
Claude terbangun ketika merasakan hawa dingin melingkupinya. Ia membuka mata lalu menatap ke perapian yang hampir padam.
Claude bangun, menyadari selimutnya melorot. Ia menariknya sampai membungkus tubuhnya hingga bahu. Claude segera bergerak mendekati perapian, ia memasukkan beberapa potongan besar kayu lagi ke dalam api. Suara hujan di luar masih terdengar, ia tidak tahu saat ini waktu telah menunjukkan pukul berapa.
Claude kembali ke posisinya dan melirik Catalina yang tertidur di sampingnya. Gadis itu tertutup selimut hingga bahu. Namun tangannya sudah terulur keluar dari dalam selimut, ia berbaring menyamping menghadap ke arah Claude.
Api yang kembali menyala membuat ruangan itu kembali hangat. Claude membaringkan tubuhnya, menyamping menghadap ke arah Catalina. Ia menggenggam tangan gadis itu, menyalurkan hawa hangat pada ujung jari Catalina yang dingin, kedua matanya menatap mata biru yang sekarang tersembunyi di balik kelopaknya yang terpejam.
Pikiran Claude mengembara pada saat-saat pertama mereka bertemu, betapa galaknya gadisnya ini saat itu. Bibirnya menyunggingkan senyum, lalu seperti digerakkan oleh sesuatu, Claude menjulurkan ujung telunjuknya, mengelus bibir Catalina pada bagian di mana terdapat sebuah titik hitam pudar, tahi lalat kecil. Dulu ia mendapat tamparan ketika ingin melihat titik hitam itu lebih dekat.
Claude kembali tersenyum, ia mendekat, dengan mata masih menatap ke mata Catalina yang tertutup. Perlahan ia mengecup kening Catalina, hatinya hangat melihat gadis yang tertidur dengan penuh rasa percaya menyerahkan perlindungannya di tangan Claude.
Aku ingin menciummu, tapi hanya kecupan itu yang bisa aku lakukan, atau kau akan terbangun dan tidak akan mempercayaiku lagi. Aku akan perlahan Catty, jika itu yang kau perlukan, Tapi kau sudah tidak dapat lari, Sayangku ... Kau terperangkap bersamaku, yang bisa kau lakukan hanyalah menyerah, lalu mulailah jatuh cinta ... seperti yang hatiku rasakan.
Claude mengecup pelan sekali lagi. Baru saja ia mengangkat bibirnya dari kening Catalina, Catalina bergerak, gadis itu meringkuk dan menyusupkan kepalanya ke dada Claude.
Claude diam, tidak berani bergerak, takut Catalina terbangun dan menyangka dirinya berbuat yang tidak-tidak. Ia mencoba bergeser, diawali dengan menjauhkan kaki dan tubuhnya bagian bawah, lalu ketika ia akan mundur, Catalina mengulurkan tangan.
Tangan lembut itu memeluk tubuh Claude, melingkari dadanya dan menempelkan kepalanya ke dada Claude. Seolah cobaan tidak berhenti sampai di sana, selimut yang melingkupi Catalina melorot dari bahunya ketika ia bergerak.
Pemandangan bahu putih dengan tali bra hitam langsung terpajang di mata Claude. Claude memejamkan mata
Ya Tuhan ... Kuharap kau jangan bangun sekarang Catty. Aku tidak siap kau tampar lagi ....
Claude menarik selimut Catalina, menutupkannya kembali ke bahu gadis itu, lalu ia mencoba kembali menjauh.
"Mom ... Tetaplah di sini," igauan Catalina terdengar di telinga Claude.
Claude menaikkan alisnya, Mom? Ia meletakkan kepalanya ke atas hamparan selimut dan menahan tawa geli yang akan keluar dari bibirnya saat itu.
__ADS_1
Catty ... Kau tertidur dan memeluk seorang pria, tapi kau menyebutnya Mom ....
Claude menarik naoas panjang, membiarkan Catalina memeluknya, dan ia mengizinkan dirinya sendiri juga memeluk gadis itu.
Jika kau terbangun dan marah ... maka biarkanlah.
**********
Catalina terbangun dan merasakan tangannya memeluk sesuatu. Ia membuka mata dan mendapati dirinya ada di sisi tubuh Claude. Claude tidur telentang dengan satu sisi tangan terangkat di atas kepala Catalina. Catalina tertidur di bawah ketiak pria itu dengan posisi miring dan memeluk dada Claude.
Catalina tersadar dan menelan ludah. Sepertinya ia mendekati Claude dalam keadaan tertidur, memalukan sekali. Catty menarik selimut Claude yang melorot, mungkin tangannyalah yang telah menarik selimut pria itu. Ia menatap perapian, lidah api masih menari memberi kehangatan di sana. Sepertinya Claude telah menambahkan kayu ke dalam api itu.
