
Luigi memandang tunangannya yang terus berdansa tiada henti. Gadis itu tertawa, berdansa dengan siapapun yang mengajaknya. Para pria yang berbeda-beda, berganti-ganti. Menarik, memeluk dan memutar Natalia di lantai dansa. Seolah ingin memancing reaksi, memprovokasi Luigi untuk berkata, bersikap atau bahkan bertindak. Namun ia tidak peduli. Gadis itu boleh menari telanjang di lantai dansa dan ia akan tetap tidak peduli.
Kebosanan mulai membelitnya, sedikit pun sejak menginjakkan kaki di acara pesta yang dihadiri oleh para selebriti bahkan para pengusaha kaya itu tidak menarik minatnya secuil pun. Luigi hanya bertahan karena ia sudah berjanji untuk menemani Natalia.
Natalia kembali dari lantai dansa, lalu ia duduk dan tersenyum pada Luigi yang memasang wajah kesal.
"Kau sudah puas belum? Karena aku sudah bosan. Aku mau pergi."
"Bagaimana tidak bosan kalau kau hanya duduk saja di sini. Ini pesta Luigi ... nikmati saja!"
Luigi menyipitkan mata. "Nona Ambroz. Jangan sampai aku pergi dan meninggalkanmu sendirian di sini. Atau kau tidak keberatan pulang sendiri? Kalau kau tidak keberatan, aku akan pulang sekarang."
"Kau ini! Aku belum menikmati satu gelas pun minuman enak di sini!"
"Salahmu karena kau hanya sibuk berpelukan dan berputar di lantai dansa, Gadis bodoh!"
Natalia mengeretakkan gerahamnya, tapi ia menarik napas panjang, menahan makian yang sudah akan terlontar dari bibirnya.
"Baiklah, tapi ijinkan aku minum dan temani aku minum ... setelahnya, kita pulang." Natalia berbalik, meninggalkan Luigi dan duduk di meja bar. Bartender di sana tersenyum dan mengedipkan matanya.
"Aha! Kau sudah datang, Nat. Kau sudah siap dengan pesananmu?"
"Tentu Jhon dan jangan salah ... aku ingin sadar sepenuhnya ketika hal yang kurencanakan terjadi."
"Tentu. Kau gadis manis yang mengerikan ... sudah tidak tahan menunggu pernikahanmu ya." Jhon terkekeh dan mengedipkan mata menggoda pada Natalia yang hanya menyambutnya dengan senyum miring.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan besok pagi-pagi bukan?" tanya Natalia.
"Jangan khawatir Natalia sayang. Uangmu sudah kuterima, pekerjaan mudah seperti itu akan kukerjakan sampai beres." Jhon mengulurkan dua gelas pada Natalia.
"Ingat, Nat. Yang ini untuk si tampan," ucap Jhon sambil berkedip.
Natalia mengangguk, menggenggam gelas dan kembali kepada Luigi. Ia meletakkan gelas di depan Luigi lalu duduk di kursinya.
Natalia mendekatkan gelasnya sendiri ke bibir. Meminum cairan yang telah diracik oleh Jhon sambil memandang lantai dansa. Melambaikan tangan ketika temannya sesama model yang tengah menari di lantai dansa menyapanya dengan lambaian tangan.
Jantung Natalia berdegup tidak menentu. Ingin sekali melirik ekspresi Luigi, namun menahannya sekuat tenaga. Ia bersikap seolah menikmati minumannya sendiri, tanpa peduli Luigi mau ikut minum atau tidak.
Ketika sesapan terakhir minuman melewati tenggorokannya. Natalia merasa putus asa, Luigi sama sekali tidak menyentuh gelasnya.
Ia meletakkan gelas ke meja, kemudian menarik napas panjang. Sepertinya rencananya belum berhasil.
Seorang pria kemudian mendatangi Natalia dan mengulurkan tangan sambil tersenyum.
