Embrace Love

Embrace Love
CH 75. I love you


__ADS_3

Malam telah menjelang, Catalina terus melirik ke arah pintu masuk ruang perawatan. Kenapa Marylin belum juga kembali. Hanya ada Claude dan dirinya di ruangan itu, itu membuatnya merasa tidak nyaman.


Sejak Luigi pulang, Claude hanya diam dan sedikit bicara, lalu Yoana dan Vincent juga pulang. Terakhir, Marylin pamit pulang dengan alasan mau mengganti bajunya. Catalina merasa Claude memandangnya dengan pandangan yang berbeda, membuat jantungnya berdebar, seolah tahu ada yang salah dengan pria itu.


Claude membantunya mengambil minum bahkan masih berkeras menyuapkan makan malam. Tapi tidak ada kata yang keluar dari mulut pria itu untuknya sejak siang tadi.


"Claude ... aku bisa sendiri." Catalina mengambil gelas yang telah diulurkan Claude ke mulutnya, bermaksud memegang sendiri gelas tersebut tapi tangan Claude tidak melepaskan gelas itu.


"Minum saja, Catty." Kata pertama yang Claude ucapkan untuknya, bernada datar, membuat Catalina sedikit takut dan akhirnya menurut. Ia minum dari gelas yang berada di tangan Claude.


Lalu Claude mengambil tisu, mengulurkannya pada Catalina yang segera mengambilnya dan mengelap mulut.


"Terima kasih," bisiknya pelan.


Claude membereskan nampan. Mengembalikannya pada meja di sudut ruangan, lalu mencuci tangan. Catalina bersandar di ranjangnya yang sudah ditinggikan pada bagian belakang. Menarik napas panjang, merasa serba salah dan kebingungan dengan kediaman Claude.


Catalina menatap Claude sudah berdiri menghadap jendela kaca yang menampilkan pemandangan malam hari dari ruangannya. Sayang sekali tempat tidurnya berada di sisi dalam yang agak jauh dari jendela kaca itu. Bila agak dekat, ia ingin sekali mengintip bagaimana penampakan malam hari di luar sana dari gedung tinggi tempat kamarnya dirawat ini.


"Sebenarnya ada apa denganmu ...." Catalina mencoba memulai pembicaraan.


Claude berbalik, menoleh pada Catalina di atas ranjang.


"Maksudmu?" tanyanya dengan alis berkerut.


"Kau diam saja dari tadi ... jika kau mau pulang, tidak apa-apa, pulang saja. Nanti Mary akan datang lagi. Jadi aku tidak akan sendirian. " Catalina mengakhiri ucapannya dengan tersenyum.


Claude menatap beberapa saat, lalu mulai melangkah mendekat. Ia menarik kursi dan duduk di samping Catalina. Pandangan matanya sangat serius, tidak ada kilau menggoda yang biasa Catalina lihat ketika Claude berada di dekatnya.


"Cat ... aku tahu ini bukan waktu yang tepat. Kau masih sakit. Tapi aku perlu bicara sekarang. Ini masalah bagiku dan aku tidak akan tenang jika masalahku belum selesai."


Catalina menelan ludah, Claude terdengar tegas, bicara pelan dengan intonasi suara yang pas, tidak rendah dan tidak tinggi. Secara tidak langsung memerintahkan pendengarnya untuk memperhatikan tiap kata yang ia ucapkan.


Catalina mencoba sedikit mencairkan suasana, ia jadi sedikit takut melihat ekspresi pria itu.


"Kau serius sekali. Kau tampak sedikit mengerikan. Tidak enak dilihat ...." Tawa kecil mengakhiri ucapan Catalina. Namun, tidak ada reaksi dari Claude, pria itu masih memandangnya serius, tidak ada otot pipinya yang tertarik untuk membentuk sebuah senyum kecil agar situasi terasa lebih santai.


Catalina akhirnya diam, menarik selimut sampai ke dadanya dan akhirnya berucap, "baiklah. Aku mendengarkan. Bicaralah."


"Kau akan menjawab dengan jujur jika aku bertanya?" Claude menatap tajam mata yang tertunduk itu, tidak mau memandangnya, hanya fokus pada selimut. Seolah selimut polos berwarna kuning lembut itu lebih menarik daripada wajah Claude.


"Jawab Aku, Catty. Aku akan bicara jika kau mau menjawab jujur."


Anggukan dari kepala Catalina dilihat Claude beberapa saat kemudian. Ia menarik napas panjang, tangannya terulur, mengangkat dagu Catalina yang tertunduk.


"Dan jangan fokus pada selimutmu jika ada yang bicara denganmu, Cat. Pandangi orang yang bicara."


