Embrace Love

Embrace Love
Ch 128. Shocked news


__ADS_3

Marylin mengerutkan kening memandang ke arah para tamu. Ia merasa agak tidak nyaman, Ann mengatakan ada panggilan darurat dari seorang teman dan wanita itu pamit pergi sejak sore.


Seorang wanita datang bersama dua orang pelayan ke kamarnya dan menyiapkan Mary untuk pesta malam ini. Sebuah gaun berwarna biru pucat yang amat cantik dikenakan padanya, rambutnya ditata elegan dengan ikal yang dibentuk sedemikian rupa hingga tergerai alami di sekeliling pundak. Belum ada yang ia kenal dekat kecuali Ann di mansion itu, dan sekarang Annete tidak ada, membuat Mary jadi merasa tidak nyaman.


"Ayo, Mary ... kita sapa mereka." Alric memegang siku Mary perlahan. Takut Mary tersentak pada sentuhannya.


"Mmm ...baik ... kita sapa sama-sama." Mary perlahan melepas pegangan Claude di sikunya.


"Baiklah ... ayo ...."


Mereka melangkah bersama, menyapa satu demi satu sampai mereka tiba di hadapan Serge.


"Halo ... Mary, kau tampak cantik, Sayang ...." sapa Serge. Senyum lega akhirnya terbit di bibir wanita itu, menggantikan senyum kaku yang sejak tadi menghias di wajahnya.


"Apa kau datang dengan Catalina?" tanya Mary.


"Aku di sini." suara Catalina terdengar menyela dari belakang Marylin. Marylin dan Alric berbalik dan melihat Catalina dan Claude yang sudah berdiri di belakang mereka.


Catalina mengulurkan tangan dan memeluk saudarinya. " Kau cantik sekali, Mary."


Alric melihat kelegaan yang amat sangat menghampiri pengantinnya itu. Setelah beberapa saat mengobrol, alunan musik mulai terdengar, membuat beberapa pasangan mulai bergerak ke lantai dansa. Alric mengulurkan tangannya ke arah Mary dan mengajaknya berdansa.


"Mary ... berikan dansa pertamamu padaku."


Mary melihat beberapa pasang mata dari para tamu memandang ke arah mereka. Penasaran dengan sosok wanita yang telah menjadi istri dari Alrico Lucca. Ia akhirnya menerima uluran tangan Alric, tidak mungkin ia menolak di bawah tatapan mata penasaran para tamu itu. Ia tidak akan membuat hubungan mereka jadi konsumsi gosip. Mary bahkan mencoba tersenyum ketika melangkahkan kakinya bersama Alric ke lantai dansa.


"Terima kasih ...." bisik Alric ke telinga Mary sesaat setelah mereka mulai berdansa.


"Untuk apa?" tanya Mary. Mendongak menatap mata Alric.


"Karena menerima uluran tanganku, dan mau ku ajak berdansa. Menghindarkan aku dari rasa malu karena ditolak oleh istriku sendiri ...." Alric mengakhiri kata-katanya dengan terkekeh pelan. Mary diam saja, mereka terus berdansa tanpa ada lagi yang mengucapkan satu patah kata, sampai akhirnya alunan melodi berakhir dan mereka berhenti berdansa.


Beberapa saat kemudian, Serge mengajak Mary kembali berdansa. Alric memakai kesempatan itu untuk mengobrol dan menyapa para undangan yang belum sempat ia sapa. Beberapa dari mereka menanyakan keberadaan ibunya, namun Diego yang datang kemudian mengatakan kalau Annete hanya bisa menghadiri pernikahan, tapi harus pergi secepatnya karena sesuatu hal yang mendadak, jadi tidak bisa menghadiri pesta untuk memperkenalkan Mary. Jawaban itu cukup bagi mereka, bayangan mereka pernikahan Alric dilakukan hanya dihadiri oleh keluarga dekat, termasuk Annete.


Alric juga menambahkan cerita kalau gaun dan semua perlengkapan Mary malam ini disiapkan dan dipilih oleh ibunya. Membuat para tamu memikirkan hubungan baik antara menantu dan ibu mertua yang sepertinya terjalin baik. Alric tersenyum di dalam hati. Ia tidak berbohong, ibunya dan Mary memang mempunyai hubungan yang sangat baik. Walaupun Mary tidak tahu status Annete yang sesungguhnya.


