
Vincent menggendong Yoana memasuki mansion. Ia bermaksud membawa Yoana ke lantai atas tempat kamar nona besar itu berada, namun Yoana meminta agar ia diturunkan di kursi santai teras belakang mansion ke arah kolam renang. Vincent tidak membantah, ia membawa dan menurunkan Yoana di kursi santai sebelum akhirnya masuk kembali meminta pelayan membawakan air minum.
Ia keluar dari ruang dapur ketika berpapasan dengan Claude dan Catalina yang baru saja memasuki mansion. Catalina berderap naik ke lantai atas dengan menggendong Leon, sedangkan Claude baru saja akan menuju ke ruang dapur.
"Ada apa dengan bibirmu?" Vincent mengerutkan dahi melihat bibir Claude yang terluka dan membengkak.
"Aku butuh es." Claude berlalu meninggalkan Vincent yang menaikkan alisnya penasaran. Vincent akhirnya memutuskan kembali menemui Yoana, melihat jika ada yang nona besar itu butuhkan. Bruno yang baru saja masuk bertemu dengan Vincent, langsung saja Vincent mengemukakan rasa ingin tahunya.
"Apa yang terjadi Bruno? Kenapa bibir Claude seperti baru saja terkena bogem mentah?"
Bruno baru saja akan membuka mulut ketika teriakan dari dapur menggema.
"Bruno! Pergi dan lakukan pekerjaanmu!"
Bruno segera berbalik pergi dengan setengah berlari setelah mendengar teriakan Claude dari arah dapur. Laki-laki itu rupanya mendengar percakapan Vincent dan Bruno yang memang berdiri tidak terlalu jauh dari dapur.
Vincent menaikkan alisnya memandang ke arah dapur, lalu seringai terbit di bibirnya dan secara otomatis kepalanya mendongak ke lantai atas, tempat tadi Catalina menghilang bersama Leonard.
Catalina, kejutan apalagi yang kau berikan pada Claude kami.
Vincent terkekeh sambil melanjutkan langkahnya menuju ke arah teras belakang mansion.
"Ada apa?" Yoana menatap Vincent yang mendatanginya sambil tersenyum.
"Apanya?" Senyum Vincent segera sirna dan ia segera duduk di kursi di sebelah Yoana.
"Kau tersenyum. Apa yang lucu?"
"Adikmu ... Claude."
"Kenapa? Ia berhasil membawa kabur Catalina kan? Dokter itu tidak bisa berbuat apa-apa."
"Kau benar. Tapi aku baru saja melihatnya dengan bibir luka dan bengkak."
Yoana mengernyit, dokter itu tidak mungkin meninju adiknya. Pikirannya terhenti dan beralih pada pelayan yang datang dengan nampan berisi gelas air putih. Vincent menurunkannya dan mengulurkannya pada Yoana.
"Minumlah," perintahnya.
Yoana menurut dan meminum air putih tersebut. Suara langkah kaki mendekat membuat Yoana dan Vincent menoleh. Claude datang dengan bungkusan obat di tangan.
"Minumlah ini, Yoan. Kakimu akan terasa berdenyut."
Claude membuka tablet obat yang diberikan dokter dan memberikannya pada Yoana yang langsung menelan dan mendorongnya dengan air putih yang masih ia pegang.
"Ada apa dengan bibirmu?" Yoana melirik bibir Claude yang bengkak, luka dan merah. Claude memegang pelan bibirnya dan menyeringai.
"Ada gadis yang menggigitku," ucapnya jujur. Kekeh geli lolos dari bibir Vincent. Membuat Yoana menaikkan alis ke arahnya.
Vincent berdeham dan mengatur wajahnya datar kembali.
"Pasti ada sebab sehingga gadis ini menggigitmu."
__ADS_1
Claude hanya menjawab pertanyaan Yoana dengan tertawa dan mengedipkan mata ke arah kakaknya itu, lalu mulai berlalu dari teras, Yoana menatap kepergian adiknya sambil bertanya pada Vincent.
