Embrace Love

Embrace Love
Ch 122. Accept the situation


__ADS_3

Luigi berdiri dari kursi ketika sesosok tubuh berderap masuk, Maldini Steffano berdiri dengan mata tajam menelusuri tubuh putranya. Sudah beberapa bulan mereka tidak bertemu.


"Jadi kau ikut melayani pasien padahal tugasmu sebagai orang yang duduk di kursi itu sudah begitu banyak ...."


Luigi keluar dari belakang meja kantornya dan mendekati sofa. Dengan sebelah tangan ia menunjuk ke arah sofa, mempersilakan ayahnya untuk duduk.


"Ada apa Ayah kemari?" tanya Luigi dengan nada datar.


"Apa perlu alasan khusus untuk aku mengunjungimu?" tanya tuan Steffano. Bersyukur Luigi sudah mau mengucapkan beberapa kata padanya.


"Apa kabar Mom?"


"Oh, kau masih ingat rupanya dengan ibumu!? Kukira kau lupa punya ayah dan ibu?" sindir tuan Steffano.


"Aku sibuk, Ayah ...."


"Bagaimana tidak sibuk bila semua pekerjaan kau ambil! Harusnya kau tidak perlu menerima pasien! Kau seorang direktur!"


Luigi hanya diam.


"Apa kabar menantuku?"


"Apa?" Luigi mengernyit bingung menatap ayahnya.


"Natalia ... Apa kabarnya?"


"Uh ... apa dia tidak pernah datang berkunjung?" tanya Luigi.


"Bagaimana mungkin ia datang sendirian! Harusnya kau yang membawanya ke mansion!"


Luigi tidak menjawab kata-kata ayahnya, ia berpikir pastilah Natalia pulang ke rumah orang tuanya sendiri, karena ayahnya baru saja mengkonfirmasi kalau wanita itu tidak pernah datang ke mansion Steffano.


"Apa Natalia sudah hamil?"


"Ap ... apa?"


"Kau mendengarku, Luigi ... sudah cukup lama Natalia pindah dari mansion dan tinggal bersamamu! Beberapa kali ibumu meneleponnya dan dia mengatakan kalian baik-baik saja. Tapi akhir-akhir ini, Nat sudah tidak pernah lagi menelepon. Ibumu menduga ia sakit. Apakah berhubungan dengan kehamilan? Apakah dia sudah hamil?"


"Tidak ... "


"Belum?"


"Ya,"


Maldini Steffano menarik nafas panjang dengan kecewa.

__ADS_1


"Kami sengaja tidak mendatangi kalian agar kalian punya waktu bulan madu yang lama berdua saja. Aku datang karena kupikir mungkin Nat sudah mengandung. Kalau iya, kau harus segera pindah dari apartemen mu. Tempat itu tidak cocok untuk pria berkeluarga."


Luigi hanya diam, melihat gurat kecewa di wajah ayahnya. Lalu pria tua itu bangkit.


"Pulanglah dengan Natalia sesekali, Luigi. Ibumu rindu ... kita makan malam bersama."


Tuan Steffano menatap putranya dengan wajah sedih. Sejak menikah, Luigi tidak mau bicara dengan mereka, sekarang sudah lewat beberapa bulan putranya itu hanya berucap beberapa kata.


Karena tidak ada jawaban, tuan Steffano akhirnya melangkah ke pintu keluar.


"Satu lagi ... sampaikan pada Natalia. Kunjungi kedua orang tuanya, Ambroz bilang padaku putrinya tidak pernah pulang dan mengunjunginya."


Tuan Steffano membuka pintu dan akhirnya berlalu meninggalkan Luigi yang tercenung. Dari perkataan ayahnya, Natalia berarti tidak pulang ke rumah orang tuanya.


Lalu kau tinggal di mana, Natalia?


Luigi mengambil ponsel. Membuka dan segera menelepon ibunya. Panggilan itu di jawab pada dering ke tiga.


"Halo, Nak ... Ya Tuhan. Akhirnya kau meneleponku lagi."


Luigi kembali tercenung, kesedihan sangat kental di suara ibunya.


"Mom ...."


"Ya, Nak ...."


"Umm ..." Luigi mendengar ibunya bergumam pelan.


"Tidak, ada apa Luigi?"


