
Catalina segera keluar dari kamar Leon setelah menidurkan bayi itu. Ia belum makan malam, ia sengaja mengatakan pada Yoana bahwa jangan menunggunya untuk bergabung makan malam. Ia akan makan malam sendiri, alasannya adalah Leonard sedikit rewel dan tidak mau ditinggal. Catalina tidak berbohong, Leon memang rewel, mungkin karena mengetahui ia berada di tempat yang asing.
Alasan lainnya Catalina tidak mau makan malam bersama keluarga Bernard adalah ingin menghindari Claude. Ia merasa sangat malu karena pria itu sudah melihatnya hanya mengenakan handuk. Memalukan sekali, dan Catalina merasa sangat jengkel karena pria itu tidak meminta maaf sudah masuk tanpa izin walaupun alasannya adalah untuk mengambil ponselnya.
Catalina mengambil makan malamnya dan meletakkannya ke atas meja. Lalu ia bergerak mengambil sebuah gelas tinggi dan menuang air minum dari sebuah pitcher.
Ketika akan kembali ke meja makan, Catalina sangat terkejut hingga berjalan mundur beberapa langkah. Ia memegang dadanya yang berdebar karena terkejut.
"Apa yang kau lakukan!? Mengendap-endap tanpa suara seperti itu!" desisnya marah.
Simon Bernard telah duduk di seberang meja dengan senyum menawan. Entah kapan pria itu datang dan duduk di sana. Dan bagaimana mungkin ia tidak mendengar suara langkah kaki yang datang.
"Maaf membuatmu terkejut," ucapnya manis.
Catalina hanya diam tidak menanggapi, ia memasang wajah kesal dan segera duduk di kursi. Catalina mulai menyuapkan makanan tanpa berniat sedikit pun memulai pembicaraan. Ia bersikap tidak peduli, seolah-olah tidak ada orang lain di sana kecuali dirinya.
Keheningan mewarnai ruang makan itu, Catalina terus menyuap dan meminum air putihnya. Rasa penasaran membuatnya akhirnya mengangkat matanya menatap ke arah Simon yang ternyata terus memandang wajahnya yang sejak tadi hanya makan tanpa mempedulikan laki-laki itu.
"Kenapa terus memandangku? Apa kau tidak punya pekerjaan lain?" tanyanya ketus.
"Kenapa kau sangat tidak menyukaiku?" tanya Simon.
Catalina tertawa mendengar ucapan pria itu.
"Aku bukan hanya tidak menyukaimu Simon Bernard! Aku membencimu! Lagipula kenapa aku harus menyukaimu? kau pikir kau siapa!" ucap Catalina marah.
"Ah, kau makin cantik jika sedang marah," goda Simon lagi. Ucapan itu membuat Catalina mendelik.
"Kau mengganggu acara makanku! Pergi sana!" usir Catalina.
"Aku akan duduk diam disini tanpa bergerak dan bersuara. Anggap aku tidak ada di sini. Jadi teruskan makan malammu," ucap Simon manis.
"Jangan pura-pura bersikap manis padaku, Bernard!Aku menyuruhmu pergi!" Catalina menggenggam erat sendok di tangannya, membuat Simon melirik dan mengernyit.
__ADS_1
Apa dia akan melemparku dengan sendok itu? tanya Simon dalam hati.
"Sebenarnya kenapa kau kesal sekali melihatku? Aku dan Marilyn melakukannya suka sama suka," ucap Simon dengan nada sedikit tajam.
"Ya, tentu saja, dengan sedikit janji kau akan bertanggung jawab. Dasar pria hidung belang!"
Simon menggosok hidungnya, ia tak bisa berkata-kata, ia memang menjanjikan akan bertanggung jawab pada Marilyn jika sesuatu terjadi setelah mereka bercinta pertama kali dulu.
"Beritahu aku sesuatu ...." Catalina menatap tajam ke arah Simon, dengan tangan masih mencengkeram sendoknya kuat-kuat.
"Apakah kakakku masih perawan ketika kau menidurinya!?" desis Catalina.
Simon terkejut, pria itu terdiam, lalu kembali menggosok hidungnya yang sama sekali tidak gatal.
"Jawab aku, Bodoh!"
Simon menyipit. "Berhenti memakiku!" tegasnya.
Simon memandang marah pada Catalina. Rahangnya mengeras dan ia menyipit memandang gadis yang balik memelototinya dengan garang.
