
Yoana menggaruk kepalanya. Ia menatap ke arah punggung Vincent yang tidur dengan membelakanginya.
"Vince?"
Tidak ada jawaban, padahal Vincent belum tidur. Yoana tahu itu. Suaminya itu marah. Yoana menyeringai ... Vincent sudah mengingatkannya berulang kali saat sebelum pesta maupun setelah pesta berlangsung. Bahwa Yoana tidak boleh berdansa dengan Robert. Apapun alasannya. Hanya boleh berbicara bila Vincent ada di sana juga.
Tapi Robert meminta Yoana berdansa dengannya dengan mata memohon. Sebagai seorang teman yang sudah membantunya agar memperoleh cinta vincent, Yoana tentu saja akan menerima permintaaan pria itu untuk berdansa. Yoana menerimanya ketika mengira Vincent sedang sibuk dengan Alric dan Claude di luar aula dansa. Yoana melihat ketiganya pergi dan mengobrol di teras luar. Jadi ketika musik dimulai untuk dansa berikutnya, Yoana menerima ajakan Robert.
Alunan musik baru saja berakhir ketika Vincent masuk kembali dan menemukan Yoana ada dalam genggaman tangan Robert. Pria itu langsung memasang wajah dingin. Lalu tidak bicara pada Yoana. Sampai sekarang. Saat mereka sudah di atas tempat tidur mereka.
"Vince?"
Masih tidak ada jawaban. Yoana menggoyangkan bahu Vincent dari belakang.
"Kau marah ya?"
Yoana beringsut mendekat.
"Maaf ... aku hanya bersikap sopan pada Robert."
Yoana kembali menggoyangkan bahu Vincent. Masih tidak ada reaksi.
"Aku hanya tidak enak menolak ajakannya untuk berdansa ... Vince, ... ayolah ... katakan sesuatu."
Vincent berusaha menahan seringai di wajahnya ketika mendengar ucapan istrinya itu.
"Aku sudah bilang sebelumnya ... jangan berdansa dengan Robert."
"Vince ... Robert temanku ...."
"Ya ... temanmu ... yang mau membelikan cincin pernikahan ...."
Sekarang Yoana yang menyeringai dari balik punggung Vincent. Ia selalu suka bila Vincent mulai cemburu pada Robert. Merasakan dan menikmati rasa posesif suaminya.
"Maaf ... aku sungguh tidak enak menolaknya ...."
"Ya ... sudah dimaafkan, sekarang tidurlah."
"Tapi ...."
"Apalagi Yoana....."
"Kau belum mengucapkan selamat malam dan menciumku."
Vincent berbalik perlahan sambil memasang wajah datar. Ia mengecup kening Yoana dan mengucapkan selamat malam.
"Good Night, Mi Pequeno ...."
"Ck! Itu bukan ciuman!"
Alis Vincent terangkat. " Lalu yang bagaimana yang dikatakan sebagai ciuman?"
"Aku sudah belajar dengan baik. Ciuman itu ... seperti ini."
Yoana mendekat dan menarik kepala suaminya, menyatukan bibirnya dengan bibir Vincent, merayu dengan gerakan bibirnya. Perlahan tangannya pun tidak mau ketinggalan, menggoda dengan menyusup ke balik kaos Vincent.
__ADS_1
Seketika pakaian atas mereka sudah berlemparan ke atas lantai. Yoana menyeringai.
"Bagaimana? Aku belajar dengan baik bukan!?"
Vincent hanya menjawab dengan geraman. Ia menangkap dan membalikkan posisi, menindih tubuh Yoana dan memulai tarian indah luapan cinta mereka. Melupakan semua kejengkelan dan kemarahan yang dirasakan karena kehadiran Robert di pesta mereka tadi.
**********
Catalina baru saja akan berbalik dari dispenser di dapur ketika satu sosok tinggi yang telah berdiri di belakangnya membuatnya terkejut dan menjerit.
Tawa geli Claude terdengar sangat dekat di depan wajah Catalina. Membuat gadis itu memandang Claude dengan wajah memberengut kesal.
"Kau mau membuatku mati terkejut ya?" sungut Catalina sambil mengelus dadanya dengan sebelah tangan.
Claude meraih pitcher dari tangan Catalina dan meletakkannya di meja dapur. Lalu kedua lengannya melingkar ke pinggang kekasihnya itu.
