Embrace Love

Embrace Love
Ch 124. Will consider


__ADS_3

Yoana berdiri menyambut para tamu yang ia undang di pesta yang ia selenggarakan di aula luas sebuah hotel untuk memperkenalkan Simon kepada para relasi bisnis mereka. Ia juga mengundang para teman dekat seperti Robert Delaney.


Dokter tampan itu datang dengan tuxedo berwarna hitam dengan dasi kupu-kupu. Ia langsung menyapa Yoana dan Claude.


"Halo Yoana, Claude."


"Robert ... kau sudah tiba ...." Yoana mengulurkan tangan yang segera disambut Robert. Pria itu lalu mencium punggung tangannya.


"Pergilah, Yoan. Temani Robert," ucap Claude.


Yoana mengangguk, lalu berlalu dari sana dalam gandengan tangan Robert. Hamilton yang memperhatikan dari kejauhan ketika dokter tampan itu datang dan menggandeng Yoana pergi segera mendekat pada Claude.


"Sepertinya ada yang terlewat olehku. Siapa pria itu, Claude? "


"Oh, dia Robert Delaney, Paman. Seseorang yang tengah dekat dengan Yoana."


"Apa Vincent tahu?"


"Ya ... itu, lihat di sana. Sinar matanya tidak lepas dari Yoan dan Robert."


"Hmmm ... sepertinya akan ada pertunjukan menarik nanti, Claude."


Claude terkekeh, ia hanya mengangguk sambil tersenyum pada tamu yang datang dan menyapa padanya dan Hamilton.


**********


Yoana berputar dan berdansa dengan wajah penuh senyum gembira. Tampak bahagia dalam pelukan Robert.


"Maaf, Yoan. Tapi ... maukah kau ku bantu? Tentu saja aku tidak punya maksud apapun. Tapi sebagai temanmu, aku sangat gemas pada Tuan Machado. Orang bodoh sekalipun pasti tahu bagaimana perasaannya padamu." Robert sedikit menunduk, agar bisa agak mendekat ke telinga Yoana. Tahu pasti setiap gerakannya diawasi oleh Vincent.


"Bantuan seperti apa yang mau kau berikan, Robert?" tanya Yoan.


"Oh ... hanya sebuah pancingan. Seseorang akan merasakan suatu naluri mempertahankan dan mengambil sesuatu yang pada dasarnya ia inginkan di lubuk hatinya paling dalam, ketika ia merasa sesuatu itu terancam akan diambil atau dimiliki orang lain."


Yoana tersenyum lebar.


"Apakah sesuatu itu aku?"


Robert terkekeh pelan, menampilkan wajah minta maaf.


"Terasa seperti mengibaratkan dirimu sebagai sebuah benda. Maaf ... Aku hanya agak ... entahlah, bagaimana mengatakannya."


"Tidak perlu dijelaskan, Robert. Aku tahu."


"Jadi bagaimana?"


"Lakukan saja," ucap Yoana geli.


Mendengar persetujuan itu, Robert melingkari pinggang Yoana lebih erat.


"Apa kau tahu dari tadi ia menatap kita?"


"Hu um ...." Yoana membelalak pada Robert yang menunduk dan berbicara amat dekat di depan wajahnya.


"Bagaimana kalau kita pergi kencan? Bilang kita akan bertemu di hotel Lazarus. Sebelumnya kita pergi bersama untuk memilih cincin." Robert menolehkan kepalanya ke arah jemari Yoana yang berada di genggaman tangannya. Kemudian dengan sengaja memutarkan jarinya di jari manis Yoana.


"Cincin?"


"Oh, apa kau keberatan kalau mulai bertunangan?"


Tawa Yoana pecah seiring dengan musik yang berakhir. Mereka menyingkir ke pinggir lantai dansa dengan bibir masih menyisakan senyum.


Vincent menatap semua itu dengan hati gelisah. Ia tak dapat menghentikan perasaan tidak enak itu. Apalagi saat Robert memutar jarinya pada jari manis Yoana.


**********


Catalina dan Mary duduk di sofa panjang sambil mengobrol. Catty menunggu Claude yang masih sibuk dengan para tamu. Mereka datang pada pesta yang diadakan oleh Yoana. Yoana sendiri yang mengundang.


"Lina ... Kau kenal gadis itu?" tanya Mary sambil menyipit.

__ADS_1


"Yang mana? "


"Itu. Yang bergelayut manja di lengan Claude." Mary merasa pernah melihat gadis itu sebelumnya.


"Apa! Mana !"


Catalina mencari-cari ke arah yang ditunjuk oleh Mary.


"Bukankan Itu Miss Tania Sweyn?" tanya Mary.


"Hufhhh! Kau benar. Dia Miss Sweyn. Mantan tunangan Claude dulu."


"Pergilah ke sana. Lihat Claude sepertinya berusaha mau pergi, dia seperti lintah."


"Benar ... dan siapa aku? Tunangan bukan, istri apalagi ... Tapi dia tetap saja kekasihku! Aku mau ke sana!" Catalina bangkit lalu pergi ke tempat Claude.


