Embrace Love

Embrace Love
Ch 145. Fussy


__ADS_3

Annete berdiri di pokok tangga mansion di lantai dasar. Wajahnya mendongak ke arah lantai atas, dahinya berkerut, kedua tangannya bersedekap di depan dada. Kedua mata Ann melirik ke arah jam dinding. Sudah hampir pukul sembilan dan anak maupun menantunya belum juga ada yang turun ke lantai bawah. Mereka melewatkan sarapan pagi. Mary yang biasanya bangun dan turun lebih dulu untuk membuatkan kopi dan roti untuk Alric, pagi ini tidak kelihatan. Begitu juga Alric, yang biasanya sudah rapi mengenakan jas dan turun sarapan lalu bersiap pergi ke kantor. Hari ini tidak muncul.


Suara langkah kaki mendekatinya membuat Annete menoleh.


"Selamat pagi, Nyonya Annete," sapa Diego.


"Pagi, Diego."


"Apakah ada sesuatu yang terjadi pada tuan, Nyonya?" tanya Diego.


"Maksudmu?"


"Kami punya janji dengan seorang relasi sekitar setengah jam lagi. Tapi Tuan tidak juga muncul di kantor. Saya mencoba menghubunginya. Tapi ponselnya mati. Jadi saya datang kemari, ingin melihat ada masalah apa hingga Tuan terhambat ke kantor, Nyonya."


"Kurasa kau harus menjadwal ulang pertemuan itu, Diego ... atau kau temui saja sendiri tanpa Alric."


"Kenapa begitu, Nyonya?"


"Oh, andai aku tahu sebabnya. Anak dan menantuku tidak keluar dari kamar tidur. Mereka melewatkan sarapan, tidak terlihat sejak tadi malam. Kurasa mereka masih di kamar."


Mata Diego membelalak. " Itu ... mungkinkah mereka telah ... ummm ... berbaikan?"


Annete tertawa. " Sopan sekali kata-katamu, Diego. Kurasa begitu. Kurasa putraku sedang berbulan madu ... Nah, kau mengerti kenapa kau tidak boleh mengganggu Alric kan ... urus pertemuannya. Jika mereka hanya mau bertemu Alric, maka katakan mereka harus menunggu.


"Baiklah, Nyonya."


Diego dan Annete masih berdiri berdampingan dengan wajah masih mendongak ke lantai atas.


"Diego ...."


"Ya, Nyonya?"


"Apakah akan terlihat pantas kalau aku pura pura mengetuk pintu Mary? Atau pura-pura mencarinya, langsung masuk ke kamarnya dan melihat apakah mereka benar- benar tidur bersama ... "


"Saya rasa itu tidak pantas, Nyonya. Sebaiknya kita membiarkan sampai Tuan turun kemari."


"Padahal tadi setelah mendengar suara-suara dari balik pintu kamar Alric, aku mengira mereka akan turun"


"Suara-suara?"


"Ehem ... well ... aku tadi ... emmm ... sedikit menguping. Mary maupun Alric tidak turun sarapan. Jadi aku naik, bermaksud mengetuk pintu Mary. Sampai di lorong kamar mereka, ketika melewati pintu kamar Alric untuk menuju kamar Mary, aku mendengar suara mereka tertawa ..."


"Mereka?"


"Ya. Alric dan Mary ... tertawa bersama. Aku bahkan menempelkan telingaku ke pintu agar dapat mendengar lebih jelas."


Diego tersenyum geli. " Anda melakukan itu?"


Rona merah melintas di wajah Annete. "Oh, aku memalukan, bukan begitu, Diego?"


Diego tidak berkomentar. Hanya tersenyum dengan tangan menggaruk kepalanya. Ia memikirkan bagaimana cara menyampaikan alasan penundaan pertemuan dengan relasi bisnis itu nanti.


Di lantai atas kamar Alric, Alric sudah bangun, matanya memandangi Mary yang masih terpejam. Ia melirik ke arah jam dinding. Pukul sembilan pagi. Istrinya pasti sangat lelah, hingga belum mmebuka mata sampai sekaran.

