Embrace Love

Embrace Love
CH 37. Make feel better


__ADS_3

Bruno menghentikan mobil di depan mansion, bermaksud turun dan membukakan pintu untuk Claude, tapi pria itu sudah turun lebih dulu, lalu berputar dan membuka pintu untuk Catalina.


"Terimakasih," ucap Catalina sambil mengeratkan jas Claude yang tersampir di bahunya. Ia berjalan pelan memasuki mansion, membiarkan Claude berjalan mendahuluinya. Ketika Claude menaiki tangga menuju lantai 2, ia menyadari tidak ada suara langkah kaki Catalina di belakangnya. Ia menoleh dan mendapati kelebat gadis itu menghilang meninggalkan aula menuju ruang santai. Claude mengernyit dan akhirnya berbalik, berjalan pelan mengikuti kemana tujuan gadis itu.


Sesampainya di pintu lebar yang mengarah ke kolam renang, Catalina terus berjalan, lalu berhenti dan duduk di sebuah kursi santai. Gadis itu awalnya hanya diam, namun gerakan bahunya yang terlihat sesenggukan beberapa saat kemudian membuat Claude yakin kalau Catalina tengah menangis.


Claude mengerutkan keningnya, bingung dengan tindakan apa yang harus ia lakukan. Dulu saat ia masih bersama Tania, gadis itu kadang bersedih lalu merengek, Claude hanya perlu memberinya kartu, agar gadis itu bisa pergi berbelanja apapun yang ia mau dan kehendaki. Namun Claude yakin itu tidak akan berlaku untuk Catalina. Gadis itu akan menjadi sangat kesal dan tersinggung jika ia melakukan hal itu.


Ketika bahu Catalina terlihat makin keras berguncang sehingga jas yang tadi tersampir di bahunya melorot jatuh, Claude akhirnya mendapat ide untuk sedikit menghibur gadis itu. Catalina sangat suka coklat hangat, mungkin minuman itu akan bisa membuat perasaan gadis itu menjadi lebih baik.


Catalina memandangi kilau air di dalam kolam renang dengan air mata meleleh. Ia merasa sangat sedih dengan kata-kata yang Marilyn lontarkan kepadanya di ruang ganti saat di pesta tadi. Catalina merasa kakaknya itu benar. Ia marah pada dirinya sendiri karena selama ini sama sekali tidak mencari tahu keadaan kakaknya hanya karena takut mendekat, takut melihat kebencian di kedua mata biru Marilyn.


Kebencian yang ditebarkan oleh Stella, ibu Marilyn yang sangat membenci Catalina dan ibunya.


Catalina pernah bertanya pada ibunya, kenapa ibunya tidak pernah berusaha membuat Catalina dan Marilyn menjadi dekat seperti layaknya saudara. Namun jawaban ibunya membuatnya terdiam. Ibunya mengatakan bahwa menjauh dan menjaga jarak adalah hal terbaik yang dapat mereka lakukan. Ibunya merasa iba karena kebencian dan kekecewaan membuat Stella ibu Marilyn menjadi depresi. Tidak ada apapun lagi yang bisa dilakukan oleh suaminya untuk mengobati hatinya yang patah.


Catalina mengingat kadang ibunya kerap menangis bila menceritakan perihal Stella yang tidak juga kunjung membaik setelah ibu Catalina memutuskan mengakhiri pernikahannya sendiri, agar suaminya kembali sepenuhnya pada Stella. Namun wanita itu bergeming, kebenciannya sudah membuat pikirannya kosong dan tidak dapat lagi berbalik seperti semula.


Uluran sebuah mug berisi coklat hangat yang mengepul membuat Catalina menoleh. Ia terkejut melihat Claude yang memegang mug itu dan mengulurkannya ke arahnya.


"Minumlah ini, mungkin bisa membuatmu merasa lebih baik," ucap Claude pelan. Catalina menghapus aliran air matanya dan menerima mug itu. Ia mendekatkan mug ke bibirnya dan mulai menyesap.


"Enak ... terima kasih," bisik Catalina


"Kau suka?" Claude merasa sangat senang melihat Catalina kembali menyesap. Gadis itu sangat suka dengan coklat hangat rupanya. Tidak percuma ia memindai kebiasaan Catalina selama ini.


"Aku sangat menyukainya, semua takarannya pas." Catalina tersenyum memperlihatkan wajah penuh terimakasih. Perutnya memang merasa tidak enak karena sejak pergi ke pesta, ia belum makan apapun. kehangatan minuman coklat itu terasa enak di perutnya.


Claude tersenyum lebar, ia tahu wajahnya sekarang mungkin tampak seperti orang bodoh. Gadis itu memuji coklat buatannya, dan ia sudah merasa seperti sedang terbang.


"Kau suka minum coklat?" tanya Catalina sambil kembali menyesap.


"Tidak," jawab Claude ringkas, menyadari wajah gundah Catalina sudah hilang dan berganti dengan wajah senang. Gadis itu sepenuhnya sudah berhenti menangis.

__ADS_1


"Kalau begitu, kau suka kopi?"


Claude menggeleng. "Tidak," jawabnya lagi.


"Apa minuman favorit mu? Kau pasti punya kan? Sesuatu yang paling kau suka."


Claude diam dan berpikir sambil memandang ke arah kolam. Catalina melirik ketika tidak kunjung mendengar jawaban.


"Tidak mau memberitahuku? Kenapa? Apa karena yang kau suka itu minuman beralkohol?" Catalina menaikkan alisnya menatap Claude.


