat mereka tiba di ruangan tempat Luigi membawa Catalina, mereka melihat Catalina berdiri tak jauh dari dokter Luigi, keduanya tidak sedang melakukan apapun. Namun dari ekspresi terkejut dan tangan dokter Luigi yang memegang bibir, Claude dapat menduga apa yang baru saja terjadi. Dokter itu sepertinya telah memaksa mencium Catty dan Catty yang tidak suka melawan dengan menggigit laki-laki itu.


Bibir dokter itu akan bengkak dan terasa sakit. Ia akan membutuhkan madu ... seperti aku dulu ketika memaksa mencium Cat, pikir Claude.


Claude teringat ketika ia memaksa mencium Catty di dalam mobil saat pulang dari rumah sakit membawa Yoana yang terkilir.


Setelah tiba di depan mansion, mereka semua turun. Catalina berjalan tertatih dengan sepatu hak tingginya. Ia memutuskan membukanya di depan mansion. Yoana dan Vincent masuk lebih dulu setelah melihat Claude menunggu Catalina selesai dengan sepatunya.


"Kau baik-baik saja, Catty?" tanya Claude.


"Ya ... aku hanya lelah," ucap Catalina.


"Ayo masuk, beristirahatlah di kamarmu," ajak Claude. Ia menunggu Catalina melangkah masuk dengan kaki telanjangnya ke dalam mansion.


Mereka menaiki tangga lalu berpisah menuju lorong kamar mereka masing -masing.


"Selamat malam, Catty," ucap Claude. Menatap Catalina yang memunggunginya. Berharap gadis itu menoleh sedikit karena Claude ingin melihat wajahnya tapi Catalina membalas ucapan Claude tanpa berbalik.

__ADS_1


"Selamat malam, Claude," ucapnya lirih. lalu kembali melangkah menuju lorong kamarnya.


Catalina mengunci pintu kamarnya. Ia melepas seluruh pakaian, mencuci mukanya dan memakai gaun terusan longgar yang biasa ia pakai tidur. Ia pergi mengecek Leon sebelum ia merebahkan tubuh ke ranjang. Melalui pintu kamar penghubung Catalina mengintip Leonard yang terpejam dengan nyenyak. Ia kembali dan menutup pintu. Lalu membaringkan tubuhnya yang lelah ke atas ranjang.


Catalina memegang kembali bibirnya. Ciuman dokter Luigi membuatnya marah dan tidak suka. Sama seperti dulu saat Claude menciumnya di perpustakaan dan di dalam mobil. Ia juga marah dan tidak suka. Lalu apa yang berbeda dengan ciuman Claude di pondok berburu? kenapa saat itu hatinya merasa melayang, serasa seperti ribuan kupu-kupu beterbangan di perutnya dan jantungnya berdegup, berdebar tidak menentu.


Catalina mencoba menyelami perasaannya sendiri. Menyadari perasaannya ada yang berubah, sesuatu yang lain terhadap Claude. Ia memejamkan mata, mencoba meraih alam mimpi, memutuskan akan membiarkan waktu yang menjawab semuanya nanti.


**********


Catalina terbangun, merasa tenggorokannya kering dan serak. Ia melirik ke arah nakas. Air di dalam pitchernya hanya sedikit. Catalina memutuskan bangkit dan akan mengisi kembali air minumnya di dapur.


Sandal kamarnya yang empuk meredam suara langkah kakinya dan menahan kakinya dari dinginnya lantai. Catalina tiba di dapur dan berhenti mendadak. Di depan sana, Claude sudah duduk dengan segelas air putih di gelas tinggi.


"Catty? Kenapa bangun?" tanya Claude, matanya melahap pemandangan Catalina yang mengenakan gaun terusan pendek yang longgar, sandal kamar dengan hiasan telinga kelinci yang berbulu. Rambut gadis itu terurai kusut sampai ke pinggang.


Catalina mengangkat pitcher yang ia bawa, memperlihatkannya pada Claude.


"Aku perlu mengisi ini," ucap Catalina serak. Kemudian ia berdeham untuk melancarkan tenggorokannya.


"Kau selalu kehabisan air," ucap Claude.


Catalina mengerutkan kening ketika ia mengisi pitcher dengan air minum. Claude benar, ia perlu tempat minum yang lebih besar, isi lebih banyak sehingga ia tidak terus turun ke dapur ketika lupa mengisi pitchernya.


"Tidak," jawab Claude tegas.


"Kenapa?" tanya Catalina heran. Ia melihat pria itu mulai tersenyum kemudian bangkit berdiri lalu melangkah mendekatinya.


Catalina mendongak ketika Claude telah berdiri di depannya. Claude mengambil pitcher yang telah terisi air minum dan meletakkannya di atas meja. Kemudian ia mendekat, melingkarkan tangan kirinya ke pinggang Catalina dan tangan kanannya membelai rambut Catty yang berantakan menempel pada gaun tidurnya.


