Embrace Love

Embrace Love
CH 85. Cat and mouse


__ADS_3

Marylin mundur perlahan dari depan pintu kamar Alric, tanpa suara kakinya mengerut di atas lantai dengan mata membelalak ke arah ranjang.


Alric menggeliat, merasa terganggu oleh bunyi ponsel di sebelah tempat tidurnya, ia bergerak, membalikkan badan hingga menelungkup dengan lengan meraba di atas kasur. Marylin makin mundur, bersyukur ponsel yang berada di atas nakas itu berada di sisi seberang dari tempatnya berdiri.


Tangan Alric meraba tanpa hasil, ia akhirnya membuka mata dan menyipit melihat ponselnya yang terus berdering di atas nakas. Alric bergerak, menggeser tubuh hingga tangannya bisa menjangkau ponsel. Gerakan itu membuat tubuh Alric terbuka hingga ke bagian paha. Pemandangan tubuh polos bagian belakang pria itu membuat Marylin memejamkan mata, makin merapat ke dinding.


Setelah memegang ponsel, Alric melirik layar lalu menerima panggilan yang berasal dari Diego. Ia kembali menelungkup dan mulai bicara.


"Sebaiknya ini penting, Diego. Kau mengganggu tidurku ...." Suara serak khas bangun tidur itu terdengar.


Marylin berpikir cepat, ia harus bersembunyi sebelum pria itu menyadari ia juga ada di kamar. Ia melihat pintu di sisi dinding tempatnya berdiri, perlahan ia bergerak tanpa suara dan menyelinap ke dalam, suara Alric terdengar mengecil. Marylin menyadari tempat yang ia masuki adalah walk in closet, berbagai benda pribadi Alrico tampak disusun rapi dan sistematis.


Gerakan dari luar pintu seketika membuat Marylin panik. Ia melihat gantungan beberapa mantel panjang di rak pakaian. Dengan cepat Marylin menyelinap, menyembunyikan tubuhnya di belakang mantel yang tergantung hingga hampir mencapai lantai.


Pintu di dorong terbuka, Marylin makin meringkuk tidak berani bergerak, ia bergidik ketika matanya melihat lewat celah kecil diantara mantel, Alrico Lucca memasuki tempat itu tanpa sehelai benangpun. Pria itu memegang ponsel di telinga dan bicara dengan seseorang.


Rasa takut mencekam Marylin, membuatnya tidak berani bergerak, bahkan untuk bernapas sekalipun. Napasnya mulai terasa sesak.


Alrico menarik sebuah jubah kamar. Memasukkan lengan ke satu lubang jubah, lalu berganti satu lagi dengan bergantian memegang ponsel di telinga.


Marylin menarik napas lega, ketika pemandangan tubuh polos yang membelakanginya itu terlihat sudah tertutup oleh jubah hitam. Napas Marylin makin lega ketika Alric kembali melangkah keluar dari walk in closet.


Dari pintu yang terbuka, Marylin tidak lagi mendengar suara apapun. Ia memberanikan diri melangkah keluar dari balik kumpulan mantel, lalu dengan mengintip terlebih dahulu, Marylin menilai situasi di dalam kamar. Tidak terlihat kelebat maupun sosok pria itu. Marylin keluar tanpa suara dan tahu Alrico tengah berada di kamar mandi. Pintu kamar mandi itu sedikit terbuka dan terdengar suara dari dalam.


Secepat kilat Marylin menuju pintu kamar, membuka kuncinya dan menariknya hingga terbuka. Ia mengintip lagi, takut ada orang yang berjaga di lorong itu. Melihat lorong itu kosong, Marylin mengendap-endap keluar dan menutup pintu seperti semula. Ia menoleh ke kiri dan kanan, lalu melangkah menyusuri lorong, berharap tidak ada yang memergokinya.


Mary tiba di bagian lain dari lantai itu, sebuah ruangan dengan kaca-kaca lebar dan rak rak penuh ribuan buku. Melangkah lagi ke bagian ujung, sebuah ruang gym dengan beberapa peralatan olahraga. Marylin akhirnya menemukan tangga untuk turun, Beberapa saat kemudian ia melirik ke arah bawah dari balkon bagian dalam. Tidak ada siapapun di bawah sana. Hari masih sangat pagi. Ia harus secepatnya keluar sebelum seseorang memergoki lalu menangkapnya.

__ADS_1


Tergesa Marylin menuruni undakan tangga, sangat sepi dan hening. Kaki telanjangnya membantu meredam suara langkah kakinya yang setengah berlari.