Claude menoleh mendengar pertanyaan itu. "Tidak Cat. Aku minum seperlunya, itu pun jika ada urusan bisnis. Aku tidak suka menjadi mabuk."


"Itu bagus. Jadi, minuman apa yang paling kau suka?"


Claude menjawab dengan mengangkat kedua bahunya. Catalina terkekeh geli melihat wajah datar Claude, pria itu menolak menjawab.


"Terima kasih, aku merasa lebih baik sekarang," ucap Catalina tiba-tiba.


"Tidak mau bercerita kenapa tadi kau ...." Claude memainkan jari di depan kedua matanya, memberi isyarat menangis lewat gerakannya.


Catalina tersenyum malu. Ia menggeleng perlahan.


"Tidak, aku hanya sedikit emosional. Tapi sekali lagi terima kasih. Berkatmu aku merasa lebih baik sekarang," ucapnya sambil menepuk pelan bahu Claude. Setelahnya ia berlalu dengan membawa gelas mug yang masih berisi setengah itu masuk kembali ke dalam mansion.


Claude memandang air kolam yang berkilau dengan senyum masam. Gadis itu berterima kasih, lalu menepuk pelan bahunya seolah mereka berteman. Tepukan seorang teman ... Claude menarik napas panjang. Well , setidaknya gadis itu sudah mau berteman, tidak jengkel atau kesal ketika berinteraksi dengannya.


"Kemajuan yang lambat ...," bisik Claude tidak sabar.


**********


Catalina melihat Leon masih tertidur pulas, Nanny yang menjaganya mengatakan bayi itu baru saja bangun dan sudah menghabiskan sebotol susu. Catalina tersenyum puas dan menyuruh nanny untuk beristirahat di kamarnya. Setelahnya Catalina kembali ke kamarnya sendiri dan mengganti pakaian. Setelah mencuci muka, ia kembali ke kamar Leon dan duduk di samping box bayi itu.


"Halo, Sayang, tadi Mommy bertemu dengan ibumu, dia tampak sangat cantik. Kau rindu padanya?"

__ADS_1


Hanya keheningan kamar itu yang menjawab pertanyaan Catalina.


"Dia tidak menanyakanmu sama sekali Leon, maafkan Mommy, hidupnya pasti sangat berat, hingga ia memilih melupakan jika dia punya keluarga, punya seorang bayi ...." Catalina kembali terisak pelan. Tangannya terulur memegang ujung jari Leon yang tertidur. Setelahnya Catalina memejamkan mata, meletakkan satu sisi pipinya ke atas kasur Leon dan merasa sedikit tenang dengan tangannya yang terjalin dengan jari-jari montok bayi itu. Ia terus menangis tanpa suara sampai akhirnya terlelap di samping tempat tidur Leon.


Claude bermaksud mengintip Leon yang pasti sudah tertidur, namun ketika membuka pintu, ia menemukan Catalina yang tertidur di samping box dengan tangan memegang jari -jari Leon. Claude menatap dan menebak gadis itu kembali menangis ketika melihat jejak bekas air mata di pipinya. Claude mengguncang bahu Catalina, ia mencoba membangunkannya. Ia tidak mau kejadian saat Catty memukulnya dulu terulang lagi.


"Cat ... Catty," panggil Claude sambil menggoyangkan bahu Catalina. Gadis itu hanya bergerak sedikit dan tidak terbangun.


"Hei Cat ... kau harus menutup pagar boxnya." tetap saja mata biru itu tertutup rapat. Claude menarik napas panjang. Sepertinya Catalina sangat lelah, pertemuan dengan Marilyn membuatnya tidak berhenti menangis. Claude akhirnya melangkah dan membuka pintu penghubung kamar, lalu kembali dan menarik Catalina agar ia bisa memasang pengaman sisi tempat tidur Leon, kemudian Claude menggendong Catalina yang tetap saja tertidur nyenyak.


"Awas saja kalau kau terbangun dan kembali memukulku!" ancam Claude di telinga Catalina. Tapi suaranya hanya disambut gumaman pelan. Claude tersenyum dan segera melangkah melalui pintu penghubung ke kamar gadis itu.


Claude meletakkan Catalina ke atas ranjang dengan perlahan. Lalu memasang selimut menutupi tubuh gadis itu.


"Hmmm ... aku boleh minta hadiahku kan? Aku sudah bersikap baik, membuatkanmu coklat hangat bahkan memindahkanmu ke tempat tidur."


Claude menunduk lalu mencoba mencium bibir gadis itu, namun ketika bibirnya baru saja akan mendarat, Catalina bergerak sehingga bibirnya hanya mendarat di pipi gadis itu. Claude menunggu dengan jantung berdebar, mengira Catalina terbangun. Namun keheningan kamar membuatnya menegakkan tubuh dan memandang wajah Catty yang sepertinya tidak terganggu sama sekali.


"Jadi hanya boleh di pipi?" Claude tersenyum geli.


"Baiklah ... kau lolos malam ini. Selamat malam Cat," ucap Claude lagi sambil melangkah keluar dari kamar Catalina melalui pintu penghubung. Ia kembali mengecek Leon sebelum akhirnya melangkah keluar untuk kembali ke kamarnya sendiri.


N E X T >>>


**********


From Author,


Please jangan lupa like, komentar, bintang5 , favorite dan vote ya semua. 😍 follow author dengan klik 'ikuti' di kolom profil author😘


Terimakasih. see you at the new chapter.


Salam, DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2