Waktu berlalu, Mary tampak mulai lelah, ia ditarik oleh Catalina menuju sebuah sofa ketika sebuah suara menyapa mereka.


"Apa aku boleh bersalaman dengan pengantin wanitanya?"


Catalina dan Mary menoleh mendengar suara yang mereka kenali tersebut, lalu mereka tersenyum dan menjawab bersamaan.


"Luigi!" ucap Catalina terkejut.


"Dokter Luigi!" ucap Mary dengan nada senang.


"Selamat, Mary. Aku ikut bahagia untukmu. Bagaimana keadaanmu?"


"Terima kasih, Dokter. Aku baik-baik saja."


Luigi meneliti wajah Mary, keringat tampak mengembun di pelipis wanita itu.


"Mary ...." Luigi baru saja mau bertanya lagi tentang keadaan Mary dan menyarankan agar wanita itu beristirahat ketika suara Alric terdengar menyapanya.


"Akhirnya Anda datang juga, Dokter."


Luigi menoleh, lalu tersenyum dan menerima uluran tangan Alric.


"Maaf aku terlambat ... terima kasih sudah mengundangku," ucap Luigi.


"Aku senang Anda bisa hadir. Anda dokter kesayangan istriku, jadi aku memang berharap Anda datang," ucap Alric sambil mengedipkan matanya pada Luigi.


Luigi tertawa, lalu keduanya menatap Marylin yang cepat-cepat menoleh ke arah lain, menyembunyikan wajahnya yang terlihat malu.


"Jangan menggodanya," ucap Catalina geli.


"Mary ... kau merasa tidak sehat?" tanya Luigi tiba-tiba.


Alric dan Catalina langsung menatap khawatir ke arah Marylin. Catalina sudah menduga Marylin kelelahan, karena itu tadi ia berniat mengajak kakaknya duduk dan beristirahat di sofa.


"Aku ...." Marylin memang merasa agak lelah. Tapi ia merasa tidak enak untuk pamit meninggalkan para tamu Alric.

__ADS_1


"Kau lelah bukan? Sebaiknya kau bawa istrimu untuk beristirahat, Alric ... jangan sampai terlalu kelelahan."


Alric mengangguk dengan wajah khawatir. Ia berpamitan pada Luigi dan Catalina lalu memegang siku Mary dan mengajaknya melangkah meninggalkan aula. Alric menatap Diego dan memberi kode lewat tatapannya agar Diego menangani dan menggantikannya menemani para tamu sebelum ia kembali lagi. Anggukan kepala Diego memberi tanda pada Alric bahwa pria itu mengerti.


"Tidak usah mengantarku. Aku baik-baik saja. Mereka akan bertanya-tanya bila kau menghilang."


"Jangan khawatirkan itu. Mereka akan baik-baik saja tanpa aku." Alric melirik dan melihat keringat yang mengembun di pelipis dan di atas bibir Mary. Ia mengumpat keteledorannya tidak menyadari hal itu. Jika Luigi tadi tidak menyadarinya, mungkin Mary akan terus memaksakan dirinya berada di sana sampai pestanya usai.


Catalina menatap ke arah kepergian kakaknya sampai sosok pasangan itu menghilang di lantai atas. Lalu ia kembali menoleh ke arah Luigi.


"Luigi ... dimana Natalia? Apa kondisinya tidak memungkinkan ia untuk hadir?"


Luigi mengerutkan kening.


"Kondisi? Maksudmu, Lina?"


Catalina memandang heran. Ia menghitung di dalam hati ... sejak saat ia bertemu Natalia waktu memeriksakan kakinya dulu, Natalia yang sedang menangis sambil memegangi lembaran USG calon bayinya. Tidak mungkin Natalia belum juga memberitahu suaminya bukan? dan lagi ... seharusnya sekarang perut Natalia sudah terlihat, Luigi tidak mungkin tidak menyadarinya.


"Maksudku kehamilan istrimu."


Hening ... Luigi menatap, terpaku, bergeming. Terlihat tidak mengerti tentang apa yang sedang Catalina bicarakan.


"Kehamilan? Apa yang kau bicarakan, Lina?"


Catalina berdecak tidak sabar. Ia sudah menduga ada yang aneh saat menemani Mary periksa pertama kali dulu dan mengetahui kalau Luigi tidak tahu tentang kehamilan Natalia. Tapi saat itu pasangan itu tinggal bersama, mustahil dalam kurun waktu yang sudah berlalu, Luigi tidak juga menyadari perubahan perut istrinya yang membesar.


