Embrace Love

Embrace Love
Ch 111. Relent Part 2


__ADS_3

"Kau siap menerima pekerjaan ini?" tanya Alric.


Serge menganggukkan kepalanya.


"Kau berjanji mereka akan menerimaku jika aku bisa mempertemukanmu dengan Mary," ucap Serge. Ia mendatangi Alric menagih janjinya. Bagaimanapun, mereka membutuhkan uang, sekarang memang masih ada, tapi lama-lama akan habis juga. Serge tidak mau lagi membuat Mary ikut bekerja. Meskipun wanita itu suka melakukan pekerjaannya.


"Jangan khawatir, Serge. Aku sudah menghubungi mereka. Pergilah ke Studio Agusta, temui seseorang bernama Zachary. Katakan saja namamu Serge dan dikirim oleh Lucca. Dia akan memberimu arahan."


Serge mengangguk,"terima kasih," ucapnya.


"Satu hal lagi ... kegiatan Frans Humberto tidak hanya di dalam negeri. Pekerjaannya menyebabkan ia sering bepergian. Kau harus mengikutinya jika kau bekerja padanya. Apa itu tidak apa-apa untukmu?"


"Tidak masalah ..."


"Bagus kalau begitu."


"Baiklah ... aku pergi. Sekali lagi terima kasih."


Serge berlalu dari ruang kantor Alric.


"Apa kau masih akan berterima kasih bila tahu aku memperkosa sahabatmu ... dan kini sengaja menjauhkanmu darinya ...." Alric berbisik sendiri sepeninggal Serge dari ruangannya.


"Tapi aku akan menggantikanmu mulai saat ini, Serge ... Aku yang akan menjaganya ...."


**********


Catalina menarik koper dan menuruni tangga. Vincent yang menuruni tangga segera mengangkat koper lalu membawanya dengan berjalan cepat ke arah pintu keluar. Catalina hanya tersenyum melihat pria itu.


"Kau sudah siap?" Claude menyapa dan menghampiri Catalina di dekat tangga.


Catalina mengangguk, lalu mendekat ke arah Yoana yang menggendong Leon.


"Baik-baik, Leonard ... jangan nakal ...." airmata tiba-tiba sudah mengaliri pipi Catalina tanpa bisa dicegah. Ia mengambil Leon, lalu memeluknya erat.


"Mommy sangat sayang padamu, Leon ..." Catalina terisak sedih. Lea yang berdiri disamping Yoana menyeka airmatanya dengan lengan. Yoana sendiri memandang ke arah atas, menahan agar airmatanya tidak jatuh.


"Jaga dirimu, Leonard ... menurut pada Bibi Yoana ya ..." bisik Catalina dengan suara serak.


Leonard menepuk pipi Catalina yang menangis.


"mmy ... ommy, " panggilnya berulang kali. Merasa heran melihat Catalina menangis.


"Ya, Sayang ... Mommy harus pergi. Ibumu membutuhkan Mommy ... " bahu Catalina makin keras berguncang karena terisak.


Claude menarik nafas panjang, lalu memegang bahu gadis itu.


"Catty ... Jangan menangis ... Torres Building tidak jauh ..."


Yoana membersit hidungnya, sedikit tersenyum karena Claude memakai kata-katanya tadi pagi.


"Kau bisa datang kapan saja. Dan aku akan sering mengunjungimu. Bersama Leon, Yoan, Vince dan Simon." ucap Claude.


"Hukh ! Ya ... " Catalina terbatuk, melegakan tenggorokannya dan menghapus airmatanya dengan lengan.


"Terima kasih, Claude ... Kalian juga ... Tolong jaga Leonard ... Aku ...."


"Shhhh ... Jangan menangis Lina. Leonard tinggal dengan ayahnya sendiri, keluarganya sendiri, dengan paman dan bibinya. Dia akan baik-baik saja ...." Simon bersuara. Ia tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Leonard. Seketika, tangan-tangan montok Leon terulur dan menyambut tangan Simon.

__ADS_1


"Pa ...." ucap Leon. Mengundang senyum lebar dari semua orang. Simon sudah mengajari Leon memanggilnya Papa.


