Embrace Love

Embrace Love
Ch 102. Permit


__ADS_3

Natalia memandang makan malam di atas meja yang sudah ia siapkan. Senyum pahit tersungging di bibirnya. Sepertinya malam ini makanannya kembali akan menjadi dingin. Perlahan ia kembali memasukkan apa yang bisa diselamatkan dari makanan itu ke dalam kulkas.


Sudah beberapa hari ia memutuskan untuk mencoba memulai kembali dengan cara yang benar bersama Luigi dan Natalia sadar, hal itu harus diawali dengan cara meminta maaf dengan tulus.


Dengan tekad itu, Natalia berpamitan pada kedua mertuanya, Ialu datang ke apartemen Luigi. Tentu saja tidak ada orang di apartemen itu. Padahal ia datang saat malam hari. Tahu kalau Luigi akan pulang ketika malam dari rumah sakit.


Natalia harus menunggu hampir dua jam di depan pintu, lalu pria itu pulang dan menemukannya sedang duduk dengan bersandar di depan pintu apartemen.


Natalia menyapa dan hanya dijawab dengan keheningan, lalu saat Luigi membuka pintu, Natalia memaksa menyelinap masuk.


Hanya pandangan dingin yang Natalia terima. Ia mencoba mengajak bicara dengan langsung mengutarakan semua penyesalannya.


"Aku kemari ingin bicara denganmu ... tolong, dengarkan aku, sebentar saja. Aku minta maaf ... aku sungguh menyesal telah melakukan ini padamu ... aku ...."


Kemudian pria itu masuk ke kamarnya, dan mengunci pintunya dari dalam. Meninggalkan Natalia tanpa respon sedikitpun.


Natalia tersenyum pahit. Ia memandang berkeliling dan menemukan satu kamar lain di apartemen itu. Ia masuk dan menyadari kalau ruangan itu Luigi jadikan sebagai ruangan kerja sekaligus perpustakaan kecil. Hanya ada sebuah meja dengan kursi pasangannya dan sofa di tengah-tengah mengelilingi sebuah meja persegi. Lalu rak-rak buku di dinding, Natalia mendekat dan membaca judul-judul di punggung buku. Semuanya tentang dunia kedokteran. Akan mudah sekali membuatnya mengantuk bila mulai membaca buku-buku itu, pikir Natalia dengan senyum kecil.


Di sanalah Natalia meletakkan tas kecil berisi pakaiannya. Natalia pesimis usahanya akan berhasil. Tapi ia akan berusaha semampunya.


Natalia tidur setiap malam di atas sofa panjang itu. Bangun setiap pagi lebih dulu dari Luigi, lalu membuatkan sarapan.


Sarapan yang sama nasibnya dengan makan malam ... tidak disentuh. Bahkan mungkin sama sekali tidak dilirik. Kemarahan pria itu membuatnya menjadi sangat dingin. Natalia tersenyum kecut, menyadari karena dirinyalah hal itu terjadi.


Sudah hampir tengah malam, Luigi akhirnya pulang. Natalia menunggu mendengar langkah kaki pria itu memasuki kamarnya. Namun, sudah beberapa lama, tidak juga terdengar suara Luigi masuk dan mengunci pintu seperti biasanya.


Natalia membuka selimut dan bangkit, ia memakai sandal kamar dan melangkah keluar.


Pemandangan di ruang tamu membuatnya mengernyit. Luigi terbaring di sofa panjang ruang tamu dengan kepala di atas bantalan kursi. Satu tangannya menjuntai dan kakinya masih mengenakan sepatu. Natalia mendekat, menatap dan menyadari suaminya itu telah tertidur dengan nyenyak.


Perlahan Natalia mulai membuka sepatu Luigi satu persatu, juga kaos kakinya. Kemudian ia mengambil jas dokter yang diletakkan pria itu di atas meja. Ia akan mengirimnya ke laundry besok pagi.


