
Sebuah bisikan membangunkan Catalina. Bukan, bukan bisikan ... sebuah panggilan. Seseorang, memanggil namanya berulang kali. Ia berputar, mencari sumber suara itu. Ia mengenal suara itu dengan sangat baik. Hatinya membuncah dengan rasa tak sabar, juga rasa rindu yang amat pekat.
Dimana? Dimana? Catalina berteriak, memandang berkeliling. Ia ada di sebuah padang bunga Blue Bell ... selangkah demi selangkah ia melewati hamparan bunga, berhati-hati agar kakinya tidak menginjak tumbuhan dengan bunga berbentuk lonceng berwarna biru itu.
Catalina menunduk, berniat duduk dan menyentuh semua bunga itu. Lalu suara itu lagi, memanggilnya dengan penuh kasih sayang. Catalina menoleh, lalu di sanalah ia melihat sosok ibunya. Ibunya mengenakan gaun berwarna putih. Rambutnya yang coklat keemasan disanggul dengan rapi di atas tengkuknya. Sebuah bunga berwarna merah muda menghias sanggul itu.
"Mommy! Mommy!" Catalina berteriak. Air matanya berhamburan keluar menuruni lereng pipinya. Ia berlari mengejar sosok ibunya yang telah merentangkan tangan, menyambut Catalina ke dalam pelukannya.
"Mommy!" Catalina terisak. Dengan penuh rasa rindu ia memeluk tubuh ibunya. Kemudian ia mencium pipi sang ibu, kiri dan kanan masih dengan terisak.
"Sayang ... Catlin kecil ibu. Jangan menangis, Nak."
"Mom ... aku sangat merindukanmu."
"Ibu juga merindukanmu, Sayang."
Mereka berpelukan. Catalina merasakan telapak tangan ibunya mengelus punggungnya naik turun. Memberi rasa damai dan juga ketenangan. Akhirnya ia berhenti menangis.
"Catlin ... ibu tidak bisa lama, Sayang. Ibu harus kembali."
"Tidak. Jangan, Mom. Catlin ikut ...." rengek Catalina. Memanggil dirinya sendiri dengan nama panggilan sayang dari ibunya. Namun ibunya menggeleng. Membuat Catalina memegang tangannya dengan ketakutan.
"Jangan pergi, Mom. Jangan tinggalkan Cat sendirian di sini."
Ibunya tertawa. Kedua bola mata ibunya yang berwarna hijau berbinar.
"Kau tidak sendirian, Catlin. Mereka menunggumu. Jangan biarkan mereka khawatir. Pulanglah, Nak."
Dengan kening berkerut Catalina menoleh ke arah yang ditunjukkan ibunya. Di ujung lain padang, ia melihat Marylin yang berdiri sambil menangis, tubuhnya yang terisak disangga oleh suaminya dari belakang. Raut khawatir dari Alric tampak sangat jelas. Lalu berdiri sambil menunggu dengan wajah khawatir lainnya di sana, ada Yoana, ada Vincent, ada Simon bahkan ada Annete.
Catalina mengernyit, Claude tidak ada, Leonard juga. Dimana mereka? Apakah mereka tidak menunggunya? Catalina memandang ke arah lain, mencari keberadaan keduanya.
"Kau mencari siapa, Sayang?" ibunya bertanya sambil tersenyum.
"Claude, Leon ... mereka tidak ada, Mom."
Tawa halus ibunya terdengar. Catalina merasakan remasan lembut tangan ibunya di telapak tangannya.
"Lihat ke belakangmu, Sayang."
Catalina menoleh, Lalu membelalak kemudian berseru gembira. Tanpa sadar ia melepaskan pegangan tangan dengan ibunya.
"Leon!" sambil berlari Catalina mendekat dan mengulurkan tangan pada Leon. Bocah itu menyambutnya, lalu mengalungkan kedua lengan ke lehernya dengan sangat erat. Membuat Catalina tertawa. Kemudian kedua lengan Claude meraup mereka berdua ke dalam pelukan pria itu. Calon suaminya itu tidak berkata apapun. Namun Catalina melihat Claude menangis, dua tetes air mata meluncur menuruni pipi pria itu.
