Embrace Love

Embrace Love
CH 83. Forcefully


__ADS_3

Marylin bergerak-gerak gelisah, seorang pria yang duduk tak jauh dari kursinya hanya melirik sekilas, lalu kembali memejamkan mata. Pria itu tidak perduli dengan geraman dan suara berisik yang berusaha Marylin buat dari balik mulutnya yang tertutup lakban.


Kedua tangan Mary diikat ke belakang, kakinya mengalami nasib yang sama, diikat dengan kencang, jangankan untuk digunakan melangkah, bergerak sedikit pun kedua kakinya tidak bisa.


Ia naik ke pesawat yang membawanya saat ini dengan cara diangkat oleh salah seorang pria yang menculiknya ke atas bahu, dipikul dengan mudah lalu dibawa ke pesawat yang tidak ada penumpang lain kecuali para pria pengawal ini dan dirinya. Tidak ada para kru, tidak ada Lionel.


Ketika tadi tiba di bandara, mobil mereka memasuki bagian khusus dimana pesawat pribadi tuan Lucca telah menunggu. Ketika mobil berhenti, seseorang membukakan pintu, lalu tiba-tiba Marylin ditarik paksa keluar dari kursinya.


Marylin berteriak dan memanggil Lionel, namun telinga pemuda itu hanya mendengar musik yang ia putar di telinganya. Mudah-mudahan telinganya benar-benar jadi rusak! Marylin menyumpah. Lionel bahkan tidak membuka matanya sama sekali, Marylin tidak tahu apakah Lionel sedang tertidur atau hanya sekedar terpejam menikmati musik.


Mendengar Mary berteriak, salah satu pria segera membekap mulutnya, ia dipindahkan naik ke sebuah mobil dan segera diikat. Mobil itu kemudian membawanya ke bagian lain bandara dimana satu pesawat lain sudah menunggu. Kemudian ia diangkat ke atas bahu oleh salah satu pria dan di naikkan ke atas pesawat.


Marylin terus menggerak-gerakkan tangan, hingga tali yang mengikat pergelangan tangannya terus menggesek kulitnya hingga lecet.


Usaha itu tidak membuahkan hasil. Tali itu bahkan tidak melonggar sedikit pun. Lelah dengan semua usaha yang tidak berguna, Mary akhirnya bersandar ke kursi pesawat. Ia memejamkan mata.


Serge ... kau dimana? Ada apa sebenarnya? Siapa orang-orang ini?


**********


Perintah agar membuka mata dan bangun memasuki telinga Marylin. Ia segera terjaga, membuka mata dengan cepat dan menyadari pria yang berdiri di dekat kursinya menunggu agar ia bangun. Sudah berapa jam penerbangan yang sudah ia lalui, Mary benar-benar tidak tahu.


Marylin berharap ia tadi bermimpi. Bahwa ini hanyalah hayalannya saja. Ketakutan yang berusaha ia simpan ketika melihat para pengawal bertubuh besar ini menangkap dan membekapnya. Ketakutan yang tidak ia tunjukkan saat berada dalam penerbangan yang entah akan membawanya kemana, seorang diri tanpa Serge atau siapapun yang ia kenal dalam kru yang tergabung untuk pekerjaan mereka ini.


Marylin merasakan tangan kekar pria yang tadi berdiri di dekatnya meraup lengannya dan menjepit kuat.


Ia kembali ditarik paksa, Marylin memilih menurut. Tidak ada apapun yang bisa ia lakukan. Tubuhnya masih sangat lelah, setelah berkejaran agar mereka menyelesaikan pekerjaan sebelum siang, Mary berharap setelah penerbangan ke negara berikutnya, ia masih sempat beristirahat sebelum bertemu Serge. Mungkin karena itu juga ia sempat tertidur di pesawat tadi.


Namun, apa yang ia harapkan sangatlah jauh dari kenyataan. Ia malah berakhir di tempat yang tidak ia ketahui, dengan para pria asing yang sepertinya tidak tahu caranya untuk berbicara. Mulut mereka terkatup rapat, hanya bicara jika mau memerintahkan sesuatu padanya.

__ADS_1


Marylin kembali diangkat oleh pria tadi, dibawa turun dari pesawat dan dimasukkan ke dalam mobil. Ketika mobil mulai melaju, marylin melirik keluar jendela kaca dan mengernyit. Benar-benar sebuah tempat yang asing.


Perjalanan yang sangat panjang, tangan dan kaki Marylin terasa kaku dan kesemutan. Mulutnya mulai terasa kering. Entah sudah berapa jam mereka berkendara. Namun pria yang mengendarai mobil yang membawanya tidak juga kunjung berhenti.


Marylin mulai merintih lagi. Ia sangat haus. Ketika pria di sebelahnya menarik sebuah botol minum, Marylin bergerak-gerak sambil bersuara dari balik penutup mulutnya.


Pria tadi memegang ujung lakban yang menempel di bagian pipi Marylin, kemudian menariknya dengan cepat.


"Aaaaaaa!" Marylin berteriak.


Mulut Marylin ditempeli oleh bibir botol air minum, lalu minuman dituang kedalam mulutnya dengan cepat. Marylin menelan sambil terbatuk-batuk.


"Pelan ... kumohon," ucapnya.


Pria tadi hanya diam, kembali menuang minum ke mulut Marylin, sampai isi air di botol hampir habis.


"Katakan siapa kalian. Kenapa aku dibawa ke sini?" pertanyaan Marylin hanya disambut dengan lakban yang kembali ditempelkan ke mulutnya. Tanpa bisa melawan Marylin akhirnya hanya bisa memejamkan mata, bersandar lelah di kursi. Membiarkan pria yang duduk di sampingnya itu meratakan lakban di mulutnya dan memastikan Mary kembali tidak bisa berbicara.