Catalina menatap Claude yang masih memasang wajah serius tanpa senyum. Claude melepas tangannya dari dagu Catalina.


"Kau mencintai Luigi?"

__ADS_1


Catalina mengerutkan alis, kenapa Claude menanyakan itu? lagipula apa hubungannya dengan dirinya?


"Jawab saja. Dengan jujur. Memang bukan urusanku. Tapi bila jawabanmu ya, maka akan ada hubungannya denganku."


Catalina terdiam, Claude seolah tahu apa yang ia pikirkan dan langsung menjawabnya.


"Tidak. Dari dulu dia hanya rekan di klinik. Dia dokter yang baik dan hebat. Juga teman yang perhatian."


Claude mengerucutkan bibirnya mendengar kata perhatian. "Tentu, pastinya begitu dan kau tahu dibalik perhatiannya itu dia menyukaimu bukan? Bahkan dia sudah mengatakan kalau dia mencintaimu."


"Aku tahu ... dan kesalahannya adalah, aku tidak mengatakannya dengan tegas sedari dulu. Bahwa aku tidak bisa mencintainya, perasaan ku hanya rasa kagum dan rasa suka sebagai seorang teman."


Claude menarik napas lega, lalu mengulurkan tangan dan menggenggam jari-jari Catalina.


"Kau yakin itu perasaanmu, Catty? Tidak salah?"


Catalina mengernyit dan mengerucutkan bibir.


"Aku tidak akan salah. Ini hatiku. Kenapa aku bisa salah. Kalau aku menebak hati orang lain, maka mungkin saja aku salah!"


Claude tersenyum melihat Catalina yang mulai kesal.


"Baiklah ... sekarang jawab pertanyaanku. Bagaimana perasaanmu bila bersamaku? Samakah dengan Luigi?"


Catalina menaikkan kedua alisnya.


"Memangnya kenapa?" Catalina menolak menjawab. Ia merasa seperti diinterogasi. Sedang Claude sendiri tidak sedikit pun mengemukakan tentang perasaannya sendiri.


"Tidak mau."


"Baiklah. Aku akan menjawabnya untukmu. Kau senang bersamaku, benar? Kau suka jika aku ada di dekatmu? apa aku benar?"


Catalina seketika tertawa, bahunya berguncang, ia sampai harus menghapus air yang keluar dari matanya karena tertawa geli.


"Claude ... kau sungguh tidak tertolong lagi! Para wanita yang mengejarmu itu sungguh hebat. Membuatmu jadi pria paling percaya diri," ucap Catalina di sela tawanya.


Claude tersenyum miring, membiarkan tawa Catalina keluar sampai gadis itu puas.


"Sudah puas menertawakan aku?" tanyanya ikut geli.


Catalina mengangguk.


"Bisa aku lanjutkan lagi?"


Catalina mengangguk lagi sambil menghapus air mata geli di matanya.


"Aku bermaksud memberimu waktu. Bermaksud mendekatimu pelan-pelan layaknya seorang pria yang melakukan pendekatan pada wanita yang diinginkannya. Karena aku tahu kau butuh itu. Kau akan lari terbirit-birit bila aku bergerak cepat, kau bahkan mungkin akan pergi secepat mungkin."


Catalina menatap Claude, matanya membulat. Apa Claude baru saja mengatakan bahwa ia adalah wanita yang ia inginkan?

__ADS_1


"Aku tidak tahu kapan tepatnya hatiku sudah tercuri olehmu, Catty. Ia berlabuh padamu tanpa aku sendiri menyadarinya ...."


Catalina menelan ludah, terdiam kaku dengan jantung makin kencang berdetak.


"Aku mencintaimu, Catalina Seymor ... aku menginginkanmu mendampingiku menjalani kehidupan sampai aku akhirnya harus kembali ...." Claude menatap dalam ke manik mata Catalina, menampakkan kilau perasaannya lewat sinar mata.


"Aku tahu kau masih perlu waktu mengenali perasaanmu sendiri. Kau lebih lambat mengenalinya daripada gadis kebanyakan! Atau kau menolak mengenalinya karena pada awalnya kau membenciku. Membenci kami ... keluarga Bernard."


Catalina memutus kontak mata mereka. Ia tidak bisa menahan perasaannya yang tidak menentu, jantungnya yang berdebar kencang tidak mau diatur agar tenang. Ia akhirnya menunduk menyembunyikan ekspresi wajahnya.


