
Marylin menatap kosong pada langit-langit kamarnya. Matanya seolah tidak punya jiwa.
Pikiran Marylin selalu kembali pada kejadian mengerikan yang kemarin ia alami. Tubuhnya tidak bisa merasakan apapun. Air matanya sudah kering ketika ia terbangun dan merasakan dinginnya lantai menembus sampai ke tulang. Tubuhnya terbaring tanpa pakaian di lantai ruang kerja Alric. Entah berapa lama ia pingsan.
Marylin memungut sisa-sisa dari pakaiannya dan mencoba menutup tubuh. Sesaat kemudian ia menangis, tanpa daya melihat pakaiannya sudah tidak bisa digunakan lagi.
Lalu pintu itu diketuk, Mary tidak menjawab, seorang pelayan wanita masuk dan terbelalak melihat keadaannya. Pelayan itu kembali keluar dan berbicara pada Jacob yang rupanya menunggu di depan pintu. Pria itu baru berani melihat Marylin setelah mendapat perintah agar ia memindahkan Marylin ke kamar atas sebelum tuannya itu pergi setelah mendapat telepon dari tuan Diego.
Jacob tidak mau melihat langsung, ia dapat memperkirakan apa yang terjadi di ruangan itu ketika mendengar teriakan Marylin sebelum ia berlalu dari depan pintu karena tidak mau ikut campur.
Pelayan wanita itu meminta Jacob mengambilkan jubah. Jacob segera naik ke lantai atas. Kamar yang dulu ditempati oleh nyonya Annete. Ia menarik sebuah jubah lalu membawanya turun dan memberikannya pada pelayan yang ia suruh melihat Marylin.
Pelayan tersebut masuk kembali, lalu mendekati Marylin yang sudah berhenti menangis. Wanita itu terlihat seperti akan pingsan lagi.
"Ya Tuhan ... sebenarnya apa yang telah Anda lakukan, Nona ... sampai menerima hukuman seperti ini." Pelayan tersebut memasangkan jubah pada tubuh Mary sambil mengernyit melihat beberapa memar yang mulai membayang di tubuh wanita itu. Besok pagi memar itu akan tampak biru keunguan.
Setelah menyelubungi tubuh Mary, pelayan itu memanggil Jacob yang segera datang mendekat.
"Angkat saja dia ke atas, Jacob. Dia tidak akan bisa berjalan," ucap pelayan itu dengan iba.
Jacob hanya mengangguk, lalu mengangkat Marylin dan menggendongnya sampai ke lantai atas. Tuan Alric menyuruhnya mengurung Marylin di kamar itu.
"Letakkan dia di atas kasur," ucap pelayan itu sambil masuk ke kamar mandi, lalu ia keluar lagi dengan sebuah handuk.
"Sekarang pergilah Jacob. Suruh seseorang membawakan baskom air panas," ucapnya.
Marylin dimandikan dan dipakaikan piyama tidur, Kelelahan dan rasa sakit membuat Mary akhirnya kembali terpejam. Berusaha melupakan apa yang telah terjadi.
Sudah seharian dan Marylin tidak juga mau makan. Pelayan yang mengurusnya makin kebingungan.
"Kau harus memanggil dokter, Jacob," ucapnya pada Jacob yang terlihat menggosok leher. Jacob tidak menyangka tuannya melakukan hal itu pada wanita yang ia bawa. Tuannya tidak pernah benar-benar mengumpankan manusia pada hewan-hewan peliharaannya. Alric hanya bermaksud menakuti ... sampai apa yang ia inginkan tercapai.
Ia mengira wanita itu juga pada akhirnya akan menyerah dan mengakui semua kesalahannya. Namun wanita itu teguh dan malah menghina almarhum tuan Alex.
"Aku tidak dapat melakukannya," ucap Jacob, lalu berlalu dari dapur meninggalkan pelayan yang masih memegang nampan makanan yang ditolak oleh Marylin.
Ponsel Jacob berdering, ia segera mengangkat karena mengira tuannya yang menelepon.
"Ya, Tuan," jawab Jacob.
"Ini Aku, Jacob. Apa Alric ada di sana?" suara seorang wanita terdengar oleh telinga Jacob. Ia menelan ludah ketika mengenali suara Nyonya Annete.
