Embrace Love

Embrace Love
CH 96. Know the truth


__ADS_3

Alric mengusap wajahnya berulang kali. Fakta yang ia temukan membuatnya sangat terpukul.


Diego hanya diam di dekat pintu. Menjauh dari tempat Alric berdiri membelakanginya di dekat ranjang.


Mereka menginap di sebuah hotel. Setelah mendatangi Agenor secara pribadi bersama para bodyguard dan melakukan sedikit pemanasan dan olahraga dengan memukuli pria itu, akhirnya Agenor mengaku. Ia memberi keterangan palsu pada orang yang disuruh Nyonya Annete menyelidiki kematian Alexandro. Setelah beberapa tahun tidak ada yang datang menanyakan kematian Alexandro, Agenor sudah merasa lega. Sampai akhirnya orang suruhan Nyonya Annete datang.


Setelah tahu Alexandro ada hubungannya dengan keluarga Lucca, Agenor jadi ketakutan dan mengarang cerita bahwa Marylin adalah kekasih Alexandro, gadis itu mengeruk uang Alex dan kemudian meninggalkan Alex malam itu bersama kekasihnya tanpa mempedulikan Alex yang baru saja tertabrak mobil. Keterangannya di dukung dengan rekaman cctv yang memperlihatkan Marylin yang lari dengan seorang pria meninggalkan tubuh Alex di pinggir jalan.


Marylin sudah lari, jadi tidak akan ada yang memberitahu bahwa ia menjual gadis itu pada Alexandro. Dan yang membuat Alric sangat shock, Agenor menceritakan tentang penyimpangan sexual adiknya itu.


Marylin adalah gadis ketiga yang disiapkan Agenor untuk Alexandro. Alex butuh gadis muda yang tidak punya keluarga yang bisa ia perlakukan seenaknya, dipukuli dan diperlakukan sadis agar Alex bisa mencapai puncak. Lalu masalah akan selesai dengan kompensasi sejumlah uang, itupun jika para gadis itu cukup sehat untuk menikmati uang itu setelahnya.


Alric kembali ke hotel dengan rasa mual. Fikirannya kusut dan kepalanya terasa amat sakit.


"Kembalilah ke mansion Leopard, Diego ... Bebaskan Serge ...."


"Dan dia akan bertanya dimana Nona Marylin."


Alric memejamkan mata kuat-kuat mendengar nama wanita itu.


"Katakan kita akan mengembalikannya ...."


"Dia tidak akan mau pergi sampai ia melihat dan membawa Nona Marylin bersamanya, Tuan. "


"Bagaimana ini bisa berakhir seperti ini, Diego ...."


Diego mengernyit melihat tuannya yang terlihat amat gusar, gelisah dan sangat terpukul. Bukankah mereka tinggal membebaskan saja Marylin dan Serge? Mungkin harus memberikan sejumlah uang yang besar dengan kontrak pekerjaan yang lebih besar lagi sebagai kompensasi ketakutan dan teror yang mereka rasakan ketika terkurung bersama makhluk buas di kandang. Tapi kenapa tuannya seperti baru saja kena pukul palu godam pada kepalanya. Pria itu menarik rambutnya berulang kali dan mulai berjalan hilir mudik di tengah kamar hotel.


"Malam ketika kau menghubungiku, Aku sedikit mabuk dan merasa sangat marah ... Aku ...."


Diego diam menunggu, penasaran apa yang akan dikatakan oleh tuannya itu.


"Aku menidurinya, Diego! Secara paksa!" Alric memegang dinding kamar hotel, menyandarkan tubuhnya dengan tumpuan kedua tangan.


Wajah Diego langsung memucat mendengar ucapan tuannya.


"Maksud Anda ... Anda ... memper ...." Diego menelan ludah, melancarkan ternggorokannya agar bisa mengucapkan satu kata yang melintas di otaknya saat ini.


"Ya, Diego. Aku memperkosanya!" tawa pahit menggema dari tenggorokan Alric.