__ADS_1
"Claude ... Claude ... ada apa?" Catalina mendongak, berusaha membebaskan diri dan ingin melihat wajah kekasihnya itu. Tapi Claude tidak membiarkan ia lepas. Catalina dan Leon terperangkap di dalam pelukan pria itu yang melilit erat.
Lalu kedua mata Catalina menoleh ke arah ibunya. Senyum ibunya tampak lebar dan puas. Ibunya melambaikan tangan, mengucapkan sesuatu yang tidak dapat di dengar oleh Catalina. Dari gerakan bibir ibunya Catalina merasa itu seperti ucapan selamat tinggal. Kemudian ibunya berbalik, berjalan menjauh, ujung gaun putih ibunya melambai diterbangkan angin.
"Mom! Mom!" panggil Catalina panik. Tapi ibunya terus berjalan, makin lama makin jauh. Catalina mulai menangis lagi. Panik kerena ibunya sepertinya tidak mendengar panggilannya.
"Mom! Kenapa kau tidak mendengarku. Mom!"
Saat itulah ia mendengar Claude berbisik.
"Cat ... Catty. Bangunlah Cat. Kau dengar aku bukan? Bangunlah Cat."
Catalina menangis terisak. Jari-jari Claude lalu menghapus air mata yang membasahi kedua pipinya.
"Claude ... Mom ..." bisik Catalina.
"Bangunlah, Sayang. Aku mohon. Kau mendengarku bukan. Bangunlah."
Catalina lalu tersadar, bisikan di telinganya yang menyuruhnya untuk bangun terdengar amat nyata. Ia membuka mata amat perlahan. Menunggu beberapa saat untuk menggapai kesadarannya yang terasa berkabut dan tidak jelas. Lalu ia merasakan kecupan lembut di telinganya, Kemudian gesekan kasar rambut atau cambang yang baru tumbuh di sisi pipinya. Catalina menyadari ada seseorang yang membaringkan kepala di sebelah kepalanya.
Ia mencoba bersuara, tapi tenggorokannya terasa kering dan perih. Jadi ia berusaha menggerakkan kepalanya untuk menoleh, itupun tidak bisa sepenuhnya.
Gerakan itu membuat Claude yang duduk di sebelah ranjang Catalina dan meletakkan kepalanya di samping kepala gadis itu bangkit dan duduk dengan mata menatap ke arah wajah Catalina.
Mata mereka bertemu, tatapan terkejut dan penuh harap di kedua mata Claude yang merah terlihat jelas. Lalu beberapa detik kemudian Claude terlihat memejamkan matanya penuh syukur. Genggaman tangannya di tangan Catalina terasa mengencang.
"Terima kasih, Tuhan ...." bisik Claude sepenuh hati. Setetes air matanya mengalir ke telapak tangan Catalina. Mata Catalina tampak terkejut dan heran ... kekasihnya menangis?
Lalu Claude menggapai tombol bel di sisi kepala ranjang Catalina. Ia memanggil perawat yang segera datang dan langsung memeriksa keadaan gadis itu. Kedua mata Catalina di lihat dengan diterangi cahaya dari senter kecil, kemudian monitor tanda vital di sebelah ranjangnya di periksa. Senyum perawat itu kemudian membuat rasa lega Claude makin besar.
"Semuanya baik-baik saja, Tuan Bernard. Miss Catalina sudah sadar. Awal yang bagus. Apa yang Anda rasakan Miss?"
Catalina mencoba tersenyum, namun gagal. Bibirnya terasa amat kering.
"Jangan bicara dulu jika terasa sulit. Tenggorokan Anda pasti terasa kering dan sakit. Cukup anggukkan kepala atau menggeleng jika Anda mengerti. Oke?" tanya perawat itu dengan nada ramah.
Catalina mengangguk. Perawat tersebut kembali tersenyum. Memeriksa lagi selang oksigen dan tanda vital di monitor yang terhubung pada tubuh Catalina. Setelah beberapa saat, perawat tersebut pergi meninggalkan Claude, mengatakan sesuatu tentang menghubungi dokter Bryan tentang perkembangan Catalina.
