Embrace Love

Embrace Love
Ch 113. New neighbour


__ADS_3

Suasana meja makan keluarga Bernard pagi itu sangat ramai dan ceria. Gurauan tiada henti di ucapkan Simon dan Claude untuk menggoda Yoana.


"Jadi, kau mengakui kalau Robert tampan bukan?" tanya Simon.


"Oh. Intinya bukan itu, Anak kecil! Robert orang yang menyenangkan. Titik." ucap Yoana.


"Ya ... menyenangkan sekaligus enak dipandang. Memangnya kenapa kau menyimpan gambarnya di ponselmu ... Agar kau bisa puas memandangnya kapan saja. Bukan begitu?" goda Claude.


Claude dan Simon terkekeh, mereka mengambil paksa ponsel Yoana pagi ini karena penasaran pada sosok pria bernama Robert yang berkencan dengan Yoana.


"Apa pekerjaannya, Yoan?" tanya Claude sambil melirik Vincent yang seolah tidak peduli dan mengabaikan obrolan mereka.


"Dia seorang dokter."


Simon bersiul, "dokter ya...." ucapnya antusias.


"Ya ... seorang spesialis bedah syaraf,"


"Wow ... dia hobi membongkar dan mengutak-atik isi kepala orang rupanya," ucap Claude.


"Berhenti, Claude ... kau membuatku mual." ucap Yoana.


Vincent mendengus. Lalu mengambil gelas minum untuk mendorong makanannya.


"Baru itu saja kau mual. Bila menikah, setiap hari itulah cerita yang akan kau dengar dari doktermu itu ...." ucap Vincent.


Yoana tidak menanggapi, hanya mengangkat kedua bahunya untuk mengatakan ia tidak keberatan.


"Yah ... semoga berhasil dengan Robert, Yoan ... Kurasa akan menyenangkan mendapatkan seorang ipar dokter di keluarga Bernard." Claude mengedipkan mata pada kakaknya. Yoana membalasnya dengan tersenyum lebar.


Vincent mengambil gelas minumnya lagi, lalu menghabiskannya dalam sekali teguk. Kemudian ia bangkit.


"Aku sudah selesai ... aku permisi dulu," ucapnya sambil melangkah meninggalkan meja makan.


Tiga pasang mata saling berpandangan di meja makan. Mereka diam sampai Vincent sudah benar-benar tidak terlihat lagi. Barulah kemudian bersama-sama terkikik geli.


"Kurasa dia mulai cemburu," ucap Simon.


"Bukan mulai Simon. Tapi sangat cemburu. Dia sudah memulainya sejak kemarin," Claude terkekeh.


"Menurut kalian begitu?" tanya Yoana, terlihat senang.


"Pasti ... Dia tidak pernah bersikap seperti itu," ucap Claude yakin.


"Benar ... coba dari dulu kau mau berkencan, Yoan. Pasti dia tidak akan merasa seaman itu selama sepuluh tahun. Sekarang dia gelisah ... dia gusar!" ujar Simon.


Yoana tersenyum makin lebar. Ia memutuskan akan menguji batas kesabaran Vincent. Melihat ... apa yang akan Vincent lakukan jika ia memutuskan akan menikah dengan pria lain.


*********


Catalina bangun pagi, lalu membereskan ranjangnya. Sejak Serge pergi bekerja ke luar negeri bersama kru Frans Humberto, ia menempati kamar pria itu. Serge sangat rapi dan kamarnya sangat bersih. Catalina sampai segan memasukkan dan menyusun barang-barangnya ke dalam walk in closet, takut mengganggu dan mengubah tatanan barang-barang Serge yang tersusun rapi.


Catalina keluar kamar, dan mendapati Mary sudah bangun. Kakakny bahkan sudah menyeduh segelas susu.


"Lina ... Kita perlu pergi belanja. Persediaan di kulkas sudah hampir habis."


"Ya ... aku juga perlu beli pembalut," ucap Catalina.

__ADS_1


Keduanya mengobrol santai, Catalina menyeduh segelas coklat hangat untuk dirinya sendiri.


Suara ketukan di pintu mengalihkan Catalina dari gelas coklatnya. Ia menghentikan Mary yang baru saja akan bangkit untuk melihat siapa tamu mereka.


"Tidak, Mary. Biar aku saja. Siapa yang datang sepagi ini? tanya Catalina dengan kening berkerut.


Catalina pergi menuju pintu apartemen. Ia membuka pintu dan melongo. Terpaku menatap tamu yang sudah berdiri di depannya dengan sebuah kotak kue.


"Halo Miss Catalina ... Aku mengucapkan selamat pagi. Dan sebagai ucapan salam sebagai tetangga barumu, aku membawa kue ini. Apakah aku boleh sarapan pagi bersama?" Alric melirik ke arah dalam.


Catalina tersadar ketika mendengar ucapan Alric. Ia otomatis menarik pintu dan menutupnya lagi di depan hidung pria itu.