"Miss Natalia ... bolehkah aku mengajakmu berdansa?"
Luigi mengembuskan napas dengan keras, merasa sangat kesal karena rencana pulang akan gagal jika gadis itu mau berdansa lagi. Ia menggenggam gelas dan menghabiskannya dengan cepat. Tenggorokannya hampir seperti terbakar oleh ulah itu. Kemudian ia menyipit memandang Natalia yang memandangnya dengan tatapan terkejut.
"Kau mengatakan akan pulang jika aku menemanimu minum. Sekarang aku sudah minum. Aku akan pergi. Terserah padamu akan ikut atau tidak."
__ADS_1
Luigi bangkit berdiri lalu melangkah meninggalkan meja. Natalia tersentak, lalu mengucapkan maaf pada pria yang tadi mengajaknya berdansa. Dengan memeluk tas kecilnya, ia berlari mengejar Luigi.
Mereka masuk ke dalam lift dan turun ke lantai dasar, tempat Luigi memarkirkan mobilnya. Natalia melirik penasaran, sepertinya obat dari Jhon belum bereaksi sama sekali.
Setelah berjalan dan tiba di samping mobil mereka, Luigi baru saja akan membuka pintu ketika kepalanya mulai terasa pusing. Ia bersandar sejenak ke badan mobil dengan kepala tertunduk, jarinya mengurut bagian pelipis berulang kali.
"Luigi? Ada apa? Kau merasa pusing?"
Natalia memegang lengan pria itu, tersenyum dalam hati karena rencananya mulai terlaksana. Luigi membuka pintu mobil, namun begitu akan masuk, ia terhuyung sehingga Natalia bergerak cepat menangkapnya.
"Kau sakit? Jangan menyetir ya ... aku saja," ucap Natalia sambil membimbing tubuh Luigi. Ia membawanya memutar, membuka pintu samping dan membantu Luigi yang terpejam duduk di kursi. Setelahnya Natalia masuk ke belakang kemudi, ia mulai menjalankan mobil dan menyunggingkan senyum lebar di wajah sambil melirik dokter yang sepertinya sudah masuk dalam perangkapnya itu.
Natalia tiba di halaman hotel, lalu menggoyangkan tubuh Luigi yang hanya mengerang. Pria itu mulai melonggarkan dasinya dan membuka kancing kemejanya bagian atas.
"Kenapa panas sekali ... ya Tuhan ...." Luigi kembali mengerang. Natalia akhirnya turun dan memutar ke kursi samping, ia membukanya dan dibantu oleh petugas valet yang sudah mendekat, Natalia mengeluarkan Luigi dan menyerahkan kunci mobilnya pada petugas valet.
"Tolong ya ... terimakasih," ucapnya sambil meletakkan lengan Luigi ke bahunya. Ia mencoba menyangga Luigi yang terhuyung dengan tubuhnya.
"Anda perlu bantuan, Nyonya?" tanya valet itu.
Natalia menggeleng, memberi senyum sebelum berlalu membawa Luigi ke meja resepsionis.
"Tolong kuncinya. Reservasi atas nama Jhon Lucas," ucapnya. Wanita itu langsung mengangguk dan memberi kunci pada Natalia.
"Tuan Lucas baru saja menelepon, Nyonya. Beliau mengatakan Anda akan segera tiba. Beliau menitipkan ucapan pada kami untukmu, Nyonya. Beliau mengatakan selamat berbulan madu."
"Kepalaku sakit sekali. Aku ingin tidur!" seru Luigi. Natalia langsung meninggalkan tempat itu dan masuk ke dalam lift. Tertatih karena Luigi mulai menyeret langkahnya, menyebabkan Natalia kesulitan menyangga tubuhnya sambil berjalan.
"Ya ampun! Kau berat!" ucap Natalia sambil kembali mengecek pintu. Memastikan pintunya terkunci, lalu ia kembali ke samping ranjang besar. Melihat Luigi bergerak gelisah dan mulai menarik jas di tubuhnya.
