
Serge dan Marylin turun dari mobil, mereka melihat ke arah pintu restoran mewah tempat Yoana mengundangnya makan malam. Mobil yang membawa mereka sudah melaju lagi meninggalkan mereka di pelataran depan restoran.
"Ingat yang kita bicarakan di apartemen tadi. Jangan lupa kau adalah Marylin yang berbeda dengan Mary yang dulu. Tegakkan bahumu, angkat dagumu, ingat ... temanmu ini akan selalu ada di sampingmu. Jangan biarkan keluarga angkuh itu mengintimidasimu." Serge mengoceh panjang lebar pada Marylin. Tangannya menangkup tangan Marylin yang menggandeng sikunya.
Marylin tertawa geli. Ia menggelengkan kepalanya ke arah Serge dengan senyum lebar.
"Serge ... kau sudah mengatakannya berulang kali. Kita hanya makan malam dengan keluarga Bernard. Bukan siapa-siapa. Hanya keluarga Bernard. Memangnya mereka siapa sampai bisa membuatku takut." Marylin mengedipkan matanya pada Serge.
"Itu baru gadisku ... ayo ... ah, aku tidak sabar gaun seperti apa yang akan dipakai oleh Nona mungil angkuh itu malam ini," ucap Serge.
Marylin hanya tersenyum dan berjalan memasuki restoran dalam gandengan tangan Serge.
Seorang pelayan menyambut mereka, lalu setelah percakapan singkat dengan menyebut nama keluarga Bernard, Marylin dan Serge diantarkan ke meja tempat keluarga Bernard sudah menunggu.
Marylin menatap ke arah meja bulat tempat keluarga Bernard sudah duduk di kursinya masing-masing. Marylin dan Serge berhenti beberapa langkah dari meja tersebut.
Serge menyapa dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.
"Selamat malam semuanya, aku harap kami tidak terlambat," ucap Serge dengan senyum terkembang.
Marylin menatap satu demi satu orang-orang yang duduk di sana. Matanya berpindah cepat dari seorang pria tua yang balik memandangnya dengan tertarik, Simon Bernard yang menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki, Yoana yang menatap dengan wajah datar, Claude yang melihatnya kemudian melirik Catalina yang duduk di sebelahnya. Terakhir, Marylin menatap Catalina. Adiknya itu hanya menatapnya sekilas, lalu menunduk.
Tanpa make up, gaun biasa berwarna peach, rambut hanya disisir lalu tergerai begitu saja. Mungkin sepatu yang ia pakai hanya berupa flat shoes. Kau ini benar-benar Catalina ... Apakah keluarga ini tidak memperbolehkanmu untuk sedikit berdandan. Makan malam mewah ke restoran mewah kelas atas, tapi kau berpakaian seperti hanya mau pergi ke supermarket.
Marylin menatap lama pada adiknya itu.
"Ayo, Mary. Duduklah." Serge mengajak Mary untuk duduk.
Marylin mengambil posisi di sebelah Catalina. Semua mata di meja makan bundar itu menatap dua kakak beradik itu dengan mata tertarik. Perbedaan mereka sangat kontras. Mary memakai make up lengkap dengan polesan tipis, dress hitam yang menonjolkan kulitnya yang putih, rambutnya disanggul rapi dengan hiasan mutiara, sedikit ikal di biarkan terlepas dari sanggul dengan sengaja dan menjuntai di dekat telinganya.
Catalina adalah kebalikan dari Mary. Gadis itu memang tidak berdandan sama sekali. Ia menolak ikut ketika diberitahu oleh Yoana. Yoana tidak memaksanya dan kemudian membiarkannya untuk tinggal.
Ketika semua sudah siap, Claude mengernyit karena Catalina tidak juga turun. Yoana mengatakan kalau Catalina tidak akan ikut.
Claude langsung naik ke lantai atas mencari Catalina, dan beberapa saat kemudian keduanya turun. Catalina digiring ke mobil oleh Claude dengan gaun berwarna peachnya, wajah tanpa make up dan rambut hanya disisir seadanya. Yoana penasaran apa yang telah dilakukan Claude hingga gadis itu akhirnya mau ikut.
Makan malam itu berjalan lancar, mereka tidak banyak bicara saat makan. Setelahnya, Claude mengajak Yoana untuk berdansa, Musik dimainkan khusus di ruangan yang dipenuhi cahaya keemasan itu. Ruangan yang dipesan khusus oleh Yoana.
