Embrace Love

Embrace Love
Ch 108. Apologise


__ADS_3

"Kau sudah siap ,Sayang?" serge mengetuk pintu kamar Marylin dan menunggu.


"Ya ...." Pintu terbuka beberapa saat kemudian, lalu Mary muncul dengan gaun berwarna hitam.


"Ah, cantik seperti biasanya, gadisku sungguh mempesona," puji Serge.


"Sudah pas kah? Sesuai dengan tempat yang kau katakan itu?" tanya Marylin. Serge menyuruhnya berdandan dan memakai gaun pesta yang mewah, karena menurut Serge, restoran yang bertempat di lantai atas puncak menara Premier Building adalah restoran yang didatangi hanya oleh kalangan tertentu dengan kelas tertentu.


Marylin mengernyit dan menjadi sedikit tidak senang mendengar penjabaran Serge tentang tempat itu. Entah kenapa ia lebih suka jika bertemu Alric di cafe biasa seperti yang ada di dekat apartemen mereka. Tapi tentu saja sang Bilioner yang arogan itu tidak akan setuju.


"Sangat pas, Sayang. Kita sangat serasi," Serge tersenyum dan mengulurkan tangannya pada Marylin.


Marylin tersenyum memandang Serge yang mengenakan tuxedo hitam.


"Kau juga kelihatan sangat tampan," ucap Mary.


"Tentu saja, Mary. Sergio Eneas ... siap untuk melayanimu," ucapnya elegan. Membuat senyum geli tersungging di bibir Mary.


"Ah, akhirnya kau tersenyum. Begitu seharusnya, Sayang. Jangan tegang dan jangan takut. Aku bersamamu." Serge menepuk-nepuk punggung tangan Mary yang melingkari sikunya.


Mary mengangguk dan melangkah bersama Serge. Berusaha menekan rasa takutnya dan menampilkan wajah yang tenang.


**********


Alric tiba-tiba saja merasa tangannya berkeringat ketika melihat sosok Mary dan Serge yang mendatangi meja yang ia pesan bersama seorang pelayan restoran.


Alric dan Diego segera berdiri ketika Mary dan serge tiba. Alric mengulurkan tangan yang hanya disambut oleh Serge, kedua pria itu bersalaman. Kemudian tangannya di abaikan ketika terulur ke arah Mary. Wanita itu hanya menatap dengan wajah datar, tidak berniat menyambut uluran tangannya.


Alric tersenyum, lalu menarik tangannya kembali.


"Silakan duduk," ucap Alric.


Serge menarik kursi untuk Marylin, lalu wanita itu duduk. Tampilan wajahnya tenang, namun di hatinya bergemuruh dengan rasa sakit ketika melihat wajah Alric.


"Terima kasih mau datang dan menemuiku, Marylin ...." Alric memulai, memandang ke wajah Marylin yang terlihat tenang. Sapuan make up tipis membuat wanita itu makin tampak cantik. Gaun hitam yang elegan membalut tubuh Marylin, membuat Alric memandangnya dengan cara berbeda setelah dendam di hatinya hilang.


Makan malam dihidangkan kemudian, namun Marylin tidak menyentuhnya sama sekali. Membuat Serge akhirnya mengambil keputusan untuk mempercepat pertemuan itu agar mereka bisa pulang.


"Kurasa lebih baik kau mengutarakan maksud keinginanmu sekarang, Tuan Lucca. Jadi aku dan Mary bisa pulang lebih cepat," ujar Serge.


Alric mengangguk, mengerti jika Marylin mulai merasa tidak nyaman.


" Serge, bisa aku bicara sebentar? Di sana?" Diego meminta Serge mengikutinya, memberi waktu pada tuannya untuk bicara berdua dengan Mary.


Serge melirik Mary, lalu memutuskan mengiyakan ajakan Diego setelah melihat tidak ada respon larangan dari Mary.


"Baiklah ...." dua pria itu meninggalkan Alric dan Marylin untuk bicara. Mereka melangkah menuju sudut ruangan menuju meja bar, kemudian duduk di kursi tinggi yang ada di sana.