"Tidak, Nyonya. Tuan baru saja pergi kemarin malam dari mansion ini."
"Ck! Kemana sebenarnya anak itu! Apa Diego juga ikut bersamanya!?" tanya Nyonya Annete gusar.
"Tuan Alric pergi meninggalkan mansion setelah menerima telepon dari Tuan Diego, Nyonya."
"Kau tahu kemana mereka pergi?"
"Mereka tidak bilang, Nyonya."
"Ponsel mereka berdua tidak ada yang bisa kuhubungi. Kalaupun tersambung, tidak ada yang mengangkat! Aku menelepon kepala pelayan di Mansion Leopard, katanya hanya singgah sebentar lalu pergi lagi esok paginya bersama Diego. Mansion lain juga tidak ada yang ia kunjungi. Jadi tinggal dimana sebenarnya kedua orang itu!"
Jacob hanya diam mendengarkan omelan Nyonyanya.
"Begini saja, kau bantu aku sedikit. Oke?"
"Baik, Nyonya."
__ADS_1
"Kau pergilah ke apartemennya di kota, Siapa tahu dia ada di sana. Kau hanya perlu turun gunung dan mengecek apartemen itu. Katakan aku perlu bicara padanya jika kau bertemu!" perintah Nyonya Annete.
"Maafkan saya Nyonya. Saya tidak dapat meninggalkan mansion. Saya ditugaskan menjaga seseorang di sini."
"Menjaga seseorang? Siapa? Kenapa dia perlu di jaga!?"
"Itu ...."
"Tinggalkan saja pada yang lain. Kau lakukan saja perintahku tadi."
"Maafkan saya, Nyonya. Saya tidak berani ...." Jacob ingat perintah tuannya sebelum pergi, jangan sampai Marylin kabur. Setelah kejadian kemarin malam, wanita itu pasti akan memikirkan untuk kabur setelah ia bangun dari rasa syok.
"Ya sudah kalau begitu. Uh, Jacob? Orang yang kau jaga perempuan atau laki-laki?" tanya Nyonya Annete. Mencoba memancing informasi.
"Itu ..."
"Teman Alric atau bukan?
"Itu ..."
"Relasi bisnis?"
"Ummm...."
"Wanita?
"Buk ... bukan! Bukan Nyonya."
"Ya sudah. Lakukan saja tugasmu."
Jacob menarik napas panjang, lega terbebas dari pertanyaan-pertanyaan Nyonya Annete. Ia tidak punya jawaban dari pertanyaan itu, hanya tuan Alric yang berhak menjawabnya.
**********
"Siapa wanita yang kau simpan di sana, Alric!" desisnya. Ia curiga setelah mendengar kepanikan di suara Jacob ketika menjawab pertanyaan terakhirnya. Annete yakin jawaban bukan dari Jacob adalah kebalikan dari jawaban sebenarnya.
"Hmmm ... sepertinya baik untukku sedikit berjalan-jalan," ucap Annete sambil melangkah menuju kamar. Bersiap untuk berkemas.
*********
Annete menatap Jacob dari kursi besar di ruangan kerja di lantai atas. Ia tiba tepat setelah tengah malam, Jacob terlihat terbelalak ketika melihat heli yang membawanya mendarat.
"Jawab dengan jujur, atau aku akan menendangmu dari sini!"
"Dia wanita, Nyonya."
Nyonya Annete menatap tajam.
"Mulailah bercerita Jacob. Aku akan mendengarkan dengan baik. Jangan sampai terlewat satupun!"
Lalu dengan terpaksa, Jacob menceritakan perihal Marylin. Semua kejadian sampai akhirnya Alric meninggalkan mansion. Pada pertengahan cerita, Nyonya Annete tampak memucat, lalu ketika ceritanya berakhir, wanita itu benar-benar berlari keluar ruangan, terdengar suara seperti orang muntah di luar sana. Jacob menduga Nyonyanya itu tidak bisa mencapai toilet.
Beberapa saat kemudian Nyonya Annete kembali masuk. Ia menarik tisu yang ada di atas meja.
"Sekarang dimana Dia?"
"Di bekas kamar Anda, Nyonya. Di atas."