"Kakakmu tidak sepenuhnya tidak bersalah, Catalina! dia bersikap liar dan bertindak seolah sudah pernah punya ribuan kekasih untuk menggodaku. Dan aku tidak heran karena aku dan dia bertemu di sebuah klub malam! Aku mengajaknya kencan dan ia menurutinya. Kami berkencan beberapa kali, dan Marilyn terlihat menyukai setiap kencan kami seperti aku juga menyukainya. Tidak ada yang memaksa ketika kejadian itu terjadi pertama kali. Kami berkencan dan aku membawanya ke hotel. Bukan salahku jika ia akhirnya mengira kami punya sesuatu yang lebih selain saling suka menghabiskan waktu bersama."
"Tapi kau berjanji untuk bertanggung jawab ketika tidak membawa pengaman, mulutmu mau mengatakan apapun, asalkan keinginanmu tercapai!" Catalina berucap dengan nada penuh kebencian.
Simon mengerang. "Kurasa kau tidak tahu ... laki-laki tidak akan bisa berhenti jika hal itu tidak diselesaikan! Kami sudah sangat bergairah dan saling menginginkan, kesalahanku adalah tidak dapat menahan diriku! Dan itu sebenarnya bisa dimaklumi karena umurku!"
Catalina mengerucutkan bibirnya. "Kau belum menjawab pertanyaanku!"
"Yang mana?" tanya Simon
"Apakah kakakku masih perawan saat kau menidurinya!"
Simon menarik nalas panjang. "Benar. Ia masih murni ketika aku bercinta dengannya ...."
__ADS_1
Catalina menjatuhkan sendoknya ke atas meja. Setelah bertemu dengan Marilyn di ruang ganti pagelaran busana dulu, Catalina menata lagi semua pemikiran tentang kakaknya. Menghapus seluruh dugaan lamanya, dan mulai menyusun informasi-informasi baru yang ia harap dapat ia susun nanti, dan menjadi bahan baginya untuk mengerti dan memahami tentang Marilyn.
Ia mengira kakaknya dulu adalah wanita liar yang punya banyak kekasih, lalu terbukti dengan kehamilan marilyn dengan laki-laki tidak bertanggung jawab. Catalina makin merasa bersalah. Mary bersikap liar karena tuntutan pekerjaannya di klub malam, demi mencari uang untuk menopang hidupnya. Lalu apa yang membuat kakaknya malah menyerahkan diri pada pria brengseekk ini?
"Hal itulah yang membuatku sedikit takut. Aku belum mau menikah, aku ternyata adalah yang pertama untuk Marilyn, lalu sebulan kemudian ia menghubungiku dan mengatakan ia hamil. Aku menyuruhnya datang ke Mansion Keluarga Bernard, berharap kakak-kakakku mengambil keputusan untukku setelah tahu Marilyn mengandung anakku, dan aku sendiri menghilang, aku mencari Hamilton untuk menenangkan diri."
Ucapan pria itu membuat Catalina menunduk dalam.
"Dan keluargamu mengusirnya ... Yoana mengatainya Jalanng dan Claude hanya perlu memberikan tatapan kejam dan dingin untuk membuatnya berlari pergi. Ia hamil ... tanpa satu orangpun yang mau menopangnya ... dan aku ...."
"Lina?" Simon memiringkan kepala, mencoba mengintip wajah Catalina yang tertunduk. Nada suara gadis itu seperti orang yang tengah menangis.
"Dan dia datang padaku ... ingin aku menggugurkan kandungannya. Aku malah menghakiminya ... hidup liar dan tidak bertanggung jawab ... oh, Mary ...." isak tangis terdengar pilu, Catalina tiba-tiba merindukan kakaknya, ia ingin sekali memeluk Marilyn saat ini.
Simon hanya bisa terdiam, ia ikut andil menyebabkan semua kekacauan ini.
Tanpa dua orang itu sadari, Claude telah lama berdiri dan bersandar di luar tembok ruang makan. Ia tidak bermaksud menguping. Ia turun untuk melihat apakah Catalina sudah turun dan mulai makan malam. Tapi Simon terlihat sudah lebih dulu duduk di seberang gadis itu, hingga ia memilih tidak melanjutkan langkah dan bersandar di dinding. Percakapan keduanya membuatnya tertarik dan membuat kakinya menolak untuk melangkah pergi.
Catty menangis ... Marilyn Seymorlah penyebabnya, tangisan penuh penyesalan. Penyesalan yang sedikit banyak juga menyusup di dalam hati Claude.
Ia ikut andil membuat hidup Marilyn makin sulit ketika ia mengusir gadis yang tengah hamil itu dari mansion hanya dengan tatapan mata keji dan kejam yang ia berikan pada Marilyn saat itu.
**********
From Author,
Dont judge a book only from the cover ... poor Mary๐ญ๐ญ๐ญ๐ญ
Jangan lupa like, love, komentar, bintang lima, dan vote ya my readers๐๐๐
Terimakasih.
Salam,DIANAZ
__ADS_1