Embrace Love

Embrace Love
Ch 125. Wedding ring


__ADS_3

"Ikutlah denganku," ajak Vincent pada Yoana.


"Kemana? Sudah hampir sore. Aku menunggu Robert."


"Ke suatu tempat yang ingin aku tunjukkan."


Yoana menatap Vincent. Ingin sekali ia mendekat lalu mengatakan ia akan ikut kemanapun pria itu mau membawanya. Tapi Vincent akan menyindirnya bila melakukan hal itu. Karena hal itu membuktikan ia tidak melepaskan Vincent, padahal mempunyai rencana bertunangan dengan Robert.


"Besok saja, Vince. Aku ada janji dengan Robert. Mencari ini," ucap Yoan sambil menunjuk jari manisnya.


"Tidak akan lama ..."


"Oh, baiklah." Yoana mengambil ponsel lalu mengikuti Vincent yang sudah berjalan lebih dulu.


Vincent mengendarai mobil sambil membisu. Terus begitu setelah beberapa lama. Yoana jadi sebal dan tidak tahan dengan sikap diamnya.


"Sebenarnya ada apa denganmu ... Kau bersikap aneh!" sungut Yoana.


"Cincin seperti apa yang kau inginkan?"


"Hah!? Apa!? Makasudmu!?" Yoana terkejut dan kebingungan. Lalu Vincent memelankan laju mobil, berhenti di pelataran parkir Atemis Jewelry.


"Ayo, turun...."


Seperti terhipnotis Yoana turun dan menyambut tangan Vincent yang terulur. Mereka masuk ke Atemis Jewelry dan disambut pelayan yang ramah.


"Anda sudah datang, Tuan Machado." sambut pelayan pria itu dengan ramah. Vincent mengangguk sebagai jawaban.


"Pilih cincinmu ... yang mana yang kau suka. Tapi yang langsung jadi. Tidak ada waktu untuk memesan."


Yoana mengerutkan keningnya.


"Cincin? Untukku?"


"Ya ... Kau ingin cincin di sini bukan."

__ADS_1


"Tapi ...."


"Jangan lama ... kita masih harus pergi ke suatu tempat."


"Apa!"


"Atau aku yang pilihkan?"


Yoana makin bingung. Menatap Linglung ke arah jejeran pajangan cincin yang berkilau.


"Yang itu." Vincent menunjuk dan segera pelayan pria yang tadi menyambut mereka mengangguk.


"Sangat pas dan cantik untuk Nona." ucap pelayan itu. Vincent memegang cincin dan menatap ke arah Yoana.


"Aku suka yang ini ... bagaimana denganmu?"


Yoana menatap cincin dengan barisan berlian mungil yang tertata tapi, rumit dan elegan. Tapi yang jadi perhatian Yoana adalah pasangan dari cincin itu. Di sebelah cincin dengan barisan berlian, terdapat satu cincin polos pasangannya.


"Mmmmm ... cantik. Aku suka," ucap Yoana. Ia mendongak dan menatap Vincent dengan mata penasaran. Jantung Yoana mulai bertalu. Yoana bertanya-tanya, kenapa Vincent memberinya cincin.


**********


Yoana bagaikan baru saja meminum obat penenang. Ia merasa seperti sedang terbang melayang dan mengikuti semua yang terjadi bagaikan sedang bermimpi. Berkali-kali ia melirik sebuah cincin yang kini melingkar di jari manisnya. Lalu melirik jari vincent yang sekarang juga sudah tersemat sebuah cincin. Pasangan dari cincinnya tadi.


Mareka baru saja mengucapkan janji pernikahan. Seorang pendeta sudah menunggu dan lalu menikahkan mereka. Yoana ditarik dan mengikuti semua prosesinya dengan hati setengah tidak percaya. Hanya mengenakan gaun rumahan berwarna krim pucat bergambar bunga-bunga kecil berwarna pink ia mengucapkan janjinya bersama Vincent.


Kapan Vincent mempersiapkan semuanya, adalah pertanyaan yang selalu melintas di pikiran Yoan. Lalu apa yang membuat pria yang dicintainya itu jadi berubah pikiran. Itu juga yang menjadi pertanyaannya. Namun di samping semua pemikiran itu, Yoana Seolah sedang berjalan di udara, ia melayang, melambung, hingga bibirnya kehilangan kata, bahkan untuk menggerakkan agar sudut-sudut itu membentuk senyuman Yoana tidak bisa. Ia sibuk dengan hatinya yang seperti penuh, membuncah, seluruh cinta yang seolah berdesakan keluar, ingin meminta untuk dibebaskan kembali karena menyadari status yang sudah ia sandang saat ini.


Seorang istri. Istri dari Vincent Nueva Machado. Ia Yoana Nueva Machado sekarang. Bukan lagi Yoana Bernard. Machado ....


