
Annete akhirnya memutuskan agar ia dan Mary mengantarkan box makan siang itu ke apartemen Alric berdua. Jadi akan adil. Dengan langkah diseret, Mary akhirnya menurut, karena Annete akan terus cerewet dan memaksanya sampai ia mau ikut mengantarkan makan siang itu. Setidaknya ia tidak sendiri pergi ke sana.
Annete mengetuk pintu dan dibuka oleh Alric pada ketukan ke tiga.
"Mo ... Uh ... Ann ... Mary ...." Alric terlihat salah tingkah. Lalu mempersilakan dua wanita itu masuk.
"Ini resepku. Enak sekali ....jadi kami memutuskan Anda juga harus mencicipinya, " ucap Annete. Berdoa agar Mary tidak menyadari sapaan aneh Alric yang terputus di awal. Alric hampir saja memanggilnya Mom di depan Mary.
"Terima kasih, Ann. Aku memang sudah lapar dan berniat akan keluar mencari makan siang."
"Oh, kalau begitu boleh aku membawa ini ke dapur?" Annete tidak menunggu jawaban, karena wanita itu langsung melenggang ke arah dapur meninggalkan Mary bersama Alric.
Mary bersedekap dan diam sambil menunggu Annete kembali.
"Duduklah dulu, Mary ...."
Mary tidak mengindahkan ucapan Alric.
"Terima kasih mau mengantarkan makan siang untukku,"
"Annete yang mau mengantarkan untukmu. Bukan aku."
"Tapi kau ikut, jadi tetap saja ..."
"Tidak ada maksud apa-apa. Ann yang memaksaku."
"Tetap saja aku senang. Kau mau datang kemari. Sendirian di sini agak membosankan."
"Makanya pergi bekerja! Jangan setiap hari mengintai apartemenku!"
Alric tiba-tiba tertawa. Ia menatap Mary dengan mata berkilau. Wanita itu sudah mulai mau berbicara dengannya.
"Aku bekerja Mary ... dari rumah. Menggunakan itu." Alric menunjuk pada sebuah laptop yang ada di atas meja di sudut ruangan.
"Kerjakan di kantor mu kan bisa! Cari kesibukanmu sendiri! Jangan sibuk datang terus ke apartemenku!"
"Tapi prioritasku sekarang memang ada di apartemenmu, Mary. Bukan di kantorku."
"Memangnya apa yang ada di apartemenku!?"
"Tentu saja calon istriku yang amat cantik meski dalam keadaan marah sekalipun dan juga anakku yang sedang tumbuh di dalam rahimnya. Jadi aku harus selalu mengawasi dan menjaga mereka bukan!? Karena mereka belum tinggal bersamaku ...."
Mary menahan otot-otot wajahnya agar jangan menimbulkan ekspresi apapun. Ia menahan rasa kesal bercampur geli melihat wajah bodoh Alric yang menantap ke arah perutnya.
"Bilang Annete, Aku pulang duluan!" seru Mary sambil berbalik dan melangkah cepat meninggalkan apartemen Alric.
Annete perlahan keluar dari dapur. Senyum lebar tersungging di bibir wanita itu.
__ADS_1
"Anak nakal! Mulutmu manis juga! Berusaha lebih keras! Aku akan memukulmu jika tidak juga menunjukkan perkembangan ke arah pernikahan."
Annete menepuk punggung putranya sambil terus melangkah menuju pintu keluar dengan tertawa kecil.
"Mom ... Kadang aku merasa kau lebih bersikap keibuan pada Mary dan Catalina, padaku kau tidak bersikap begitu... dulu kau mengharapkan melahirkan anak perempuan ya," sungut Alric.
Annete tersenyum lebar," Mereka dua gadis yang sangat menyenangkan. Bisa diajak memasak dan berjalan-jalan sambil bergosip! Kau sama sekali tidak bisa diajak begitu."
"Tapi aku bisa memasak, Mom."
Annete mengibaskan tangannya dan segera berlalu dari apartemen putranya.
*********
Alric mendapatkan hari dan tanggal pemeriksaan kandungan Marylin selanjutnya. Tentu saja dari ibunya yang makin dekat dengan kedua gadis itu.
Ibunya juga mengatakan kalau Catalinalah yag akan mengantarkan Mary ke tempat dokter Luigi.
Mengingat janjinya dengan Claude untuk memberitahu tanggal pemeriksaan Mary agar ia bisa menggantikan Catalina untuk membawa Mary ke dokter yang ia pilihkan sendiri. Tentu saja seorang dokter wanita. Alric menelepon Claude. Ia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh Claude. Tapi punya kesempatan untuk membawa Mary dan melihat detak jantung bayinya secara langsung dari layar monitor dokter kandungan membuat Alric begitu berharap dan sangat antusias.
"Ya!? Ada apa, Lucca!" terdengar jawaban dengan nada kesal dari Claude.
"Hei, Claude ... eh, kau sedang kesal ya!?"
"Ya ! Aku sangat kesal sekarang. Jadi jika tidak terlalu penting, jangan ganggu aku!"
"Apa! Jadi besok hari kunjungannya!?"
"Ya!"
"Baiklah. Aku akan ke sana dan membawa Catalina pergi ketika mereka bersiap akan berangkat. Jadi kau siaplah dengan mobilmu sendiri dan bawa Mary periksa ke dokter manapun yang kau pilih."
"Maksudmu ... Kau akan memaksa Catalina ikut denganmu!?"
"Ya! Sudah saatnya ia bicara padaku! Sudah berapa hari ia menolak bertemu dan menolak bicara denganku!?"
