Embrace Love

Embrace Love
CH 24. Kiss


__ADS_3

Catalina keluar dari kamar mandi dengan perasaan bersih dan segar. Ia selesai memandikan Leon dan menidurkannya sehingga punya waktu untuk segera mandi dan mengganti pakaiannya.


Catalina memakai gaun terusan longgar selutut tanpa lengan, berwarna putih dengan corak polkadot berwarna hitam. Ia mengintip lewat pintu penghubung ke kamar Leon yang masih tertidur nyenyak. Catalina tersenyum, ia sudah punya sebuah rencana sebelum pergi tidur.


Sebuah ruangan penuh buku di mansion itu sempat ia lewati, ia ingin sekali melihat jenis-jenis apa saja yang ada di sana. Terlihat sangat banyak, dari yang tipis, tebal, sampul kulit, berwarna dan lebih banyak lagi. Semacam perpustakaan pribadi keluarga Bernard. Catalina sangat suka membaca, membuka jendela ilmu melalui sebuah buku, atau berimajinasi dalam fantasi lewat sebuah buku.


Tanpa suara Catalina melangkahkan kakinya yang tanpa alas di koridor mansion. Suasana sudah sepi, keluarga Bernard semuanya pasti sudah beristirahat di peraduan mereka masing-masing, jadi tidak akan ada yang melihat jika ia mau menjelajahi ruangan besar penuh buku itu.


Catalina mendorong pintu berat ruang perpustakaan itu dan memasuki ruangan dengan perlahan. Matanya memandang takjub pada rak-rak dengan penutup kaca berisi ribuan buku. Keluarga Bernard memelihara dan menjaga buku -buku itu dengan sangat baik. Ia mulai pada rak di sudut kiri, bergerak perlahan membaca judul demi judul di punggung buku. Catalina mencari bagian fiksi dan tidak menemukannya. Kebanyakan hanya buku-buku tentang ilmu bisnis.


Ia melangkah mengitari rak kedua, kembali tidak menemukan yang ia inginkan, Catalina masuk lebih dalam, menggeser rak kaca dan menyentuh punggung tiap buku yang ia baca judulnya, mencari yang ia inginkan. Catalina tidak menyadari dalam kesenangannya mencari di jejeran buku yang ada di rak-rak, sepasang mata mengawasinya tidak berkedip. Gaun terusan longgar tanpa pinggang dengan corak polkadot dan rambut coklat keemasan yang diikat ekor kuda itu membuat Catalina nampak seperti gadis belasan tahun. Wajahnya polos tanpa make up sama sekali.


Kemanapun Catalina bergerak, orang itu mengikutinya dalam diam, seperti hantu di balik bayang-bayang rak.


Catalina menemukan satu rak dengan warna berbeda Setelah mengitari hampir setengah dari jumlah keseluruhan rak yang ada, ia mengintip di balik kaca dan tersenyum lebar. Terbitan lengkap contemporary romance, historical romance maupun fantasy terjejer rapi di dalamnya. Beberapa merupakan edisi cetak lama dan tetap terjaga pemeliharaannya.


Catalina menarik sebuah novel dari historical romance serial, ia menatap dengan mata berbinar dan mulai membuka lembaran sampul ketika sebuah suara menegurnya.


"Tidak kusangka kau memilih itu dari sekian ribu buku yang tersimpan di ruangan ini."


Catalina mendongak cepat dan memicingkan mata menatap Claude yang mendatanginya dari ujung lorong di antara rak buku.


"Kenapa memangnya?" Catalina menatap mata hitam yang memandangnya. Mata itu ... berkilau? Catalina mengedip dan menatap heran pada bintik hitam yang menatapnya dengan kilau aneh. Catalina jadi mengusap pipinya sendiri?


"Ada yang aneh di wajahku?" tanyanya heran.


Claude menyipit menatap gadis dengan tampilan polos di hadapannya.

__ADS_1


Apa kau memang sepolos itu? Aku jadi penasaran.


"Buku-buku ini sudah lama ditinggalkan oleh Yoana. Sejak ia tidak lagi memercayai hal-hal berbau romantis yang hanya terjadi di dunia hayal. Kehidupan nyata tidaklah seindah itu."


"Mungkin ya ... tapi bila dengan membacanya seseorang terlarut dan ikut berbahagia menikmati kisah yang dialami tokohnya, apa salahnya dengan itu?" Catalina tidak menunggu jawaban. Ia kembali membuka lembaran novel yang ia pegang. Sengaja mengabaikan Claude.


Claude menyeringai, gadis ini terus mengabaikannya.


"Dan berharap kau mengalaminya di kehidupanmu, Catty?"


Catalina mengangkat kepalanya lagi. Mata birunya menyipit.


"Jangan panggil aku Catty! Namaku Catalina!" ucapnya marah.