Setelah membereskan sepatu pria itu, Natalia kembali dengan membawa selimut. Ia memakaikannya ke tubuh Luigi yang tertidur. Dengkur halus terdengar dari arah tenggorokan Luigi ketika ia menarik selimut sampai ke dada pria itu.


Natalia tersenyum kecil. "Aku baru tahu kau mendengkur," bisiknya pelan. Tiba-tiba Luigi bergerak untuk memiringkan tubuhnya. Natalia terlonjak mundur dengan cepat, jantungnya berdebar kencang.


Setelah beberapa saat, barulah Natalia kembali menarik napas lega. Luigi tetap tertidur. Sepertinya pria itu sangat lelah. Setiap hari ia menyibukkan dirinya dengan pekerjaan.


Natalia melangkah tanpa suara setelah melirik sekali lagi ke wajah Luigi. Andai saja pria itu mau mengucapkan sesuatu ... Natalia menarik napas panjang ... well ... setidaknya sampai saat ini ia tidak diusir atau belum saja diusir.


Natalia kembali masuk ke ruangan kerja dan membaringkan diri di sofa. Ia bersyukur sofa besar itu terasa empuk, setidaknya ia bisa tidur dengan nyaman, lalu ia mengelus perutnya sendiri,


Dan terima kasih, Sayang ... kau terus tumbuh tanpa menyulitkan ibu dengan berbagai keluhan. Kita akan bertahan ... bukankah begitu? Ayahmu pantas untuk diperjuangkan.


**********


Catalina mempersiapkan dirinya untuk menyampaikan keputusan yang ia ambil selama perjalanan pulang. Claude datang dan menjemputnya ke apartemen Serge, lalu mengajaknya pulang ke Mansion Bernard.


Mereka tiba setelah malam sudah sangat larut, mansion sudah sangat hening, semua orang mungkin sudah tertidur.


"Beristirahatlah Catty," ucap Claude sambil merengkuh bahu Catalina dan menariknya mendekat, lalu satu kecupan mendarat di rambutnya.


"Umm ... Claude? Boleh aku membicarakan sesuatu dengan mu?" tanya Catalina.


"Tentu ... kita bicara di mana?" Claude memandang berkeliling dan kemudian menarik Catalina ke arah teras luar yang mengarah ke kolam renang. Ia menaikkan alis ketika menemukan Yoana, Simon dan Vincent duduk mengelilingi meja bundar dengan sebuah papan catur terbentang di tengah-tengah.


"Kalian di sini ... kukira sudah tidur," ucap Claude. Lalu menarik sebuah kursi, mendekat dan duduk di sebelah Vincent. Ia kemudian menyuruh Catalina duduk di tengah antara dirinya dan Simon.


Yoana yang duduk antara Simon dan Vincent menatap Catalina setelah gadis itu duduk.


"Bagaimana keadaannya?" tanya Yoana.


"Dia terlihat tenang ... aku pulang setelah dia tidur nyenyak."


"Bagus ... kuharap Marylin cepat pulih," tambah Yoana.

__ADS_1


Simon mendengarkan dengan seksama berita tentang Mary, kemudian kembali menjalankan bidak catur. Ia tersenyum ke arah Vincent.


"Kau sudah tua, Vincent!" ucap Simon menyeringai.


"Kau belajar banyak, Anak kecil!" balas Vincent.


"Aku punya guru yang bagus. Aku sudah pernah mengalahkan Paman Hamilton!"


Claude dan Yoana tersenyum mendengar nada bangga di suara Simon.


Setelah beberapa saat, Catalina akhirnya bersuara. Karena Claude sepertinya lupa kalau ia tadi mengajaknya kemari karena ingin membicarakan sesuatu.


"Mumpung kalian semua ada di sini, aku ingin menyampaikan sesuatu," ucap Catalina.


"Oh, benar. Tadi kau bilang ingin bicara. Ada apa, Cat?" tanya Claude.


Catalina menatap ke arah Claude dan mulai bicara.


"Aku melihat Mary telah melalui hal yang mengerikan. Sejauh ini dia belum bercerita padaku. Karena itu ... aku meminta izin dari kalian untuk pindah dan tinggal bersama Mary."