Catalina menoleh ke arah wajah Claude yang tertidur. Baru kali ini wajah pria itu terlihat sedikit menarik untuk Catalina, ia merasakan sesuatu berubah di dasar hatinya ketika melihat Claude.
Laki-laki itu bisa melakukan apapun jika ia mau, mereka terjebak di sana dan tidak ada yang dapat Catalina lakukan selain bergantung pada Claude. Claude menepati janji, tidak akan melakukan hal yang tidak-tidak padanya.
"Cat ... Ada apa? Kau kedinginan?" tanyanya sambil menatap ke perapian. Kayu yang tadi ia tambahkan belum terbakar habis . Claude bangkit dan duduk, selimutnya melorot lagi hingga ke pinggang. Pria itu mengusap kepalanya, tidurnya baru sebentar sehingga kepalanya terasa sedikit sakit, ia kemudian memijit kening berulang kali.
"Ada apa? Kepalamu sakit?" tanya Catalina.
"Kau belum menjawabku, Catty. Kenapa terbangun? Kau kedinginan?"
"Ti ... Tidak ...." Jawaban tergagap itu membuat Claude mendongak. Wajah merona gadis itu membuat Claude menaikkan alisnya. Tatapan mata gadis itu berlabuh di dada telanjangnya yang tidak lagi ditutupi selimut.
"Alihkan matamu, Catty," ucap Claude serak.
Catalina mengangkat matanya dan menatap Claude, gadis itu menelan ludah, wajah merah dan tatapan aneh ke tubuhnya itu membuat darah Claude berdesir. Namun mata Catalina kembali turun, seolah perintah otak dan keinginan matanya berbeda kehendak.
Claude memaku wajah Catalina dan beringsut mendekat.
__ADS_1
"Kubilang alihkan matamu, Cat ...," bisik Claude.
Catalina terdiam kaku ketika Claude sudah duduk di hadapannya. Ia mendongak menatap mata Claude yang sudah berkilat, wajah pria itu terlihat aneh di matanya. Seolah pria itu tengah menahan sesuatu sekuat tenaga.
Mereka berpandangan lama beberapa saat. Catalina berkedip ketika wajah Claude mendekat , lalu ia merasakan bibir itu menyentuh bibirnya. Memagut dan menciumnya. Pengalaman mendebarkan bagi Catalina, karena dalam hitungan detik ia menyadari, ia juga menginginkan ciuman ini. Jantungnya berdegup seolah saling berkejaran, berlari tanpa henti hingga napasnya terasa sangat sesak. Kedua tangannya menggenggam erat selimut, paru-parunya terasa seperti mau pecah.
Claude mencecap, memagut dan mencium, tidak lagi menahan keinginannya menyentuh bibir gadis itu. Sikap pasrah Catalina membuatnya memiringkan kepala, memeluk tubuh Catalina dan memperdalam ciuman.
Beberapa saat kemudian, Claude menyadari jika gadis di pelukannya itu sama sekali tidak bernapas,
Ia segera mengangkat kepalanya.
"Tarik napasmu, Cat!" perintah Claude. Seketika Catalina menghirup udara dengan rakus, mengisi paru-parunya sebanyak mungkin.
Setelah napas Catalina tidak lagi memburu, Claude menatap dengan senyum miring.
"Kali ini jangan pukul aku Catty ... Hmm." Claude memegang dagu Catalina.
"Kau merasakannya? Seperti aku?" Claude menarik satu tangan Catalina lalu meletakkan telapak tangan gadis itu ke dada kirinya. Tempat jantungnya berdetak cepat dan bertalu.
"Jika kau mau kita melalui sisa malam ini dengan baik-baik saja, maka alihkan matamu Cattyku Sayang ... karena aku tidak berjanji bisa menahan diriku."
Catalina menarik tangannya secepat kilat. Kata-kata Claude seolah meresap dan membuyarkan mantra yang melingkupinya. Ia mundur dan beringsut menjauh.
Claude menatap Catalina yang beringsut mundur, lalu ia bergerak berdiri dengan memegang selimutnya. Catalina melihat Claude berbalik, laki-laki itu membuka pintu pondok lalu keluar dengan menyelubungi bahunya dengan selimut kemudian menutup kembali pintu itu, meninggalkan Catalina sendiri memandang perapian dengan hati tak menentu. Suara hujan di luar sana masih terdengar walaupun tidak sederas tadi. Tapi untuk melihat dan mengajak Claude kembali berlindung ke dalam pondok, Catalina menyadari ia tak punya keberanian.
N E X T >>>
**********
__ADS_1