"Apakah gadis yang dia maksud adalah Catalina?" tanya Yoana pelan.
"Siapa lagi ... pastilah gadis itu." Vincent menjawab santai.
"Well ... menurutku dia akan segera kalah taruhan dan harus menikah," ucap Yoana lagi.
"Dan menurutku, dia sama sekali tidak keberatan." Vincent menjawab dengan yakin.
**********
Claude keluar dari ruang gym dengan keringat membasahi tubuh. Ia melangkah melewati aula dan pergi menuju ke arah dapur. Setelah mengambil botol berisi air minum dari dalam kulkas, Claude menarik kausnya yang basah dan meletakkannya sembarangan di atas kursi. Ia melirik jam di dinding, sudah pukul 00 dini hari dan dirinya belum juga bisa tidur.
Claude duduk dan meminum air putih dingin yang ia ambil. Ketika rasa dingin menyentuh bibirnya yang luka, Claude tanpa sadar meringis sambil mengumpat.
"Shhh ... sialaann!"
Catalina yang datang ke dapur mendengar umpatan itu dan menatap ke arah Claude yang meringis. Ia terdiam dan berhenti melangkah ketika mata Claude menangkap pandangan matanya. Ia tidak bisa kabur lagi.
Claude sengaja menutup bibirnya dengan satu tangan.
"Kau perlu sesuatu?" tanya Claude dengan alis terangkat, heran Catalina tidak lari setelah melihatnya ada di dapur.
"Apakah bibirmu bengkak?" Catalina bertanya pelan.
Claude harus memiringkan kepala agar bisa mendengar pertanyaan gadis itu yang sangat pelan terdengar.
Catalina mengernyit sambil mulai melangkah memasuki dapur. Ia meletakkan pitcher air minum yang ia bawa di atas meja dan berjinjiit mencari sesuatu di atas rak.
"Kau mencari apa?" Claude memandang tak berkedip ke arah gaun terusan longgar dari bahan katun yang gadis itu pakai. Hanya gaun biasa yang pasti terasa nyaman dipakai untuk tidur, tapi entah kenapa ia merasa Catalina sangat sexy dengan gaun tak berbentuk itu.
Claude melarikan tatapannya kembali ke botol minum ketika melihat gaun Catalina terangkat saat gadis itu berjinjit memperlihatkan kaki putih mulus di balik gaun katun di atas lutut itu.
Sial! Kenapa aku mulai terpikir yang tidak-tidak jika sudah berhadapan dengan Catty!
Catalina mengeluarkan sebuah botol dari dalam rak, lalu melangkah mendekati Claude.
"Oleskan bibirmu dengan ini. Akan terasa lebih baik besok, lukanya akan segera sembuh dan bengkaknya menghilang." Catalina meletakkan botol di tangannya ke atas meja di depan Claude.
Claude mengangkat botol itu ke depan wajahnya dan membaca tulisan kertas di label botol.
"Honey ...," ucapnya pelan dan sedikit mendayu.
Catalina menoleh, tak terbaca apapun di wajah tampan itu, Claude masih menekuni label di botol, tapi entah kenapa Catalina merasa aneh dengan ucapan dan nada suara Claude.
Dia hanya sedang membaca label di botol itu Catalina bodoh! Tapi kenapa terasa seperti ia tengah merayu seseorang dengan kata 'Honey' ... Bodoh! Bodoh! Kenapa aku malah terganggu?
"Ini madu bukan?" Suara Claude memecah lamunan Catalina yang tengah mengisi pitchernya dengan air minum.
"Benar. Madu mengandung antibiotik alami. Baik untuk penyembuhan luka dan peradangan. Daripada mengoleskan salep ke bibirmu, lebih baik oleskan dengan madu."
__ADS_1
"Begitukah? Bisa kau membantuku mengoleskannya?"
Catalina mengernyit mendengar permintaan itu.
"Oleskan saja sendiri," cetus Catalina.
"Aku tidak punya cermin Catty. Ayolah, lagipula sebanyak apa harus kuoleskan?"