Yoana menoleh ke arah luar kaca. melihat cahaya lampu jalanan yang mereka lewati, tidak menyadari air matanya sudah meleleh jatuh.


Mobil berhenti. Yoana masih tertegun dan duduk di tempatnya. Vincent turun, lalu bicara dengan seorang pria yang menunjuk pada sebuah heli yang sudah siap di landasan. Vincent menyerahkan kunci mobilnya pada pria itu, lalu membuka pintu mobil Yoana dan mengulurkan tangan.


Yoana menghapus air matanya dengan telapak tangan. Lalu menerima uluran tangan Vincent. Mereka bergandengan dan naik ke atas heli. Vincent memasangkan penutup telinga istrinya. Lalu mengelap sisa lelehan air mata Yoana yang masih menempel. Keduanya tidak bicara. Hanya tangan mereka yang saling menggenggam erat selama perjalanan.

__ADS_1


Mereka tiba di puncak sebuah gedung. Helikopter yang membawa mereka mendarat dan menurunkan keduanya di puncak gedung. Setelahnya heli itu terbang kembali.


"Ayo." Vincent menarik tangan Yoana, mereka melangkah pelan dan masuk lewat sebuah pintu. Yoana terus mengikuti tanpa bicara. Hingga mereka tiba di sebuah lorong. Vincent tiba-tiba berhenti, lalu menunduk menatap Yoana yang menatap balik ke arahnya dengan mata membulat.


Vincent melepaskan tangan dari genggaman mereka dan menggantikan gandengannya dengan mulai mengangkat tubuh mungil Yoan. Satu tangan Vincent berada di punggung dan satu lagi di bawah lutut Yoana. Kemudian pria itu mengangkat dan menggendongnya ala bridal style. Membopong Yoan sampai tiba ke sebuah pintu.


Setelah pintu terbuka, Vincent masuk dan meneruskan langkah sampai ketengah ruangan. Sebuah penthouse di puncak gedung, dengan pemandangan indah dari kaca di satu sisi ruangan. Yoana menelan ludah ketika tubuhnya di turunkan dan Vincent menarik dagunya agar mereka saling menatap.


"Ada apa denganmu, Nyonya Nueva? Kau kehilangan suaramu? Mana wanita cerewet yang selalu tahu apa yang harus ia katakan ...."


Yoana menatap dengan mata berkilau, menyadari Vincent memang berdiri di depannya sebagai seorang suami. Suaminya, dan ini bukan mimpi. Ia mengulurkan tangannya yang bergetar dan menyentuh pipi Vincent. Pria itu segera menoleh, dan menempelkan pipinya ke telapak tangan Yoana sambil memejamkan mata. Menikmati sentuhan lembut tangan itu di wajahnya yang berbekas luka. Setelah beberapa saat, Vincent mengecup mesra telapak tangan itu.


"Katakan sesuatu, Mi Pequeno ...."


Airmata Yoana langsung terbit mendengar panggilan sayang yang bertahun-tahun tidak pernah ia dengar lagi. Ia melingkarkan tangannya ke sekeliling tubuh Vincent. Menabrakkan wajahnya ke dada pria itu, lalu terisak hebat. Mengeluarkan semua perasaan bahagia dan haru dari dadanya yang sudah seperti mau meledak.


"Vince ...."


Vincent balas memeluk istrinya itu, memejamkan mata dan mengecup puncak kepala Yoana, lalu menyandarkan pipinya pada puncak kepala istrinya itu.


Maafkan aku Tuan Antonio ... Aku bisa bertahan walaupun hanya bisa melihatnya setiap hari selama sisa hidupku tanpa harus memilikinya. Tapi aku tidak bisa melihatnya bersama orang lain ... Maafkan Aku ... Aku tidak bisa menanggungnya ... Aku tidak bisa membiarkannya. Aku tidak akan bisa hidup ...


Tangisan Yoana makin kencang, mengeluarkan perasaan bahagianya dan seluruh cinta yang terkurung di dalam hati selama bertahun-tahun. Sedang Vincent memeluk makin erat. Memejamkan mata dan merasa lega, sekarang tidak akan ada Yoana Delaney. Karena wanita yang dicintainya itu sudah menjadi seorang Yoana Nueva Machado. Istrinya.


NEXT >>>>


*********


From Author,


I'm so happy for you, Yoan. Long journey of your love😭😭😭😘😘😘.


Please like, love, coment ,vote , and five star. Thank you😘😘😘😘


Jangan baper ya. karena abis ini bakal banyak kisah baper lainnyaπŸ™ŠπŸ™ŠπŸ™Š Ikuti terus kisahnya. Oh ya, Nat dan Luigi bakal muncul tapi setelah beberapa kisah Mary ya, agar alurnya nanti nyambung. Terima kasih sudah menunggu, bersabar dan tetap setia mengikuti kisah mereka. Love you semua Sekali lagi terima kasih.

__ADS_1


Salam hangat, DIANAZ.


__ADS_2