__ADS_1


Sebenarnya Mary sudah bangun ketika pagi menjelang. Wanita itu bermaksud turun dari tempat tidur. Gerakannya membuat Alric terbangun, lalu dengan lengannya Alric menarik Mary dan menahannya di tempat tidur. Sekali lagi Alric menggoda Mary. Merayu istrinya untuk kembali bercinta dengannya. Sensasi menyentuh kembali kulit polos Mary membuat Alric berlama-lama, sedikit demi sedikit memberi kenikmatan sambil memanjat naik untuk sampai ke puncak. Setelah terengah dan puas melihat istrinya juga mengalami hal yang sama, Alric mengajak Mary kembali tidur. Tentu saja Mary menolak dengan alasan sudah mendekati jam sarapan.


Alric tidak membiarkan Mary bangkit, mereka menghabiskan waktu sesudah bercinta itu dengan tertawa, karena Mary bermaksud melepaskan diri dan Alric bermaksud tetap menahannya di tempat tidur. Alric terus memeluk istrinya sambil pura-pura memejamkan mata. Sekarang sudah hampir dua jam Mary tertidur. Sudah saatnya membangunkannya, karena Mary dan bayi mereka butuh makan. Alric berharap rasa lelah istrinya sudah hilang atau berkurang.


"Mary ... Sayang ... bangunlah," bisik Alric di telinga Mary.


"Mmmm ...."


"Ayolah, Kau harus makan, Mary."


Mary mendorong dada Alric. " Jangan ganggu, Alric," ucapnya pelan.


Senyum lebar tercetak di wajah Alric. Sekarang bukan lagi Serge yang masuk ke alam mimpi istrinya. Kemarin-kemarin Mary pasti menyebut Sergelah yang mengganggu atau membangunkannya. Hal kecil yang membuat hati Alric merasa sangat senang.


Alric bangkit dan turun dari tempat tidur. Memutuskan menyiapkan bathtub dan air mandi hangat untuk Mary. Ia pergi ke kamar mandi dan menyiapkan semuanya. Setelah melihat sabun yang ia gunakan untuk mandi, Alric mengernyit. Mary pasti mau memakai sabunnya sendiri. Alric keluar dari kamar mandi, menggunakan jubah kamarnya dan pergi ke kamar Mary melalui pintu penghubung. Ia mengambil sabun, shampo, dan juga sikat gigi di kamar mandi Mary dan membawanya ke kamar mandinya.


Setelahnya Alric kembali ke sisi ranjang. Ia berlutut di sisi ranjang di sebelah Mary. Satu kecupan mendarat di pipi istrinya itu.


"Mary ... Bangunlah ... hei ...."


Alric melihat mata itu mengerjap, ia kembali mendekat, mengecup kelopak mata yang hampir membuka itu.


"Selamat pagi. Maaf mengganggumu, Sayang. Tapi kau harus makan. Jadi kita harus bangun."


Mary tampak agak bingung. Kepalanya menatap ke sekeliling kamar sebelum kembali ke wajah Alric.


"Alric, kau tidak bekerja?" tanyanya.


Alric tersenyum. Lalu menyingkap pelan selimut Mary.


"Alric tertawa sambil menahan selimut dan melemparnya jauh-jauh.


"Kenapa kau malu, Sayang. Aku suka memandangimu. Lagipula aku sudah melihat semuanya. Sekarang kemarilah. Kita mandi."


Alric mengangkat Mary, menggendongnya dan membawanya ke kamar mandi. Pura-pura tidak melihat wajah Mary yang merona dan pasti terasa panas.


**********


Alric mengerutkan kening melihat suasana mansion yang amat sepi.


Kemana Mom? Gray dan para pelayan?" tanya nya di dalam hati.


Mary sibuk membuat kopi, segelas susu ibu hamil untuk dirinya sendiri dan membuatkan roti bakar serta menyiapkan selai untuk sarapan mereka yang sudah sangat terlambat. Tapi ia sangat lapar, bayinya juga pasti sudah protes karena ia belum sarapan.


Mary makan dengan lahap, begitu juga Alric. Teringat janji temunya hari ini, Alric yang membawa ponsel dan meletakkannya di atas meja makan segera menghubungi Diego.


