Embrace Love

Embrace Love
CH 25. Dear


__ADS_3

Claude bangun pagi dan sarapan bersama Yoana serta Vincent seperti biasa. Ia heran mendapati Catalina juga sudah duduk di meja itu.


"Sedikit heran melihatmu sarapan bersama Cat. Bukankah kau lebih senang melakukannya sendiri?" Claude menatap pada Catalina yang mengunyah roti tanpa mengangkat wajahnya.


"Kubilang pandangi orang yang berbicara denganmu Cat. Jangan hanya fokus pada rotimu." Mendengar ucapan itu Catalina mendongak cepat, ucapan itu mengingatkannya pada apa yang Claude katakan dan lakukan padanya di ruang perpustakaan. Hanya bedanya saat itu ia fokus pada buku, bukan pada roti.


Claude mengangkat alisnya, menunggu gadis itu memakinya. Namun tak kunjung satu katapun yang keluar dari bibir Catalina hingga akhirnya wajah itu menunduk kembali.


Vincent menatap keduanya bergantian. Merasa sesuatu telah terjadi dan ingin tahu apa itu.


"Kami akan pergi mengantar Leon ke rumah sakit, Ia harus menemui dokter." Yoana memberitahu adiknya alasan Catalina akhirnya harus memaksakan diri sarapan bersama mereka.


"Aku tidak mau menunggu ia selesai sarapan. Kami akan pergi segera setelah aku selesai sarapan agar aku bisa langsung ke kantor. Jadi dengan terpaksa gadis keras kepala ini harus makan bersamaku!" Yoana tersenyum miring melihat Catalina yang cemberut ke arahnya.


"Oh, ayolah. Kau tidak mau ia rewel semalaman lagi kan," cetus Yoana.


"Leon sakit?" Claude bertanya dengan nada khawatir.


"Tidak. Sesuatu yang alami tentang gigi yang akan tumbuh. Sepertinya itu agak mengganggunya." Yoana menyelesaikan sarapannya dengan cepat.


"Kau akan mengantar kami kan Vincent?" Yoana menatap pada laki-laki yang hanya diam sejak duduk di kursinya itu.


"Tidak. Aku yang akan mengantar kalian." Claude mengucapkan kata-kata itu dengan tegas.


Yoana menaikkan alisnya, Catalina memandangnya masam dan Vincent hanya menatapnya datar.


"Kenapa? Leon juga keponakanku kan ... Vincent akan langsung ke kantor. Jadi tunjukkan saja kemana kita akan membawa Leon."


Claude segera makan dengan cepat dan meminum jusnya sekali teguk, membuat Yoana merasa heran adiknya itu tidak tersedak.


"Ayo ... Leon sudah siap?" tanyanya kemudian.


Catalina bangkit dan meletakkan peralatan makannya ke wastafel. Ia melangkah dengan berat, ia tidak suka bila Claude yang mengantar mereka.


"Apa yang terjadi?" Pertanyaan penuh selidik dari Yoana itu terdengar ketika Catalina sudah jauh dari lingkup bisa mendengarkan pembicaraan dari ruang makan.


"Apanya?" Claude balik bertanya.


"Jangan pura-pura bodoh! Apa yang kau lakukan ? Gadis itu terlihat semakin tidak menyukaimu!" cetus Yoana menyipit dengan pandangan menyelidik.

__ADS_1


Claude menangkupkan sebelah tangan ke dadanya seraya memandang Yoana dengan memelas. "Tega sekali kau mengira aku telah mengganggu gadis itu. Dia tidak suka padaku sejak menginjakkan kakinya di mansion ini, Yoana sayang. Tanpa perlu aku melakukan apa-apa."


Yoana mendengus. "Aku tidak percaya. Pasti kau mengganggunya!"


Claude tersenyum lebar. "Terserah padamu mau percaya atau tidak. Hanya saja kau perlu tahu jika mulai saat ini, aku ingin dilibatkan pada apapun kegiatan dengan Leonard."


Yoana menaikkan alisnya heran. "Maksudmu?"


"Seperti sekarang. Ke rumah sakit, belanja baju keperluan Leon, susu, jalan-jalan. Apapun kegiatanmu bersama Leon dan Catalina aku ingin kau memberitahuku. Aku ingin ikut jika pekerjaanku tidak banyak ."


Yoana mendengus. "Kenapa tiba-tiba? Ada sesuatu yang tidak kuketahui?"


"Yoana ... kau terlalu banyak mendengus pagi ini. Tidak feminin sama sekali," ejek Claude, sengaja membuat kakaknya jengkel.


"Kau mau ikut kalau Catalina ikut. Bukan begitu?" Nada datar dari suara Vincent membuat Claude menyeringai ke arahnya.


