Embrace Love

Embrace Love
Ch 152. She Knows?


__ADS_3

Alric menatap ke arah tempat tidur, Mary gelisah. Tidurnya tidak nyenyak, baru saja wanita itu tadi mengerang seperti kesakitan. Mungkin Mary bermimpi.


Berdiri di pagar balkon kamarnya, bersandar di pembatas sambil menatap ke arah ranjang. Alric sendiri tidak bisa tidur. Ia ingin membangunkan Mary, tapi sebentar setelah mengerang, istrinya itu diam lagi dan masih tertidur.


Suara ponselnya yang berdenting memberitahu Alric bahwa ada pesan yang masuk. Ia bergerak dari pagar balkon dan masuk ke kamar. Setelah melihat ke arah jam dinding ia menarik napas panjang. Hampir tengah malam ... ia mengambil ponsel dan membaca pesan yang ternyata datang dari Claude.


Alric menarik napas lega. Claude mengabari dalam kalimat singkat bahwa Catalina sudah sadar dan membuka mata. Ia melirik ke arah ranjang, menimbang apakah harus membangunkan Mary dan memberitahunya kabar yang dikirimkan Claude.


Seperti tahu Alric dalam dilema antara membiarkan Mary tetap tidur atau membangunkannya, wanita itu kemudian terbangun sendiri. Mary kemudian meraba bagian kasur yang kosong di sebelahnya.


"Aku di sini," ucap Alric sambil mendekat dan naik ke atas ranjang.


"Alric. Kau belum tidur?"


"Belum ... Apakah kau bermimpi buruk? Kau mengerang dalam tidurmu, Mary."


"Ya ... kurasa ya," ucap Mary sambil bangkit. Ia mengusap wajah dan mengucek matanya.


"Kemarilah," ucap Alric. Mengulurkan tangan, menarik Mary dan membawanya ke pelukan. Alric bersandar di kepala tempat tidur, pada dua buah bantal yang ada di sana.


Mary meringkuk dan bersandar di dada Alric, mendengarkan detak teratur bunyi jantung suaminya itu.


"Ada kabar dari Claude ...."


Mary langsung mendongak, mata birunya menyorot khawatir. Kedua tangannya mencengkeram kelepak jubah kamar Alric.


"Shhh ... jangan takut, Sayang. Ini kabar baik. Lina sudah sadar." Alric menenangkan sambil mengecup pelan kening Mary.


"Oh ...." Mary melepas napas yang sejenak tadi sempat ia tahan. Rasa lega membanjirinya. kedua tangannya yang mencengkeram kelepak jubah kamar Alric seketika mengendur.


"Terima kasih Tuhan," bisik Mary. Lalu mereka hanya diam, membiarkan keheningan menenangkan membalut suasana kamar mereka yang temaram.


"Apa yang terjadi dalam mimpimu, Mary?" tanya Alric tiba-tiba.


"Hanya cuplikan menggelisahkan." Mary mengernyit. " Sesuatu tentang Catalina dan ibunya yang bergandengan lalu pergi. Lalu ada juga bau anyir darah, lalu pindah lagi ke bau desinfektan ... bau rumah sakit ...."


"Kurasa kau tidur dengan rasa takut memikirkan adikmu."


"Ya ... hingga terbawa dalam mimpi."

__ADS_1


"Sekarang sudah ada kabar baik. Lina akan baik-baik saja ...."


"Ya ... ya, syukurlah ...."


Lalu Mary memejamkan mata. Awalnya ia memeluk Alric dari atas jubah kamarnya. Namun beberapa saat kemudian ia menuruti keinginan hati, mulai menyelipkan tangannya ke balik kelepak jubah dan mencari serta menyentuh kulit hangat yang ada di balik jubah . Mengeluskan jemarinya di kehangatan kulit dada Alric.


Alric hanya diam, syarafnya mulai bergetar. Satu tangannya bergerak membelai rambut Mary yang lembut, yang menempel di punggung gaun tidur bertali satu yang dipakai istrinya itu. Lalu Alric merasa telapak tangan itu bergerak turun, mengelus perut, lalu bergerak ke pinggang. Alric merasa gairahnya bangkit. Ia seperti senar yang tengah ditarik dengan kencang.


"Jangan lakukan itu, Sayang," Alric terkekeh pelan, suaranya terdengar serak. "Atau aku akan mulai menciummu lalu takkan berhenti sampai gairahku tuntas."


Mary membuka mata, lalu mendongak menatap suaminya yang telah menunduk dan menatapnya.


"Memangnya kau masih tertarik melakukannya lagi denganku? Aku mulai besar seperti drum."


Alric menatap mata istrinya yang membesar, mata biru bak laut lepas yang membuatnya ingin terjun bebas dan berenang mengarunginya sampai puas.