"Panas sekali di sini! Apa ACnya tidak bisa lebih dingin lagi!" Luigi melempar jasnya sembarangan ke atas lantai. Natalia tertawa, lalu berbalik meninggalkan pria itu. Ia akan mandi karena tubuhnya terasa lengket.
Setelah mandi, Natalia melingkarkan handuk putih ke sekeliling tubuhnya. Ia keluar dari kamar mandi dan melihat ke atas tempat tidur dengan sangat terkejut.
Luigi terbaring di sana hanya dengan pakaian dalam yang masih melekat di tubuhnya yang polos. Kemeja dan celana panjang laki-laki itu sudah berhamburan di lantai. Laki-laki itu bergerak-gerak gelisah dengan napas yang mulai memburu di atas ranjang.
Natalia menelan ludah, perasaan takut mulai melingkupi hatinya, namun ia mengingat ucapan Jhon. 'kau hanya perlu mendekat bila obatnya sudah bekerja, lalu biarkan semuanya diselesaikan oleh priamu nanti.'
Natalia memantapkan hatinya untuk mengusir rasa takut, ia membayangkan wajah ayah dan ibunya dan seketika tekadnya kembali kuat.
Dengan langkah mantap ia mematikan lampu, menyisakan hanya lampu tidur temaram dengan cahaya kekuningan, kemudian Natalia mendekat ke tempat tidur, ke arah Luigi yang bergerak-gerak gelisah.
Natalia mendekat, memanjat naik ke samping Luigi dan menghela wajah laki-laki itu ke arahnya.
"Sudah kukatakan kau akan menjadi milikku, Luigi Stefano." Kemudian ia menurunkan bibirnya dan mencium pria itu. Kedua tangannya memegang dan mengelus dada keras sang dokter sambil mulai menempelkan tubuhnya ke tubuh polos Luigi.
Sentuhan di bibir dan dadanya membuat Luigi seolah merasakan hawa dingin menyejukkan untuk meredakan rasa panas yang membelenggunya. Ia balik ******* bibir yang memagut dan mencecap bibirnya yang panas. Tangan Luigi dengan cepat menarik penghalang yang terasa menggelitik dadanya. Ia menarik handuk yang menutupi tubuh pasangannya dan melemparnya ke udara sebelum handuk itu jatuh ke lantai.
Tubuh polos yang terasa sejuk dan wangi itu membuat Luigi semakin terbakar, namun anehnya ia merasa tubuh itu pula yang dapat mendinginkan darahnya yang menggelegak. Dengan satu tarikan cepat, Luigi mengambil kendali, membalikkan posisi Natalia yang berada di bawah, mulai mengeksplor setiap jejak kulit gadis itu seolah itu adalah sumber air yang dapat memuaskan dahaganya.
__ADS_1
Dua insan itu larut dalam sentuhan dengan napas yang sama-sama memburu. Luigi tidak menyadari apapun, yang ia inginkan hanyalah memuaskan gairahnya, memadamkan api yang membakarnya. Hingga tubuhnya yang sudah tidak memiliki penghalang apapun akhirnya menerobos, memaksa masuk dan menyelesaikan setiap getaran syarafnya yang tengah berlari. Luigi menghentak, merasakan kenikmatan ketika tubuh gadis yang melingkupinya terasa amat manis. Kenikmatannya membubung lalu mencapai puncak dengan geraman tertahan di leher Natalia dan satu gigitan di bahu putih gadis itu sebelum akhirnya terkulai puas di atas tubuh Natalia.