Keheningan menyambut ucapan Catalina.


"Aku tahu ... Aku terikat perjanjian pengasuhan Leonard. Hanya kalian yang tahu batas waktu yang harus aku habiskan di sini untuk membuat Leonard terbiasa dengan keluarga ayahnya. Bukankah perjanjiannya sampai Yoana merasa Leon sudah menyesuaikan diri dengan keluarga Bernard ... bila kalian merasa belum cukup, tentu saja aku akan terus melakukannya. Hanya saja aku minta waktunya hanya di siang hari. Jadi siang aku di sini, dan malam aku bersama Marylin. Dia susah tidur, setiap malam dia mengelilingi tubuhnya dengan bantal. Serge bilang itu terjadi sejak dulu semenjak ia mengalami percobaan perkosaan. Bagiku itu tidak terlihat bagus, seperti trauma yang sama sekali belum hilang ...."


Catalina menjelaskan panjang lebar, tidak menyadari rahang Claude yang mengeras dan menatap tajam ke arahnya.


"Jadi selama ini ... hanya sebatas itu kau memposisikan dirimu? Kau hanya bekerja di sini? Lalu bagaimana dengan perasaanku? Aku sudah mengatakannya padamu!"


Catalina terkejut dengan nada tinggi yang Claude gunakan. Ia menoleh, lalu terpaku melihat kilau marah dan kecewa di mata pria itu.


"Itu ...." Catalina menelan ludah.


"Ehem! Aku ingin ke toilet, aku permisi dulu." Simon bangkit dan langsung pergi. Disusul Vincent yang berdiri dan kemudian melangkah sambil melambaikan tangan.


"Aku haus! Aku mau ambil minum!" ujar Vincent.


Catalina meremas kedua tangannya. Akan semakin sulit menghadapi Claude tanpa kehadiran keluarga Bernard yang lain.


Claude menyipit dan memandang tajam Catalina. Kemarahan masih berkilau di pijar kedua matanya.


"Jawab aku! Apa aku hanyalah atasanmu!"


"Ti .. tidak! Tentu saja tidak. Kau paman Leon, Daddy Claude untuk Leon," ucap Catalina.


"Dan kau hanya pengasuh bagi Leon!?"


"Tidak ... aku Bibinya. Juga Mommy untuknya ...."


"Jadi secara tidak langsung, kita adalah keluarga dengan hadirnya Leonard ... seharusnya kau memilih kata-katamu dengan lebih bijak! Kau pikir kenapa kami bersusah payah mencari Marylin sampai ke pegunungan sial*n itu! Karena dia ibu Leon! Kau juga ibunya! "


Catalina cepat-cepat mengulurkan tangan dan menggenggam kedua tangan Claude.


"Aku minta maaf ....Kata-kataku salah, biarkan aku melakukannya dengan benar kali ini. Bagaimana?" Catalina memberikan senyum terbaiknya. Kedua tangannya menggenggam erat telapak tangan Claude. Seketika kilau amarah yang tadi singgah di mata Claude berganti dengan binar berbeda. Seperti menunggu dan ingin tahu apa yang akan Catalina lakukan.


"Aku meminta izinmu agar bisa merawat kakakku. Aku ingin dekat dengannya. Ingin mengenalnya lebih dalam. Seperti kau dekat dan mengenal dengan baik bagaimana Yoana dan Simon. Bahkan Vincent ...," ucap Catalina.


"Hanya itu?" tanya Claude, tidak puas.


"Mau bagaimana lagi?" tanya Catalina heran.


Claude berdiri, lalu meregangkan tubuhnya dengan menggeliat.


"Kalau begitu, jawabannya tidak!" kemudian ia berbalik dan melangkah meninggalkan Catalina.


"Claude!" panggil Catty.

__ADS_1


Claude berhenti, namun tidak menoleh. Membuat Catalina ikut berdiri dan mendatanginya. Gadis itu berdiri di depan Claude lalu mendongak menatapnya.


