
Simon Bernard memandang pasangan yang tengah berciuman di tengah aula mansion tempat tinggalnya itu dengan mata menyipit. Kedua tangannya berada di dalam saku. Rasa puas menyerbu hatinya ketika melihat Alric berbalik dan melihat rasa gusar yang terpampang jelas di wajah pria itu.
Dengan sengaja memiringkan kepalanya, Simon mengintip Mary yang wajahnya memerah dengan bibir lembab yang tampak bengkak. Alric segera menggeser tubuhnya dan menutup kembali tubuh Marylin di belakang tubuhnya.
Simon terkekeh geli. " Kalau mau menyembunyikan istrimu, harusnya kau kurung saja ia di mansion mu, Lucca."
"Jangan campuri urusanku, Bocah Bernard!"
"Tidak bisa tidak dicampuri, Lucca. Kau berciuman penuh gairah tanpa melihat tempat. Ini mansion Bernard. Pelayan maupun pekerja kami mungkin tidak terbiasa melihat pertunjukan gairah di tempat terbuka."
Alric mendengus. " Itu kurang bisa dipercaya, Bernard! Mengingat ada sepasang pengantin baru dan juga pasangan mau menikah yang pastinya akan selalu saling menyentuh di manapun, kapan pun."
"Memang benar. Tapi mereka lebih suka melakukannya di tempat yang tidak akan dilihat orang lain."
Alric baru saja akan menjawab lagi ucapan Simon, ketika ia merasa lengannya dilingkari tangan halus istrinya.
"Sudah, hentikan. Dia sengaja memancing mu. Ayo, kau ikut aku saja."
Mary menarik Alric yang menurut melangkahkan kakinya sesuai arah yang Mary pilih, namun kepalanya masih menoleh untuk memandang tajam Simon Bernard. Tambah gusar melihat senyum meremehkan di bibir si bungsu Bernard itu.
Mary membawa Alric ke dapur. Dimana wangi harum kue yang baru saja dipanggang menyerbu hidung Alric.
"Astaga ... baunya seperti kue buatan Annete. Halo Yoana, halo Catalina."
"Oh, halo Alric. Ini memang resep kue yang didapat dua wanita ini dari Annete." Yoana menyapa tamunya dan mengelap kedua tangannya di celemek. Ia menaikkan alis ketika menyadari pria yang dulu penuh misteri baginya itu berdiri di dapur mansion Bernard dan pemandangan itu sama sekali tidak terlihat aneh.
Mary menarik sebuah kursi untuk Alric dan menyuruh suaminya itu untuk duduk.
"Duduklah," ucapnya.
"Terima kasih, Sayang. Apakah Tuan Rumahnya tidak keberatan jika aku meminta minum?"
Yoana tersenyum melihat Alric yang memandangi potongan kue yang pertama, yang tadi telah mereka potong-potong dan taruh di atas meja.
"Tentu saja, kau mau secangkir teh?" tanya Yoana.
"Tidak. Kalau kau tidak keberatan, aku mau secangkir kopi."
Yoana baru saja akan meminta pelayannya untuk membuat permintaan Alric. Namun Mary menawarkan diri untuk membuat kopi suaminya.
"Kalau boleh, aku saja yang membuatnya, Yoan. Jangan merepotkan pelayanmu."
"Tentu saja, Sayang."
Marylin bergerak ke lemari dan mulai mengeluarkan kopi serta bahan yang ia butuhkan. Catalina memandang ke arah kakaknya dengan tangan di dagu dan senyum di bibir, lalu matanya bergantian memandang kakak iparnya yang terus memandang punggung Mary dengan sinar mata yang hampir sama dengan yang biasa ia lihat di mata Claude. Apakah Alric mencintai Marylin? Sungguh Catalina berharap demikian.
Sekangkir kopi dan sepiring kecil kue di letakkan Mary di depan Alric. Ia baru saja akan melangkah menjauh untuk melihat adonan baru Yoana, ketika Alric menahan tangannya.
"Duduklah di sampingku," ucapnya.
Mary melirik, lalu mengangguk. Teh dan juga kue yang tadi ia makan masih tersisa. Catalina mendorong hingga cangkir dan piring kue milik Mary berada di depan tempat duduk kakaknya.
"Terima kasih, Lina." ucap Mary.
"Jangan terus memandangi istrimu seperti itu, Lucca. Aku akan sangat iri dan akhirnya aku tidak akan tahan dan harus memanggil suamiku pulang dari kantor."
Tawa geli terdengar setelah Yoana mengucapkan kalimat itu. Catalina pun menanggapi dengan tertawa.