Diego dan Serge segera menyebutkan minuman yang ingin mereka pesan. Lalu sambil menyesap minuman masing-masing, mata mereka mengawasi ke arah meja dimana Mary dan Alric terlihat jelas namun tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.


Marylin menatap Alric sekilas, lalu matanya beralih ke luar kaca. Meja mereka berada di pinggir kaca, menyuguhkan pemandangan indah malam hari. Ribuan kerlip cahaya berkedip di tengah gelapnya malam, semuanya tampak kecil dilihat dari ketinggian tempatnya duduk sekarang.

__ADS_1


"Apakah Serge sudah mengatakan apa niatku ingin menemuimu, Marylin?" tanya Alric.


Marylin melirik dengan mata birunya, tidak memungkiri bila pria di seberang tempat duduknya itu tampak tampan dan gagah dengan balutan pakaian formal yang pasti di jahit oleh profesional terampil itu.


"Ya," jawab Mary singkat. Alric terlihat menarik nafas lega. Sejak tadi tidak bersuara, akhirnya ia mendengar satu kata dari mulut wanita itu.


"Aku akan mengatakannya secara langsung padamu ... Aku meminta maaf ... mengenai penculikan dan semua apa yang kau alami di mansion Cougar ... terutama ...." Alric berhenti bicara ketika melihat kilau rasa sakit melintas di wajah Mary.


"Aku tahu perbuatanku tidak bisa dimaafkan. Maaf tidak mengubah apa yang sudah kau alami, tidak mengurangi rasa sakitmu ... namun tetap saja bagiku, aku perlu melakukannya, butuh melakukannya ... Atau aku tidak akan bisa hidup dengan tenang ...."


Hening, tidak ada tanggapan dan jawaban dari Marylin. Tapi wanita itu sekarang telah fokus menatapnya, tidak lagi melihat ke arah pemandangan di luar kaca.


"Aku akan melakukan apapun yang kau inginkan agar dapat meringankan penderitaan yang telah kusebabkan untukmu. Aku tahu aku tidak termaafkan, tapi tetap saja ... aku ingin minta maaf Marylin ...."


Marylin kemudian menunduk, kilas ingatan kembali menyiksa fikirannya, ketika mengingat perbuatan Alric yang di lakukan di lantai dingin ruangan kerja mansion Cougar. Rasa perih kembali terasa di luka hatinya yang belum benar-benar sembuh.


"Aku akan bertanggung jawab ... Apapun keinginanmu. Bila kau ingin aku dipenjara, maka aku akan menerimanya, bila kau menginginkan ganti rugi ... dalam bentuk apapun ... aku juga akan memberikannya."


Marylin menyipitkan mata, tertarik dengan ucapan Alric mengenai ganti rugi dalam bentuk apapun. Sangat ingin tahu apa maksud sesungguhnya dari ucapan itu.


"Dalam bentuk apapun ... coba kau jelaskan apa saja contohnya Tuan Lucca," ucap Marylin tenang.


Alric terdiam sejenak, bingung memilih kata-kata. Pengalaman dengan Catalina membuatnya menghindar mengucapkan kata uang atau benda-benda mewah apapun yang mengarah pada ganti rugi dalam bentuk benda dan harta. Catalina tersinggung dan mengatakan ia mencoba membeli maaf dari kakaknya. Alric tidak mau Marylin juga berfikiran sama.


"Kenapa Anda diam, Tuan Lucca? Apakah yang anda maksud ... Aku bisa meminta uang, atau benda apapun yang aku inginkan?" tanya Marylin.


"Jika itu yang kau inginkan, Marylin ...." jawab Alric.


"Dan satu lagi ... Mengenai ibumu ... dokterku merekomendasikan sebuah tempat perawatan terbaik. Jika kau mengizinkan, aku akan memindahkannya."


Marylin langsung teringat pada ibunya. Perawatan jangka panjang yang dibutuhkan ibunya membuat Mary harus menyusun anggaran dan mencari kelas perawatan yang mampu ia tanggung. Ia langsung memindahkan ibunya ketika mendapatkan kontrak dengan perusahaan Bernard. Tapi tentu saja bukan yang terbaik. Namun sudah baik dibandingkan yang mampu ia sediakan dulu.


"Apakah kau perlu waktu memikirkannya?" tanya Alric.