Serge juga pamit dan mendatangi meja bar di ujung lain ruangan. Seorang bartender segera meracik minuman yang ia inginkan. Setelahnya Serge tidak beranjak dari sana. Ia berbalik dan bersandar di konter sambil memandang keseluruhan isi ruangan itu. mengamati keluarga Bernard satu persatu.
Hamilton memandang ke arah kaca, ia menangkap sosok Vincent di sana. Pria itu menolak ikut serta di meja, ia mengatur pengamanan untuk keluarga itu ketika tahu Yoana merencanakan makan malam dadakan. Mereka sempat berdebat karena menurut mereka itu tidak aman. Tapi Yoana berkeras, wanita itu mengatakan bosan dan jenuh makan malam di rumah dan ia mengatakan sudah mengundang Marylin dan managernya untuk datang.
Hamilton bangkit berdiri, ia pamit pada dua gadis yang masih duduk di sana.
"Ladies ... aku pamit pergi sebentar," ucap Hamilton.
Catalina mengangguk dan memberikan senyumannya pada Hamilton. Sedangkan Marylin tidak bereaksi.
__ADS_1
Setelah Hamilton pergi, Simon menatap dua gadis yang duduk di seberang meja di depannya.
"Kalian agak mirip tapi juga sangat berbeda," ucap Simon.
Keduanya tidak bereaksi, hanya menatap Simon.
"Kau terlihat makin cantik, Marylin," ucap Simon dengan seringai di wajahnya.
Kali ini Marylin mendengus keras, tidak feminin sama sekali, tidak peduli jika ada yang akan mendengar dan akan menganggapnya tidak sopan.
"Kau juga masih suka mendengus jika tidak suka," ucap Simon lagi, lalu ia beralih pada Catalina.
"Dan Kau jangan berkecil hati Lina. Walaupun Claude menyeretmu sehingga kau tidak sempat berdandan, kau tetap saja cantik menurutku," puji Simon pada Catalina.
Catalina juga mendengus keras ketika mendengar pujian Simon. Membuat tawa Simon menggema.
"Aku baru tahu kalau gadis Seymor semuanya suka mendengus," ucapnya sambil terkikik.
Marylin menyipitkan mata memandang Simon, lalu menatap laki-laki itu dari atas sampai bawah, sayangnya pandangannya tertutup oleh meja.
"Dan kau masih begini-begini saja, masih seorang bocah yang hanya tahu bercanda dan bersenang-senang," ucap Marylin dengan nada meremehkan.
Simon sama sekali tidak tersinggung. Ketika tahu Yoana mengundang Marylin, ia menyiapkan dirinya menerima apapun perkataan gadis itu. Kemarahan, sindiran, bahkan makian, Simon sudah siap menerimanya.
"Tapi aku masih tetap tampan bukan?" Simon mengedipkan matanya pada dua gadis itu.
Simon hanya terkekeh mendengarnya. Setelah tidak mendapatkan reaksi lagi dari dua gadis itu, Simon memandang Marylin dan mengajaknya berbicara secara pribadi.
"Boleh aku bicara secara pribadi denganmu? Atau sambil berdansa saja? Kau mau?" tanya Simon, matanya menunjukkan keseriusan. Tidak ada pancaran menggoda seperti tadi.
"Tidak. Tidak ada yang mesti aku bahas secara pribadi denganmu dan maaf, aku sekarang alergi pada sentuhanmu, jadi aku tidak bisa menerima ajakanmu berdansa. Kalau mau bicara, bicara saja sekarang." Marylin mengambil gelas minumannya dan menyesap sambil melirik ke arah Simon lewat pinggiran kristal bening gelasnya.
Ucapan Marylin membuat Catalina menyeringai senang.
"Yeah ... kau senang kakakmu memojokkanku, bukankah begitu Catalina? Baiklah jika kau memaksa. Aku mau bicara perihal Leonard," ucap Simon.
"Ada apa dengannya?" tanya Marylin.
"Kau benar-benar melepaskan hakmu padanya? Kau ibu yang melahirkannya," ucap Simon.
Catalina menoleh menatap kakaknya, ia juga ingin tahu apa jawaban kakaknya itu. Marylin terlihat menarik napas panjang.
"Ya ... aku melepaskannya. Sejak awal aku sudah melepaskannya. Setelah kakakmu mengusirku, maka saat itu juga aku melepaskan Leonard. Beruntung Catalina membujukku mempertahankannya, jika tidak, ia tidak akan lahir ke dunia."