Tawa Alric menggema setelah mendengar pertanyaan Mary. " Apa kau takkan takut mendengarnya? Kau mau aku jujur?"


Mary mengangguk.


"Yang mana? Takut mendengar? Atau jujur?"


Alric tersenyum, memegang dagu Mary dan menatap langsung ke mata istrinya.


"Menurutku ... kau terlihat makin cantik setiap harinya karena perutmu yang membesar. Dan ini ... ini terlihat penuh ... aku tahu ini karena kehamilanmu. Tapi aku tidak dapat menahan gairahku yang akan bangkit setiap melihat ini." Alric meyapukan telapak tangannya ke bagian bawah gaun tidur Mary, tepat di bawah dadanya.


"Dan ini juga ...." Alric mengeluskan ibu jarinya ke bibir Mary. " Jika menuruti keinginanku, maka kau tidak akan kubiarkan keluar dari kamar ini. Aku akan terus mengurungmu dan membuatmu bercinta denganku sepanjang hari ...."


Bisikan sensual itu membuat syaraf Mary menggelenyar tidak menentu. Bola matanya makin melebar, warna matanya yang biru jernih menjadi lebih gelap ... Alric ingin tahu, apakah ia telah membuat gairah istrinya juga bangkit?


Alric mengangkat Mary, mengatur posisi istrinya itu di pangkuannya di atas ranjang. Lalu getar tubuh Mary memberitahunya kalau Mary merasakan bukti gairahnya.


"Kau merasakannya? Itu karena dirimu."


Dengan penuh perasaan Alric menurunkan bibirnya. Mencium istrinya dan tanpa menahan diri menyentuhkan tangannya di setiap kulit terbuka di punggung Mary yang bisa ia jangkau. Gaun longgar itu memudahkan Alric menyelipkan tangannya masuk lewat retsleting belakang yang dengan perlahan sudah ia buka. Hanya tinggal sekali tarik, maka Mary akan terbuka untuknya. Namun sesuatu menahan Alric. Ia memaksakan dirinya menjauh.


"Suruh aku pergi sekarang ... jika tidak ...." Alric mengeluskan ibu jarinya lagi ke bibir Mary yang lembab.


Kemudian Alric mendengarnya. Suara yang amat pelan dan kecil. Tapi ia mendengarnya dengan sangat jelas. Seperti diteriakkan di telinganya.

__ADS_1


" Aku tidak keberatan. Aku menginginkannya ...." Wajah Mary merona ketika kalimat itu meluncur. Kata-katanya membuat mata Alric berkilat dan badai gairah yang tadi berusaha ia tahan lepas kendali. Mary merasa cantik karena tatapan suaminya itu, ia merasa sangat diinginkan ... malah merasa sangat dicintai ... Apakah itu mungkin....? Hati kecilnya bertanya-tanya.


Hati Alric bernyanyi, lalu mulai menunjukkan pada Mary seberapa besar gairah dan keinginannya terhadap istri cantiknya itu. Membuat Mary melupakan segalanya, kegelisahan dan juga beban di hatinya saat ini.


**********


Rasa dingin membangunkan Alric dari tidurnya. Ia menarik selimut, lalu melirik ke arah jam dinding. Masih bisa tidur lagi sebelum pagi menjelang. Setelah bergeser dan melingkarkan lengannya lagi ke pinggang istrinya, ia memejamkan mata. Lalu ia mendengar suara Mary memanggil.


"Alric ..."


"Hmmm?" Alric melirik ke wajah Mary. Mata wanita itu terpejam, masih tidur. Alric tersenyum lebar.


"Kau memimpikanku ya?" bisiknya senang.


"Alric ..." ucap Mary lagi. Kali ini wanita itu menyembunyikan kepala ke dadanya.


"Ada apa, Mary? Kau mengigau ..." ucapnya sambil mengeratkan pelukan.


"Umm ... Ibumu ...." bisik wanita itu lagi. Alric terkejut. Ia mundur sedikit, kemudian menunduk untuk melihat wajah Mary. Masih tidur ....


"Astaga ....ibu? Kenapa dengan ibuku Mary?"


Alric terus menatap. Tapi Mary benar-benar masih tidur, matanya terpejam sangat rapat.


Apa dia tahu? Tidak mungkin ... siapa yang memberitahunya?


NEXT >>>>>


********


From Author,


Siapa yang ngasih tahu? Ya kamulah Tuan Lucca, wkwkwkwk.


Maaf atas waktu up yang tidak menentu. Menyesuaikan dengan pekerjaan author di real life. Semoga tetap sabar menanti.


Jangan lupa like, love, vote dan komentarnya ya. Bintang limanya juga mohon bantuannya untuk di klik bagi yang belum klik.


Terima kasih banyakkk

__ADS_1


Salam hangat, DIANAZ.


__ADS_2