Embrace Love

Embrace Love
Ch 140. Tempting


__ADS_3

Luigi menatap punggung Laura yang berdiri di dekat meja makan. Laura tengah menyiapkan makan malam. Tapi Natalia tidak kelihatan. Luigi tadi berharap menemukan Natalia yang biasanya akan berada di dapur menyiapkan makan malam bersama Laura.


Laura mendongak, lalu tersenyum pada Luigi. Seketika tahu kalau sang dokter tengah mencari istrinya.


"Dia di kamarnya, Luigi. Sedang menyusun isi laci lemarinya yang berantakan." Laura terkekeh, tahu alasan Natalia tidak membantunya di dapur karena ingin menghindar dari suaminya. Hanya kamar tempat yang tidak akan di invasi oleh Luigi yang dengan sengaja terus mendekat dan menggoda Natalia. Laura merasa senang, karena sekarang, setidaknya Natalia mulai mau berbicara dan sedikit menurunkan sikap pertahanan diri yang ia bangun di sekelilingnya ketika menghadapi Luigi.


"Tolong sekalian panggil Nat untuk makan malam, Dok. Makan malamnya sudah siap." Tambah Laura.


Luigi tersenyum lebar, mengangguk berterima kasih pada Laura sebelum meninggalkan dapur dan melangkah menuju kamar Natalia. Ia membuka dan mendorong pintu. Terlihat Natalia yang sedang duduk dengan kaki terlipat di depan di atas lantai.


Natalia menoleh ketika pintu kamarnya terbuka lebar dan Luigi muncul. Ia mengumpat dalam hati menyadari kecerobohannya karena tidak mengunci pintu sebelum ia duduk dan merapikan laci-laci bagian bawah lemarinya.


"Kau sedang apa?" tanya Luigi. Natalia duduk bersila di lantai dengan laci bagian bawah lemari yang terbuka. Terlihat wanita itu sedang menyusun dan merapikan lipatan pakaian yang ada di laci. Luigi menyipit, memandang isinya dan mengetahui laci itu berisi pakaian dalam.


Natalia menggeser tubuhnya dan memunggungi Luigi. Menutup laci lemari yang terbuka dengan tubuhnya.


Luigi menyeringai, melihat sekilas rona merah melintas di wajah wanita itu ketika tahu ia memandangi isi laci yang sedang disusunnya.


"Nat ... Makan malamnya sudah siap."


"Ya ... sebentar lagi aku selesai."


Natalia tetap menyusun dan merapikan beberapa lembar lagi dalamannya ke dalam laci. Ketika ia mendengar suara kasur yang diduduki, kepalanya menoleh dengan cepat. Natalia mengira Luigi pergi setelah mendengar ucapannya tadi. Namun pria itu rupanya malah masuk dan duduk di ranjangnya.


Luigi hanya memandangi dan menunggu Natalia menyelesaikan pekerjaannya. Wanita itu duduk di lantai kayu dengan ujung gaun sedikit tersingkap di bagian paha.


Seketika Natalia menarik dan merapikan ujung gaun. Merasa risih Luigi memandangi kaki telanjangnya. Ia mendengar tawa lirih dari bibir Luigi, yang membuatnya mendongak menatap pria itu dengan kening berkerut.


"Kenapa kau tertawa?"


"Tidak. Aku tidak tertawa."


"Aku punya telinga. Aku mendengar tadi kau tertawa," ucap Natalia bersungut-sungut. Ia melihat kilau jahil bersinar dan menari-nari di kedua bola mata pria itu.


Luigi hanya diam. Menolak mengatakan apa alasannya merasa sangat geli. Ia tersentuh dan agak geli melihat sikap Natalia yang merasa malu. Wanita itu dengan cepat menarik ujung gaun ketika menyadari Luigi memandangi kakinya. Entah bagaimana wanita itu menguatkan dirinya ketika memutuskan akan melakukan rencana nekat meniduri Luigi dulu. Sangat menarik ketika Luigi memikirkan kejadian malam itu, dia menyesalkan karena kejadian itu hanya teringat dalam nuansa kabut pekat di otaknya, hanya berupa bayang-bayang tidak jelas.