Jalanan terus menanjak, Marylin menyadari ia dibawa ke daerah pegunungan. Makin jauh perjalanan hari sudah beranjak malam, perlahan cahaya mulai memudar sampai akhirnya kegelapan benar-benar hadir dan menghilangkan jejak sang mentari. Kini kegelisahan dan ketakutan Mary sudah berganti kengerian. Daerah itu bukan daerah pemukiman, tidak ada yang akan pergi ke tempat seperti ini jika bukan merupakan pemilik dari tempat itu.


Marylin menatap waspada ketika mobil mereka tiba di gerbang pintu besi yang amat tinggi. Gerbang itu terbuka, entah kenapa Mary merasa suaranya amat menakutkan, seperti gerbang hantu yang pernah ia tonton. Melewati gerbang, mobil melintas pelan di sepanjang jalur yang juga dipenuhi pepohonan. Kegelapan yang pekat membuat Marylin bergidik. Ia memilih mengalihkan matanya dari memandang keluar jendela. Kegelapan di luar sana membuatnya makin takut dan gelisah.


Dari kejauhan, Marylin melihat puncak bangunan yang berdiri kokoh di lahan itu. Cahaya lampu berkerlip memberitahu Marlyn bahwa mereka telah tiba. Perlahan, bangunan mansion yang amat besar tersebut terlihat jelas, jika bukan sedang merasa ketakutan, Marylin pasti merasa pemandangan mansion yang berdiri megah di pekatnya malam itu sangatlah menakjubkan. Tapi rasa takutnya membuat Marylin merasa ia baru saja tiba di istana horor.


Mobil berhenti, pria di sebelahnya turun lalu kembali menariknya keluar dan mengangkatnya lagi ke atas bahu. Marylin membiarkan saja, tubuhnya sudah amat lelah, ia hanya bisa mengintip lewat sela-sela rambutnya yang terurai kusut.


Mereka memasuki mansion yang terang benderang. Beberapa pria yang berpakaian sama dengan pria yang mengangkatnya tampak berjaga di beberapa titik. Marylin juga melihat kelebat beberapa pelayan wanita yang melewatinya ketika ia dibawa semakin jauh ke dalam mansion.


Marylin menyadari tidak ada yang peduli ada seorang pria yang membawa seorang wanita dalam keadaan terikat. Seolah itu adalah pemandangan biasa yang terjadi di mansion, atau mereka sudah tahu akan kedatangan Marylin, atau juga terbiasa untuk bersikap seolah tidak melihat dan mendengar apapun yang terjadi di mansion itu. Marylin tidak tahu yang mana dari tebakannya itu yang benar.

__ADS_1


Ia terus dibawa menaiki tangga, Beberapa kali, entah ada berapa lantai di mansion itu, Mary tidak tahu. Sampai mereka tiba di sebuah lorong. Hanya ada dua pintu di lorong itu. Seorang pria yang berjaga di depan sebuah pintu membuka lebar pintu ruangan itu ketika melihat mereka tiba.


Marylin dibawa masuk, tubuhnya dihempaskan ke atas ranjang. Lalu pria tadi membuka ikatan kakinya. Marylin melihat ke arah pintu, dua pria tampak berdiri di sana, sepertinya kamar yang ia tempati ini akan terus dijaga.


Ikatan tangannya menyusul dibuka, Marylin memijit tangannya yang pegal dan kaku. Luka lecet di pergelangan itu terasa perih dan terlihat memerah. Lalu terakhir, pria itu membuka kembali lakban yang menutup mulutnya.


"Aaaaaaaaaw!" kembali Marylin berteriak ketika lakban ditarik cepat, meninggalkan rasa sakit dan kemerahan di sekitar mulut dan pipi Marylin.


"Tolong ... satu kata saja ... siapa yang menyuruh membawaku kemari?" tanya Marylin.


Pria tadi menatap Marylin, lalu mulai memungut bekas-bekas tali yang tadi digunakan mengikat gadis itu. Setelah beberapa saat, pria itu berfikir bahwa tidak ada perintah untuk menyimpan identitas tuan mereka dari wanita itu. Tuan Diego berkata wanita itu bekerja untuk tuan mereka.


"Kau mengenalnya, Nona. Tuan Alrico Lucca. Dia yang memerintahkan membawa Anda kemari."


Itu sudah lebih dari satu kata, Marylin menelan ludah. Ia melihat pria itu melangkah keluar dari kamar. Kemudian terdengar suara pintu yang dikunci dari luar.


Merasa sudah sendirian, barulah seluruh ketakutan dan kengerian yang ditahan Marylin dalam hati keluar satu persatu. Tangan dan kakinya mulai gemetar, merambat ke seluruh tubuh. Mary mengangkat kedua tangan ke atas, tangan itu bergoyang, makin lama makin kencang. Dengan wajah pucat dan bibir bergetar, Marylin tahu dugaan awalnya ada sesuatu pada pria bernama Alrico Lucca itu adalah benar. Airmatanya mulai mengalir ....


"Serge ... kau dimana? Kumohon tolonglah aku ...."


N E X T >>>


********


From Author,


klik like dan love, bintang lima dan komentar ya readers sekian. Yang punya poin, yuk kasih votenya untuk novel ini.


Bila suka, ajak temennya baca karya ini juga yah, Follow author dengan klik 'ikuti ' pada kolom profil author.

__ADS_1


Terima kasih semua. Tungguin next update ya.


Salam, DIANAZ.


__ADS_2