
Catalina duduk di samping Marylin dan menggenggam tangannya. Satu tangannya yang lain menyapa bayi Mary dengan mengelus pelan perut kakaknya itu.
"Halo, Sayang. Apa kabar. Kau sehat bukan?" tanya Catalina.
"Ya." Mary tersenyum menjawab pertanyaan Catalina.
"Kau juga baik-baik saja kan, Mary? Sehat bukan?"
Mary menjawab dengan mengangguk. Lalu Catalina mendekatkan tubuhnya dan berbisik ke telinga Mary.
"Mmmm ... dia memperlakukanmu dengan baik?" bisiknya pelan.
Mary tersenyum. Tahu bahwa yang Catalina maksud adalah Alric. Ia kembali menjawab dengan anggukan.
"Yoana dan Vincent mengundang kalian ke pesta kecil di Mansion Bernard." Claude yang sudah duduk di sofa dekat Alric mengatakan alasan ia datang bersama Catalina.
"Sedikit perayaan untuk pernikahan mereka, Yoana dan Vincent mengundang keluarga, beberapa teman dan karyawan untuk berpesta malam ini di mansion Bernard. Aku harap kau dan juga Mary bisa datang," tambah Claude lagi.
Alric memandang istrinya yang ternyata juga tengah melirik ke arahnya.
"Tentu saja kami akan hadir. Dengan mempertimbangkan jika Mary juga mau hadir. Kau mau kita pergi, Sayang?"
Mary agak terkejut dengan panggilan 'Sayang' yang digunakan Alric di depan Catalina dan Claude. Ia melirik ke arah wajah Claude. Kekasih adiknya itu terlihat biasa saja, tidak terkejut mendengar panggilan Alric. Lalu ia melirik ke arah adiknya. Catalina tersenyum lalu mempererat genggaman tangannya. Juga tidak terlihat aneh mendengar ucapan Alric.
"Datang ya. Aku akan senang sekali bila kau bisa hadir. Leon juga ...."
Mary menatap Catalina dengan sedikit termenung, semua orang di sana menganggap normal panggilan Alric padanya. Hanya telinganya yang agak terganggu mendengar panggilan itu.
"Apa Yoana mengundang Serge?" tanya Mary tiba-tiba.
"Aku mengundangnya. Tapi Serge belum pulang dari perjalanan dengan kru Frans Humberto. Jadi ia tidak berjanji akan bisa hadir. Lagipula memang acaranya agak mendadak ... malam nanti, ku rasa Serge tidak terburu untuk pulang. Aku sudah bicara dengannya lewat telepon." Claude memberitahu Mary.
Mary menganggukkan kepalanya lagi. " Baiklah. Aku juga akan pergi."
Catalina tersenyum gembira, lalu ia melihat Annete masuk dan mendatangi mereka.
"Ann!" seru Catalina.
"Oh, Lina Sayang. Diego bilang kau datang. Aku langsung kemari, ingin melihat dan bertemu denganmu."
"Ya, Ann. Kau sedang apa?" tanya Catalina ketika ia melihat Ann masih menggunakan celemek.
"Ayo, Ladies. Kalian akan suka melihat hasil karyaku. Kita ke dapur sekarang. Ayo ...." ajaknya. Kedua wanita itu langsung bangkit dan menuruti ajakan Annete.
"Mereka makin akrab, bukankah begitu?" tanya Claude. Menatap Catalina yang berseri-seri menggandeng tangan Marylin.
"Ya ... sepertinya hubungan mereka benar-benar sudah membaik." Alric menimpali. Tahu bagaimana keadaan hubungan Mary dan adiknya dulu.
"Claude ... apa adikmu akan hadir di pestanya?" tanya Alric tiba-tiba.
"Maksudmu Simon?"
"Ya ...."
"Tentu saja. Dia sudah tinggal di mansion Bernard. Menggantikan pekerjaan Yoana, walaupun belum sepenuhnya. Dia masih belajar dibawah bimbingan Hamilton dan Vincent."
Claude menyipitkan mata, memandang Alric yang terlihat jadi agak khawatir.
"Memangnya kenapa?" tanya Claude.
