
Vincent bergerak memiringkan tubuhnya yang terasa pegal. Ia berbaring dengan berbantalkan bantal sofa di samping Yoana di atas lantai.
Rintik hujan masih terdengar di luar villa. Suara desau angin dan terpaan hujan di atap menemani telinga Vincent melewati malam. Ia menatap ke arah Yoana yang tertidur. Sudah 10 tahun lebih, cintanya pada Yoana berhenti sebelum ia bahkan memulainya.
Kematian Alissia membuat Antonio menyalahkan Vincent. Pria itu mengusirnya berulang kali, mengatakan tidak mau melihat Vincent lagi, namun janji Vincent pada Alissia membuatnya terus bertahan di keluarga itu. Meskipun terasa sangat menyiksanya, karena harus berada di dekat Yoana namun juga harus menutup mata dan hati terhadap gadis itu.
Antonio menghalangi Yoana mendekati Vincent, berusaha membuat Vincent pergi dan meninggalkan keluarga Bernard. Namun apapun usaha pria itu tidak membuat Vincent berpaling. Ia memegang janjinya pada Alissia.
Beberapa waktu setelah kematian Alissia, Rod pernah kembali, ia mencoba menculik Yoana saat tengah mengunjungi ayahnya di Green Forest. Antonio lebih banyak berada di villa semenjak istrinya tiada. Claude dan Yoana dipaksa menjalankan perusahaan dibantu oleh Hamilton.
Vincent menghentikan usaha penculikan itu, ia akhirnya dapat menembak Rod yang akhirnya jatuh dari tebing di atas bukit ketika tengah membawa Yoana dengan maksud membalaskan dendamnya atas kematian Tricia. Namun Vincent memang tidak pernah menemukan mayat di bawah tebing itu. Vincent saat itu yakin Rod sudah mati dengan banyaknya darah yang bertebaran di bawah tebing dan juga robekan-robekan dari sisa pakaian Rod yang mereka temukan, namun Blaird yang saat itu menemani Vincent mencari di bawah tebing merasa ragu, tapi kemudian mereka berpikir mungkin Rod sudah diselesaikan oleh binatang buas kelaparan yang ada di hutan itu.
Lalu keadaan benar-benar sudah aman, Rod tidak pernah datang kembali. Membuat Vincent berpikir laki-laki itu benar-benar sudah mati. Saingan bisnis keluarga Bernard tidak mungkin melakukan penyerangan tadi, mereka tidak pernah sampai mencoba membunuh satu keluarga, bisnis itu sudah dijalankan bertahun-tahun, keluarga itu juga selalu datang ke Green Forest saat peringatan kematian Antonio maupun Alissia, Kenapa baru sekarang mereka bergerak jika memang ingin menyingkirkan keluarga Bernard.
Dugaan Vincent hanya tertuju pada Rodrigo. Setelah kejadian penculikan Yoana, ia menghubungi Blaird yang mengingatkan bahwa mereka tidak menemukan mayat Rod. Tidak ada yang bisa memastikan bahwa Rod benar-benar sudah mati.
Yoana bergerak dalam tidurnya, memiringkan tubuh dan menghadap ke arah Vincent, kemudian Vincent melihat mata wanita itu terbuka perlahan. Yoana mendongak dan melihat Vincent sama sekali belum memejamkan matanya.
"Vince ... kau sama sekali belum tidur bukan?" Yoana bangkit dan kemudian duduk.
Vincent tidak menjawab, ia tidak bisa memejamkan mata dengan keadaan cemas yang menggayuti pikirannya saat ini, lalu Vincent melihat Yoana mulai bangkit berdiri.
"Kau mau kemana?" tanyanya sambil ikut bangkit.
"Oh, hanya perlu ke toilet, Vince. Tidak perlu ditemani. Kau di sini saja."
Yoana melangkah ke arah tangga dan menyadari Vincent mengikutinya.
__ADS_1
"Kenapa mesti ke atas. Lakukan saja di toilet yang ada di bawah," ucap Vincent sambil bergerak perlahan di antara sofa dan kursi yang ada di ruangan besar itu. Cahaya yang minim membuat ruangan itu redup dan temaram.
"Tidak mau. Aku mau ke kamarku."
Vincent hanya diam. Percuma berdebat dengan Yoana.
Mereka naik perlahan ke lantai atas. Menelusuri lorong dan tiba di depan pintu kamar Yoana. Yoana akan mendorong pintu dan masuk, namun Vincent menangkap tangannya. Laki-laki itu menarik Yoana ke belakang tubuhnya dan mendorong pintu perlahan. Vincent mengintip dan kemudian menghidupkan lampu tidur yang segera menerangi kamar itu dengan cahaya kekuningan yang redup, ia memandang sekeliling baru kemudian mengangguk ke arah Yoana.
Yoana masuk ke kamar mandi yang ada di kamarnya. Vincent yang masih berdiri di kamar itu kembali memandang berkeliling, lalu mendekati jendela dan mengintip keluar. Kegelapan mengelilingi villa, rintik hujan masih turun meskipun hanya tinggal gerimis.