"Aku tidak memintamu menjawabnya sekarang. Yang aku ingin adalah kau tahu perasaanku. Aku mengatakannya, seperti Luigi yang juga sudah mengatakannya. Kau sudah tahu sejak lama jawabanmu untuk Luigi. Tapi aku memintamu menjalani hari kita seperti biasa, jangan menghindariku karena perkataanku ini, terima dan telaah perasaanmu ketika kau bersamaku. Jangan menghindar, apalagi pergi."


Catalina bergerak, gelisah karena terasa sulit menarik napas mendengar pernyataan cinta Claude. Tanpa sadar ia menyentuh remote tempat tidur rumah sakit, hingga bagian belakang punggungnya yang awalnya ditinggikan mulai turun, merasa ranjangnya bergerak Catalina panik dan malah menekan remote di dekat pinggulnya makin dalam hingga tempat tidur langsung menurun kembali menjadi datar.


"Astaga ...." Catalina memegang dadanya, terkejut sekaligus merasa seperti baru saja turun dari roller coaster . Ia terbaring telentang dengan rambut terurai di atas tempat tidur.


Claude yang sudah tegak di sisi ranjang tertawa geli. Ia menundukkan tubuhnya, meletakkan kedua lengannya di masing-masing sisi tubuh Catalina, menurunkan wajahnya berhadapan dengan wajah gadis itu.


Sambil masih tertawa ia berucap dengan mata berkilau, "kenapa kau memegang dadamu? Apa jantungmu sama berdebarnya dengan jantungku?"


Mata biru Catalina membulat, menatap Claude yang makin mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka menempel.


"Kau makin cantik, iris matamu membiru, tampak makin gelap ...." Claude mendekatkan bibirnya ke depan bibir Catalina, "jangan pukul aku, Catty ...." Lalu ia menyatukan bibirnya, memagut dan mencecap bibir pink dengan tahi lalat kecil yang selalu membuatnya gemas ingin mengecup sudut bibir Catalina. Claude menumpahkan perasaannya dalam ciuman itu, memuja Catalina lewat bibirnya, merayu gadis itu untuk ikut larut dalam nyanyian cinta yang ia suguhkan dalam ciuman yang makin lama makin membara dan panas. Tangan Claude bergerak, menangkup pipi Catalina dan menahannya agar ia bisa memperdalam ciuman. Hatinya bersorak, kebahagiaan membanjiri setiap pembuluh darahnya ketika merasakan bibir ranum gadis itu mulai membalas, ganti memagut dengan perlahan, lalu membalas belitan lidah Claude yang mulai mengajaknya menari.


Suara pintu yang diketuk tidak terdengar oleh dua insan yang berbagi ciuman panas itu. Hingga perawat yang akan memberikan suntikan langsung saja membuka pintu karena ketukannya tidak di respon. Ia mengira pasien dan orang yang menjaganya pastilah sudah tertidur.


Langkah kaki perawat wanita itu terhenti tiba-tiba.


"Upssss ... astaga, ya ampun ... maafkan aku menyela kalian, tapi jam pemberian obat ini sudah tiba. Aku harus menyuntik Anda Miss Seymor."


Claude mengangkat wajahnya dari wajah Catalina. Melirik ke arah perawat yang masih berdiri dengan senyum minta maaf di dekat pintu, lalu ia kembali menatap Catalina yang sepertinya baru menyadari kehadiran perawat itu dan menjadi merah padam.


Claude bangkit sambil tertawa geli. Ia menyentil ujung hidung Catalina dan kembali mengecup sudut bibirnya.


"Aku akan keluar sebentar mencari kopi. Jangan tidur dulu sebelum aku kembali," ujarnya sambil berbalik, memberi senyum manis dan mengedipkan mata pada perawat yang segera melipat bibir menahan tawa geli yang akan keluar dari mulutnya.


"Titip gadisku ya. Aku akan mencari kopi," ucapnya. Perawat itu hanya mengangguk dan menunggu Claude keluar sebelum mendekat dan tersenyum pada Catalina yang merona.


"Well ... Miss Catalina, kalau boleh kukatakan, Kau gadis yang beruntung. Dia tampan dan ... hot! Bukan begitu?" ucap perawat itu sambil mengedipkan mata pada Catalina yang merona menahan malu.


N E X T >>>


**********


From Author,


Claude ... kata-katamu, antara manisss dan gomballll ...gak tahu lagi, wkwkwkk


Haiiiii .... Kalo suka cerita Claude dan Catalina, yuk bantu author dengan ajak teman, sodara yang punya Mt/Nt untuk ikut baca yuk, rekomendasikan karya author ya....siapa tahu mereka mau dan juga suka.

__ADS_1


Sebelumnya author ucapin terimakasih udah baca karya ini dan juga novel author yang lainnya. Luv yuuuu dech..Muachh, heeee...


Salam, DIANAZ.


__ADS_2