Natalia menggigit bibirnya kuat-kuat ketika rasa sakit terasa mencabik tubuhnya. Napasnya terasa amat sesak, cumbuan manis yang membakar gairahnya terasa nikmat dan menyenangkan pada awalnya. Namun, seiring Luigi yang mulai memaksa dan menerobos masuk ke tubuhnya, kenikmatan itu menghilang, berganti dengan rasa sakit yang membuat Natalia ingin berteriak menyuruh laki-laki itu berhenti. Namun ia membayangkan wajah ayahnya, pria yang sangat ia kasihi, yang sangat membutuhkan bantuannya saat ini. Juga wajah ibunya yang dengan wajah teduh akan mengatakan semuanya akan baik-baik saja, padahal semuanya tidak ada lagi yang baik-baik saja.
Natalia menahan rasa sakitnya, air matanya meleleh.
Semuanya akan baik-baik saja ... rasa sakitnya akan hilang, lalu semuanya akan berjalan kembali seperti seharusnya.
Setelah Luigi selesai, Natalia mencoba mendorong pria itu dari atas tubuhnya. Pria itu tertelungkup di atas ranjang. Natalia menggeser tubuh, menghapus air matanya dan menyunggingkan senyum pahit.
"Kau lihatkan, Nat ... sudah selesai, lalu besok, kau akan menikah dan semuanya akan baik-baik saja ...." Natalia berbisik sambil sekali lagi menghapus air matanya.
Setelah beberapa saat mengatur napas, Natalia melihat tubuhnya yang telanjang lalu melihat selimut di ujung kakinya. Ia bangkit duduk dan akan menarik selimut untuk menutup tubuh ketika sebuah lengan kekar mulai melingkari pinggang dan membuatnya tidak bisa bergerak.
"Kau mau kemana, Cantik ... aku belum selesai denganmu." Lalu tanpa kuasa melawan, Natalia ditarik oleh lengan itu hingga terhempas telentang, kemudian kembali ... Luigi memulai lagi semua adegan yang mereka lakukan dari awal. Dengan putus asa, Natalia hanya bisa memejamkan mata dan berdoa semoga dokter itu cepat selesai dan pengaruh obatnya segera hilang.
Malam yang panjang bagi Natalia, karena luigi berhenti setelah kali ke tiga. Tubuh pria itu akhirnya tertidur lelap di samping Natalia yang menangis dalam diam. Ia tidak menyesal akan rencana busuk yang ia lakukan ini. Ia menangis karena tubuhnya terasa sangat sakit, leher, bahu bahkan dadanya terdapat banyak bekas gigitan, belum lagi jejak tanda merah yang menghias hampir seluruh tubuhnya. Apalagi bagian bawahnya, Natalia merasa bagian itu baru saja dirobek dan dibelah paksa, menyisakan rasa nyeri bahkan sampai saat ini. Hampir pagi, tapi ia bahkan tidak punya tenaga untuk hanya sekedar membersihkan diri di kamar mandi. Tubuhnya terasa sangat lengket, Namun Natalia tidak mampu untuk membersihkannya.
Dengan satu tarikan napas panjang, Natalia melirik pria yang tertidur di sampingnya.
Aku tahu kau akan sangat membenciku, akan sangat murka dan melemparku ke dasar neraka ... Tapi aku tak peduli ... karena meski kau membenciku, mereka menyayangiku ... Aku akan melakukan apapun untuk mereka.
Setelahnya Natalia tertidur, meringkuk di bawah selimut. Mendamaikan pikiran dan hatinya,
Menyiapkan raganya bertemu hari esok. Yang akan membutuhkan kekuatannya lahir dan batin.
N E X T >>>
Cast: dr. Luigi Stefano
Cast: Natalia Ambroz
*********
From Author,
Aish ... Natalia Ambroz. Cari mati dianya.
Jangan lupa tekan like, tekan love, tekan bintang lima, ketik komentar, dan kasih Vote, para Readers yang caem dan ketceh.
Ajak teman nikmatin novel ini yuk.
Follow juga karya author dengan klik ikuti ya
Gabung grup chat, biar kita ngobrol bareng.
__ADS_1
Akhir kata, Terima kasih Banyakkkkk...
Salam, DIANAZ.