"Aku sama sakitnya dengan Alexandro ...." ucapnya lagi.


Diego terdiam, kehilangan kata-kata. Ia mencoba berfikir tentang apa yang harus dilakukan selanjutnya.

__ADS_1


"Tuan ... kepala pelayan mansion Leopard memberitahuku beberapa hari lalu, keluarga Bernard dan Catalina Seymor mendatangi mansion. Mencari Nona Marylin. Mereka datang lagi tiga hari kemudian karena kepala pelayan mengatakan kita pergi hanya selama tiga hari. Tapi mereka kembali lagi karena kita belum juga pulang. Ini sudah lima hari ... Kurasa sudah saatnya menerima panggilan telepon dari Claude Bernard. Dia juga menghubungiku, Vincent juga ... kita tidak mungkin mengabaikan mereka terus. Lepaskan Serge dan Nona Mary ...."


Alric menarik nafas dengan berat.


"Kembalilah ke mansion Leopard, Diego. Lepaskan Serge. Lalu terimalah keluarga Bernard di sana. Kalau bisa berikan aku waktu ... sampai aku bisa membawa dokter dan mengecek kondisi Marylin. Setelahnya, jika mereka memaksa dan kau sudah tidak bisa lagi menahannya, Aku akan memberitahu kemana mereka bisa menemuiku dan Marylin.


"Baiklah, Tuan ...." Diego baru saja akan berbalik dan membuka pintu ketika ia mendengar suara tuannya.


"Dan satu lagi, Diego ... Hancurkan bisnis busuk pria bernama Agenor itu!" perintahnya dengan nada dingin.


"Sesuai kehendak Anda, Tuan." lalu Diego pergi dari kamar itu meninggalkan Alric yang mengepalkan tangan dan meninju dinding berulang kali sampai buku-buku jarinya mengeluarkan darah.


*********


Dengan pakaian sederhana dan rambut diikat jadi satu, tanpa make up sama sekali, Annete masuk ke kamar Marylin dengan nampan makanan di tangannya.


"Nona Mary? Boleh aku masuk?" tanya Annete


Mary menoleh dan menatap.


"Kau sudah masuk," ucap Marylin, ia menatap wanita asing yang walaupun sudah kelihatan berumur, namun masih nampak cantik itu. Helaian uban sudah menghiasi beberapa tempat di kepalanya. Dia membawa sebuah nampan berisi makanan.


"Boleh aku mendekat?"


"Aku tidak mau makan."


"Kau tahu ... jika hari ini kau tidak juga makan, maka Jacob akan mendatangkan dokter dan perawat atas perintah tuan Lucca. Kau akan diberi makanan lewat infus. Jadi kau tidak akan dibawa pergi dari sini untuk ke rumah sakit, tapi dokternya yang akan datang kemari. Jadi menurutku, lebih baik kau isi perutmu, supaya kau menjadi kuat dan bisa melarikan diri."


Annete akhirnya mendapatkan perhatian Marylin.


"Kau mau pergi bukan?" tanya Annete.


Marylin mengangguk lemah dan berusaha bangkit. Annete meletakkan nampannya di atas nakas, lalu membantu Marylin bersandar, menyusun bantal di belakang punggung gadis itu.


"Kau harus makan, lalu kita akan mencari cara agar membebaskanmu dari sini." Annete mengambil sesendok bubur dan menyiapi Marylin.


"Kau siapa?" tanya Mary.


Annete tersenyum, " Aku wanita tua yang sebentar lagi akan pergi dari sini. Pensiun dan meninggalkan tuan Lucca yang bodoh itu!" ucap Annete berapi-api.


"Kau mau pergi?" Marylin makin tertarik.


"Ya. Ayo, buka mulutmu, aku tidak bisa membawamu jika nanti aku pergi dan badanmu masih lemah. Berjalan saja kau sulit."

