
Alric membuka pintu ruangan kerjanya dan keluar dari ruangan itu, melangkah ke lantai atas, menuju kamar bekas ibunya yang kini ditempati oleh Marylin. Nyonya Annette mengikutinya dari belakang dengan kening berkerut dan mata yang merah karena habis menangis.
"Kurasa ini bukan ide yang baik, Alric ...." Nyonya Annete menghentikan putranya yang sudah memegang pegangan pintu kamar Marylin.
Dengan satu tarikan nafas panjang, Alric tetap membuka pintu dan mendorong. Ragu- ragu ia melangkah masuk, Marylin terlihat duduk di ranjang menghadap ke arah balkon dan membelakangi pintu masuk.
"Kaukah itu, Annete?"
Suara lemah dan sedikit serak itu memasuki pendengaran Alric. Karena tidak ada suara yang terdengar kemudian, Marylin mengernyit dan menoleh.
Alric terdiam kaku ketika kepala itu memutar dan menoleh ke arahnya. Mata bulat berwarna biru itu membelalak dengan penuh teror. Sedetik kemudian Marylin berteriak kencang.
"Kau! Kenapa kau ada di sini! Binatang buas! Pergi! Pergi! Jauhi aku! Pergi!"
Marylin berlari ke arah pintu balkon, menggedor dan menarik hingga menimbulkan suara keras.
"Kumohon pergilah!!" Marylin menangis histeris dan memukul pintu, ingin membukanya tanpa hasil. Pintu itu memang dikunci oleh Jacob atas perintah Nyonya Annete yang takut Marylin mencoba melarikan diri dengan melompat.
Tak berhasil dengan pintu, Marylin berlari ke sudut kamar. Ia menatap ketakutan pada Alric yang diam dengan wajah pucat di dekat pintu. Matanya tidak memandang pada Annete yang ada di samping Alric. Matanya hanya menatap Alric, Marylin makin histeris ketika Alric mencoba bergerak.
"Tidaaaak! Jangan dekati aku! Pergilah! Pergi!!" Airmata Marylin membanjir. Annete memegang lengan putranya, lalu mendorong Alric keluar dari kamar itu.
"Pergilah Alrico! Kau membuatnya makin ketakutan!" Annete mendorong sekuat tenaga. Lalu menutup pintu rapat-rapat sebelum berbalik dan mendatangi Marylin.
"Marylin ... Sayang ... Kemarilah, Jangan takut. Ini aku, Annete. Dia sudah pergi. Ayo Marylin." Annete mendekap Marylin, sekujur tubuh itu gemetar dan rintihan bercampur isak tangis membuat airmata Annete mengalir, menitik membasahi rambut Marylin.
Annete membimbing Marylin kembali ke atas ranjang. Ia membaringkan tubuh gemetar itu ke atas kasur. Marylin langsung menyambar sebuah bantal dan mendekap erat-erat sambil menyembunyikan kepalanya di bawah bantal.
"Annete ... Aku mau pulang, aku mau pulang Annete ... tolonglah aku ..."
__ADS_1
Marylin terisak pilu dibawah bantalnya. Annete membelai rambut wanita itu dan menghapus airmatanya.
"Aku akan mengaturnya, Marylin ... Aku akan mengeluarkanmu dari sini. Jadi tenanglah Mary ...."
Marylin bergerak, menarik bantal-bantal dan mendekatkan ke sekeliling tubuhnya. Lalu barulah ia kembali berbaring.
"Tetaplah di sini Annete ... Aku takut pria itu datang lagi ...."
"Tentu Mary. Aku tidak akan kemana-mana ...." Annete terus membelai rambut Marylin, membisikkan kalimat-kalimat bujukan dan menunggui sampai akhirnya isakan Marylin berhenti.
**********
Setelah beberapa lama, Annete akhirnya dapat membuat Marylin tertidur. Ia bangkit dari atas ranjang lalu perlahan keluar dari kamar.
Annete terkejut ketika melihat Arrico masih menunggu di sana. Bersandar di dinding samping pintu.
"Jangan ganggu dia lagi, Alric ...."
Dengan ucapan itu, Annete meninggalkan lorong kamar. Wajah kecewa dan terpukul tergambar di wajah lelah Annete. Ia berlalu meninggalkan Alrico sendirian, termenung dengan mata melirik ke arah pintu kamar Marylin yang tertutup. Alric menunggu beberapa saat, ragu -ragu, tapi hatinya ingin melihat. Akhirnya ia memegang pegangan pintu dan membukanya.