"Tapi aku suka memanggilmu Catty, atau Cat ...." Claude menaikkan alis, menunggu gadis itu menyambut konfrontasi darinya. Tapi mata biru itu hanya menyipit sebentar lalu kembali menunduk memandangi lembaran novel di tangannya.


Claude mengulurkan tangan mengangkat dagu Catalina dan memerangkap tubuh gadis itu diantara tubuh besarnya dan rak buku. Gadis itu mengerutkan kening dengan mata terbelalak menatap wajah Claude yang sudah mendekat di atasnya.


"Kau mau apa!" Catalina mendongak menatap wajah Claude yang makin dekat, hanya menyisakan beberapa centi dari wajahnya.


"Biasakan memandang orang yang sedang bicara denganmu, Cat. Jangan fokus hanya pada bukumu."


Mata biru Catalina membulat dan tampak jernih, bibir gadis itu sedikit terbuka saat Claude sedikit melirik ke bawah.


"Aku akan contohkan salah satu adegan romantis di novel Yoana itu padamu." Lalu dengan tiba-tiba Claude melingkarkan lengan kirinya ke pinggang Catalina, tangan kanannya memegang belakang leher gadis itu. Ia menunduk menyatukan bibirnya dengan bibir ranum Catalina yang membuka karena ingin mengatakan sesuatu. Claude masuk dan menginvasi bibir itu, mencium, memagut dan mencecapnya sambil merapatkan tubuh Catalina ke tubuhnya. Tangan Claude menekan belakang leher Catalina sehingga ia dapat memperdalam ciumannya pada gadis yang terdiam dalam pelukannya itu. Claude mencium bibir itu dengan rakus, terasa manis dan menyenangkan untuknya.


Kediaman Catalina membuat Claude akhirnya berhenti. Napasnya sudah memburu tidak beraturan, gairahnya naik ketika bibirnya hinggap pada bibir ranum gadis itu. Wajah gadis yang masih mendongak di bawahnya ini terlihat sangat terkejut, Claude tersenyum lebar.Tangannya berpindah dari belakang leher catalina menuju bibir gadis itu. Claude mengusap lembut bibir yang terlihat sedikit bengkak karena ulahnya.

__ADS_1


"Itu baru satu adegan. Katakan padaku kalau kau mau belajar adegan lain." Suara halus menggoda itu membuat Catalina sepertinya kembali dari alam lain. Gadis itu mengangkat tangannya dan menampar pipi Claude. Mata biru itu tiba-tiba berkaca-kaca.


"Aku menerima perlakuanmu yang menahanku disini karena Leon. Hanya karena kalian menyayangi Leon, aku mengikuti perintah kalian. Tapi aku tidak terima jika kau melecehkanku!" Catalina mendorong Claude dan melempar buku yang ia pegang ke dada Claude sebelum akhirnya berlari meninggalkan ruangan perpustakaan. Claude melihat gadis itu menggosok bibirnya berulang kali sambil berlari. Seolah ingin menghapus jejak bibir Claude di bibirnya tadi.


Claude menggosok keningnya yang berkerut.


"Melecehkan? Ya Tuhan ... aku di sini sepenuh hati tertarik padamu Cat." Claude membungkuk dan mengambil buku yang tadi dilempar Catalina. Ia memegang buku itu dam membalik sampul dan halamannya yang tadi telah dibuka oleh Catalina.


"Hanya Leon yang membuatmu bertahan di rumah ini. Kau menyebutkan kelemahanmu, Catty sayang. Aku akan memastikan Leon akan membuatmu selamanya bertahan di sisi kami ... selamanya," desis Claude di keheningan ruangan besar itu.


Catalina sampai di kamarnya dan langsung membuka pintu penghubung kamar Leon. Bayi itu ternyata telah membuka mata, jari-jarinya mengapai ke arah Catalina. Catalina segera mengangkatnya dan memeluknya di dada, seolah mencari penghiburan dari kemarahan dan kejengkelan yang ia rasakan. Ia menangis terisak-isak sambil memeluk bayi itu.


"Sungguh kurang ajar! Jika bukan karena dia adalah pamanmu dan punya kekuasaan untuk menahanmu bersamanya, aku akan membawamu pergi saja Leon sayang. Aku benci padanya!" Catalina menangis dan mengelus kepala Leon yang mengoceh balik mendengar kata-katanya.


Catalina mengelilingi kamar bayi dengan menggendong Leon, memutar menghilangkan rasa jengkel dan terkejut yang ia rasakan. Berani sekali laki-laki itu menciumnya! Catalina tidak akan membiarkan hal ini terulang lagi. Claude Bernard akan menerima lebih dari sekedar tamparan bila ia melakukan hal itu lagi padanya. Catalina berjanji pada dirinya sendiri.


N E X T >>>


**********


From Author,


Jangan lupa like, koment, love ,bintang5 nya ya para pembaca semua.


Terima kasih sudah baca karya author.


Salam, DIANAZ

__ADS_1


__ADS_2