__ADS_1


Marylin membuka mulutnya, menelan bubur hangat yang disuapkan oleh Annete. Hati Annete gembira dan terus menyuap sampai akhirnya buburnya habis.


"Pintar, kita akan perlu kekuatanmu ketika pergi dari sini. Aku sudah tua, tidak bisa menggendongmu."


Senyum kecil terbit di bibir Marylin," kau benar-benar akan membawakukan? "


"Tentu saja, kita pergi dari sini ketika kau sudah lebih kuat." Annete menggenggam tangan Marylin. Matanya berkaca-kaca.


"Well ... Aku akan membawa ini, aku akan menemuimu lagi nanti. Sekarang tidurlah ...."


Dengan cepat Annete keluar dengan membawa nampan. Seorang pelayan yang menunggu langsung mengambil nampan dari tangannya. Sedikit terkejut melihat mangkuk bubur yang kosong.


"Akhirnya dia makan ...." Annete menghapus air mata yang sedari tadi ia tahan.


Sehari sebelumnya, Annete sudah membawa dokter keluarga mereka untuk memeriksa Marylin dan dokter tua itu memeriksa dan memberikan obat untuk memar dan juga rasa nyeri yang pasti di rasakan oleh Mary. Mary hanya diam ketika dokter tua itu masuk ke kamarnya bersama pelayan lalu memeriksanya.


Lalu dengan bijak dan mata penuh rasa iba mengingat pasien yang baru saja ia periksa, sang dokter menemui Nyonya Annete dan mengemukakan sarannya.


"Ann ... kurasa jika ia makan dan kemudian minum obat yang kuberikan, maka luka atau sakit di fisiknya akan dapat sembuh dengan cepat. Tapi saranku, bawakan dia seorang psikiater, aku tidak dapat menyembuhkan luka di jiwanya ... akan lebih baik jika ada keluarga yang dapat mendukungnya."


Annete menangis, kenapa jadi begini, yang ia tahu, Marylin Seymor hanya punya seorang ibu. Yang sudah dirawat di rumah sakit jiwa. Apakah putrinya akan menyusul ke sana? Jika ya ... maka putranyalah yang jadi penyebab semua itu.


Suara ramai langkah kaki terdengar di lantai bawah. Annete berjalan ke arah balkon tengah dan melihat ke bawah. Alric yang berdiri dengan beberapa pria pengawalnya tengah bicara dengan Jacob yang berulang kali tergagap menjawab tuannya itu.


Hati Annete merasa senang sekaligus sangat marah melihat putra sulungnya itu. Ia segera berjalan dan melangkah menuruni tangga. Setelah mencapai tengah tangga, suara langkah kakinya mengalihkan perhatian Alric.


"Ibu!" seru Alric. Senang sekaligus sangat terkejut melihat ibunya ada di sana. Alric segera melangkah mendekat, menaiki undakan tangga dan baru saja mengulurkan tangan untuk memeluk wanita itu ketika tangan ibunya terangkat dan dengan sangat keras menampar pipi putranya hingga suaranya menggema di tengah aula mansion itu.


Semua orang terdiam, hening meliputi aula, Jacob, para pengawal bahkan pelayan yang kebetulan lewat, tidak berani bergerak. Lalu isak tangis Annete terdengar ....


"Aku memukulmu untuk pertama kalinya dalam hidupku, Alric. Dan aku tidak menyesal. Kau harapanku satu-satunya ... dan kau membuatku sangat kecewa ... kau membuat hati ibu sangat sakit ...."


N E X T >>>>


**********


From Author


Kena gampar tuh, kurang Mom, tampar lagi! geram ih!!😂😂😂


Jangan lupa dong ya, tekan like, tekan love, bintang lima, komentar dan vote buat Mary...hehehe


Klik profil Author dan mampir ke karya author yang lain ya🤗🤗Semoga suka juga😘😘

__ADS_1


Terima kasih semua ...


Salam hangat, DIANAZ.


__ADS_2