Annete segera melangkah keluar dan berderap pergi ke bekas kamarnya yang ditempati Marylin. Jacob membuka kunci dan mundur untuk memberi jalan.
__ADS_1
Annete masuk dan merasa silau dengan cahaya lampu yang terang benderang. Di atas ranjang, terbaring Marylin yang meringkuk dengan memeluk sebuah bantal. Di sekeliling tubuh wanita itu bantal-bantal juga di susun mengelilinginya.
Ada lebam yang tampak di mata kiri Marylin, Nyonya Annete menarik napas panjang. lama ia menatap wajah Mary yang tertidur, sebelum ia keluar dari kamar itu.
"Alric ... kau sudah gila seperti adikmu!" Nyonya Annete menangis terisak, menyesalkan kemalangan dan malapetaka yang harus dialami oleh wanita yang tertidur di bekas kamarnya itu.
**********
Catalina menatap tak percaya ketika Claude dan Vincent sudah ada di depan pintu rumah pantai.
"Claude!" jeritnya terkejut, lalu ia tersenyum lebar.
Claude mendekat dan mendekap Catalina yang merasa canggung ketika pria itu menariknya tiba-tiba dan merengkuhnya dalam pelukan.
"Aku merindukanmu," ujar Claude di sela-sela rambut Catty.
Suara dengusan terdengar dari arah dalam, Yoana mendekat dan mencibir ke arah adiknya.
"Cepat sekali kau menemukan kami!" ucap Yoana.
"Kalian mau kemana?" Vincent melihat pakaian Yoana. Wanita itu mengenakan kaos longgar dengan bahu lebar sehingga memperlihatkan tali bikini merah yang ia pakai. Bagian bawah ia menggunakan kain yang di lilit di pinggang. Paha Yoana akan terlihat ketika wanita itu melangkah.
"Tentu saja kami akan berjemur di pantai!" ucap Yoana.
Claude menatap Catalina. Gadis itu mengenakan gaun longgar diatas lutut dan tangannya memegang sebuah topi lebar.
"Ayo Lina!" Yoana menarik tangan Catalina dan mengajaknya turun dari undakan rumah pantai. Catalina melambaikan tangan pada Claude yang langsung mendorong kopernya ke dalam lalu menutup pintu.
"Aku akan ikut mereka. Kau saja yang jaga rumah!" ucap Claude sambil berlari mengejar Catalina dan kakaknya.
Vincent menarik koper dan memasukkannya ke dalam, lalu ia mengedarkan pandangan, sampai ia melihat dua pria yang duduk santai di halaman hotel yang berdampingan dengan rumah pantai.
"Kalian bersenang-senang?" tanya Vincent.
Kedua pria itu terkejut dan segera berdiri. Terlihat salah tingkah dan membuat Vincent akhirnya tertawa.
"Apa semuanya baik-baik saja?" tanyanya.
"Ya ,Tuan Vincent."
Vincent hanya mengangguk, lalu berbalik meninggalkan Seth dan Lucas yang saling berpandangan melihat kepergian Vincent yang melangkah cepat menyusul Claude.
"Aku menang. Dia tiba sebelum tiga hari," ucap Seth. Ia mengulurkan telapak tangannya pada Lucas.
Lucas menggerutu sambil melepas jam tangannya.
"Jaga ini! Aku akan memenangkannya kembali!" ucapnya bersungut-sungut. Seth tertawa sambil mengangkat jam tangan mahal itu dan menatapnya dengan mata berbinar.
"Cepat sekali dia menyusul!" rutuk Lucas, disambut tawa oleh Seth yang segera memakai kembali kacamata hitamnya dan meneguk minuman dingin yang tadi ia pesan.
N E X T >>>>
**********
From Author,
Hahaha ... Jan maen peluk aja bang, yuk ikuti terus kisahnya nanti, ketika yoana berjemur dengan bikini merah, wkwkwkwk, kira-kira babang Vince gimana ya mukanya๐๐๐
Jangan lupa tekan like, klik love, bintang lima, dan juga komentar, penyemangat dan vitamin untuk author agar semangat nulis dan update. Yang punya poin kasih Vote yah...
__ADS_1
Terima kasih banyak
Salam hangat, DIANAZ.