Claude tidak terlalu mendengarnya, karena ia terlalu fokus menatap ke arah dua mata biru yang sekarang terbuka dan juga sedang memandangnya.
"Anggukan kepalamu kalau kau mendengar Catty. Apakah kau merasa sakit ... nyeri?"
Kepala itu menggeleng. Claude menarik napas lega. Kembali ia mengangkat tangan Catalina ke wajahnya.
__ADS_1
"Syukurlah ...." bisiknya pelan. Membentangkan telapak tangan Catalina di pipinya.
"Kau pasti bermimpi. Tadi kau mengigau ... kau memanggil ibumu, suaramu kecil, serak dan sepertinya sangat sulit untuk keluar. Tapi kau benar-benar memanggil Mom, aku mendengarnya ... kau bertemu dengannya?"
Catalina mengangguk.
"Aku ketakutan ketika kau menyebut ibumu. Aku takut kau pergi bersamanya. Jadi aku tidak berhenti berbisik agar kau bangun. Sangat berharap kau mendengarnya." Claude bicara sambil menatap Catalina. Mata itu sangat merah. Berapa lama Claude tidak tidur? Jam berapa sekarang? Mata itu merah ... kurang tidur atau banyak menangis? Berbagai pertanyaan melintas di otak Catalina.
Catalina memejamkan mata kembali. Merasa amat lelah dan ingin tahu apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa ia sampai berada di sini. Terakhir yang ia ingat adalah acara makan siangnya bersama Yoana.
Catalina ingin istirahat. Agar bisa pulih mengingat semuanya. Agar bisa bicara dan meringankan penderitaan yang ia lihat di mata Claude. Tapi ia harus pulih dulu ...
"Istirahatlah Catty ... Tapi nanti bangunlah kembali. Aku menunggumu ... kau mendengarku kan, Sayang?"
Catalina ingin sekali mengangguk, namun keinginannya untuk kembali memejamkan mata tidak dapat di tunda.
Ya ... aku mendengarmu, Claude. Tunggu aku ....
Dengan kalimat itu Catalina tertidur kembali dengan tenang. Merasa bahwa ia sudah menjawab pertanyaan Claude dengan jelas. Claude mengulurkan tangannya dan membelai pipi Catalina yang sudah terpejam.
"Cepatlah sembuh, Catty ... agar kita bisa menikah," bisik Claude sambil membelai jari manis Catalina dan menghayalkan cincin kawin yang sudah ia siapkan untuk pernikahan mereka melingkar di jari itu.
Satu pemikiran berkelebat ketika ia meletakkan tangan Catalina kembali ke atas ranjang. Tabrakan itu ... Claude meletakkan kepalanya kembali ke sebelah kepala Catalina ke atas ranjang. Setelah lega Cattynya sudah kembali, Claude baru memikirkan tentang mobil hitam yang mendatangi Catalina dengan tiba-tiba waktu itu. Karena berada tepat di belakang mobil yang menabrak Catty saat itu, Calude melihat dengan jelas ... Mobil itu memang mengincar Cattynya.
Seseorang akan membayar hal ini, Catty ... Dia sudah siap hancur ketika berniat membunuh dan mencelakai dirimu.
NEXT >>>>
**********
From Author,
Terima kasih sudah membaca karya Author ya Readers sekalian. Mungkin ada yang berminat baca karya author yang lain. Tiga novel lainnya yang masih berhubungan ceritanyaπ€π€ππ
@Passion Of My Enemy
@Love Seduction
@Mr. Costra
Monggo mampir dan tinggalkan jejak ya Readers. Sekali lagi terima kasih dukungannya.
Jangan lupa juga tekan like di chapter ini, tekan love atau favorite bagi yang belum, tekan bintang lima bagi yang belum kasih penilaian rate dan juga ketik komentar ya. Yang punya poin atau koin, author mohon batuannya untuk Vote yaππππ€π€πβ€β€β€
__ADS_1
Thank you.
Salam hangat, DIANAZ.