Marylin tidur meringkuk memeluk sebuah bantal. Di sekeliling tubuhnya tersusun bantal-bantal yang diatur rapi. Wajah wanita itu pucat dengan kelopak mata tertutup. Jejak airmata yang baru saja mengering membekas di pipinya yang putih.
Lama Alric menatapnya, memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dengan wajah dimiringkan menatap Marylin. Hati Alric seperti disayat, menyadari ialah penyebab penderitaan dari wanita itu.
Satu keputusan berkelebat di otak Alric dan segera ia pegang dengan sangat yakin. Ya ... ia akan bertanggung jawab. Apapun yang terjadi pada Marylin, ia akan ikut menanggungnya. Ia akan menanggung kebencian wanita itu, kemarahan, rasa sakit dan penderitaan wanita itu, menerima jika Mary menginginkan balas dendam dari rasa sakitnya. Dengan keputusan itu Alric melangkah meninggalkan kamar Marylin.
**********
Diego duduk dengan santai dan memandang para tamunya. Senyum kecil ia sunggingkan di wajah, berharap kegelisahan tidak tersirat di wajahnya saat ini. Ia menguatkan hati menerima pandangan penuh selidik dari mata tajam Vincent, mata penuh rasa curiga dari Simon, dan mata dingin dan juga penuh perhitungan dari kepala keluarga Bernard, Claude.
__ADS_1
Ia harus menghadapi tiga orang Bernard, Seorang Vincent Nueva Machado dan seorang lagi nona Seymor, yang ini adik dari Nona Seymor yang mereka sekap. Dan tuannya memintanya mengulur waktu? Diego mendesah dalam hati. Tawa getir menghias relung hatinya. Yang ada, dirinya yang akan digiring dengan sebuah pistol agar segera menunjukkan tempat Marylin sekarang juga.
"Tuan Vincent, Tuan Simon, duduklah dulu ...." ucap Diego ramah.
Simon mengibaskan tangannya," tidak perlu basa-basi Baldassare! Dimana Marylin dan Serge!?"
"Di mana kakakku? Kenapa tidak bisa dihubungi? Serge juga begitu. Lokasi pemotretannya di alihkan di saat-saat terakhir. Kenapa begitu!? Dimana mereka sekarang? " Catalina segera memburu Diego dengan berbagai pertanyaan.
"wooo ... wooo ... tunggu Miss Seymor. Satu-satu ... Aku mesti menjawab yang mana dulu," ucap Diego. Lalu ia berdehem, menarik dan menghembuskan nafas panjang sebelum menjawab.
"Serge ada di sini. Aku akan menyuruh mereka memanggilnya sebentar lagi. Anda sekalian tidak perlu khawatir," ucap Diego. Ia menunjuk pada pengawal yang berdiri di belakangnya dan juga di setiap sudut ruangan ketika mengucapkan kata mereka. Memberitahu mereka lah yang akan memanggil Serge sekaligus memberi isyarat, bahwa seluruh mansion itu penuh dengan pengawal dan penjaga.
Tarikan nafas lega terlihat dilakukan oleh Nona Catalina. Juga dari Nona Yoana Bernard. Diego menyadari, ada ikatan emosi antara orang-orang ini dengan nona Marylin ... dan ia menebak, itu karena pengaruh sang adik dan juga bayi bernama Leonard yang dilahirkan oleh Nona Marylin. Keduanya sudah beberapa waktu tinggal bersama keluarga Bernard. Simon Bernard tampak menerima sepenuhnya bayi yang dilahirkan oleh wanita itu. Dan sekarang pria muda itu ikut mencari keberadaan Marylin.
Maafkan Saya, Tuan. Sepertinya Saya tidak bisa melakukan perintah Anda. Mereka semua tidak mungkin bisa ditahan lagi ... Mereka akan menuntut untuk bertemu Nona Marylin ...
N E X T >>>>
**********
From Author,
Jangan lupa tekan like, love ,bintang lima komentar dan vote ya my readers.
Yuk, kunjungi juga karya author yang lain, klik aja profil author, lalu tekan kolom 'karya' . Mampir dan tinggalkan jejak kalian di novel author.
Author ucapin makasihhhh, 😘😘😘
Salam hangat, DIANAZ.
__ADS_1