"Seperti yang Claude katakan ... Kami akan berkunjung, atau kau boleh kemari jika merindukannya," ucap Yoana.


Catalina menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih," ucapnya pelan.


"Ayo, Cat ...." Claude menggandeng Catty dan membimbingnya menuju mobil. Dengan sangat berat Claude melepas Catty. Tekad gadis itu sangat kuat untuk mendampingi Mary.


Keluarga Bernard tetap berdiri di teras sampai mobil yang membawa Catalina dan Claude menghilang dari pandangan.


"Kau harus mencari Mamma untuk Leon, Simon. Karena Mommy Catty sudah tidak tinggal di sini lagi.


"Kan masih ada Aunty Yoan," ucap Simon.


"Oh, aku akan selalu jadi Aunty kesayangannya. Tapi sejak mengasuh Leon ... Aku berfikir untuk memiliki bayiku sendiri," ucap Yoana.


Vincent mendengus, "Kau harus menikah dulu baru membuat bayi, Yoana!"


"Well ... itu sudah aku fikirkan ,Vince. Aku ingin punya anak. Umurku sudah tidak muda lagi ... wanita di atas 30 tahun sepertiku akan beresiko, apalagi untuk melahirkan anak pertama. Jadi aku akan mulai berburu suami ... Aku ingin punya bayi, seperti Leon ...." Yoana mencium pipi montok keponakannya dan kemudian berlalu dari teras mansion.


"Kurasa dia serius ... Dia makin suka pekerjaan mengasuh anak sejak selalu tinggal di rumah bersama Leon," ucap Simon, menatap serius ke arah wajah Vincent.


Vincent tidak menanggapi. Ia hanya diam beberapa saat, lalu segera berbalik dan masuk ke dalam mansion. Simon menyeringai ... penasaran atas apa yang akan Vincent lakukan, jika kakaknya benar-benar akan berburu suami.


***********


"Cat ... Ingat satu hal ...." Claude mulai bicara ketika mobil sudah melaju dikendarai oleh Bruno. Mereka akan pergi ke apartemen Torres Building. Mengantarkan Catalina untuk tinggal bersama Marylin.


"Ya?"


"Mary ... menikah?"


"Ya, Catty... Alric sudah minta maaf. Kau fikir ... apa yang akan dilakukan pria itu jika tahu Mary mengandung anak akibat perbuatan bejatnya itu? Ia tidak akan melepaskan Mary. Percayalah kata-kataku."


Catalina menoleh dan menatap Claude, mengulurkan tangan dan menyentuh punggung tangan pria itu.


"Jika Mary menikahinya ... Apa pria itu akan bersikap baik? Dia sangat jahat ketika mengurung Mary di mansionnya."


Claude menangkap tangan Catalina dan meremasnya kuat.


"Jangan khawatir ... kita tentu akan tetap mengawasinya" ucap Claude.


"Dan dari apa yang kudengar, ia bukanlah pria yang mudah emosi atau kehilangan kesabaran. Juga tidak pernah ada sesuatu yang menghubungkan dia sebagai pelaku kekerasan ... Kakakmu tidak beruntung, berhadapan dengannya saat emosinya sepertinya tidak terkendali." Claude menambahkan .


"Kau memeriksa Alric?" tanya Catalina.


"Well ... itu sedikit info yang kami ketahui ketika mencurigai niatnya mengincar Marylin dulu," jawab Claude.


Catalina bernafas lega. Ia berharap takdir terbaiklah yang menghampiri kakaknya. Mary sudah terlalu banyak menderita.


********


Serge memasuki lorong koridor yang mengarah ke apartemennya. Keringat membasahi tubuh Serge. Ia baru saja kembali dari acara lari pagi di taman dekat apartemen. Kemudian langkah nya terhenti ketika beberapa pria sibuk memasukkan barang-barang melalui pintu apartemen yang ada di di dekatnya. Serge mengernyit.


Apakah tuan dan nyonya Lorent baru saja shoping besar-besaran? Sepagi ini?

__ADS_1


Serge mendekat ke arah seorang pria yang mengatur di dekat bingkai pintu.


"Hai ... Apa tuan Lorent ada?"