Alric hanya diam, ia mengangkat cangkir kopi dan menyadari rasa yang sama seperti kopi yang ia nikmati setiap pagi di beranda samping mansionnya. Ia melirik Mary dengan penasaran.
"Apakah kau yang membuatkan kopiku setiap pagi?"
Mary mengangguk, lalu mengernyit. " Apakah tidak sesuai seleramu? Annete yang mengajariku takarannya."
"Tidak, Sayang. Ini sangat pas."
Hanya saja, Alric tidak menyangka. Ia mengira ibunyalah yang membuatkan kopi panas yang ia minum setiap pagi. Karena ketika ia mengambil kopi dan minum di beranda, ia tidak pernah melihat kelebat istrinya. Ternyata Mary lah yang melakukannya.
Suara langkah berderap memasuki dapur, Simon terlihat masuk lalu berdiri di dekat meja dengan tangan di pinggang.
"Simon! Kenapa kau ada di sini!?" seru Yoana.
"Aku makan siang di luar. Lalu memutuskan mau pulang sebentar melihat Leon."
"Putramu sedang tidur."
__ADS_1
"Aku tahu. Aku baru saja dari atas."
"Apakah Claude ikut makan siang denganmu?" tanya Catalina penuh harap.
"Maaf, Lina Sayang. Aku melarikan diri dari pria itu, juga dari pria yang satu lagi." Simon melirik kakaknya. Secara tidak langsung memberi tahu siapa pria satu lagi yang ia maksudkan.
"Oh, kau ini. Seharusnya tidak keluyuran tidak jelas, Simon! Banyak yang harus kau pelajari."
"Aku tahu. Tapi dua orang itu tidak berhenti sekejap pun, memberiku pekerjaan bertumpuk yang harus aku selesaikan! Aku hanya pergi sejenak dari tumpukan itu. Aku sudah mual dengan semua yang mereka jejalkan di mejaku!"
Catalina dan Mary hanya tersenyum mendengar keluhan Simon.
"Tergantung seberapa besar keinginanmu untuk belajar dan memperlihatkan kemauanmu, Bernard. Tumpukannya akan selesai jika kau kerjakan. Bukan kau tinggalkan." Alric berkata sambil mengangkat cangkir kopinya dan menyesap cairan hitam itu.
"Jangan menceramahiku, Lucca. Sudah cukup orang yang memberitahuku apa yang harus kulakukan! ... Mary Sayang, keberatan kalau aku minta kopi? Seperti yang suamimu minum."
Simon dengan sengaja meminta kopi pada Mary.
"Minta pelayanmu, Bernard," ucap Alric.
Catalina tersenyum, gadis itu bangkit dari tempat duduknya dan menawarkan membuatkan kopi Simon.
"Aku saja yang buatkan," ucap Catalina.
"Oh, terima kasih, Lina. Pria pencemburu ini hanya mau istrinya melayani dirinya sendiri."
"Itu sudah pasti, Bernard. Kau punya puluhan pelayan yang mau membuatkanmu kopi."
Tawa geli dari tiga wanita di dapur mansion Bernard membuat Alric dan Simon seketika terdiam. Menyadari mereka terlihat seperti lelucon bagi ketiga wanita itu.
Setelah beberapa gigitan kue dan setengah cangkir kopinya habis, Alric menanyakan sebuah pertanyaan yang sudah berhari hari melintas di otaknya. Pertanyaan yang malu untuk ia tanyakan pada Mary. Tapi, bila ia menanyakannya di depan beberapa orang seperti sekarang, mungkin akan terlihat lebih santai dan tidak terlalu ketara.
"Lina ... apakah sudah diputuskan siapa yang akan menemanimu dan menyerahkan mu saat pernikahan nanti pada pengantin prianya?"
"Oh, itu ...." Catalina otomatis memandang kakaknya. Alric melirik wajah Mary, istrinya terlihat sedikit merasa bersalah.
"Aku ... aku sudah meminta Serge ...." ucap Mary pelan.
"Oh, itu bagus ...." Alric menyimpan rasa kecewanya. Walau bagaimanapun, ia kakak ipar Catalina. Lina dan Mary sudah tidak memiliki ayah ataupun kerabat lain. Tapi tentu saja, ia melupakan keberadaan Serge. Bertahun-tahun Mary dijaga oleh pria itu. Seperti seorang kakak. Wajar saja Mary meminta pria itu untuk menyerahkan adiknya.
Lalu semua seolah terlupakan. Alric memancing obrolan lagi dengan Simon. Tentu saja dengan setiap sindiran dan cemoohan yang sama. Kedua pria yang seolah saling memancing untuk membuat satu sama lain merasa gusar.