Marylin tersenyum ketika melihat Claude menyambut adiknya lalu Catalina menarik Claude menjauh dari Miss Sweyn yang terlihat amat kesal. Seketika Mary ingat ketika Serge mengatakan Catalina belum mau menikah karena mengkhawatirkannya. Sampai kapan ia akan terus menjadi beban adiknya itu?


"Kau sendirian?"


Mary tersentak mendengar pertanyaan dari suara yang sudah ia hapal itu.


Ia mendongak tapi tidak menjawab.


"Boleh aku duduk?" tanya Alric.


"Duduk saja ... ini bukan kursiku."


Alric duduk dan selama satu menit penuh mereka hanya diam dan memandang para tamu yang ada di aula itu.


"Mau berdansa denganku?"


"Tidak."


"Apa kau mau minum?"


Lalu mereka diam lagi selama beberapa saat.


"Bagaimana dengan menikah? Gaunmu sudah mulai kelihatan sempit," ucap Alric.


Mary menarik nafas panjang, lalu bicara dengan suara yang amat kecil.


"Aku akan mempertimbangkannya ...."


"Apa?" Alric menoleh cepat, takut telinganya salah mendengar.


"Kalau tidak dengar, ya sudah!" ucap Mary sambil bangkit dan pergi meninggalkan Alric.


Alric termenung sejenak sambil tersenyum lebar. Lalu ia segera menelepon ibunya.


"Mom,"


"Ada apa? Ini sudah malam, kenapa kau belum tidur."


"Mom .. Mary baru saja bilang akan mmepertimbangkannya."


"Apa!? Kau serius!?"


"Ya, Mom...."


"Astaga ... Aku harus pulang ke mansion Lion."


Alric mengernyit mendengar ucapan aneh ibunya.


"Kenapa?"


"Kenapa katamu!? Tentu saja menyingkirkan semua jejakku di sana. pindahkan semua pelayan ke mansion kita yang lain. Lalu rekrut pelayan baru. Biarkan Kepala pelayan Gray saja yang tersisa. Di sanalah kau akan membawa Mary nanti."


"Mom ... dia belum bilang setuju,"

__ADS_1


"Tugasmu agar ia secepatnya setuju!"


"Baiklah ... Baik ...." Lalu Alric mematikan ponselnya. Merasa lega dan amat bahagia.


Claude dan Catalina yang baru saja selesai berdansa beberapa saat kemudian mendatangi sofa Alric.


"Di mana Mary?" tanya Catalina.


"Kulihat, ia ke meja makanan kecil," jawab Alric.


Ia menepuk paha Calude ketika pria itu duduk di sebelahnya.


"Hei ... terima kasih karena mengundangku,"ucapnya senang.


Claude menaikkan alis sambil menarik Catalina agar duduk di sebelahnya.


"Kau terlihat senang. Syukurlah kalau kau suka pestanya."


"Ya. Pestamu sukses, amat sangat," ucap Alric dengan senyum lebar.


**********


"Apa kau tidak lelah?" tanya Vincent.


"Oh, apa, Vince?" tanya Yoana . Ia baru saja menghabiskan satu gelas air mineral. Haus setelah berdansa tiada henti dengan Robert, Simon dan juga Hamilton.


"Tidak. Aku tidak lelah. Aku merasa gembira."


Vincent menyipit memandang Yoana. Sedari tadi ia menahan diri melihat Yoana yang berdansa dengan Robert. Dua kali.


"Dan apa yang membuatmu amat gembira? Pria itu?"


Yoana menaikkan alisnya, lalu bersedekap menghadap Vincent.


"Pria itu punya nama, Vince. Robert."


Vincent hanya menatap datar sambil menyesap minumannya.


"Dan dia mengajakku pergi besok."


"Kemana?"


"Mencari cincin ... Kurasa Atemis Jewelry patut dikunjungi kan, Bisa pesan dengan desain sesuai kehendak."


Rahang Vincent berkedut.


"Dia akan melamarmu?"


"Haha .. aku harap begitu. Aku ingin jadi ibu. Secepatnya menikah lalu aku bisa tidur dengannya," jawab Yoana dengan tersenyum lebar dan mengedipkan mata. Lalu ia pergi meninggalkan Vincent dengan jantung berdebar kencang karena baru saja mengucapkan kata provokatif itu.


Tangan Vincent terkepal erat. Matanya berkilat dengan rahang mengeras. Tiba-tiba bayangan yang terbentuk di kepalanya ketika Yoana mengucapkan kata tidur dengan Robert membuat hatinya memberontak, otaknya protes tak henti menyuruhnya melakukan sesuatu. Hatinya tidak menerima walau hanya sekedar dalam bayangan. Apalagi di kenyataan ....


Vincent mengambil ponsel dari dalam kantong celana dan menelepon seseorang. Setelah terdengar jawaban barulah ia menyampaikan maksudnya.


"Kau siapkan satu heli untukku besok. Aku akan meneleponmu lagi jam berapa aku memerlukannya." terdengar jawaban dari seberang sana, Lalu Vincent mematikan ponsel. Menatap Yoana dengan penuh tekad.


NEXT >>>


*********


From Author,


One step closer๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚ Keep fight


Jangan lupa klik like, love, bintang lima dan komentarnya ya all my readers. Yang punya poin, yuk bantu vote Embrace Love๐Ÿ™๐Ÿ™


Terima kasih semuanya,


Salam hangat, DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2