Catalina memandang berkeliling, ada beberapa orang yang berdiri di dekat mereka, jadi ia mengajak Luigi untuk pergi ke arah teras samping agar bisa bicara secara pribadi. Luigi mengikuti langkah Catalina sampai mereka tiba di teras. Catalina bersedekap dan menatap tajam ke arah dokter itu.


"Jangan katakan kalau kau sama sekali tidak tahu!"


Tanpa sepengetahuan keduanya, Claude mengikuti Catalina dan Luigi ketika melihat mereka berjalan meninggalkan aula. Ia sengaja tidak mendatangi keduanya melainkan berdiri di balik tirai jendela lebar yang mengarah ke teras. Ia mendengar cukup jelas suara Catalina.


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, Lina."


"Ya ampun ... Luigi ... saat dulu aku memeriksakan kakiku bersama Claude, aku bertemu dengan Natalia. Dia tengah menangis di kursi tunggu di depan ruang praktek seorang dokter kandungan sambil memegang sebuah gambar USG. Dia hamil, Luigi. Kami sempat bicara ... ia memintaku jangan mengatakannya pada siapapun. Kukira karena ia sendiri yang akan mengatakannya padamu."


Luigi menelan ludah, memegang pembatas teras untuk menyangga tubuhnya. Belum sanggup mengatakan apapun.


Luigi menggeleng, terbayang sosok Natalia yang sekarang entah ada di mana.


"Tidak, Lina ... Aku memang tidak menyadarinya. Dia ..." Luigi kembali menelan ludah, melancarkan tenggorokannya yang terasa amat kering, "Dia pergi ...."


"Apa maksudmu dengan pergi!?"


"Dia meninggalkan sebuah surat ... lalu pergi meninggalkan apartemenku."


Catalina menyipitkan matanya pada Luigi.


"Luigi ... maaf, bukan aku mencampuri urusanmu. Tapi kenapa Natalia pergi? Bagaimana sebenarnya hubungan kalian?"


Luigi mengusap wajahnya perlahan. Menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan, berusaha menenangkan dirinya yang merasa terguncang mendengar kabar tersebut. Lalu pikirannya terbayang lagi pada sosok Natalia, kali ini dengan perut yang membesar, menjalani kehamilan sendiri, tanpa suami dan juga orang tuanya. Luigi menduga orang tua Natalia juga tidak tahu akan hal ini, berdasarkan kata-kata ayahnya saat menemuinya di rumah sakit waktu itu.


Sebuah keputusan melintas di kepala Luigi. Ia mengusap wajah lagi dan menatap ke arah Catalina.


"Maaf, Lina ... Aku tidak dapat membicarakannya sekarang. Aku harus pergi. Ada sesuatu yang harus cepat aku lakukan."


"Kuharap ini tentang Natalia!"


"Ya ... terima kasih sudah memberitahuku."


Ya ... pergilah," ucap Catalina.


Luigi mengangguk, lalu ia melangkah masuk ke arah dalam.


"Luigi ...." Catalina kembali memanggil. Membuat dokter itu berhenti dan menoleh ke arahnya.


"Ya?"


"Kuharap kau melakukan hal yang benar kali ini. Walau bagaimanapun, dia istrimu ... yang telah mengandung anakmu."


Luigi hanya menjawab dengan menganggukkan kepala, lalu kembali berbalik dan melangkah ke arah aula.

__ADS_1


Claude melangkah pelan dan mendatangi Catalina ketika sosok dokter Luigi sudah menjauh.


"Claude? Sejak kapan kau datang?" tanya Catalina, heran melihat laki-laki itu tahu tempat untuk menyusulnya.


"Kemarilah, Cat ...."


Catalina mendekat, lalu tiba-tiba ia sudah berada dalam rengkuhan lengan Claude. Pria itu juga mencium puncak kepalanya.


"Ada apa Claude?" tanya Catalina, merasakan perasaan yang agak berbeda dari pelukan itu.


"Tidak ada, Catty ... hanya mau mengatakan, kalau aku makin hari makin mencintaimu."


Catalina terkekeh. " Kau sedang merayuku lagi ya ...."


"Mmm ...." Claude menjawab dengan gumaman.


"Tadi aku bicara dengan Luigi,"


"Aku tahu ...." Claude kembali mencium puncak kepala Catalina, lalu menjauhkan tubuhnya sedikit agar bisa menunduk dan melihat wajah gadis itu.