"Tidak ada ...."
Claude tertawa mendengar jawaban Alric. Ia mengucapkan dugaan yang muncul di kepalanya.
"Jangan bilang kau khawatir tentang bocah itu!? Karena Marylin akan bertemu dengannya di pesta nanti?"
Alric mengangkat kedua bahunya. Tidak menyangkal ucapan Claude.
"Sedikit kekhawatiran seorang suami yang tahu bagaimana riwayat istrinya dengan pria lain di masa lalu. Kurasa itu sangat wajar bukan? Mary dan Simon punya Leon. Bukti hubungan mereka di masa lalu."
"Dan Mary menyadari setelahnya. Betapa adikku hanya seorang bocah perayu yang belum dewasa. Kurasa akhirnya Mary tahu yang ia rasakan bukan cinta."
Claude mendengar Alric menghembuskan napas lega. Ia jadi merasa geli dan tidak ingin pria itu merasa lega secepat itu.
"Meski begitu, sebagai teman aku akan memberikan saran padamu, Alric. Adikku bisa sangat memesona bila ia mau. Para wanita bertekuk lutut dengan mulut manis dan wajahnya yang tampan. Ia bisa sangat manis dan menggoda ... walau aku tahu dia tidak akan menggoda istri orang, tapi Simon tidak akan melepaskan kesempatan untuk kembali berdansa atau mengobrol dengan Marylin. Dia bilang dia suka sekali melihat Mary, karena wanita itu sekarang bertambah cantik dan terlihat matang." Claude sengaja memancing Alric. Namun, ia tidak sepenuhnya berbohong, karena begitulah gambaran Simon dan pendapat adiknya itu mengenai Mary.
"Bilang pada adikmu. Sudah ada yang memilikinya."
"Oh, tidak diragukan lagi Simon tahu akan hal itu Alric. Dan ia juga tahu bagaimana proses kau bisa memiliki Mary," sindir Claude.
Alric hanya diam, menatap Claude dengan puluhan rencana yang berkelebat di kepalanya.
"Hei Man ... jangan bilang kau belum bisa membuat istrimu terpesona? Kalian sudah tinggal bersama ... apa sesulit itu merebut hatinya?" tanya Claude sambil menyeringai.
"Bukan urusanmu, Bernard ...." ucap Alric datar.
__ADS_1
Claude terkekeh, makin geli melihat calon iparnya itu.
"Siapa yang menyangka? Alrico Lucca ... Billioner muda pewaris kerajaan bisnis Lucca ... kesulitan merayu istrinya sendiri," ejek Claude.
Sebuah bantalan kursi melayang ke wajah Claude. Membuatnya makin keras menertawakan Alric.
**********
Catalina menatap ke arah Mary yang mengelus pipi Leonard.
"Leon ... bocah tampan ...." desah Mary, lalu ia mencium pipi montok Leonard.
"Leon ... Mommy Mary datang ...." Catalina berbisik ke telinga Leonard yang terkantuk-kantuk dalam gendongannya.
Mereka semua baru saja selesai makan malam. Yoana dan Vincent hanya mengundang orang-orang yang sudah akrab dan teman keluarga dan beberapa pegawai mereka. Untuk mengumumkan status mereka yang sudah menikah. Aula tengah dikosongkan untuk acara dansa. Pesta itu terlihat penuh keakraban, penuh tawa dan jauh dari kesan formal.
"Dia mengantuk, Lina ...." ucap Mary, memandang sambil termenung ke arah wajah Leonard.
"Ya, " sahut Catalina sambil memandang kakaknya yang terlihat menerawang.
"Mary ... ada apa?"
Mary tampak agak terkejut, lalu memberi sedikit senyum terpaksa pada adiknya.
"Aku memikirkan ... apa aku bisa menjadi ibu yang baik untuk bayiku ini nanti. Mengingat apa yang kulakukan pada Leonard ...." Mary mengelus perutnya sendiri.