Setelah selesai, Natalia mendorong laci lemarinya hingga kembali tertutup. Ia baru saja akan berdiri ketika menyadari perutnya yang membesar membuatnya kesulitan untuk bangkit tanpa berpegangan. Ia melirik ke arah ranjang yang diduduki Luigi, akan mudah berdiri bila ia menumpukan kedua tangan di kasur itu dan mengangkat tubuh. Namun Luigi yang duduk dengan binar tawa di kedua bola mata itu membuat Natalia tidak bisa melakukannya.


"Bisakah kau bangkit?" tanya Luigi.


"Bisa. Asalkan kau berdiri dari sana," ucap Natalia.

__ADS_1


Luigi tersenyum. Tahu Natalia tidak akan meminta bantuan. Ia bangkit berdiri, tubuh besarnya menjulang di dekat Natalia. Wanita itu mendongak memandanginya dengan kening berkerut dalam.


Luigi menunduk, meletakkan satu tangan di punggung Natalia dan satu tangan lagi baru saja akan ia masukkan ke bawah kaki Natalia. Tapi Natalia menepis lengannya.


"Kau mau apa?"


"Apa sulitnya meminta bantuan ku? Atau kau sudah lupa cara minta tolong?"


Luigi kembali meletakkan tangannya di bawah lutut Natalia, lalu dengan mudah mengangkat bobot Natalia dan menggendongnya.


Merasa goyah dan takut akan jatuh, Natalia berpegangan pada kedua bahu Luigi.


"Nah, begitu lebih baik." Luigi menatap Natalia yang terlihat merengut, tampak tidak suka atas perbuatannya.


Seketika ia ingin membuat kejengkelan Natalia bertambah. Dengan sengaja ia mengecup kening wanita itu, tubuh Natalia langsung menjadi kaku dalam gendongannya.


"Kau keberatan? Aku hanya ingin menghilangkan kerut di dahimu."


"Dahiku tidak berkerut!"


"Oh, kau hanya tidak menyadarinya. Jika kau terus mengernyit ketika melihatku, kerutanmu akan terlihat makin jelas. Karena sekarang ini, kau terus menerus akan melihatku setiap hari dalam hidupmu."


Natalia menghembuskan napas panjang. Terlihat tidak berminat membantah ucapan Luigi. Memilih kembali mendiamkan pria itu.


Laura menarik sebuah kursi, agar Luigi dapat menurunkan Natalia. Setelah Natalia duduk dengan nyaman, Luigi bangkit sambil tak lupa mencium sekilas puncak kepala wanita itu.


Laura melihat rona merah menjalar di pipi Natalia yang putih. Lalu ia memandang ke arah Luigi yang sepertinya dengan sengaja selalu menyentuh dan memegang istrinya di setiap kesempatan. Laura merasa komunikasi di antara keduanya sudah mulai terjalin. Natalia sudah mulai mau bicara dan menjawab ucapan Luigi. Ia berharap, keduanya saling membuka hati, agar dapat berbahagia dengan kehadiran satu sama lain.


**********


Luigi keluar dari kamarnya dan melangkah menuju dapur. Ia melihat televisi masih menyala dan melirik ke arah sofa. Natalia tertidur dengan kepala beralaskan bantalan sofa. Satu kakinya tergantung ke arah bawah kursi. Remote tv tergeletak di atas perutnya dengan kedua tangan lemas di sisi tubuh.


Luigi mengernyit melihat posisi tidur Natalia yang pasti tidak nyaman. Ia mendekat lalu menggendong Natalia untuk memindahkannya ke atas tempat tidur di kamar. Luigi mendorong pintu yang sedikit terbuka dengan ujung kaki. Ia melangkah ke dekat ranjang, lalu menurunkan Natalia ke atas kasur. Lama setelahnya ia hanya memandang wajah cantik Natalia yang tertidur. Otak Luigi berputar, memikirkan cara agar Natalia mau ikut pulang bersamanya.