"Kau gadis yang sangat baik ... Jadi kapan aku bisa menikah denganmu, Catty? Kakakmu sudah menikah. Ia akan baik-baik saja ...."


Catalina tersenyum dengan wajah merona, Claude tampak sangat tampan, dan sekarang pria itu kembali memintanya untuk menikah.


"Aku sudah siap, Claude. Kapan saja kau ingin ... ayo kita menikah," ucap Catalina.


Senyum lebar merekah di wajah Claude. Ia kembali memeluk dan mengecup gadis cantik yang sudah tidak sabar untuk ia jadikan istri itu.


Di lantai atas, di depan pintu kamarnya, Mary berhenti. Ia menjauh dari Alric dan mencoba mengusir pria itu.


"Pergilah, Alric. Temui para tamu. Aku akan baik-baik saja."


"Tidak Mary. Kau berkeringat. Kau tidak baik-baik saja."


"Aku hanya sedikit tegang sejak pestanya dimulai. Aku akan beristirahat. Jadi pergilah."


Alric membuka pintu, lalu masuk lebih dulu. Ia melangkah ke arah walk in closet dan mencari baju longgar untuk Mary pakai tidur.


"Ganti bajumu dengan ini. Kemarilah. Aku bantu membuka gaunmu."


"Apa! Tidak!"


"Ya ampun, Mary. Jangan berpikir yang tidak-tidak. Cepatlah, akan memerlukan waktu jika kita memanggil pelayan."


"Tidak. Aku bisa sendiri. terima kasih. Pergilah, agar aku bisa cepat istirahat."


Alric menatap ke arah mata Mary yang penuh tekad. Tidak mau menerima bantuannya. Alric menarik nafas panjang, memangnya bagaimana istrinya itu akan melepas simpul tali-tali kecil di bagian punggung gaun biru itu tanpa bantuan orang lain. Tapi ia tidak mau berkeras dan membuat Mary makin menjaga jarak dengannya.


"Baiklah," Alric mengangkat kedua tangannya dan mengalah.


"Tidurlah setelahnya," ucapnya lagi. Mary mengangguk, mengiringi langkah Alric dan langsung menutup pintu ketika Alric baru selangkah keluar dari kamar. Menutup pintu di belakang punggungnya saat ia bahkan masih berdiri di depan pintu itu.


"Good night, Mary ... sweet dream ..." ucap Alric di depan pintu. Setelah beberapa detik tidak ada jawaban, padahal Alric yakin wanita itu masih ada di balik pintu. Alric akhirnya melangkah pergi meninggalkan lorong sambil mengucapkan selamat tidur pada bayi yang sedang tumbuh di dalam rahim istrinya tersebut. Bayi yang entah kenapa terbayang sebagai seorang putri kecil di kepalanya.


Good night my princess ... kiss your mom for me, Honey ....


Mary melangkah meninggalkan pintu kamarnya yang sudah ia kunci ketika mendengar langkah kaki Alric menjauh. Ia berdiri di depan cermin, mengambil baju longgar yang tadi diberikan Alric dan mulai mencoba membuka gaunnya. Seketika baru ia menyadari keberadaan tali-tali kecil di belakang punggungnya itu. Mary mencoba menggapai, namun tidak terjangkau. Karena merasa lelah dan malas memanggil pelayan, ia akhirnya hanya membersihkan wajah dari make up lalu segera memasang lampu tidur. Mary menyusun bantal-bantal di atas ranjang kemudian membaringkan tubuhnya yang lelah. Setelah beberapa saat, ia meringkuk, tertidur dengan menggunakan gaun pesta yang masih melekat.


NEXT >>>>


**********


From Author


Ikuti kisahnya terus, dan bersabar tunggu updatenya ya. Jangan lupa klik tombol like alias jempol, tombol favorite alias love, beri komentar, saran ataupun kritik membangun, biar Author makin semangat untuk nulis.


Bagi yang belum kasih rate, tolongin dong tekan tombol bintang, kemudian klik bintang lima yaπŸ™πŸ™


Yang punya poin dan koin, bisa bantu author dengan klik Vote agar performa novel ini makin naik.


Untuk semua bantuan para Readers semuanya, author ucapin terima kasih banyakπŸ’žπŸ’ž

__ADS_1


Salam hangat, DIANAZ.


__ADS_2