**********
Saat makan tadi Alric hanya diam. Memberi senyum sopan lalu pergi meninggalkannya. Tanpa candaan atau ucapan menggoda yang biasa suaminya itu ucapkan. Mary merasa ada yang kurang, merasa kehilangan sesuatu. Menyadari ia suka cara Alric mendekati dan menggodanya.
Mary bertemu Ann di lantai bawah, lalu bertanya tentang Alric.
"Ann ... kau lihat Alric? tadi dia bilang ada sedikit pekerjaan. Tapi dia tidak ada di ruang kerjanya."
"Dia ke kamarnya, Sayang. Sesuatu tentang sakit kepala. Kurasa ia berniat tidur lebih awal."
Mary mengernyit, lalu dengan cepat berbalik ke belakang dan kembali menaiki tangga.
"Pelan-pelan, Mary! " seru Annete gusar. Melihat ibu hamil itu setengah berlari.
Mary tiba di lorong dan berhenti di depan pintu Alric. Ia menimbang apakah ia harus mengetuk pintu itu atau sebaiknya pintu penghubung dari kamar mereka. Setelah beberapa saat berdiri ragu-ragu, Mary memutuskan langsung menengok Alric dari pintu penghubung kamar. Jadi ia tidak akan malu jika Alric tidak mau membukakan pintu untuknya.
Setelah masuk ke dalam kamarnya, Mary menuju pintu penghubung. Ia mengetuk dua kali, lalu membuka pintu penghubung yang tidak terkunci itu.
"Alric?" tanya Mary. Kepalanya melongok masuk ke dalam kamar dengan separuh badan masih di sisi kamarnya sendiri.
"Mary ...." Alric hanya mengangkat kepalanya sebentar untuk melirik. Lalu kembali menunduk sambil terus memijit pelipisnya.
Mary melangkahkan kaki sepenuhnya masuk ke dalam kamar Alric. Mengerutkan kening khawatir melihat Alric yang sudah mengenakan jubah kamar, duduk di atas ranjang dengan terus memijit pelipis.
"Ada apa? Ann bilang kau sakit kepala." Mary mendekat, Alric dapat melihat kaki wanita itu dalam balutan sandal kamar di dekat ranjangnya.
"Entahlah ... rasanya sakit sekali."
"Apa tidak sebaiknya kau minum obat?"
"Aku kira akan hilang jika aku beristirahat. Tapi rupanya tidak."
"Kau mau menelan satu? di mana kau menyimpan obatnya?"
__ADS_1
Alric mengangguk, lalu menunjuk di laci lemari nakas. Mary menarik laci dan mengeluarkan botol berisi obat nyeri kepala.
"Tunggu, aku akan membawakan minumnya." Mary masuk ke kamarnya sendiri. Menuang segelas air dari pithcher minum yang selalu ia sediakan di kamar. Kemudian kembali lagi ke kamar Alric.
Mary mengambil botol obat, mengeluarkan satu tablet. Lalu satu tangan memegang air minum dan satu lagi obat sakit kepala, ia mendekat dan duduk di sebelah Alric di ranjang.
"Ini, minum ini," ujarnya pada Alric. Alric menurut, membuka mulutnya sehingga Mary dapat memasukkan tablet lalu menyesap air putih sambil memegang tangan Mary yang memegang gelas. Alric menghabiskan air putihnya sampai habis.
Mary meletakkan gelas kosong kembali di nakas. Ia mengatur bantal dan menyuruh Alric berbaring.
"Sekarang tidurlah ...."
Alric bergeser, mengatur jubahnya lalu membaringkan tubuh. Meletakkan kepala di atas bantal yang disusun Mary. Kerutan dalam tercetak jelas di kening pria itu.
"Apa nyeri sekali?" Mary tanpa sadar membungkuk, mengelus kening Alric seolah ingin merapikan dan menghilangkan kerutan di sana.
"Ya ... bisakah kau tetap di sini?" suara Alric amat serak, pria itu berbicara tanpa membuka mata.
Hening.
"Hanya sampai nyerinya agak reda ... aku barangkali akan minta minum lagi." tambah Alric.
Mary menarik selimut, lalu menutupkannya ke tubuh Alric sampai ke pinggang. Kemudian Alric mendengar langkah kaki wanita itu menjauh, kembali ke kamarnya. Desahan berat lolos dari bibir pria itu. Merasa sedih mengetahui Mary tidak mau memenuhi permintaannya.