"Ah, Maaf Tuan. Tuan dan Nyonya Lorent pergi liburan mendadak. Sepertinya mereka memenangkan lotre. Mereka pindah ... ini barang-barang penghuni baru." jelas pria itu.


"Boleh aku tahu siapa nama penghuni barunya?" tanya Serge.


"Aku juga tidak tahu, Tuan. Aku hanya disuruh menyusun benda-benda itu di sini."


"Oh ... Ya sudah. Aku pergi dulu. Aku penghuni apartemen itu," Serge menunjuk ke arah pintu kediamannya.


Pria itu tersenyum dan mereka berpisah. Serge tiba dan masuk ke apartemennya. Bau wangi sarapan menghampiri hidungnya, membuat perut Serge langsung berbunyi. Ia segera menuju dapur untuk melihat apa yang berbau wangi mengundang tadi.


"Oh, ya ampun ... aku suka pemandangan ini. Sangat sexi! Dua gadisku dengan celana pendek mereka...." Serge mengakhiri ucapannya dengan bersiul.


Mary dan Catalina tertawa, mereka sama-sama menggunakan celana hotpants pendek dari bahan denim. Mary memadukannya dengan tanktop berwarna pink, sedang Catalina mengenakan kaos longgar berwarna putih. Perut Mary yang masih datar masih memungkinkan untuk ia memakai pakaian seperti itu.


"Ayo makan, Serge." ajak Catalina.


Serge segera duduk, lalu mengambil piring yang sudah siap dengan menu sarapan pagi french toast ala Catalina dan Mary. Roti bakar itu berbau wangi vanila dan kayu manis, terasa sangat enak di lidah Serge.


"Aku mau nambah, ini enak," ucap Serge.


Mary tertawa," kau suka apapun bernama makanan Serge. Semua enak di lidahmu," cibir Mary.


Catalina tertawa, lalu memberikan satu lagi ke piring Serge.


"Aku senang kau datang, Lina. Mary jadi tidak sendirian. Aku harus mulai bekerja hari ini." ucap Serge.


"Kau benar-benar bekerja untuk Humberto yang itu ... Aku sungguh gembira untukmu. Itu pekerjaan yang bagus." ucap Mary antusias.


"Aku tahu ... jadi kau beristirahatlah di rumah dan biarkan aku yang bekerja." ucap Serge. Mary dan Catalina saling berpandangan. Mary belum menceritakan tentang kehamilannya pada Serge. Ia tidak mau Serge terganggu dan tidak fokus bekerja karena memikirkannya. Jadi ia menyimpan masalah ini dari Serge.


Setelah hari ia memberitahu Catalina dan Annete, Mary meminta keduanya tidak membocorkan pada Serge.


"Kita punya tetangga baru," ucap Serge.


"Tetangga baru?" tanya Mary.


"Ya ... Apartemen Lorent sudah berganti orang. Aku lewat tadi dan melihat orang-orang yang mengatur barang penghuni baru. Kata pria di sana tadi, Lorent dapat lotre. Sekarang sedang liburan mendadak. Semoga saja istrinya cepat hamil pulang dari liburan," ucap Serge.


Mendengar kata hamil, otak Marylin segera teralih dari penghuni baru yang diceritakan Serge. Ia memegang perutnya dari bawah meja.


Hamil ... Anakku akan lahir tanpa ayah lagi ... seperti Leon dulu ... sekarang Leon sudah kembali pada ayahnya. Bagaimana denganmu, Sayang? Apa yang harus Mommy lakukan?


N E X T >>>>>


********


From Author,


Ikuti kisahnya terus, dan bersabar tunggu updatenya ya. Jangan lupa klik tombol like alias jempol, tombol favorite alias love, beri komentar, saran ataupun kritik membangun, biar Author makin semangat untuk nulis.


Bagi yang belum kasih rate, tolongin dong tekan tombol bintang, kemudian klik bintang lima ya๐Ÿ™๐Ÿ™


Yang punya poin dan koin, bisa bantu author dengan klik Vote agar performa novel ini makin naik.

__ADS_1


Untuk semua bantuan para Readers semuanya, author ucapin terima kasih banyak๐Ÿ’ž


Salam hangat, DIANAZ.


__ADS_2