"Mary ... ketika itu situasi yang memaksamu. Kau memikirkan yang terbaik yang bisa kau lakukan. Tanpa ada seorang pun yang bisa kau mintai pendapat atau yang mau mendukung mu. Satu-satunya teman yang mau menyokong mu adalah Serge. Dan kesulitan hidup yang kalian hadapi membuatmu berpikir dua kali untuk menambah beban padanya. Sekarang situasinya berbeda ... kau akan bisa melakukannya. Aku sangat yakin ... apalagi suamimu, ehm ... dia menuju kemari," ucap Catalina.
Mary menoleh dan melihat Alric memang tengah berjalan ke arah mereka.
"Mary ... mau berdansa denganku?" tanya Alric sambil mengulurkan tangan. Mary menatap tangan Alric, terlihat ragu. Lalu ia menoleh ke sekitarnya. Melihat teman-teman keluarga Bernard yang hadir, ada beberapa mata yang memandang mereka. tepatnya memandang Alric. Tentu saja Alric memang pemandangan menarik di tengah aula itu.
Mary tidak keberatan berdansa dengan suaminya, hanya saja akhir-akhir ini, Alric terlihat terus berusaha mendekat dan menerobos pembatas yang ia pasang terhadap hubungan mereka. Dan ia merasakan hatinya mulai terganggu dengan hal itu. Mary tidak nyaman merasakan gelenyar di pembuluh darahnya dan debaran cepat di jantungnya ketika Alric bersikap manis dan seolah sengaja merayunya. Walau Mary sangat tidak yakin pria itu benar-benar memang mau merayu.
Mary hanya menganggukkan kepala dan meletakkan tangannya di telapak tangan Alric yang terulur. Ia akan berdansa. Beberapa pasang mata sudah cukup untuk menyebarkan spekulasi tentang hubungan mereka. Pernikahan mendadak seorang Lucca dengan model yang terbilang baru dan bukan siapa-siapa tentu saja memancing rasa penasaran.
"Kalian berdansalah. Aku akan membawa Leon ke atas. Sudah waktunya Leon tidur. Sepertinya dia sudah tidak tahan lagi," ucap Catalina. Lalu kepala Leon tersentak, seolah terkejut, kemudian kembali terkulai dengan mata terpejam. Mereka semua tersenyum memandang ke arah Leon. Mengira tadi Leon bangun, tapi ternyata bocah itu sudah nyenyak.
"Dia menggemaskan," ucap Alric.
Catalina tersenyum bangga. Mary lalu menunduk dan mencium pipi Leonard.
"Good night Leon....." ucap Mary.
"Good night Mommy Mary, night Daddy Alric," ucap Catalina sambil berlalu. Gadis itu melewati beberapa tamu, membelah aula dan pergi menuju tangga.
"Jika aku Daddy Alric, apakah pria di ujung sana dipanggil Daddy Simon?" tanya Alric dengan mengendikkan dagunya. Mary menoleh, mendapati Simon ada di sana tengah berbicara dengan Vincent. Simon tiba-tiba menangkap mata Mary yang sedang melihat ke arahnya. Si bungsu keluarga Bernard itu langsung memasang senyum lebar memesona dan mengedipkan sebelah mata. Alric langsung menarik tangan Mary, menghadapkan tubuh Mary ke arahnya.
"Jangan lihat," ucap Alric. Mary menaikkan alisnya mendengar nada kesal di suara Alric.
"Aku suka semua anggota keluarga Bernard kecuali pria itu."
"Dan kenapa kau tidak suka bocah itu?" tanya Mary penasaran. Tanpa sadar telah memulai percakapan dengan Alric.
Alric terlihat menyunggingkan senyum. Ia agak senang Mary memanggil Simon dengan kata 'Bocah'. Hal itu memberi gambaran pada Alric bagaimana sebenarnya gambaran Simon di otak Mary.
Hanya seorang bocah bagi Mary ... bukan seorang pria. Alric tersenyum dalam hati.
"Karena ia pernah memukulku," jawab Alric. Tidak mau mengatakan bahwa alasan sebenarnya karena ia tidak suka pada Simon. Simon merupakan kekasih Mary di masa lalu. Itulah alasan sebenarnya Alric tidak menyukai si bungsu Bernard itu.