Merasakan kembali tenggorokannya yang kering, Luigi bangkit dan kembali menuju dapur. Setelah minum dan meletakkan gelas di atas meja, ia berbalik, berniat kembali ke kamarnya. Namun ketika melihat pintu kamar Natalia yang sedikit terbuka, Luigi mengarahkan langkah kakinya ke kamar itu dan menutup pintu. Perlahan ia membaringkan tubuhnya di samping Natalia, lalu menarik selimut menutupi tubuh mereka.


Luigi mengulurkan telapak tangannya ke atas perut Natalia di bawah selimut. Menggumamkan ucapan selamat malam untuk bayinya dan memejamkan mata.


Setelah beberapa lama tertidur, Natalia merasakan sesuatu menimpa pinggang dan perutnya. Perlahan ia membuka mata dan berusaha mengumpulkan kesadaran. Ia menunduk dan memandangi sebuah lengan besar yang melingkari pinggangnya dengan telapak tangan terkembang di atas perut. Natalia menelan ludah, tiba-tiba menyadari tubuh hangat dan keras yang menempel di belakang punggungnya.


Natalia menolehkan kepala pelan-pelan. Melihat Luigi yang terpejam di atas bantal di sebelah Natalia. Begitu dekat ... terlalu dekat.

__ADS_1


kenapa pria ini malah tidur di sini? Astaga ....


Natalia memegang pergelangan tangan Luigi, mengangkatnya perlahan lalu mulai menggeser tubuhnya agar terlepas dari belitan lengan besar tersebut.


Belum sempat tubuhnya bergeser jauh, tangan Luigi bergerak dan kembali turun ke perut Natalia. Pria itu menarik pelan tubuh Natalia sambil menggeser tubuhnya sendiri mendekat. Posisi mereka kembali seperti awal Natalia terbangun.


Sekali lagi Natalia bergerak, ingin menjauhkan dirinya. Sampai suara yang berbisik di telinganya membuat wanita itu berhenti.


"Tidurlah, Nat. Memangnya kau mau kemana."


"Ke ....kenapa kau tidur di sini," ucap Natalia tergagap. Berusaha menoleh ke belakang dan melihat wajah Luigi. Namun tubuhnya di peluk erat hingga untuk menoleh pun ia sulit. Lalu Natalia merasakan Luigi menyurukkan wajah ke lehernya.


"Apa yang kau lakukan ... lepaskan aku! Tidurlah di kamarmu!"


"Aku hanya ingin tidur sambil memelukmu, Nat," bisik Luigi.


Natalia sengaja berontak, namun lengan Luigi tidak bergerak sedikit pun.


"Menjauhlah!" seru Natalia geram.


"Kau mengusirku? Jahat sekali ... diamlah ... atau aku akan membalas mu."


"Mem ... membalas? Maksudmu apa?"


Natalia merasakan Luigi makin menempel ke tengkuk dan juga rambutnya. Laki-laki itu terdengar seolah tengah mencium bau rambut dan juga kulit. Membuat getaran mulai merambat di sekujur tubuhnya dari atas hingga ke ujung kaki.


"Kau meniduriku, aku hanya mengingatnya dalam bayangan kabut. Aku seharusnya bisa membalas dengan menidurimu juga kan," bisik Luigi. Seketika Luigi merasakan tubuh Natalia terdiam kaku, tidak lagi berani bergerak.


"Kenapa diam? Takut? Kenapa dulu berani sekali meniduriku?"


Hening. Luigi merasa tubuh di pelukannya jadi sekaku papan.


"Mau mencobanya lagi? Aku tidak keberatan ...."


Sentakan kepala Natalia membuat seringai lebar terbentuk di wajah Luigi.


"Oh, diamlah! Dasar brengs*k!" Natalia menghempaskan kepalanya ke atas bantal. Menarik selimut hingga ke wajahnya yang terasa menghangat, memaksakan diri untuk memejamkan mata.


Luigi masih menyeringai ketika kembali memejamkan mata dan mencoba tidur dengan lengan memeluk tubuh istrinya yang kaku dan tegang di bawah selimut.


NEXT >>>>>

__ADS_1


**********


__ADS_2