"Aku belum mendapat ucapan selamat malam Catty," ucap Claude. Ia menempelkan bibirnya di anak rambut di dahi Catalina.
"Kau sibuk sebelum pesta, sepanjang pesta ... lalu ketika semuanya pulang kau menghilang."
"Aku harus menidurkan Leon kembali, Claude. Dia terbangun."
"Dan kau tertidur di kamar Leon setelahnya," ucap Claude.
Catalina terkekeh, ia kelelahan. Setelah bernyanyi sambil menidurkan Leon, matanya tidak bisa diajak kompromi. Ia terpejam di dekat Leon.
"Tapi aku terbangun di tempat tidurku ... apakah kau yang memindahkanku?" Catalina mendongakkan kepala, menatap ke arah wajah Claude. Sesaat ia terkesima dengan perasaan yang ia lihat di kilau mata pria itu.
"Ya ... Aku masuk ke kamar Leon dan melihat kau tertidur di sana. Aku memindahkanmu ke kamarmu sendiri dan hampir saja tidak bisa menghentikan diriku sendiri agar tidak ikut berbaring di sampingmu. Simon akan menjadikannya senjata agar bisa bersikap semaunya lagi dengan dalih mencontoh."
Claude mencium kening Catalina yang masih mendongak. Bibir Catalina mengeluarkan suara tawa mendengar ucapan Claude.
Ucapan Catalina berhenti karena bibirnya dibungkam dengan kehadiran bibir Claude yang singgah untuk melum*t dan memag*t. Kedua lengan Claude menarik dan mendekatkan tubuh mereka agar makin dekat. Ciuman lembut itu makin lama makin keras dan menuntut. Satu tangan Claude sudah berpindah ke belakang leher, ia memiringkan tubuhnya, memperdalam ciuman sampai desah nikmat akhirnya terdengar dari dasar tenggorokan gadisnya itu.
Claude melepaskan tautan bibirnya, matanya berkilau menatap mata Catalina yang tampak berkabut, napas gadis itu tak kalah memburu dari napasnya sendiri. Perlahan, ibu jari Claude mengelus pelan bibir lembab yang tampak merah dan merekah karena ciumannya tadi.
Claude baru saja akan kembali menunduk dengan mata masih memaku mata Catalina ketika namanya terdengar dalam desah lirih dari bibir Catalina yang ia elus.
"Claude ...."
Dengan tarikan napas panjang, Claude berhenti. Suara Catalina seperti peringatan untuknya agar menahan diri. Ia memejamkan mata sejenak dan membukanya lagi sambil menyandarkan keningnya ke kening Catalina.
"Andai aku bisa melakukan persis seperti yang Vincent lakukan ... menikahi mu dan tidak menahan diriku lagi untuk memilikimu ...."
Catalina tampak merona. Gesekan di tubuhnya dari tubuh Claude yang terasa mengeras memberitahunya seberapa besar keinginan pria itu terhadap dirinya. Ia berjinjit. Lalu mengecup lembut bibir pria itu sambil tersenyum bahagia.
"Kau tidak akan mengecewakan Yoana. Kau menunggu karena tahu ini yang Yoana inginkan. Kau menyayangi kakakmu dan terlalu menghormatinya untuk membuatnya kecewa."
Claude pura-pura meringis. "Aku melakukannya untuk mu, Catty. Aku mencintaimu. Aku akan menunggu sebentar agar kau mendapatkan pernikahan indah yang kau inginkan. Bukan karena alasan keinginan Yoana," ucap Claude membantah. Meskipun apa yang Catalina ucapkan adalah benar, ia tidak akan mau mengakuinya. Akan membuat Yoana menjadi besar kepala.
"Oh, kau sangat tahu yang terpenting bagiku adalah menikah dengan orang yang kucintai dan mencintaiku, Claude. Mengucapkan janjinya di hadapan Tuhan. Pesta pernikahan semegah apapun tidak akan berarti bila yang berada di sampingku untuk mengucapkan janjinya bukan kau ...."
"Manis sekali, Cattyku sayang, kau merayuku ya ...." Claude menggosokkan rahangnya ke leher gadisnya itu. Catalina terkikik.
"Aku tidak merayumu. Aku mengatakan yang sebenarnya."
__ADS_1
Claude mendesah. " Aku tahu, Catty. Aku juga merasakan hal yang sama."