"Aku mohon ... Mary membutuhkanku," ucap Catalina.


Claude bergeming, menatap Catty dengan wajah datar, lalu ia terkejut ketika Catalina maju, memegang dadanya dan berjinjit. Gadis itu mengecup bibirnya, kecupan manis yang membuat darahnya tiba-tiba memanas.


Claude tidak membiarkan kecupan itu berakhir. Catalina baru saja melepas bibirnya ketika Claude memeluk pinggangnya dan kembali mencium gadis itu. Kali ini bukan hanya sebuah kecupan, sebuah ciuman dengan pagutan serta tarian lidah, membuat darahnya segera menggelegak.


Catalina merasa pening ketika ciuman itu berakhir, tawa kecil keluar dari bibir Claude.


"Tarik napasmu Catty ...." Ia mengelus bibir lembab Catty dengan ujung jarinya.


"Aku mencintaimu, Cat. Kakimu sudah sembuh ... aku ingin kita segera menikah!"


"Menikah? Ummm ... bisakah ditunda sampai Mary benar-benar sehat?"


Pertanyaan Catalina membuat Claude tersenyum lebar.


"Terima kasih Catalina Seymor! Kau baru saja mengiyakan untuk menikah denganku!"


Catalina tersadar dan kemudian menunduk malu. Claude mengangkat dagu gadis itu.


"Katakan! Kau juga mencintaiku, Catty ...."


Catalina menatap bintik mata Claude yang berkilat memandangnya. Ia tahu jawabannya dengan pasti.


"Ya, Claude ... aku mencintaimu ...."


Claude mengangkat Catalina dan memutarnya hingga gadis itu berteriak.


"Claude! Turunkan aku ...." Tawa mengiringi teriakan itu. Catalina menumpukan kedua lengannya pada bahu Claude. Mereka berputar beberapa kali sampai akhirnya berhenti dan saling berbagi tertawa dengan napas memburu. Mereka hanya berpandangan selama beberapa saat. Sampai Claude akhirnya bersuara.


"Masuklah Catty ... beristirahatlah." Claude melepas Catalina dan menyuruhnya masuk.


"Bagaimana dengan Mary?"


"Baiklah, tapi waktunya diganti! Siang kau ke sana, malamnya kau tetap tidur di sini! Leon membutuhkanmu juga. Lagipula ... siang aku tidak akan terlalu merasa kehilanganmu karena aku harus pergi bekerja. Tapi kalau malam, aku akan kehilangan moment saat kau mengisi pitcher air minummu di malam hari. Leon juga lebih rewel di malam hari."


Catalina mencibir mendengar ucapan Claude mengenai pitcher.


"Tapi Mary sulit tidur di malam hari. Aku ingin menemaninya!"


"Dia mengalaminya sejak dulu, Cat. Bantal-bantal itu membantunya. Lakukan pengaturan ini dulu. Jangan langsung memisahkan Leon dengan mu saat malam hari. Ia akan gelisah, tidak ada yang menyanyi untuknya."


Catalina mengernyit. "Kau benar. Sepertinya aku harus mengajari Yoana agar bisa bernyanyi juga untuk menidurkan Leon."


Claude terbahak. "Kau boleh mencobanya, Cat," ucapnya geli.


"Sekarang pergilah tidur."


Catalina mengangguk, ia melangkah menjauh, kemudian berbalik sekali lagi ke arah Claude.


"Satu lagi, Claude. Kita hanya akan menikah kalau kondisi Mary sudah kembali seperti semula," ucapnya.


Claude menatap punggung Catalina yang menghilang ke dalam mansion.


"Aku yang akan mengatur hal itu, Catty sayang," bisik Claude sambil tersenyum lebar.


N E X T >>>>


**********


From Author,


Jangan lupa klik like, love, bintang lima dan kometarnya ya all my readers. Yang punya poin, yuk bantu vote Embrace Love🙏🙏

__ADS_1


Terima kasih semuanya,


Salam, DIANAZ.


__ADS_2