"Kau mau aku jujur, Cat? Karena jika kau punya banyak air minum di kamarmu, kau tidak akan lagi turun tengah malam untuk mengisi pitchermu. Yang artinya aku tidak akan bertemu denganmu secara tidak sengaja seperti ini."


Catalina hanya setengah mendengarkan, karena ia sibuk menata degup jantungnya yang mulai berdetak kencang. Ia menatap mata Claude yang bersinar dan berkilau memandangnya.


"Dia mengatakan dia mencintaimu?" Pertanyaan dalam bisikan itu tercetus dari bibir Claude. Jari-jarinya langsung berpindah mengelus bibir Catalina.


"Jawab aku Catty ... apa dia juga telah menciummu?"


Catalina menahan napas, Claude terlalu dekat, sangat dekat dan ia tidak bisa bergerak. Lengan laki-laki itu melingkar di pinggangnya. Menariknya mendekat.


"Catty? Apa Luigi menciummu?" Pertanyaan itu lagi. Claude memaku mata Catalina, menanti jawaban jujur yang ingin ia dengar.

__ADS_1


Catalina menelan ludah, menyadari ia kehilangan suaranya. Ia hanya bisa menjawab dengan menganggukkan kepala.


Claude menarik napas panjang. Dugaannya benar. Luigi memaksa mencium Catalina. Dengan jari-jari tangannya yang tadi mengelus bibir Catalina, Claude mengangkat dagu gadis yang tertunduk di depannya itu. Ia menunduk, mendekatkan wajahnya pada wajah Catalina.


"Aku akan menghapus jejaknya di sini Catty. Lupakan sentuhan pria itu di sini."


Ciuman itu lembut dan penuh perasaan. Membuat Catalina hanyut dalam pusaran gairah yang merayunya untuk ikut memberi respon. Tanpa disadari olehnya, Catalina mengangkat kedua lengannya dan melingkari leher Claude. Kemudian ia membalas ciuman Claude dengan sama lembutnya.


Ciuman malu-malu itu membuat gairah Claude bangkit, ia memiringkan kepala dan memperdalam ciuman. Kedua lengannya sudah melingkar di tubuh Catalina. Menariknya mendekat, seolah tubuh mereka yang sudah saling menempel masih kurang dekat bagi Claude.


Desahan yang lolos dari bibir Catalina bagai dering peringatan bagi Claude. Ia harus segera berhenti, sebelum api itu membakar mereka berdua dan tidak akan padam sebelum mereka terbakar menjadi abu penyesalan. Ya ... Catalina pasti akan menyesalinya, kerena menyerahkan diri pada laki-laki yang bahkan belum mengatakan padanya bahwa ia mencintai gadis itu.


Perlahan, Claude mengangkat kepalanya. Matanya berkilau menatap Catalina yang balas menatapnya dengan mata birunya yang sekarang terbelalak. Claude tersenyum.


"Ingatlah sentuhan yang ini Catty Sayang. Lupakan sentuhan Dokter itu di bibirmu."


Claude mengelus pelan bibir Catty yang lembab dan sedikit membengkak.


"Ke ...." Catalina berhenti, ia menelan ludah sebelum melanjutkan, "kenapa kau melakukannya?"


Claude tersenyum lebar. "Kau sungguh ingin tahu? Aku akan mengatakannya. Tapi kau harus berjanji tidak akan menjauh dariku dan membiarkan hati dan perasaanmu memahami semuanya, lalu memberitahumu apa yang kau rasakan sebenarnya dengan jujur."


Catalina menatap Claude, ia memahami sinar di mata itu. Kilau yang memberitahunya perasaan Claude yang sebenarnya. Perlahan ia melepaskan diri. Tidak ... Catalina merasa ia belum sanggup mendengarnya. Ia masih perlu memahami dirinya sendiri dulu.


Claude melepaskan pelukannya pada pinggang Catalina. Membiarkan gadis itu lepas. Dengan mata masih terus menatap, Claude melihat sinar tidak yakin di mata Catalina. Ia membiarkan ketika Catalina berbalik darinya lalu pergi dengan langkah cepat meninggalkannya sendirian di dapur.


Claude menoleh pada pitcher berisi air minum di atas meja dapur. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat ketika keinginan untuk mengantarkan pitcher itu terlintas di otaknya.


Tidak Claude. Jangan coba memikirkan itu. Kamar merupakan godaan besar. Biarkan Catty mengambilnya sendiri jika ia membutuhkannya ....


N E X T >>>


**********


From author,


One step closer..... Besok bilang I love You deh 😅😅😅


Jangan lupa like, love, komentar, fav, bintang lima dan vote ya🙏🙏


Follow author dengan klik ikuti di kolom profil, atau ramein grup chat DIANAZ yuk😍😍

__ADS_1


Terima kasih semuanya.


Salam, DIANAZ.


__ADS_2