Lalu Claude mengulanginya lagi. Datang lagi menyapa bibir Catalina yang seolah merayu dan menggodanya agar kembali mencecap, menarikan lidahnya dalam tarian sensual. Catalina kembali terhanyut, lengannya mengalungi leher Claude dengan kaki berjinjit agar bisa lebih dekat dengan pria itu.
Suara orang berdehem tak jauh dari mereka membuat Claude dan Catalina akhirnya memisahkan diri. Claude menahan pinggang gadisnya yang limbung. memegangnya dengan erat dengan lengan tetap memeluk pinggang. Mereka menoleh dan menemukan Vincent berdiri tak jauh dari mereka dengan mengenakan jubah kamar. Kedua alis pria itu terangkat, ia menunggu penjelasan.
"Kenapa kau kemari?" tanya Claude.
"Untuk memergoki pertemuan tengah malammu ...." sindir Vincent. Claude tersenyum masam.
"Kami tidak sengaja bertemu di sini, Vince. Bukan sengaja melakukan pertemuan tengah malam. Walaupun aku tidak keberatan kalau Catty mau," ucap Claude sambil mengedipkan mata ke arah Catalina yang terlihat memerah. Gadis itu mencubit kecil pinggangnya. Membuat Claude tertawa kecil.
"Dua minggu tidak lama, Claude. Biarkan Yoana menyiapkan segalanya untuk kalian. Ia menyalurkan seluruh kemampuannya agar menciptakan satu pernikahan yang tidak akan terlupakan seumur hidup."
"Ya ... ya ... mudah bagimu mengucapkannya. Bukan kau yang menunggu." Lalu Claude merasa ucapannya adalah kesalahan.
"Aku tidak menunggu?" Tawa Vincent bergema. " Claude Bernard ... kau hanya perlu menunggu dua minggu. Kau tahu dengan pasti berapa lama aku dan Yoana menunggu ...."
"Hmm ... kembalilah ke kamarmu, Cat," ucap Claude sambil melepaskan lengannya dari pinggang Catalina
Catalina tersenyum, merasa sudah bisa menguasai dirinya lagi. Ia berjinjit mencium pipi Claude dan mengucapkan selamat malam pada calon suaminya itu, juga pada Vincent. Setelah mengambil pitcher yang berisi air minumnya dari atas meja, ia berlalu dari dapur.
Dua pria itu memandang sampai sosok Catalina akhirnya menghilang dari dapur.
"Huftttt ... aku tidak sabar menunggu dua minggu. Bagaimana kau bisa menahan dirimu sampai selama itu. Sepuluh tahun lebih ... " Claude memandang Vincent dengan bibir mengerucut. Menatap iparnya itu dari atas ke bawah.
"Kenapa kau kemari?" Claude mengulangi pertanyaan yang tadi ia sampaikan ketika melihat Vincent tiba.
"Menenangkan diriku."
Alis Claude terangkat. " Dari apa?"
"Keinginan yang tidak pernah puas untuk kembali memiliki istriku ... yang sangat butuh istirahat. Alih-alih tertidur, berada di sana terus akan membuat otakku tidak beralih darinya."
Claude terkekeh, sangat mengerti apa yang sedang dialami Vincent.
"Wajar saja. Kau menahannya begitu lama, aku heran kau tidak gila selama ini bersamanya dan melihatnya tapi terus menahan dirimu."
Vincent mengangkat bahu. " Aku akan mempelajari beberapa dokumen dan bermaksud membuat kopi ketika kemari, lalu menemukan kalian."
"Buatlah kopimu, Vince. Aku akan pergi tidur. Selamat malam ...."
"Ya. Selamat malam."
NEXT >>>>
**********
**From Author,
Ikuti kisahnya terus, dan bersabar tunggu updatenya ya. Jangan lupa klik tombol like alias jempol, tombol favorite alias love, beri komentar, saran ataupun kritik membangun, biar Author makin semangat untuk nulis.
Bagi yang belum kasih rate, tolongin dong tekan tombol bintang, kemudian klik bintang lima ya๐๐
Yang punya poin dan koin, bisa bantu author dengan klik Vote agar performa novel ini makin naik.
__ADS_1
Untuk semua bantuan para Readers semuanya, author ucapin terima kasih banyak๐
Salam hangat, DIANAZ**.