
Vincent berjalan pelan mengitari setiap ruangan di dalam kamar sewaan Rodrigo. Tali pengikat Catalina waktu itu masih tergantung di tengah ruangan pada sebuah palang kayu. Vincent mendongak, mengikuti alur tali sampai ke ujung palang.
Ia mengambil ponselnya dan menelpon Blaird. Matanya beralih memandang keluar kaca jendela.
"Kau melihatku kan?" tanyanya.
Terdengar tawa terkekeh menjawab pertanyaan Vincent.
"Ya ... ah, kau tepat sasaran bila berdiri di sana, Nueva. Dorrr!" ucap Blaird diakhiri dengan terkekeh kembali.
"Mereka semua sudah mengawasi tempat ini bukan?" Vincent bergerak ke sudut ruangan, tempat sebuah tongkat baseball tergeletak begitu saja.
"Ya ... sudah siap di posisi masing-masing. Akan segera melaporkan jika Rod pulang dan mulai mendekati gedung itu."
Jawaban Blaird tanpa sadar membuat Vincent menganggukkan kepalanya, lalu ia membungkuk, mengambil tongkat pemukul bola itu dengan tangannya yang tidak memegang ponsel.
"Kau tahu Blaird ... sepertinya Aku baru saja menemukan tongkat pemukul yang Rod gunakan untuk menghajar Catalina."
Blaird mengernyit mendengar ucapan Vincent.
"Sejak dulu Rod suka sekali menyiksa musuhnya sebelum akhirnya membunuh. Dia banyak dipekerjakan di dunia hitam, terkenal tidak ragu dan suka melakukan poreplay sebelum adegan klimaks."
Vincent terkekeh, "membunuh seperti bercinta bagi Rod. Begitukan maksudmu ...."
Kedua pria itu terkekeh bersama.
"Sudah menjelang malam ... kuharap apapun pekerjaan yang Rod lakukan selesai dan ia pulang ke sini," ucap Vincent.
"Ya dan selesaikan dengan cepat, Nueva. Kau tak perlu bercinta lama-lama dengan pria itu," ucap Blaird , yang membuat Vincent mendengus.
"Tentu saja. Aku sudah muak dengan pria itu. Lebih cepat dia mati, itu lebih baik ... awasi semuanya Blaird.
Vincent memutar tongkat di tangannya, lalu ia kembali ke ruangan depan. Ia duduk dengan nyaman pada satu-satunya sofa yang ada di sana, melipat kaki dengan santai dan kembali menunggu.
**********
Suara ketukan di pintu membuat Yoana yang berbaring di ranjang membuka matanya. Ia tidak tidur, hanya merasa lelah karena sudah berputar dan berkeliling kamar serta tidak dapat melakukan apapun.
Kunci pintu terdengar diputar dari luar, lalu pintu di dorong dan kepala Simon muncul di celahnya.
"Hei, Kak! Apa kabarmu!?" sapa Simon dengan tersenyum.
Yoana memejamkan matanya kembali.
"Ada apa?" tanyanya dengan mata terpejam.
"Paman menyuruhku mengajakmu turun untuk makan malam."
"Aku tidak lapar. Pergilah!"
"Kau makan hanya sedikit siang tadi. Ayolah ... jangan buat aku khawatir."
__ADS_1
Tidak ada respon. Yoana masih tidak bergerak dari tempat tidur.
"Apa aku perlu bawakan makan malamnya ke atas?" tanya Simon dengan nada membujuk yang manis. Jika saja ia tidak merasa gelisah, Yoana pasti akan memanfaatkan moment ini dengan mengerjai Simon. Tidak setiap hari Simon bersikap manis, penurut dan pengertian.
"Tidak menjawab. Berarti iya. Baiklah, aku akan turun dan membawa nampannya ke sini."
Simon berbalik lalu keluar dari kamar. Suara klik dari pintu yang kembali terkunci membuat Yoana menarik napas panjang. Ia kembali dikurung.
Simon sampai ke dapur, meminta seorang pelayan menyiapkan makan malam Yoana dan menunggu ketika pelayan itu menata makanan di atas nampan, lalu setelah sebuah gelas minum ditaruh, nampan itu akhirnya siap. Simon mengucapkan terimakasih pada pelayan itu kemudian berbalik membawa nampan.
Ia bertemu Hamilton ketika akan menaiki tangga.
"Yoana tidak mau keluar?" tanya Hamilton.
"Iya, Paman. Yoan terlihat ...." Simon berhenti.
"Terlihat apa, Simon?"
"Entahlah, Paman ... aku menjadi sedih ketika melihatnya. Vincent akan kembali bukan?" tanya Simon, mengemukakan kegelisahannya sendiri. Karena ia tahu, kakaknya akan semakin menyedihkan jika pria itu tidak kembali.
"Tentu saja! Ia akan kembali! Ia harus kembali!" ucap Hamilton tegas. Simon menarik napas panjang dan akhirnya mengangguk.
"Naiklah ... bujuk kakakmu untuk makan," perintah Hamilton lagi. Simon mengangguk lagi sebelum berbalik dan mulai menaiki tangga.