"Kau belum menjawab pertanyaanku," ucap Alric sambil memeluk pinggang Mary. Ia sengaja memeluk istrinya itu dengan erat, memegang tangannya dan siap berdansa.
Mary mengernyit. Lalu alunan melodi yang sudah dimulai membuat Alric mulai membimbing langkahnya berayun di lantai aula. Mulai berdansa.
"Pertanyaan yang mana?"
"Soal Daddy Simon."
"Oh ... Leon punya Daddy Claude. Tapi Catalina baru saja menambahkan dirimu. Daddy Alric untuk Leonard," ucap Mary.
"Lalu Simon?"
"Setahuku bocah itu mengajari putranya memanggilnya Papa."
"Lalu diri mu? "
"Maksudmu?"
"Kau Mama Leon ...."
"Kau dengar sendiri tadi Catalina memanggilku apa kan ...."
"Mommy Mary ... yang melahirkan Leon ... dan Mommy Lina yang mengasuhnya." Alric seolah mengucapkan penjelasan itu untuk dirinya sendiri.
Wajah Mary tiba-tiba menjadi sendu. " Ya ... Leon beruntung, Keluarga Bernard akhirnya mencarinya. Aunty Yoana sampai menculik Catalina untuk mengembalikan keponakannya kembali ke keluarga Bernard."
__ADS_1
Alric mengangguk, menatap Mary dan merasakan perasaan kasih yang makin besar untuk istrinya itu. Masa lalu Mary membuat Alric bertekad akan membuat Mary menerima dirinya, lalu membahagiakan wanita itu.
"Well ... Simon sudah bertanggung jawab pada putranya sekarang. Ia akan mencari Mama untuk Leon nanti. Sementara itu, Mommy Mary akan menjadi Mommy untuk anak-anakku." Alric dengan sengaja mengecup puncak kepala istrinya. Mereka masih berayun pelan di tengah lantai dansa.
Mary terkejut menerima kecupan itu, ia menyipitkan mata, mendongak memandang Alric.
"Apa kau bilang? Anak-anak?" Mary menghentikan langkahnya sejenak. Namun Alric terus mengayun sehingga ia terpaksa mengikuti.
Alric tidak menjawab. Ia spontan mengucapkan isi kepalanya tadi. Ia tidak akan membuat Mary merasa ngeri dengan rencananya untuk memiliki banyak putra. Tentu saja Mary lah yang akan menjadi ibu dari anak-anaknya nanti. Namun, ia tahu Mary belum siap mendengar rencana besarnya itu dan belum mau bekerja sama. Ia masih harus merebut dan menaklukkan hati Mary dulu.
"Kenapa kau diam saja! Apa maksud ucapanmu tadi!" desis Mary.
Alric dengan sengaja menundukkan wajahnya ke arah wajah Mary yang mendongak. Membuat wanita itu berkedip lalu membelalak karena wajah mereka yang terlalu dekat.
"Jangan dipikirkan, Mary Sayang. " Alric terus menatap di kedalaman mata biru Mary. Mary berusaha mengalihkan tatapan, namun sorot mata Alric seolah memaku kedua bola matanya.
"Gaun ini jadi makin cantik ketika kau memakainya ... pilihan yang bagus," bisik Alric, sengaja mengucapkannya dengan bibir hampir saja menyentuh bibir istrinya.
Mata Mary makin melebar, ia juga merasakan jari-jari Alric yang memeluk pinggangnya mulai mengelus bagian punggung.
"Hentikan tanganmu ... Gaun ini di berikan Annete. Dia yang memilihnya," bantah Mary.
"Sejujurnya ... aku yang memilih gaun ini, dan menyuruh Annete memberikannya padamu. Pilihan ku benar ... gaun ini sangat cantik kau kenakan," bisik Alric di telinga Mary.
Mary menjauhkan kepala dan tubuhnya. Menjauh dari aroma Alric yang seolah menyerang seluruh inderanya saat ini. Ia sengaja mengerutkan bibir, menyembunyikan jantungnya yang berkhianat dan mulai berdetak dengan debaran aneh. Mary makin kewalahan, ketika Alric menariknya makin dekat, menolak ketika Mary menjauh.