Marylin berhenti, menunggu Simon menanggapi ucapannya. Laki-laki itu hanya diam. Membuat Marylin yakin, Simon sudah tahu riwayat Leonard.
"Aku tidak akan bisa menjadi ibu yang baik untuknya. Sejak awal aku sudah menolaknya ... jadi jawaban pertanyaanmu itu adalah ya ...."
__ADS_1
"Kau tidak akan berubah pikiran? " tanya Simon.
"Tidak," ucap Marylin tegas.
"Kalian lebih baik memikirkan seorang ibu yang permanen untuk Leonard. Catalina hanya sementara di sana bukan? Jika memang dia akan berpisah dengan anak itu, maka lakukanlah saat ini. Lebih cepat lebih baik, akan semakin sulit jika ia bertambah lama di sana." Marylin melirik Catalina yang mengerutkan kening. Tampak memikirkan ucapan kakaknya barusan.
"Jangan bilang kau mulai peduli bagaimana perasannya jika ia pergi. Juga pada perasaan Leonard," sindir Simon.
"Oh, Aku tidak peduli, Simon. Kau dan keluargamu bukan lagi urusanku. Aku sudah selesai denganmu. Kau hanya seorang pria yang lewat dalam hidupku. Tanda mata yang kau tinggalkan pun sudah aku kembalikan. Aku hanya berpikir, dulu Lina punya cita-citanya sendiri, ia punya keterampilan dan ilmu yang bisa ia terapkan di rumah sakit. Tapi lihat dia sekarang ... hanya jadi baby sitter keluargamu," ucap Marylin.
""Aku Bibi Leon, Mary. Jangan lupa itu. Bukan hanya sekedar baby sitter," sanggah Catalina.
"Terserahlah kau menyebutnya apa Lina. Pikirkan saja sampai kapan kau mau jadi pengasuh." Marilyn berkata santai sambil kembali menyesap minumannya.
"Jangan mempengaruhinya Marylin! Catalina akan tetap berada di keluarga Bernard!" ucap Simon.
Marylin tertawa kencang. "Kau dengar itu? Kau akan disekap selamanya. Dia baru saja mengatakannya," ucap Marylin pada Catalina.
"Siapa yang disekap, Nona Marylin?" Pertanyaan itu diajukan oleh Claude yang rupanya sudah kembali dari lantai dansa bersama Yoana.
Keduanya kembali duduk dan menikmati minuman mereka masing- masing.
Marylin tidak menjawab, hanya menatap ke wajah Claude. Ia mengernyit dan mempertanyakan kenapa dulu ia takut sekali ketika melihat kakak laki-laki Simon itu ketika pertama kali menemuinya di mansion keluarga Bernard.
"Kubilang pada Catalina, sampai kapan ia akan terus jadi pengasuh," ucap Marylin santai.
"Dia bukan hanya sekedar pengasuh, dia sudah seperti ibu Leon. Dia bibinya," sanggah Claude.
Marylin mengangkat kedua bahunya. "Terserahlah," ucapnya.
"Tapi Mary benar. Aku tidak bisa selamanya tinggal di mansion keluarga kalian. Dulu aku mengira kalian tidak akan mengurusnya dengan penuh kasih sayang. Tapi ternyata tidak. Leon punya keluarga yang sangat mencintai dan menyayanginya. Aku yakin dia akan tumbuh dengan baik bersama kalian. Aku harap kau memegang janjimu Yoan. Aku bisa datang kapan saja bila aku merindukan Leonard." Catalina mengucapkan pemikirannya. Kata-kata Marylin membuatnya tersadar. Ia harus mewujudkan mimpi ibunya, ia punya kehidupannya sendiri. Ia menyayangi Leonard sebagai putranya sendiri, namun begitu juga Yoan, Claude dan sekarang ayah kandung Leonard juga sudah kembali. Tampak lebih bertanggung jawab dan menyayangi putranya itu.
Ucapan Catalina membuat tiga saudara itu saling berpandangan, lalu serentak mereka memandang Marylin, yang memasukkan ide untuk pergi di otak Catalina.
Marylin mengangkat alis, kemudian senyum lebar terbit di bibirnya.
Sepertinya bukan Catalina yang terikat pada kalian, namun sebaliknya ....
**********
From Author,
Jangan lupa vote, like ,bintang lima, love dan komentarnya ya my readers💞
Terimakasih semua,
Salam, DIANAZ,
__ADS_1