"Ayah baru saja dari sini ... ia ingin tahu kabar Natalia."


"Ck! Bukan hanya Natalia! Kabarmu juga ... itu adalah alasan agar ia bisa melangkahkan kakinya ke tempatmu dan bicara denganmu! Kalian benar-benar sama-sama keras kepala! Dia merindukanmu, Luigi." Luigi mendengar ibunya terisak pelan. Ia terdiam, lama menatap ke arah luar kaca jendela kantor. Begitu banyak waktu yang tersia-sia karena kemarahannya pada pernikahan yang dipaksakan ini. Kembali Luigi terngiang pada kata-kata Catalina yang menangis ketika ia memaksa mencium gadis itu di hari pertunangannya dengan Natalia.


Jika memang tidak ada lagi yang bisa kau lakukan untuk merubah keadaan, maka belajarlah untuk menerimanya dan melakukan yang terbaik, agar kau bisa berbahagia ... kau berhak bahagia ....


"Nak?"


"Mom ... bisa kirimkan nomor Natalia sekarang?"


"Memangnya kau tidak simpan?"


"Terhapus, Mom. Aku tunggu ya, ada yang penting yang mau ku bicarakan dengannya. Ehm ... nanti, jika aku sudah punya waktu, aku akan datang makan malam, Mom."


Lalu Luigi memutus sambungan. Ia menatap lagi ke luar jendela dengan tangan menggenggam ponsel.

__ADS_1


Melakukan yang terbaik agar bisa berbahagia? Apa Aku sudah mencobanya? Hatiku hanya dibalut kemarahan, menutup hati pada semua yang membuatku harus menjalani pernikahan ini. Menjauhkan ibuku, ayahku ... Apa aku sekarang merasa puas?


Suara pesan masuk mengalihkan pikiran Luigi. Ia menatap nomor ponsel Natalia yang dikirim ibunya.


Luigi segera menekan dan menghubungi nomor itu.


Beberapa kali ia mencoba, nomor itu aktif pada awalnya. Namun jadi tidak aktif beberapa saat kemudian. Luigi mengerutkan keningnya.


Ponselnya tiba-tiba mati ... Sengaja ... atau karena baterainya memang habis?


**********


Natalia menatap ngeri ke arah ponselnya di atas meja, seolah benda itu akan mematuk dan menggigit. Tadi ia sengaja mematikan ponselnya ketika melihat Luigi yang menelepon.


"Nat, ada apa, Sayang? kenapa kau tidak mengangkatnya?"


"Itu ... itu tadi ...." Natalia berhenti mengucapkan kalimat. Ia menelan ludah untuk melancarkan tenggorokannya.


"Nat ... Ada apa? Siapa tadi?"


"Laura ... itu Luigi. Kenapa tiba-tiba ia meneleponku?


"Kau yakin itu Luigi?"


Natalia menganggukkan kepalanya, tatapannya panik menatap Laura.


"Laura ... bagaimana kalau ... kalau ia menelepon karena ia sudah tahu?"


"Itu belum pasti, Sayang. Jangan memikirkan yang tidak-tidak. Ayo ... sekarang istirahatlah. Jangan pikirkan apapun." Laura memeluk Natalia, namun perut Natalia yang sudah membesar menghalangi di antara mereka.


"Nat, bayimu yang penting sekarang ini. Ingatlah itu saja ...." Laura mengelus perut Natalia.


Natalia mengangguk, menatap penuh terima kasih pada Laura. Ia menurut ketika Laura membimbingnya kembali ke kamar untuk beristirahat.


NEXT >>>>>


************


From Author,


Ikuti kisahnya terus, dan bersabar tunggu updatenya ya. Jangan lupa klik tombol like alias jempol, tombol favorite alias love, beri komentar, saran ataupun kritik membangun, biar Author makin semangat untuk nulis.


Bagi yang belum kasih rate, tolongin dong tekan tombol bintang, kemudian klik bintang lima ya๐Ÿ™๐Ÿ™


Yang punya poin dan koin, bisa bantu author dengan klik Vote agar performa novel ini makin naik.

__ADS_1


Untuk semua bantuan para Readers semuanya, author ucapin terima kasih banyak๐Ÿ’ž


Salam hangat, DIANAZ


__ADS_2