Marylin menggeleng, hatinya masih sakit mengenang perbuatan pria itu. Tapi setidaknya, ia melihat ketulusan di mata Alric, sepertinya pria itu benar-benar menyesal.


"Sudah selesaikah? Atau ada lagi yang ingin kau katakan? Karena aku mau pulang," ucap Marylin tiba-tiba.


Alric menarik nafas panjang, tidak ada jawaban apapun dari wanita itu, sebuah permintaan atau keinginan sebagai bentuk permintaan maafnya diterima.


Setidaknya aku sudah meminta maaf, dan setidaknya ia mau mendengarnya. Batin Alric, merasa sedikit lega.


"Satu lagi, Tuan Lucca ... Apa kau sudah minta maaf pada Serge? " tanya Marylin.


"Serge? Oh ... itu ...."


"Belum? Kalau begitu panggil dia kemari, katakan juga kau minta maaf padanya seperti yang kau katakan padaku tadi. Kau menculik dan mengurungnya juga bukan ...."


Alric tersenyum, lalu mencoba mencairkan suasana dengan sedikit bergurau pada Marylin.


"Kau sangat mencintai Serge ya ... Sudah bertahun tahun sejak kasus Alexandro, kau masih bersamanya sampai saat ini."

__ADS_1


Marylin menatapnya datar, lalu melirik ke arah Serge.


"Kenapa kalian tidak menikah saja?" tanya Alric sambil tertawa kecil.


Marylin balas tersenyum dengan mata menatap tajam. Entah kenapa emosinya seolah terpancing mendengar nada ingin tahu dari Alric.


"Itu bukan urusan Anda, Tuan Lucca ... Aku menyuruh Anda minta maaf pada Serge. Bukan membicarakan hubungan pribadi kami ...."


"Maaf, jangan tersinggung ... Aku hanya sedikit penasaran."


"Rasa penasaran dapat membahayakanmu, Tuan ...."


Nada ancaman di kata-kata Marylin memancing senyum geli dari Alric. Ia makin terpancing menggoda emosi Marylin muncul.


"Apa ada hubungannya dengan si bungsu Bernard itu?"


"Maksudmu?"


"Well ... kau punya anak dengan Simon Bernard selagi kau masih bersama Serge. Bukan begitu? Serge masih bersamamu hingga kini, berarti dia memaafkanmu bukan? Lalu kenapa kalian tidak menikah saja?"


Marylin tertawa kering, " kau tidak mengerti arti dari kata bukan urusanmu, Tuan Lucca!"


"Maaf," Alric tidak dapat menahan seringainya ketika melihat wajah kesal Marylin.


Slurrrrrrrrrr!!!!


Marylin tiba-tiba melemparkan isi gelas minumannya sampai habis ke arah wajah Alric. Darahnya naik ketika melihat laki-laki itu menyeringai.


Alric memejamkan mata ketika cairan minuman membasahi wajahnya, lalu menetes ke dada, membasahi setelan mahalnya yang elegan. Kemudian perlahan ia membuka mata, menunduk menatap pada noda di pakaiannya sambil mengusap wajah.


Marylin tersenyum sinis, " sayang sekali setelan mahalmu, Lucca! Kuharap tidak dapat diperbaiki lagi," ucapnya sinis.


Lalu Marylin bangkit, berdiri dengan santai sambil berlalu menuju tempat Serge.


"Serge, ayo pulang ...."


"Itu ... tadi kenapa?" tanya Serge penasaran.


Marylin tidak menjawab, hanya berbalik dan pergi lebih dulu. Serge menyeringai, lalu berpamitan pada Diego dan hanya melambaikan tangan pada Alric.


**********


From Author,


Jangan lupa tekan like, love dan bintang lima ya. tinggalkan jejakmu lewat komentar.


Yang suka cerita di novel ini, yuk bantu author dengan rekomendasikan ke teman-temannya, siapa tahu temannya juga suka dan menikmati ceritanya.


Klik profil Author dan tekan tombol 'karya' nikmati novel-novel karya author yang lainnya. Mudah-mudahan pada suka juga.😍😍💞


Terima kasih semua,

__ADS_1


Salam hangat, DIANAZ.


__ADS_2