"Kau selalu lebih tajam menganalisa,Vincent. Tentu bukan itu saja alasanku. Aku juga ingin menghabiskan banyak waktu dengan Leon. Seperti waktu itu ... di taman hiburan," ujar Claude kelepasan. Yoana mengernyit membayangkan Claude membawa Leon ke taman hiburan.


"Kau? Ke taman hiburan? Bersama Leon? Kapan?" Buru Yoana penasaran. Claude dan Vincent berpandangan, menyadari rencana penculikan Leon waktu itu akan terbongkar jika Yoana terus memburu dengan pertanyaan-pertanyaannya. Keduanya hanya diam dan mengunci mulut rapat-rapat.


Vincent segera bangkit dan melarikan diri.


Claude memandang laki-laki itu dengan kesal. Vincent sama sekali tidak mau membantunya melepaskan diri dari pertanyaan Yoana.


"Katakan padaku. Kapan kalian ke taman hiburan!?" Yoana mengacungkan garpunya ke arah Claude, seolah mengancam adiknya bila tidak mau membuka mulut.


"Aunty?" Catalina memanggil Yoana yang tengah mengacungkan garpu. Yoana dan Claude menoleh ke arah Catalina yang sudah menggendong Leonard dengan satu tangan dan tangan lain membawa tas bayi.


Claude melihat kesempatan untuk melarikan diri. Ia bangkit dan segera mengambil tas bayi dari tangan Catalina.


"Ayo, Sayang. Kita pergi sekarang," ucap Claude.


Catalina mengerutkan kening mendengar ucapan itu. Ia tahu panggilan sayang itu Claude tujukan pada Leonard. Tapi entah mengapa ia jadi sedikit bergidik mendengarnya. Seolah Claude sengaja membuat panggilan itu untuk mereka berdua.


Yoana mendengarkan, melihat ekspresi adiknya yang menyeringai dan Catalina yang bergidik serta mengerutkan kening. Ia bangkit dan sedikit mengerti tentang situasi antara keduanya. Yang satu kemungkinan sudah jatuh cinta tanpa disadarinya dan Yoana berharap kemungkinan ini memang nyata, dan yang satu lagi terlihat alergi dan tidak tertarik. Yoana tersenyum lebar. Akan menarik melihat Claude menangani situasi ini.


"Ayo ... kita pergi," ucap Yoana singkat dan berjalan mendahului keduanya keluar dari mansion.


**********

__ADS_1


"Ya, ada apa?" Yoana mengangkat panggilan telepon dari salah satu desainernya. Ia mendengarkan lalu sesaat kemudian menjawab lagi.


"Baiklah. Tunggulah di sana. Aku akan tiba sebentar lagi." Yoana mematikan telepon genggamnya dan segera memberi perintah pada Claude.


"Claude, turunkan aku di Lex TV. Hanya beberapa blok lagi ke depan. Ada hal penting yang harus kuselesaikan. Kau bawa Catalina ke rumah sakit. Janji temunya sudah di buat. Catalina akan tahu mesti melakukan apa di sana nanti."


Claude hanya diam tidak membantah. Catalina mencoba protes.


"Tapi kau mengatakan akan menemaniku ke sana," ucapnya gelisah. Yoana tersenyum kecil.


"Aku sudah tunjuk penggantiku, Lina. Ada yang harus segera kutangani, Claude akan menemanimu."


Catalina mengeratkan pelukannya pada Leon. Mencoba menyimpan rasa jengkel karena ditinggal bersama Claude.


Setelah beberapa blok, mobil hitam itu berhenti di depan sebuah gedung. Yoana menurunkan kaki nya dan berbalik kembali ke arah Leon yang mengoceh.


"Maaf, Aunty tidak menemanimu Sayang. Tapi Daddy Claude akan mengurusmu." Yoana mengecup pipi montok Leon dan turun dari mobil meninggalkan mereka. Claude masih belum menjalankan mobilnya, membuat Catalina mengernyit dan menegurnya.


"Kau akan membuat kami terlambat bila tidak berangkat sekarang juga," ucap Catalina.


"Aku tidak akan bergerak jika kau tidak pindah duduk di depan, Cat. Aku bukan sopirmu." Claude menoleh menatap wajah gadis itu. Bibir itu mengerut tidak suka, tapi tak urung gadis itu pindah dengan Leon di pelukannya.


"Nah ... kita berangkat sekarang, Sayangku!"


Kembali Catalina bergidik. Entah kenapa, setiap panggilan sayang terlontar dari bibir pria itu, Catalina merasa itu bukan hanya di tujukan pada Leonard, tapi juga kepadanya. Hal itu membuatnya merasa sangat gelisah, seolah merasa sedang diburu sesuatu dan dijadikan mangsa.


Semoga hanya perasaanku saja ...


N E X T >>>


**********


from Author,


Jangan lupa like, komentar, rating bintang5 dan favorite ya my readers.


Terima kasih.


Salam, DIANAZ

__ADS_1


__ADS_2