Namun, beberapa saat kemudian ia mendengar Mary kembali. Alric sedikit membuka mata. Melihat Mary meletakkan sebuah pithcher air minum di nakas. Wanita itu kemudian duduk di pinggir ranjang. Alric segera mundur ke tengah ranjang besar itu. Meminta Mary beristirahat di sampingnya.
"Kau akan lelah hanya duduk di sana. Berbaringlah di sini." Lalu pria itu kembali memejamkan mata. Seolah sedikit bicara dan membuka mata membuat kepalanya bertambah sakit. Mary tidak menanggapi selama beberapa menit, kemudian Alric merasakan kasurnya bergerak. Ia tidak membuka matanya. Mencoba mengetahui posisi Mary lewat gerakan di sampingnya.
"Tidurlah. Beritahu aku kalau kau mau minum," ucap Mary.
Alric merasa suara itu begitu dekat di sampingnya. Namun ia tidak mau membuka mata, dan membuat Mary berubah pikiran. Ia hanya mengangguk pelan.
Mary menatap wajah Alric yang terpejam dengan berbagai perasaan berkecamuk. Entah sejak kapan ia menyadari mulai menyukai lelucon dan pendekatan suaminya. Pria itu tidak pernah bersikap memaksa, seolah memberi waktu padanya untuk membiasakan diri dengan keberadaan suami.
"Alric? Kau sudah tidur?"
Satu kerutan bertambah di kening Alric. Membuat Mary mengira-ngira apakah suaranya membuat pria itu bertambah pusing.
"Belum, Sayang. Kenapa?"
"Kau marah?"
"Marah? Kenapa aku mesti marah?" Alric sedikit membuka mata, memandang Mary sebentar lalu kembali terpejam.
"Soal pernikahan Catalina. Kau tahu ... alasanku meminta Serge yang melakukannya?"
"Ya?"
"Itu ..." Keheningan setelahnya membuat Alric kembali membuka mata. Kali ini ia membuka mata sepenuhnya, tidak menyipit seperti tadi. Ia mengabaikan rasa sakit berdentum yang seolah memukul-mukul isi otaknya.
"Kenapa Sayang?" tanyanya lembut, namun suaranya masih terdengar serak dan sengsara.
"Karena aku tidak mau berdiri di kursi depan menyaksikan pernikahan adikku dengan Serge di sampingku. Aku ... aku mau berdiri di sana dan terlihat di dampingi oleh suamiku," ucap Mary. Wanita itu menelan ludah setelah mengucapkannya. Seolah ia membutuhkan segenap keberanian untuk mengucapkan kalimat itu.
Alric terpana, telinganya mendengar suara bergemuruh, kepalanya seolah makin keras di pukul, Namun sebuah pemahaman membuat hatinya merasa sangat bahagia. Ia memejamkan mata kembali dan mengerutkan dahi makin dalam. Mary mendekat, Lalu mengelus wajah suaminya dengan telapak tangan. Bertambah khawatir melihat ekspresi menderita di wajah pria itu.
Kedua lengan Alric secara tiba-tiba memeluknya. Pria itu mendekatkan wajah ke leher Mary dan berbisik,
"Tentu saja kau akan berdiri di samping suamimu, Sayang. Di barisan depan. Barisan keluarga para pengantin. Sekarang peluk aku ... kepalaku terasa mau pecah ...."
Mary sekali lagi menelan ludah. Ia seolah hilang dalam rengkuhan lengan besar pria yang berbaring di sampingnya itu. Alric tercium seperti udara musim semi. Aroma segar dan memabukkan. Mary melirik ke wajah Alric yang terpejam, menunggu, dan tahu dengan pasti kapan tepatnya suaminya itu terbang ke alam mimpi dengan kedua lengan masih menjepit tubuhnya di pelukan.
Mary memutuskan, bergerak dan meninggalkan Alric akan membuat tidur pria itu terganggu. Dan ia tentu tidak ingin sakit kepala pria itu kembali. Dengan mengulang alasan itu berkali-kali di dalam hatinya, Mari mengizinkan dirinya merilekskan tubuh, menyesuaikan posisi, tidur miring dengan kepala menghadap Alric dan tangan menyentuh dada suaminya di balik jubah. Senyumnya merekah ketika ia berusaha menggapai alam mimpi.
Ternyata tidur di sampingnya bisa senyaman ini ... dia hangat ....
NEXT >>>>>
**********
From Author,
Ehem, ehem ... berpelukaaaan (bukan teletubies loh ya).
Jangan lupa tekan tombol like, tekan love, rate bintang lima, dan komentarnya ya. Yang punya poin, Koin, bantu author Vote ya,🙏🙏🙏
__ADS_1
Terima kasih semuanya,
Salam hangat, DIANAZ.