Claude menatap dengan perasaan geli ketika perlahan Catalina meletakkan pitcher yang ia pegang ke atas meja. Lalu dengan ragu-ragu gadis itu mengambil botol madu. Ia menatap botol itu lalu memandang Claude. Seolah ragu mau melakukan permintaan Claude.
"Ini sakit sekali." Claude sengaja mengernyit dan kembali meringis. Membuat Catalina akhirnya membuka botol madu dan melirik isinya.
"Tunggu. Aku akan mencuci tanganku."
Claude menyeringai melihat Catalina mulai mencuci tangannya di air mengalir kran wastafel. Setelah selesai, gadis itu mengeringkan tangannya kemudian berdiri di samping kursi Claude.
Catalina mengeluarkan madu ke ujung jarinya, lalu menunduk ke arah Claude yang sudah mendongak dan menengadahkan bibirnya ke arah Catalina.
Perlahan Catalina mengoleskan madu dari sudut bibir bawah Claude sampai pada luka kecil di kulit bibirnya yang robek. Catalina mengernyit mengingat dialah yang menyebabkan luka itu. Ia mengelus pelan sampai madu di ujung jarinya rata ke bibir bawah Claude.
Claude mengepalkan tangannya sekuat tenaga menahan agar tidak menarik Catalina dan ******* bibir gadis itu lagi, gerakan gadis itu terasa sensual dan menggoda, padahal Claude tahu Catalina sama sekali tidak bermaksud seperti itu. Claude menatap ke wajah Catalina yang masih fokus memandangi bibirnya.
Ketika madu telah rata di bibir Claude, secara reflek lidah lelaki itu menjilat rasa manis yang melumer ke dalam mulutnya. Catalina memandang gerakan itu, lalu entah kenapa jantungnya mulai berdebar kencang, mata birunya beralih ke atas dan menatap mata Claude yang ternyata tengah intens memandangnya.
Jantung Catalina makin bertalu, menyadari laki-laki yang menatapnya tak berkedip itu tampak sexy, dengan dada telanjang dan bibir yang terbuka mengundang. Catalina segera berdiri tegak, wajahnya memerah ketika pikiran itu melintas di otaknya.
Apa yang kupikirkan, batin Catalina panik.
Claude menahan tangan Catalina yang berniat pergi dari sana. Ia memegang jari Catalina yang tadi mengoleskan madu dengan satu tangan, lalu menahan tangan satu lagi yang masih memegang botol madu dengan tangan yang lain.
Claude perlahan mengarahkan jari Catalina yang tadi mengoleskan madu ke arah mulutnya, Ia menjilat dan mencecap sisa madu yang menempel di jari Catalina dengan lidahnya. Tatapan matanya tidak sedikitpun meninggalkan mata biru jernih yang terbelalak lebar di depan wajahnya itu.
Catalina seperti terhipnotis, ia diam, terpana dan membiarkan Claude menjilat dan mencecap jarinya. Jantungnya bertalu kencang dan darahnya seolah memanas.
"Sweety ...." Ucapan pelan menggoda dari bibir Claude itu seolah menyadarkan Catalina. Ia menarik tangannya dan mundur dua langkah sebelum akhirnya berbalik dan berlari meninggalkan Claude yang memandangnya dengan mata berkilat.
Catalina terus berlari sampai ia memasuki pintu kamar dan kemudian menguncinya. Ia memegang jantungnya yang berdebar kencang dan segera duduk di tempat tidur serta mulai mengatur napas.
"Ada apa denganku? Kenapa laki-laki itu membuatku merasa seperti ini?" Catalina berbisik pada dirinya sendiri.
**********
From Author,
Author mohon maaf ,telat update ya pembaca semua. Terimakasih yang sudah mendoakan thor cepat sembuh๐๐. yuks di simak lagi kisah merangkul cinta ala ala Claude dan Catalina๐๐๐
Jangan lupa like, love, komentar ,bintang5 dan Vote ya.๐๐
Terimakasih semuanya.
Salam, DIANAZ.
__ADS_1