"Jangan menjauh ... dansanya sebentar lagi selesai," bisik Alric lagi.
Mary menelan ludah, merasakan tangannya mulai berkeringat. Ia mengatur napas dan berharap alunan lagu benar-benar akan berhenti sebentar lagi.
Ketika musik berhenti beberapa saat kemudian, Alric menyimpan senyumnya ketika melihat wajah Mary yang merona. Wanita itu menunduk untuk menyembunyikan hal itu.
Sedikit banyak rona wajahnya itu membuktikan ... usahaku setidaknya memengaruhimu, Marylin.
Di pinggir lantai dansa, Simon berdiri sambil memandang penuh rasa penasaran. Simon melihat hubungan pasangan itu sepertinya mengalami perkembangan. Rasa penasaran membuatnya menghampiri Marylin dan Alric yang sudah menepi.
"Mary ... apakah kau lelah? Bagaimana kalau satu putaran lagi berdansa denganku?"
"Dia lelah. Kami akan mencari tempat duduk, Bernard. Pergilah."
"Aku bertanya pada Mary, Lucca."
"Aku menjawab untuknya, Bernard."
"Dia punya mulut dan keinginannya sendiri, Lucca. Jika dia menolak, dia akan mengatakannya sendiri." Simon dengan sengaja membuat Alric kesal. Ia menatap Marylin, sengaja menatap dengan tatapan memuja, tatapan yang ia latih ketika ia mulai merayu perempuan.
"Ayolah, Mary cantik ... hanya satu putaran dansa," ucap Simon sambil mengedipkan mata.
Mary mendengus pelan, lalu ia menyunggingkan senyum pada Simon.
"Tidak, Simon. Alric benar. Aku lelah."
"Kau mematahkan hatiku," ucap Simon sambil memperlihatkan wajah terluka. Mary jadi tertawa geli.
"Kau tidak akan membuatku tertipu dengan wajah itu, Bocah ... Pergilah. Aku benar-benar ingin istirahat dan mencari tempat duduk."
Simon menyeringai, ia mengangguk lalu berpamitan dan bermaksud membuat alric gusar dengan mencium pipi Mary. Simon mulai mendekat dan mencondongkan tubuh ke arah pipi Mary. Telapak tangan Alric langsung mendarat di tengah dadanya.
"Memangnya apa yang mau kau lakukan? Pergi saja, Bernard."
"Kau cemburuan sekali, Lucca. Aku hanya ingin mencium pipinya. Lagi pula aku dan dia akan menjadi saudara ipar."
"Aku bilang pergi saja, Bernard," ucap Alric dengan nada dingin.
Simon tertawa geli. Ia mengedipkan matanya lagi ke arah Mary.
"Awas Mary ... Suamimu cemburuan. Dia ingin dirimu hanya untuk dirinya sendiri."
"Tentu saja. Dia istriku, Bernard!"
Simon tertawa, lalu pergi meninggalkan pasangan itu. Mary mengatur wajahnya tetap datar, ia melirik dan menyadari Alric memang terlihat sangat gusar oleh perilaku Simon tadi. Alric tidak membantah ucapan Simon yang mengatakan kalau ia suami yang cemburu.
Cemburu? Mungkinkah? dan jika memang benar ia cemburu, apa artinya itu? tanya Mary dalam hati.
"Ayo Mary. Kita cari udara segar. Kita keluar ke sana?" tanya Alric. Menangkupkan tangannya ke punggung Mary dan mengarahkannya ke arah pintu lebar yang memperlihatkan pemandangan kolam renang di luar mansion. Mary mengangguk, lalu mereka bersama-sama melangkah meninggalkan aula itu.
NEXT >>>>
**********
From Author,
Halo My readers, semoga semuanya sehat selalu ya. Tetap taati anjuran di rumah aja. 😊😊🤗
Jangan lupa klik like, love, bintang lima, vote dan juga komentar kalian. Author minta maaf karena waktu up tidak tentu. Menyesuaikan dengan waktu luang yang author punya untuk menulis.
__ADS_1
Ikuti kisah selanjutnya ya. Terima kasih.
Salam hangat, DIANAZ.