"Halo, Diego?"


"Ya, Tuan?"


"Tolong kau saja yang menemui Bryce Dawson. Katakan aku berhalangan."


"Sudah saya hubungi, Tuan. Tapi beliau keberatan. Beliau ingin bertemu Anda. Beliau mengatakan, jika Anda tiba-tiba sangat berhalangan, maka beliau siap menunggu."

__ADS_1


"Begitu ya ... alasan apa yang kau kemukakan padanya?"


"Tuan Bryce terkenal amat dekat dengan keluarga. Jadi beliau sangat mengerti ketika saya mengatakan alasan yang sebenarnya."


"Alasan yang sebenarnya? Memangnya apa yang kau katakan padanya, Diego?"


"Saya mengatakan Anda tidak bisa hadir ke kantor karena bayi di dalam perut Nyonya Mary hari ini agak rewel. Jadi Anda harus mengurus istri dan anak anda dulu."


Tawa Alric meledak. Mary sampai terkejut. Lalu ia mengambil air putih dan memberikannya pada Alric setelah melihat suaminya itu terbatuk-batuk karena masih ada roti di mulutnya ketika tadi ia tertawa.


"Alric! Berhentilah tertawa. Kau bisa tersedak. Minum ini ...."


Alric mengangguk, berusaha sekuat tenaga berhenti. Ia mengambil gelas minum dan meneguknya sampai kering.


"Baiklah Diego. Terima kasih sudah menangani hal ini. Yang rewel pagi ini bukan bayiku, tapi yang rewel adalah ayahnya. Katakan pada Bryce, jika ia berkenan. Kita bertemu setelah makan siang."


Alric mendengar tawa tertahan dari Diego. "Baik, Tuan. Akan saya sampaikan pada beliau."


Alric memutuskan sambungan ponsel. Lalu melirik Mary yang menatapnya sambil mengunyah.


"Kenapa menatapku?"


"Tidak ...." Mary menunduk, merasa malu terhadap pikiran yang melintas di kepalanya barusan.


"Katakan padaku, atau aku akan mengangkat mu lalu mengurung mu lagi di kamar kita," ucap Alric sambil tertawa.


Mata Mary membelalak. Lalu bibirnya meringis kecil. " Kurasa ucapanmu tadi memang benar. Bayinya tidak rewel. Kau yang rewel."


"Mary Sayang ... aku kan sakit kepala," ucap Alric geli.


Mary mencibir, lalu mengangkat gelas susunya dan meneguk. Garis putih tertinggal di bibir atas Mary, sisa dari susu yang ia minum. Alric mendekat lalu tiba-tiba menangkap istrinya, kembali melahap dan mencium Mary. Berkata dalam hati dengan riang bahwa ia hanya ingin membersihkan sisa susu dari bibir istrinya.


Di balik dinding menuju meja makan tempat Mary dan Alric sarapan. Annete tersenyum lebar. Pandangan matanya berkaca-kaca melihat pasangan yang tengah berbagi ciuman di meja.


Setelah yakin atas apa yang ia lihat, Annete meninggalkan tempat ia mengintip.


Memalukan sekali. Dalam sehari aku sudah menguping dan mengintip ... Ya Tuhan ... Namun tak apa, syukurlah ... mereka akan baik-baik saja setelah ini ....


Annete pergi ke arah beranda samping. Kembali ke tempat duduk santai favoritenya, Merasakan hatinya ringan dan juga tanpa beban.


NEXT >>>>


**********


From Author,


Ikuti kisahnya terus, dan bersabar tunggu updatenya ya. Jangan lupa klik tombol like alias jempol, tombol favorite alias love, beri komentar, saran ataupun kritik membangun, biar Author makin semangat untuk nulis.


Bagi yang belum kasih rate, tolongin dong tekan tombol bintang, kemudian klik bintang lima ya๐Ÿ™๐Ÿ™


Yang punya poin dan koin, bisa bantu author dengan klik Vote agar performa novel ini makin naik.


Untuk semua bantuan para Readers semuanya, author ucapin terima kasih banyak๐Ÿ’ž

__ADS_1


Salam hangat, DIANAZ


__ADS_2