Alric terdiam. Menduga inilah alasan nada suara Claude terdengar jengkel dan tidak sabar saat pertama mengangkat teleponnya tadi.
"Baiklah. Aku akan siap besok."
"Baik. Dan satu hal, Lucca! Aku tidak pernah bilang kalau dokter itu tampan!"
Lalu hubungan itu terputus. Alric menatap ponselnya dan menaikkan alis. Ketara sekali nada cemburu dari suara kepala keluarga Bernard itu.
"Kau sendiri bilang dia tampan, Claude. Memangnya setampan apa dia? sampai kau cemburu seperti itu. Seperti tidak percaya diri saja ... " Alric mencibir ke arah ponselnya, seolah sedang mengejek kecemburuan Claude Bernard.
*********
__ADS_1
"Kau mau kemana Yoana?" tanya Vincent. Ia sengaja pulang ke mansion siang itu karena mendapat laporan dari Seth bahwa Yoana tengah bersiap-siap pergi, Yoana juga akan mengajak Leon .
"Vince!? Kau pulang!? Mau makan siang di sini?" tanya Yoana.
"Aku tanya kau mau kemana?" Vincent menatap Yoana yang mengenakan gaun mini di atas lutut.
"Oh! Robert mengajakku pergi ke suatu tempat. Katanya hari ini ia sengaja mengambil libur agar bisa mengajakku dan Leon ke wahana bermain yang baru saja di buka untuk umum. Ada tempat bermain yang aman untuk anak-anak beumur kurang dari dua tahun seperti Leon."
Vincent menyipitkan matanya. Kembali ia merasa jengkel pada Yoana.
"Kau baru saja pergi dengannya dua malam yang lalu, Yoana ... Apa kau belum merasa cukup!? Kalian belum ada hubungan apa-apa ... atau aku yang salah mengira? Apa hubungan kalian sudah berkembang jauh? Apa dia sudah melamar mu? Jika belum, maka jaga dirimu Yoana! Kau sama sekali belum berpengalaman dengan pria! sedangkan pria itu sudah pernah beristri satu kali dan pernah punya kekasih beberapa kali!"
Yoana menjaga wajahnya agar tidak menunjukkan rasa gembira. Vincent makin terlihat cemburu dengan kedekatannya bersama Robert.
"Mungkin saja sebentar lagi dia akan melakukannya, Vince. Semoga aku bisa cepat bertunangan. Bila perlu, dia mengajakku langsung menikah saja ... mengingat umurku dan keinginanku untuk punya anak."
"Apa itu tidak terlalu cepat! Kau belum terlalu mengenalnya! Apa kau siap dengan semua keinginan pria yang sudah menganggap mu sebagai kekasih! Ia akan menuntut lebih dari sekedar memegang tangan dan menggandengmu!"
"Oh ... aku sudah mengenalnya, Vince. Kami sudah saling terbuka ... pada tahap ini aku malah ingin mulai mendekatinya secara fisik. Ingin melihat apa aku menyukai sentuhannya atau tidak ...mulai mencium ...."
Ucapan Yoana terhenti ketika Vincent menarik pinggangnya dan mengangkat tubuh mungil Yoan ke dadanya. Setelah tubuh mereka menempel, Vincent menurunkan kepala dan mencium bibir Yoana dengan rakus. Seolah menemukan sumber pelepas dahaga yang sudah lama ia nantikan, Yoana membalas ciuman itu dengan penuh semangat. Ciuman penuh rasa marah dari Vincent menyulut rasa rindu Yoan terhadap sentuhan dari pria yang begitu ia cintai itu. Gairah mereka bangkit, membuat paru-paru mereka terasa akan meledak, karena tidak mau menghentikan ciuman panas yang mereka bagi, menolak untuk berhenti.
Namun, kebutuhan akan udara membuat keduanya akhirnya melepaskan tautan bibir mereka. Yoana merasa limbung, ia akan jatuh jika saja Vincent tidak memeluk pinggangnya.
Vincent memandang mata sayu penuh gairah dan kerinduan yang terpancar dari wajah Yoana. Ia mengatur napasnya sejenak, lalu baru mengucapkan kata-kata yang dengan pasti ia tahu kebenarannya.
"Kau ingin menguji apakah akan menyukai sentuhan Robert atau tidak? Sebelum kau melakukan itu ... Aku ingin megingatkanmu ... sentuhan seperti inilah yang dulu paling kau sukai ...."
Lalu Vincent melepas Yoana, menyebabkan wanita itu sedikit terhuyung. Yoana menumpukan tangannya pada sandaran sofa. Ia memegang dadanya yang berdebar keras. Otaknya kembali lagi ke masa lalu. Ciuman Vincent masih sama ... dengan mudah membuatnya terlarut dan membuat darahnya memanas. Yoana mendongak ke arah tangga. Menatap Vincent yang berderap meninggalkannya dengan perasaan tidak menentu.
NEXT >>>>>
********
From Author,
Hmmm ... Vince ....π€π€π€πππ
Ikuti kisahnya terus, dan bersabar tunggu updatenya ya. Jangan lupa klik tombol like alias jempol, tombol favorite alias love, beri komentar, saran ataupun kritik membangun, biar Author makin semangat untuk nulis.
Bagi yang belum kasih rate, tolongin dong tekan tombol bintang, kemudian klik bintang lima yaππ
Yang punya poin dan koin, bisa bantu author dengan klik Vote agar performa novel ini makin naik.
Untuk semua bantuan para Readers semuanya, author ucapin terima kasih banyakπ
Salam hangat, DIANAZ.
__ADS_1