Vincent menarik naoas panjang, berharap pagi segera datang dan cuaca membaik, sehingga bantuan akan datang dan segera menjemput mereka dari sana. Ia tidak akan mengambil resiko hanya menjemput Claude dan Catalina dengan pengawal yang ada dan membiarkan yang tinggal di villa tanpa penjagaan.
Ketika helikopter datang pagi nanti, Hamilton, Simon , Yoana dan Juga Leonard serta Nanny akan langsung ia terbangkan pulang dengan pengawalan dua heli yang berisi pengawal mereka. Ia sendiri akan pergi dengan beberapa orang untuk menjemput Claude dan Catalina. Vincent yakin Claude akan membawa Catalina ke pondok berburu yang berada tak jauh dari jalan. Claude pasti masih mengingat tempat itu.
Vincent terkejut dengan dada berdebar ketika sepasang tangan memeluknya dari belakang. Tanpa menoleh ia tahu tangan siapa yang melingkari perutnya itu.
"Kau sudah selesai?"
"Kalau begitu ayo kembali."
Vincent memegang tangan Yoana dan akan melepaskan pelukan itu, namun Yoana bergeming. Wanita itu mengeratkan tangannya dan menempelkan pipinya ke punggung Vincent.
"Katakan padaku ... apa aku akan bisa memelukmu seperti ini jika saja tembakan tadi mengenai jantungmu atau mengenai jantungku, Vince." Yoana berkata pelan.
"Jika akhirnya aku akan mati, maka setidaknya berikan aku pelukan," ucap Yoana lagi.
Vincent berbalik cepat dan menatap mata Yoana.
__ADS_1
"Kau tidak akan mati! Aku tidak akan membiarkannya!"
"Tapi takdir tidak ada yang mengetahuinya, Vince. Kau tidak dapat selalu menjaga dan melindungiku. Pada akhirnya salah satu dari kita akan mati juga. Aku hanya berharap ... kau mengubah pikiranmu tentang hubungan kita, sebelum kesempatan untuk kita bersama benar-benar hilang."
"Tidak akan. Kita tidak punya hubungan Yoana, aku hanya bekerja pada keluargamu." Vincent mengetatkan gerahamnya. Kedua lengan wanita itu masih memeluk pinggangnya.
"Lepaskan tanganmu, Nona," ucap Vincent dingin.
Yoana menarik napas panjang, mendongak menatap mata Vincent.
"Tidak sebelum kau setidaknya memelukku. Satu kali saja," ucapnya keras kepala.
Kali ini Vincent yang menarik napas panjang, ia mengulurkan tangan dan dengan sekuat tenaga menahan semua perasaannya.
Ia memeluk Yoana, kedua lengannya melingkari bahu wanita itu. Yoana membalas memeluknya dan menyembunyikan wajahnya di dada Vincent.
"Aku akan mengenang pelukan ini seumur hidupku, jika hanya ini yang bisa kau berikan padaku, maka berikan padaku dengan tulus Vince ... aku tidak akan meminta lebih. Jika hanya hubungan sebagai atasan dan pegawai yang ingin kau sematkan pada hubungan kita, aku akan menurut, asalkan kau tidak pergi meninggalkan aku. Dapat melihatmu setiap hari sudah cukup bagiku. Aku tidak akan membebanimu lagi dengan memintamu menikah denganku."
Yoana berkata dengan suara serak, ia merindukan pelukan hangat yang dulu pernah Vincent berikan padanya sebelum kejadian tragedi ibunya. Yoana tahu, ia bisa menduga arah pikiran Vincent mengenai siapa dalang dari semua ini. Mayat Rodrigo tidak pernah ditemukan, penculikan dan sekarang penembakan yang ditargetkan pada dirinya membuat Yoana berpikir tentang musuh masa lalu Vincent itu. Vincent membunuh kekasih orang itu dan wanita yang pernah dekat dengan Vincent selama ini hanya Yoana. Jadi Rodrigo pasti berniat membunuhnya untuk membalas kematian Tricia. Tetapi kenapa baru sekarang laki-laki itu muncul kembali?
Yoana merasakan pelukan Vincent mengetat, lalu sebuah kecupan ia rasakan di puncak kepalanya. Ia memejamkan mata, menyimpan rapat moment ini dalam memorinya.
"Kita akan melalui ini ... aku akan melindungi keluarga Bernard, bahkan dengan nyawaku. Aku tidak akan kemana-mana, Yoana. Aku sudah berjanji tidak akan pergi meninggalkan keluarga Bernard."
"Tidak bisakah kau berubah pikiran mengenai kita, Vince?" tanya Yoana dengan nada sedih.
"Tidak, Yoana. Ayahmu akan bangkit dari kubur jika aku melakukannya. Sekarang ayo kita turun," ucap Vincent sambil melepas pelukannya dan menarik lengan Yoana untuk kembali ke aula bawah.
__ADS_1
N E X T >>>
**********