Hamilton berjalan melewati aula, ia sendiri sudah tidak bernafsu untuk makan. Ia tiba di pintu depan, mendorongnya dan keluar ke beranda depan. Seth dan juga seorang pengawal lain yang berdiri di sana mengangguk hormat padanya. Hamilton balas mengangguk. Matanya mengitari seputar halaman luas mansion. Ia tahu di tengah kegelapan itu para pengawal mereka berjaga di posisinya masing-masing.
Hamilton menatap langit malam yang gelap, hatinya terasa berat dan gelisah. Sebelum seluruh anggota Bernard kembali, Hamilton tidak akan merasa tenang.
Atau Yoana tidak akan tahu lagi bagaimana ia melanjutkan hidupnya tanpamu ....Kau juga Catalina ...cepatlah sembuh dan kembali, agar Claude dan juga Leon tidak lagi merasa khawatir....
**********
Sudah hampir tengah malam, Simon keluar dari kamarnya dan melangkah tanpa alas kaki. Dinginnya lantai mansion di malam hari tidak membuat Simon berhenti. Entah kenapa ia khawatir pada kakaknya.
Simon berhenti di depan pintu kamar Yoana yang dijaga oleh pengawal mereka.
"Bill ... Kau memegang kuncinya?" tanya Simon.
"Ya, Tuan Simon."
"Kalau begitu bukakan pintunya. Aku mau lihat apakah kakakku memakan makan malamnya,"
Pengawal itu mengangguk dan mengeluarkan kunci dari kantong. Simon mendorong dan mengintip. Yoana sudah mematikan lampu, hanya cahaya redup lampu tidur yang menerangi kamar itu. Simon melihat di atas ranjang tidak ada kakaknya. Ia mengitari kamar dan bergerak ke arah saklar lampu di dinding. Baru saja ia akan menyentuh saklar, sebuah tangan mendarat di bahu Simon. Ia menoleh dan lalu berteriak kaget.
"Aaaaaaa!"
Lampu berpijar menerangi kamar, Yoana menatap adiknya dengan cemberut.
"Kenapa kau berteriak, Simon Bernard! Apa kau kira aku hantu!"
__ADS_1
Simon memegangi dadanya yang masih berdebar.
"Ya ampun. Yoan ... Kakakku sayang, sebaiknya kau bercermin. Kau memang mirip hantu dengan rambutmu itu ...."
Yoana bersedekap. Sebenarnya ia merasa lucu karena ketakutan yang tadi ia lihat di wajah Simon. Sudah besar, bahkan sudah memiliki putra, adiknya masih takut pada hantu.
"Sudah ada kabar darinya?"
Simon tidak perlu bertanya kabar siapa yang ditanya oleh Yoana. Ia tidak menjawab. Hanya melirik pada nampan yang masih tidak disentuh oleh kakaknya itu.
"Kau tidak makan," ucap Simon lirih.
"Pergilah ... datang kemari jika ada kabar dari Vincent!"
Simon menahan lengan kakaknya. Ia merasakan tangan Yoana bergetar.
"Yoan ... tenanglah ... Vincent pasti kembali."
Yoana diam tidak bergerak. Simon lalu mendekap kakaknya itu di dada. Sudah sejak lama tingginya sudah melebihi kakaknya itu.
"Kumohon tenanglah. Vincent tahu apa yang dia lakukan." Simon merasakan tubuh Yoana bergetar seperti menahan tangis.
"Menangislah Yoan. Jika bisa membuatmu merasa lebih baik ...."
Mendengar ucapan itu tangis Yoana meledak. Ia seperti sudah tidak bisa menahan beban di hatinya lagi, ia menangis pilu, terisak-isak dalam pelukan Simon.
Sesuatu di hati Simon seperti terbuka, memberinya pandangan baru. Yoana yang kuat dan angkuh akhirnya menangis, memperlihatkan kesedihan dan kelemahannya pada Simon. Sudah berapa kali sejak kedua orang tua mereka meninggal, dialah yang selalu dipeluk dan dihibur oleh Yoana maupun Claude.
Simon merengkuh kakaknya, berpikir sudah saatnya ia belajar menjadi lebih kuat, lebih bisa diandalkan. Agar kedua kakaknya tidak lagi perlu mengkhawatirkannya dan bisa mengandalkannya untuk apapun.
"Menangislah Yoan ... Vincent akan kembali ...percayalah padanya," bisik Simon lirih.
N E X T >>>
**********
From Author
Haiiiiiii .... yg blom klik favorite, yuks di klik sekarang yok... biar selalu dapat notifikasi bila Embrace love update.
trus klik jempol jangan lupa. Gak lama loh klik jempol ituh, hehehe.
Kasih komentar kalian ya, biar tambah semangat authornya buat nulis lagi. Kritik dan saran juga thor terima kok.
Bintang lima yang belum kasih rating tolong di klik di episode ini ya....
Terimakasih author ucapin. Maaf banyak maunya. Kayaknya like nya blom nyampe 200 ...bantu dong biar lebih..ya.. ya ...ya
Terimakasih sekali lagiii
Salam, DIANAZ.
__ADS_1