Suara pintu terbuka di bagian ujung sebuah lorong membuat Marylin segera mencari tempat bersembunyi. Ia mendorong sebuah pintu lalu menyelinap masuk. Ruangan itu cukup besar, beberapa furniture ditutup dengan selembar kain putih, sepertinya tidak ada yang menempati kamar itu. Namun ruangannya selalu dibersihkan, tampak dari keadaan yang terlihat bersih dari debu.


Marylin berdiri di belakang pintu dan mendengarkan. Langkah kaki orang yang tadi berada di ujung lorong makin mendekat dan terus melaju melewati pintu kamar tempatnya bersembunyi.


Dengan tarikan napas lega, Marylin memilih duduk di atas ranjang yang ditutupi selembar kain putih. Ia mulai memijit keningnya, kalaupun tidak dapat pergi dari sini, setidaknya ia harus mendapatkan ponsel. Ia akan menghubungi Serge dan memberitahu keadaannya saat ini. Serge pasti tahu apa yang harus dilakukan.


Alrico selesai mandi dan segera keluar. Diego tadi menghubunginya, mengatakan kalau Serge sudah sadar dan diletakkan di penjara yang ada di mansion Leopard, hal yang menurut Alric tidak terlalu penting untuk di laporkan. Namun berita kalau Simon Bernard dan Hamilton, pria tua yang mengikutinya juga berada di pulau itu membuat Alric yang merasa tidurnya terganggu menjadi fokus dan mendengarkan dengan seksama.


Simon Bernard belajar memegang kendali salah satu cabang B.corp dibawah bimbingan Hamilton di pulau itu. Rumah pantai yang cukup besar yang berdampingan dengan hotel kelas atas milik keluarga Bernard menjadi tempat pemuda itu tinggal. Dengan adanya informasi ini, Alric berpikir tentang perlukah ia mengawasi pemuda Bernard dan lelaki tua bernama Hamilton itu.


Setelah mengenakan setelan kaos dan celana panjang, Alric menyisir rambut, lalu matanya melihat pintu balkon yang terbuka. Alric menoleh, berpikir dan suatu dugaan yang melintas di otaknya membuat ia segera keluar dari pintu itu. Alric menoleh ke ujung lain balkon dimana terdapat satu pintu lagi yang juga terbuka.


Cast : Alrico Lucca



Alric memasuki kamar Marylin yang sudah kosong. Senyum kecil yang tadi tersungging di bibirnya berganti seringai ketika ia membuka pintu kamar mandi dan walk in closet, tapi tidak menemukan wanita itu.


Alric terkekeh, ia berjalan ke arah pintu dan menariknya. Pintu itu masih terkunci, lalu ia berjalan lagi ke arah pintu penghubung ke kamarnya. Pintu itu juga terkunci.


Kali ini Alric benar-benar tertawa. Ia kembali keluar dari pintu balkon, melirik ke arah bawah dan menggelengkan kepala, gadis itu tidak mungkin melompat, atau ia ingin bunuh diri. Mungkin saja nanti ia akan ingin bunuh diri, tapi tidak sekarang ... belum.


Alric masuk kembali ke kamarnya. Menarik pintu kamarnya ke arah luar dan mengintip ke lorong. Sepi , tidak ada siapapun. Kembali ia masuk ke kamar dan mengambil ponsel. Ia menekan nomor Jacob.


"Jacob ... aku kehilangan tikusku." Alric tertawa sinis. Ia masuk ke walk in closet, memindai semua hal dan menemukan sedikit hal aneh pada jajaran gantungan mantelnya, agak berantakan dan tersibak di satu bagian. Seolah seseorang baru saja keluar dari belakang gantungan itu.

__ADS_1


"Aku akan memeriksanya, Tuan." Setelah diam sejenak dan mencerna ucapan tuannya, Jacob akhirnya mengerti apa yang dikatakan oleh tuannya itu .


"Kau tahu ... kurasa ia melewatiku ketika berusaha keluar." Alric terbahak.


"Dia sudah memulainya tanpa perlu aku mengawalinya. Dia sudah minta untuk mulai diburu, cari dia!" perintah Alric.


"Baik, Tuan."


Alric menutup ponselnya dan segera keluar dari kamar. Ia akan membiarkan Jacob bermain kucing dan tikus dengan wanita itu sejenak, selagi dirinya menikmati sarapan pagi di luar mansion dengan latar pepohonan dan kicauan burung yang bernyanyi, suara alam yang benar-benar memberikan ketenangan.


N E X T >>>>


**********


From Author,


Jangan bosan ketik like dan love ya my readers, bintang lima, vote, juga komentar.


Yuk, baca juga novel karya author yang lainnya:


Passion Of My Enemy


Love Seduction (Sequel passion of my enemy)


Terima kasih atas apresiasi para readers. Follow author dengan klik 'ikuti' pada kolom profil author.


Salam, DIANAZ.

__ADS_1


__ADS_2