Catalina bersandar di pintu sambil memegangi dadanya.


"Ya ampun ... itu benar-benar dia!"


"Lina? Siapa itu tadi? Kenapa pintunya malah kau tutup lagi?" Mary rupanya sudah keluar dari dapur dan mendatangi Catalina.


"Itu ..." Catalina berdehem, lalu menelan ludah untuk melancarkan tenggorokannya.


"Itu ... Tetangga baru kita ... Dia ...."


Lalu terdengar lagi pintu mereka di ketuk, kali ini tidak berhenti, seolah orang di luar sana tidak akan berhenti kecuali dibukakan pintu.


Mary mengernyit heran melihat sikap adiknya. Ia melangkah dan menarik Catalina yang bersandar di daun pintu. kemudian Mary membuka pintu dan terpaku ....


Alric sama terpakunya menatap Mary. Ia tidak dapat menahan menatap wanita itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Alric berhenti agak lama di perut Mary.


"Kau!" seru Mary, sangat terkejut.


"Ini ... Aku membawakan kue ini ... Aku tinggal di sana sekarang," ucap Alric sambil menunjuk ke arah pintu apartemennya di bagian ujung.


Karena dua kakak beradik itu tidak ada yang bereaksi , Alric mempersilahkan dirinya sendiri untuk masuk. Catalina dan Marylin beringsut mundur ketika ia melangkah masuk.


Alric mengulurkan kotak kuenya pada dua wanita yang masih saja terdiam itu.


Marylin tersadar lebih dulu. Ia menerima kotak itu dengan tangan sedikit bergetar. Perasaannya tidak menentu melihat sosok Alric yang terasa mengintimidasi.


Mary langsung kabur membawa kotak kue ke arah dapur dan tidak keluar lagi dari sana.


"Miss ..." Alric baru saja akan bersuara ketika Catalina memotongnya dengan ketus.


"Mau apa kau kemari!?"


"Sudah kukatakan, aku ingin menyapa sebagai tetangga baru. Jadi ... bagaimana? Boleh aku ikut sarapan?"


"Tidak!"


"Kalau begitu bicara saja ... dengan Mary ... Bisa kau panggilkan dia?"


"Tidak!"


"Kalau kau keberatan memanggilnya, aku saja yang masuk ke dapur dan mencarinya. Bagaimana? Boleh?"


"Tidak!"


"Aku pandai memasak ... Aku bisa memasak sarapan ..."

__ADS_1


"Tidak!"


Lalu entah mendapat keberanian dari mana, Catalina tiba-tiba menarik lengan Alric dan membawanya keluar dari apartemen.


"Jangan ganggu kami! Kau sarapan saja sendiri! "


Brakkk! ... Catalina menutup pintu dengan membantingnya. Lalu terdengar pintu dikunci dari dalam.


Alric mengelus rahangnya sendiri, teringat tamparan gadis itu di pipinya. Dari sikap Catalina, sepertinya gadis itu terlihat sangat marah. Apa karena Catalina tahu ia sudah menghamili kakaknya dengan cara yang sangat kejam?


Alric menarik nafas panjang, lalu memutuskan kembali lagi ke apartemennya sendiri.


Catalina kembali ke dapur dan mendapati Mary sedang menunduk ke wastafel, terdengar seperti suara mau muntah.


"Mary? Kenapa?" Catalina menggosok belakang leher kakaknya itu.


"Aku tiba-tiba merasa mual setelah melihatnya," ucap Mary.


"Mual muntah karena hamil?"


"Dari kemarin-kemarin tidak ada ... tapi setelah tadi ...." Mary mengambil tisu dan mengelap mulutnya.


Catalina menyeringai lebar, lalu mengucapkan fikiran yang melintas di otaknya.


"Kau mual setelah melihat ayah bayimu ... bawaan bayi yang pintar. Pria itu menjengkelkan! Aku ingin sekali memukulnya lagi!"


"Eh? Kau pernah memukulnya?"


Catalina mencibirkan bibir, lalu menganggukkan kepalanya.


"Ya. Aku menamparnya!"


"Kapan? "


"Saat Claude membawaku menemuinya waktu itu. Kau seharusnya memukulnya juga!"


Mary terdiam, seolah berfikir. Lalu senyum kecil muncul dibibirnya.


"Aku akan malakukan itu!"


Lalu keduanya tertawa keras. Membayangkan ketika pipi pria arogan itu kembali memerah karena ditampar.


NEXT>>>>>


**********


From Author,


Jangan lupa tekan like, love dan bintang lima ya. tinggalkan jejakmu lewat komentar.


Yang suka cerita di novel ini, yuk bantu author dengan rekomendasikan ke teman-temannya, siapa tahu temannya juga suka dan menikmati ceritanya.


Klik profil Author dan tekan tombol 'karya' nikmati novel-novel karya author yang lainnya. Mudah-mudahan pada suka juga.😍😍💞


Terima kasih semua.


Salam hangat, DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2